Seperti Sampah

Seperti Sampah
Fitnah.


__ADS_3

Esok paginya Doni sudah nangkring di depan rumah Suci. Di saat bersamaan Riki juga sudah ada di sana.


"Hey Don, mau apa kemari ?"


"Kau sendiri sedang apa ?"


"Aku dan Suci sudah biasa berangkat dan pulang bareng." Riki menjawab dengan bangga.


"Aku ada urusan penting dengan Suci."


"Urusan apa ? jangan bilang kau mau mendekatinya lagi. Ingat, sekarang kau sudah jadi suami Teni. Jangan membuat kesalahan yang sama dalam rumah tangga mu. Atau kau akan kembali menyesal seperti sekarang ini."


"Tidak usah mempedulikanku. Ini bukan urusanmu."


"Jika menyangkut tentang Suci maka ini jadi urusanku juga. Aku hanya ingin memastikan kau tidak lagi membuatnya bersedih."


Doni tak menjawab lagi. Dia hanya terdiam.


"Dasar tidak tahu malu." Riki menggerutu pelan namun dapat didengar oleh Doni.


Besar kepala sekali Riki, sudah seperti Suci telah resmi jadi miliknya saja. Aku tahu meski kalian dekat tapi kaulah yang berusaha mendekatinya. Belum tentu juga Suci suka padamu.


"Mas Doni ?" Suci menghampiri keduanya.


"Suci aku ingin bicara penting. Tapi bukan di sini." Doni mendelik ke arah Riki.


"Bicara saja sekarang di sini, memang sepenting apa sih sampai harus cari tempat lain ?" Riki membalas dengan tatapan sinis.


"Aku mau berangkat kerja mas. Bicara di sini saja tapi jangan terlalu lama." Suci menatap Riki sekilas.


Apa Suci, kenapa melihatku begitu ? sudah pasti aku tidak akan suka melihatmu dekat lagi dengan Doni. Jika aku punya hak maka aku akan melarangmu berbicara dengannya meski sebentar saja.


Doni mengajak Suci ke tempat yang agak jauh dari Riki. Mencari jarak aman agar leluasa bicara meski mereka masih terlihat oleh Riki.


"Suci, maafkan semua kesalahanku. Aku sekarang baru sadar bahwa aku sudah egois. Aku sebenarnya sangat mencintaimu namun egoku itu tidak bisa aku kendalikan. Masa lalumu, sekelam apapun itu, harusnya aku bisa menerimanya. Aku benar-benar menyesal. Maukah kamu memberi maaf untukku ?"


Suci membisu sejenak dan mengambil nafasnya dalam, sebelum membuka suara.


"Aku senang mas sudah sadar. Saat aku pergi dari rumahmu, aku sudah mencoba memaafkanmu dan Teni. Meski itu tidak mudah. Meski kadang amarah, kecewa dan kepedihan itu muncul jika aku kembali mengingatnya. Tapi itu semua sudah berakhir. Aku tidak mau terjebak dengan masa lalu."


"Terima kasih karena kamu sudi memberi maaf untukku. Apa masih ada kemungkinan kita bersama lagi seperti dulu ?"


"Memaafkan bukan berarti harus kembali menjalani hubungan kita seperti dulu. Jalani kehidupan kita masing-masing. Apalagi sekarang mas sudah beristri lagi. Jagalah rumah tangga mas dengan baik. Jadikanlah pelajaran dari apa yang sudah terjadi pada kita dulu."

__ADS_1


"Tapi Teni itu bukan istri yang penurut sepertimu. Dia tidak sebaikmu Suci."


"Mas, seburuk apapun pasanganmu, maka kamu harus berusaha menerima kekurangannya. Karena kamulah yang sudah memilihnya menjadi pasangan hidup. Jangan selalu membandingkannya dengan wanita lain. Jika sudah menikah, bukan waktunya lagi mencari yang terbaik namun justru kitalah yang harus berusaha menjadi yang terbaik bagi pasangan."


"Tapi..."


"Jika istrimu melakukan kesalahan maka beritahu dia pelan-pelan dan peganglah tangannya selalu. Jalani rumah tangga mas sebaik mungkin dengan Teni." Suci berlalu dan menghampiri Riki.


Doni merasa tertampar dengan nasehat Suci yang seolah menyindir sikapnya dulu pada wanita itu. Meski Suci hanya berniat baik namun Doni tetap saja belum menerima sepenuhnya. Dia merasa masih berhak untuk kembali pada Suci.


Mas Doni apa kau pikir aku tidak tahu bahwa kemarin kau sudah membuntuti Suci ? dan sekarang kau malah lebih berani lagi menemuinya langsung di sini. Kau tidak akan pernah bisa kembali lagi pada wanita sampah itu. Aku akan melakukan apapun, apapun ! akan ku pastikan bahwa kau tidak akan pernah bisa bersamanya lagi !


Teni mengikuti Doni sejak kemarin, dia memakai tudung hitam dan masker yang dijamin tidak akan dikenali siapapun. Hari ini pun dia menyaksikan sendiri suaminya berbicara dengan rivalnya.


***


Sabtu siang.


Riki berkunjung ke rumah Suci. Mereka ngobrol di teras rumah disertai Bu Ayu. Tiba-tiba muncul sepasang suami istri yang merupakan tetangga dekat Bu Ayu.Keduanya membawa beberapa makanan dan minuman untuk Bu Ayu. Pak Agus dan Bu Agus bagi-bagi rezeki pada tetangga karena memang sedang sukuran anak mereka yang selesai dikhitan. Tak lama kemudian mereka pulang.


"Assalamualaikum." Seorang wanita datang.


"Waalaikumussalam."


Bu Ayu akhirnya pergi dengan wanita itu.


Riki dan Suci mencicipi makanan dan minuman pemberian Pak Agus. Selang beberapa menit keduanya merasa pusing dan pandangan mereka kabur. Akhirnya mereka tak sadarkan diri. Saat itu muncullah Pak Agus dan istrinya.


"Ayo kita bawa mereka ke dalam." Sepasang suami istri itu mengangkat tubuh Riki dan Suci bergantian.


Suci dan Riki direbahkan di atas tempat tidur di salah satu kamar.


"Kamu keluar saja pak. Lihat situasi aman tidak !"


"Ibu saja, biar bapak yang melucuti pakaian mereka."


"Enak saja ! bapak mau melihat kemolekan tubuh Suci kan ?! biar ibu saja yang melakukannya. Bapak berjaga di luar." Bu Agus sudah melotot pada suaminya.


"Ya sudah baik." Pak Agus berlalu sambil menggerutu.


Bilang saja kalau ibu juga mau melihat tubuh pria itu !


Di dalam kamar, Bu Agus sudah berhasil menjalankan separuh tugasnya.

__ADS_1


"Suci dan pria tampan ini sudah tidak memakai kain sehelai pun. Waktunya selfie !" Bu Agus memotret Suci dan Riki yang posisinya seolah tengah tertidur sambil berpelukan. Dia mengirimkan foto itu pada seseorang.


Bu Agus menghampiri suaminya.


"Sekarang bawa para warga kemari." Bisik Bu Agus.


***


Suci terbangun saat mendengar suara teriakan warga. Namun yang membuatnya terkejut adalah keadaan tubuhnya yang polos tanpa busana ditambah lagi dia melihat Riki tengah berbaring dan memeluknya.


Astaghfirullah....apa yang sudah terjadi ? bagaimana bisa aku sampai tidur bersamanya ?


Suci segera mencari baju dan memakainya.


"Apa yang sedang kalian lakukan ?" dua pria masuk ke kamar itu.


Untung saja Suci sudah selesai menutup auratnya. Namun Riki masih belum sadar juga.


"Kami tidak melakukan apa-apa." Jawab Suci.


"Kamu bohong ! sudah jelas sekali kalian berdua ada di kamar ini. Lihatlah pacarmu saja masih belum bangun." Ucap seorang dari pria itu.


"Saya tidak tahu kenapa kami tiba-tiba ada di sini ? tadinya kami hanya ngobrol di teras rumah. Tapi saya yakin bahwa kami tidak melakukan apapun."


Riki saat itu baru sadar dan memegang kepalanya yang masih agak pusing.


"Ada apa ini ?" Riki terkejut menyadari dirinya tak berpakaian dan ada di tempat tidur.


Semakin bingung melihat ada dua orang pria asing yang juga ada disana.


"Harusnya kami yang bertanya, apa yang sudah kalian lakukan di tempat tidur ? hanya berduaan."


Sekeras apapun mengingat, Riki tetap tak menemukan memori yang hilang yang menunjukan alasan kenapa dia sampai di kamar itu. Tapi dia sangat yakin bahwa dia tak mungkin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya pada Suci.


"Kami tidak melakukan apa-apa." Riki berusaha menjelaskan.


"Kami tidak mau mendengar kalian berbohong lagi, sekarang ikut kami keluar !"


"Tunggu dulu bapak-bapak, saya harus berpakaian dulu. Tidak mungkin saya keluar dalam keadaan begini." Protes Riki.


"Ya sudah cepat !" salah seorang pria menunggu Riki dan seorang lagi menggiring Suci ke depan.


Akhirnya Suci dan Riki dibawa ke kantor RW untuk diintrogasi.

__ADS_1


__ADS_2