Seperti Sampah

Seperti Sampah
Pesta pernikahan.


__ADS_3

Sebelum menuju hotel, Suci beserta ibu dan adiknya menyempatkan diri untuk melihat rumah yang dulu pernah mereka tempati. Riki dengan senang hati mengantarkan, sementara Raisya dan orangtuanya sudah terlebih dulu pergi ke hotel. Rencana dadakan itu terlontar saat Riki menanyakan perihal tersebut.


Saat ini mereka sudah ada di depan sebuah rumah sederhana yang masih bergaya jadul.



Mereka hanya bisa melihat dari balik pagar rumah yang dikunci pemiliknya. Konon rumah ini dulu dijual kepada Pak Burhan, tetangga Bu Ayu. Namun karena harus pindah ke luar kota, maka rumah ini dijual kembali pada saudara Pak Burhan yang ada di kampung sebelah. Setelah belum lama ditempati ternyata rumah ini kembali diplang dengan tulisan Rumah ini dijual.


Semua orang memandangi lekat bangunan yang sudah lama berdiri itu. Bahkan Riki bisa ikut merasakan jika Suci dan keluarganya mempunyai ikatan yang kuat dengan rumah yang ada di hadapannya.


Semua kenangan dulu saat menempati rumah itu seolah muncul jelas di mata mereka. Rumah yang menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan Pak Wahyudi dan Bu Ayu membesarkan anak-anak mereka. Tangis dan tawa, suka dan duka menemani perjalanan kehidupan mereka.


Tetesan air dari pelupuk mata Bu Ayu jatuh membasahi wajahnya. Terlihat jelas bahwa ia amat merindukan rumah itu. Jika saja bisa, maka ia ingin kembali menempati rumah yang penuh sejarah itu.


"Bu, ayo !" Suci menepuk pelan punggung Bu Ayu dan membuat ibunya tersadar bahwa kali ini dia sedang ada di masa berbeda.


Suci mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan ibunya. Dia hanya tidak ingin Bu Ayu terus terlarut dalam kesedihan.


Syarif pun berpikiran sama dengan kakaknya.


Aku harap suatu hari nanti, aku bisa membeli rumah ini untuk ibu !


Setelah bernostalgia di rumah yang sudah kusam itu, mereka kembali ke mobil dan bergegas menuju hotel tempat mereka menginap.


***


Hari ini adalah hari yang sudah lama dinanti oleh Riki. Dia akan menunjukkan pada dunia, siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya jatuh hati.


Semua orang sudah berkumpul di ballroom hotel yang menjadi tempat resepsi pernikahan mereka. Menunggu kedua mempelai untuk segera hadir. Harusnya sudah sedari lima belas menit yang lalu pengantin ada di sana. Tapi ternyata keduanya masih ada di ruang ganti tempat Suci dirias.



Suci masih duduk menghadap cermin. Dia terlihat semakin cantik saat mengenakan gaun pengantin berwarna pink soft. Pantulan wajahnya di sana terlihat memancarkan aura kebahagiaan yang tak terkira. Senyum tak hilang dari wajah manisnya, mewakili hatinya yang tengah menari riang.


Jantungnya terasa meletup-letup. Bukan pertama kalinya menikah, dan saat ini pun hanya resepsi saja tanpa ijab kabul. Namun tetap saja ada rasa grogi yang menghampirinya.


Riki sedari tadi sudah memonitor Suci. Dia berdiri menyilangkan tangan di dadanya sambil bersandar di pintu. Suci sama sekali tidak menyadarinya.


Aku bahagia jika melihatmu tersenyum seperti ini.


Riki ikut tersenyum dan segera menghampiri istrinya. Dia sengaja berdehem membuat Suci terkejut dan segera berdiri menghadapnya.


"Mas." Suci tersipu malu karena tatapan hangat dari Riki sudah terpusat padanya.


"Eehhh !!! semakin menggemaskan saja !" Riki memeluk erat tubuh Suci. Giginya berdencit menahan rasa greget pada kecantikan istrinya.


Suci hanya tersenyum semakin gugup. Dadanya semakin bertalu. Apalagi saat Riki dengan nakalnya menempelkan bibir di bagian favoritnya pada area bawah hidung. Membuat nafasnya tersengal. Tangannya sudah berjalan-jalan kemana-mana.


"Astaghfirullah !!!" Syarif yang mendadak muncul dari balik pintu tanpa sadar berteriak. Dia sengaja menutup matanya dengan kedua tangan setelah melihat sekilas adegan yang harusnya disensor itu. Syarif berbalik badan.

__ADS_1


Riki dengan berat hati menghentikan aksi nakalnya. Dia menggaruk kepalanya, bisa malu juga ternyata. Suci apalagi, kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


"Bisakah kalian segera menemui para tamu undangan ? mereka sudah menunggu dari tadi." Setelah bicara gelagapan akhirnya Syarif pergi.


Seorang penata rias tak lama kemudian datang menghampiri. Dia heran kenapa riasan Suci dan gaunnya jadi sedikit berantakan. Dia melirik bergantian pada kedua pengantin.


Apa yang sudah mereka lakukan sebenarnya ? ahhhh benar-benar, merepotkan saja !


Jika tidak dibayar mahal pasti dia tidak mau melakukan ini. Harus merapikan kembali dandanan mempelai wanita yang sudah diacak-acak oleh mempelai pria.


Suci hanya nyengir malu. Sementara Riki pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


"Maaf mbak." Suci harus mengatakan itu karena merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa nona." Tersenyum padahal hatinya kesal dan ingin menangis. Susah payah membuat Suci tampil secantik mungkin, tapi malah dihancurkan begitu saja oleh kerakusan suaminya. Nasib...!


Setelah beberapa lama akhirnya kedua mempelai muncul juga. Semua orang berdecak kagum melihat keserasian mereka.


Di sela-sela acara, Riki menyempatkan diri untuk berbicara sedikit. Seketika itu semua orang terdiam dan mendengarkan baik-baik perkataannya.


"Terima kasih banyak atas kehadiran anda semua." Suaranya menggema di seluruh ruangan melalui microphone.


"Saya hanya ingin memberi tahu semua orang bahwa saya adalah pria paling beruntung karena memiliki wanita terhebat untuk mendampingi hidup saya. Wanita yang bukan hanya cantik, manis, tapi juga sangat baik dan tangguh. Saya sangat bersyukur pada Tuhan karena sudah dipertemukan dengannya." Perkataannya begitu tulus tanpa keraguan. Hanya ada kebanggaan di dalamnya.


Semua orang ikut terhanyut. Para wanita meleleh, membayangkan jika saja mereka mendapat suami seperti Riki. Syarif dan Bu Ayu merasa lega dan ikut bahagia. Bahkan Indah pun ikut terharu. Lain halnya dengan Toso. Dia hanya memutar bola matanya jengah.


Semua keluarga Riki bangga padanya. Dan....tepat di barisan pertama para tamu, Doni tertunduk. Rasa penyesalannya semakin memuncak. Jika tidak malu, sudah sejak dari tadi dia ingin berteriak dan menangis.


Namun penyesalan itu tidak akan ada gunanya karena kini Suci sudah sangat bahagia dengan teman hidupnya yang baru.


"Suci adalah wanita terindah dan terbaik yang ada dalam hidup saya. I love you so much !" Riki memeluk dan mengecup kening Suci.


"I love you to !" Suci tersenyum bahagia. Di sudut matanya sudah menggenang bulir bening.


Semua ikut terharu dan tanpa dikomando mereka bertepuk tangan.


***


Waktu terus bergulir, saat ini sudah tengah hari dan kedua mempelai sudah berganti pakaian.



Riki semakin terhipnotis melihat Suci yang semakin memukau. Tatapannya tak beralih meski para tamu sudah banyak yang menghampiri mereka. Sebagian dari mereka bahkan ada yang cekikikan melihat kekonyolan pengantin pria.


Suci tak menyadari karena terlalu sibuk memberi senyum, begitu banyak para tamu yang hadir dan sebagian besar adalah partner kerja Riki.


Saat sesi pemotretan, Riki curi-curi kesempatan untuk bersikap mesra pada istrinya. Hampir semua foto diambil harus dengan gaya sedang memeluk atau mencium Suci.


Kamu itu selalu senang membuatku malu mas !

__ADS_1


Suci sudah sangat kehilangan muka di depan fotografer itu. Si tukang foto itu malah mesem-mesem melihat kelakuan pengantin pria. Baru kali ini dia menemukan pria seperti Riki.


***


"Selamat ya !" Doni berucap lirih. Ditatapnya wajah Suci yang dulu selalu menghiasi hidupnya.


Begitu lama Doni melihat mantan istrinya itu. Ada perasaan sakit di dadanya melihat wanita yang dulu pernah begitu mencintainya, kini sudah menjadi milik pria lain, dan pria itu sahabatnya sendiri. Penyesalannya semakin bertumpuk.


Dulu kita bersanding seperti ini di pelaminan. Riki hanya datang sebagai tamu undangan. Tapi kini keadaan berbalik. Aku sudah menjadi orang asing bagimu. Semoga kamu bahagia Suci.


Riki berdehem keras. Dia sangat kesal melihat Doni terus saja memindai Suci. Matanya sudah menusuk tajam pada mantan suami dari istrinya itu.


"Maaf Riki !" Doni tersadar dan buru-buru pergi.


"Hehhh !" Riki sudah mengayunkan tangannya seperti ingin membogem Doni.


"Mas." Suci menggelengkan kepalanya agar Riki menjaga sikap.


Baiklah !


Riki menurut dan berusaha menenangkan diri.


"Mbak selamat ya !" Barbi datang memeluk Suci dan sedikit histeris.


"Selamat atas pernikahannya." Irfan juga hadir.


"Ternyata kalian memang berjodoh." Pak Juned tidak ketinggalan.


Irfan dan Arif pun menyusul untuk memberi selamat pada mempelai.


Selang beberapa menit, Nizar datang. Matanya terbelalak melihat kecantikan Suci. Sangat jelas terlihat bahwa dia sudah terpesona. Dia bahkan lupa untuk memberi ucapan selamat. Tanpa sadar Nizar hendak cipika-cipiki dengan mempelai wanita. Tentu saja itu tidak terjadi karena Riki berhasil menarik paksa tangannya.


"Apa yang mau kau lakukan ?" Riki menatap penuh tantang. Dia sudah berkacak pinggang.


"Maaf pak." Nizar baru sadar bahwa dia sudah melakukan kesalahan.


"Cepat pergi sana. Tidak usah memberi selamat !"


"Maafkan saya pak. Jangan pecat saya !"


Aduhhh apalagi ini ?


Suci sudah geleng-geleng kepala, pusing !


"Jika kau macam-macam lagi, kau akan ku pecat. Tapi karena hari ini adalah hari spesial maka kau ku maafkan. Sekarang pergi makan dan jangan lagi memikirkan Suci ! jangan pernah membayangkan hal aneh-aneh tentang istriku !" Riki nyerosos marah tapi malah terlihat lucu.


Bahkan orangtuanya dan para tamu yang menyaksikan, sudah cekikikan dari tadi.


Ada-ada saja ! pesta pernikahanku benar-benar meriah !

__ADS_1


Suci pasrah saja melihat kelakuan suaminya. Meski kadang konyol tapi Riki tetaplah yang terbaik.


__ADS_2