Seperti Sampah

Seperti Sampah
Aku pergi.


__ADS_3

Pagi itu Doni dan Teni sudah ada di depan pintu. Mereka berangkat bersama menuju tempat kerja masing-masing.


"Mbak Teni ? mbak kenapa ada di sini ?" Raisya menghampiri mereka.


"Raisya apa kabar ? udah lama ya kita gak ketemu. Kamu makin cantik aja." Cipika-cipiki.


"Ahhh aku baik." Kebingungan jelas tergurat di wajahnya.


Sejak kapan wanita ini kembali ke Bandung ? Bukan....yang mengejutkan adalah kemesraannya dengan mas Doni. Kalau dulu mungkin gak aneh karena mereka memang pacaran. Tapi sekarang kan mas Doni udah punya istri. Kenapa mereka masih mesra seperti itu ? ihhh pake pelukan segala dasar gak tahu malu.


"Mas aku ke sini mau ketemu mbak Suci sebenarnya...apa dia ada di rumah ?"


"Masuk aja gak usah sungkan. Mas dan Teni juga mau berangkat sekarang kok. Ayo sayang..." pergi begitu saja dengan pacarnya.


Ya ampunnn mas Doni sudah gila. Dia jelas-jelas bermesraan dengan wanita lain meskipun sudah beristri. Ahhh mbak Suci kasihan...pasti dia sangat terluka. Aku harus segera menemuinya.


"Mbak Suci." Raisya menghampiri Suci di kamarnya.


"Raisya ?" terkejut dengan kedatangan Raisya yang tiba-tiba.


"Apa kabar ? apa yang sedang mbak lakukan ? kenapa mbak membereskan baju-baju itu ? apa mas Doni mengusir mbak gara-gara Teni ?" menyerbu dengan banyak pertanyaan.


"Emmmm ini keputusan mbak. Sepertinya hubungan kami harus berakhir." Menjawab sambil masih membereskan pakaian.


"Pasti ini semua gara-gara wanita itu kan ?! mas Doni bisa setega itu...aku benar-benar tidak menyangka. Padahal ku lihat kalian saling mencintai."


"Tapi sekarang mas Doni sudah tidak punya perasaan cinta sedikit pun pada mbak. Dan ini semua karena kesalahan mbak."


"Mbak kok masih membela mas Doni sih ? jelas-jelas dia yang salah. Aku sendiri melihatnya langsung tadi. Mereka bermesraan seperti sudah menikah saja." Raisya tersulut emosi dan dia yang berapi-api mengutuki Doni juga pacarnya.

__ADS_1


"Sudahlah ini semua juga salah mbak. Yang jelas hubungan kami sudah tidak mungkin lagi diperbaiki. Mbak akan pergi dari rumah ini." Bersikap tenang di hadapan Raisya meski sebenarnya hatinya masih berserakan.


"Mbak kok bisa setenang ini ? kalo aku jadi mbak pasti sudah sejak awal aku jambak rambut jagung si Teni. Ahhh mas Doni benar-benar brengsek semoga hubungan mereka ngambang dan tidak akan pernah berlanjut. Semoga wanita itu wajahnya dipenuhi jerawat dan korengan biar mas Doni ninggalin dia." Terus menggerutu dan mengumpat.


Tingkah Raisya malah terlihat seperti anak kecil di mata Suci. Membuatnya sedikit menyunggingkan senyum. Lumayan menghibur sedikit kesedihannya.


"Tapi kamu gak boleh mendoakan yang jelek-jelek meskipun sedang marah. Bagaimana kalo nanti malah berbalik pada kamu ?"


"Ahhh gak mau ! aku ganti deh doanya. Semoga mereka sadar dan tidak menyakiti mbak lagi. Aku juga berharap semoga mbak Suci segera mendapat kebahagiaan. Ahhh aku malah nyerocos terus sih harusnya kan aku bantu mbak membereskan baju-baju." Nyengir.


"Gak usah...udah beres." Tersenyum.


"Aku anterin mbak ya. Sekarang mbak mau tinggal dimana emang ?"


"Emang kamu gak kerja ?"


Sudah sampai di depan rumah yang ditempati Suci dan ibunya saat sebelum menikah dengan Doni.


Kasihan mbak Suci...dia bahkan tinggal di rumah sekecil ini di kampung lagi.


Raisya mengekor Suci masuk ke rumah itu dan membantunya beres-beres. Baru kali ini dia melakukan pekerjaan itu. Biasanya untuk membereskan tempat tidur saja selalu dilakukan pembantu.


"Terima kasih banyak karena kamu sudah bantu mbak."


"Sama-sama mbak. Seru juga ternyata beres-beres itu kayak main rumah-rumahan ya...meskipun cape juga sihh."


Cengiran dan kekanakkan Raisya membuat Suci sedikit terhibur. Di saat seperti ini kau sudah menjadi malaikat penghibur Raisya.


***

__ADS_1


Malam hari di kamar Doni. Dia kembali membawa Teni ke sana untuk berpacaran.


Aku memang jauh lebih cantik daripada wanita itu. Salah !!! dia tidak pantas dibandingkan denganku. Dari segi manapun aku tetap wanita yang paling menarik. Sudah seharusnya mas Doni lebih memilihku. Aku cinta pertamanya dan wanita itu hanyalah sampah masyarakat.


Teni tersenyum penuh kemenangan sambil mematut diri di cermin. Sementara itu Doni baru keluar dari kamar mandi.


"Ehhh apa ini ? mas coba lihat ! sepertinya ini dari istrimu." Mengambil secarik kertas dari atas meja rias.


"Apa sih ?" Doni menghampiri dan kertas itu sudah ada di tangannya.


"Hahahaha. Apa yang dia tulis ? maksudnya apa coba mas ? selain kampungan dan so suci ternyata istrimu itu norak banget."


"Ckkkk !!! gak usah pedulikan ! males aku kalo membahas tentang dia."


"Kamu nemu istri macam dia dimana sih mas ?" masih tertawa menghinakan wanita lain padahal dia sendiri belum tentu lebih baik.


"Apa sih maunya dia ? gak penting banget !" kertas dirobek dan berhamburan begitu saja di lantai.


Mereka menganggapnya hanya sebelah mata dan omong kosong. Padahal dalam kertas itu tertulis curahan hati Suci yang mendalam jujur ditujukan pada Doni.


Surat itu ditulis setelah memutuskan untuk pergi dari rumah Doni.


Assalamualaikum.


Mas Doni maafkan jika selama kita bersama aku belum bisa jadi istri yang baik untukmu. Aku sadar bahwa aku adalah wanita yang penuh noda. Terima kasih karena sudah memberi cinta untukku meski hanya sesaat. Aku harap kamu dan Teni bisa segera menghalalkan hubungan kalian agar terhindar dari dosa. Aku akan ikhlas melepasmu. Berbahagialah dan hiduplah lebih baik lagi. Aku pun di sini akan berusaha menjalani hidupku dengan baik meski harus tanpa kamu.


Wassalam.


Saat menulisnya Suci memang sudah bisa menebak apa reaksi Doni saat membacanya. Namun dia tetap melanjutkan karena menurut Suci lewat surat itulah dia bisa mengungkapkan perasaannya yang tak bisa keluar lewat mulutnya secara langsung. Tidak peduli akan dibilang norak sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2