Seperti Sampah

Seperti Sampah
Usaha mempengaruhi Riki.


__ADS_3

Setelah menghabiskan malam di hotel tempat resepsi, besok siangnya Suci dan Riki sudah kembali pulang ke rumah. Tadinya mereka ingin lebih lama bermalam di sana, namun karena Bu Merly dan Pak Hans akan segera kembali ke Jepang, maka rencana itu dibatalkan.


Suci kini tengah duduk berdua dengan ibu mertuanya di sofa kamar Bu Merly.


"Mama dan papa besok pagi akan kembali ke Jepang. Kamu dan Riki baik-baik di sini. Mama juga titip Raisya." Bu Merly menatap lekat pada menantunya.


"Ya ma..mama dan papa juga hati-hati di sana." Suci menggenggam erat tangan Bu Merly.


Sebenarnya ingin sekali Suci mencegah kepergian mertuanya. Dia merasa kehilangan jika mereka harus pergi lagi. Namun Suci tahu bahwa kedua mertua yang sudah dianggapnya orangtua sendiri itu, tidak bisa menunda lagi keberangkatan mereka. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dituntaskan Pak Hans.


"Mama sebenarnya masih kangen sama kalian. Tapi mau bagaimana lagi ? mungkin nanti suatu saat, mama akan kembali tinggal di sini jika kamu sudah memberikan seorang cucu." Ada lengkungan senyum di bibir merah Bu Merly.


Suci hanya membalas dengan senyuman. Dalam hatinya, ia pun menginginkan segera memberi keturunan untuk keluarga ini. Semoga saja harapan itu akan segera terwujud.


"Sebentar." Bu Merly beranjak dan kembali setelah beberapa saat.


Dia membawa dua kotak berisi perhiasan. Bu Merly duduk di tempat semula.


"Ini simpanlah. Anggap saja ini hadiah kecil dari mama untuk pernikahanmu." Menyodorkan barang yang dibawanya tadi.


Suci menerimanya. Dia belum membuka kotak itu karena sudah dapat menduga apa isinya.


"Buka dong. Kamu suka tidak ?"


Akhirnya karena perintah mama, Suci membuka kotak-kotak berisi dua set perhiasan.


"Ini semua untukku ? apa tidak terlalu berlebihan ma..?"


"Kamu suka ? mama sengaja membelikannya untukmu. Kamu ingat, waktu kita di toko perhiasan Bu Shiva ? mama meminta pendapatmu saat itu karena mama ingin tahu bagaimana seleramu."


"Aku suka ma...terima kasih banyak." Senyum lebar ditunjukkan pada Bu Merly.


Sebenarnya Suci memang menyukai hadiah dari mama Merly, namun yang paling membahagiakan adalah niat baik dan perhatian dari ibu mertuanya. Sekarang Suci semakin yakin jika dirinya sudah benar-benar diterima sebagai bagian dari keluarga Riki.


Malam hari.


Suci kembali mendapatkan hadiah, namun kali ini dari suami tercinta.


"Apa ini mas ?" Suci duduk berdampingan dengan Riki di tepi ranjang. Ditangannya sudah ada amplop coklat.


"Itu amplop." Riki berkata datar namun berniat menggoda.


"Ya aku tahu. Isinya ?"


"Buka saja kalau penasaran." Riki berlaga so cuek.


Ahhh ya, harusnya tidak usah bertanya. Langsung saja buka apa isinya. Kenapa otakku lemot begini ?


Suci terkejut setelah mendapati isi amplop itu ternyata adalah sertifikat rumah atas nama Ayu Pujianti Astuti.

__ADS_1


"Maksudnya mas ?" sebenarnya Suci masih belum mengerti.


"Aku sudah membeli rumah yang dulu pernah kamu tempati di kampung halamanmu. Bukankah itu yang ibu inginkan ?"


Riki memang sengaja menyuruh seseorang untuk mengurus pembelian rumah itu. Riki dapat menangkap jelas keinginan ibu mertuanya untuk kembali menempati rumah bersejarah itu. Bu Ayu sudah dianggapnya seperti ibu sendiri. Selain menghormati, Riki juga menyayanginya.


"Terima kasih mas." Suci memeluk suaminya. Ada rasa haru yang menyeruak di hatinya.


Kebahagiannya bertambah berlipat-lipat. Selain mempunyai mertua yang baik, dia pun memiliki suami yang terbaik pula. Riki tidak hanya berusaha selalu membuatnya tersenyum, tapi pria itu juga selalu menjaga perasaan keluarganya.


Tiba-tiba pintu diketuk. Riki beranjak dan segera membukanya.


"Maaf tuan, ada yang ingin bertemu. Saya kurang tahu orangnya. Tapi katanya penting." seorang pelayan berkata sopan sambil menunduk.


"Baik, saya akan menemuinya."


Pelayan itu kembali ke bawah. Riki menghampiri Suci dan berdiri di sampingnya.


"Kalau sudah ngantuk, tidur duluan saja. Aku mau menemui seseorang."


Suci hanya mengangguk. Tapi dia sedikit penasaran, siapa tamu yang akan ditemui Riki ?


***


Semenjak pertemuan Riki dengan Toso, sebenarnya suami dari adik Suci itu sudah ingin mencari kesempatan untuk berbicara dengan Riki. Namun belum sempat karena Riki sendiri pun sibuk dengan istrinya.


Sebenarnya Riki malas untuk meladeni Toso. Dia sama sekali tidak menyukai Toso karena pria itu selalu menatap lapar saat berhadapan dengan Suci. Meskipun ada gurat kebencian di mata pria itu, namun Riki bisa melihat bahwa Toso sebenarnya tertarik pada istrinya.


Kini Riki sudah duduk di kursi kerjanya, menatap tajam ke arah Toso yang saat itu duduk di sofa di sebelahnya.


"Aku memberimu kesempatan untuk bertemu, karena aku kasihan padamu. Sudah jauh-jauh datang kemari, masa ku suruh kau pulang lagi. Memang apa yang ingin kau bicarakan ?" nada bicara Riki sangat santai meski tatapannya menusuk.


Riki bersandar tenang di sandaran kursinya. Kedua jemari tangannya disatukan. Kakinya bersilang membuat gayanya semakin santai. Tapi matanya tetap mengintimidasi.


Mendapat tatapan tajam seperti itu, membuat Toso gugup. Namun niatnya tak pernah ingin dia kubur. Setelah menarik nafas dalam, pria itu kemudian buka suara.


"Begini mas. Saya melihat bahwa mas adalah orang yang sangat baik. Jadi saya hanya ingin membantu mas, agar terhindar dari kesialan." Agak ragu namun tetap memaksakan bicara.


Riki mengerutkan keningnya. Kedua siku tangannya kini bertumpu pada meja di hadapannya. Dagunya ditahan oleh jemari tangan yang masih saling berpegangan. Tatapannya semakin tajam.


"Bicara langsung, apa maksudmu ? jangan banyak bertele-tele !"


"Saya hanya ingin memberi tahu bahwa mas sudah menikahi perempuan yang salah. Anda pasti tidak akan percaya bahwa sebenarnya mbak Suci itu adalah wanita kotor." Toso berhati-hati saat bicara.


"Apa maksudmu ? kenapa kau menjelek-jelekkan istriku ?" jemari tangan Riki sudah turun dari dagunya.


Sorot mata tajam penuh amarah menusuk sampai ke jantung yang melihat. Namun Toso tetap bersikeras untuk menyelesaikan rencana busuknya. Rasa dendamnya pada Suci lebih besar daripada ketakutannya pada Riki.


"Dulu wanita itu pernah menjadi wanita pemuas pria hidung belang."

__ADS_1


Riki belum merespon. Dadanya sudah semakin panas. Tangannya terkepal kuat di atas meja. Wajahnya merah menahan amarah.


Sepertinya kata-kataku sudah bereaksi.


Senyum licik muncul di sudut bibir Toso. Ia pikir Riki sudah naik pitam pada Suci. Padahal sebenarnya Riki merasakan kemarahan yang besar pada Toso karena sudah berani menghina istrinya.


"Malah dia pernah menggodaku dulu. Padahal aku ini adalah adik iparnya sendiri. Tentu saja aku menolaknya. Aku ini pria yang sangat setia pada istriku." Dengan pedenya Toso berusaha mengompori.


"Kau punya bukti atas tuduhanmu ini ?" Riki menurunkan sebelah kakinya yang menyilang.


Dia mencoba menahan dulu geramnya. Ingin mengetahui sejauh mana pria menyebalkan itu mempengaruhinya.


"Kalau mas belum percaya, tanyakan saja pada mantan suaminya. Doni bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat mbak Suci berusaha menggoda saya." Toso sangat bersemangat menjelaskan kebohongannya.


Riki tersenyum sarkas. Dia menggelengkan kepalanya. Dia tahu benar pria macam apa yang sudah berusaha menghancurkan hubungannya dengan Suci.


Riki sebenarnya sudah mengetahui peristiwa ini dari Syarif. Bahkan adik iparnya itu mewanti-wanti agar Riki tidak berurusan dengan Toso. Sebenarnya tanpa diingatkan pun, Riki sudah pasti tidak akan gegabah mendengarkan omongan orang lain, apalagi yang menyangkut harga diri Suci.


Benar-benar bodoh ! aku sudah tahu cerita khayalan yang kau buat ini. Kau kira aku akan percaya begitu saja ? benar-benar bodoh !


"Kau ini lucu tapi sangat menyebalkan !" Riki tertawa terbahak namun tatapannya masih menusuk.


Toso mengerutkan dahinya. Tubuhnya bergetar saat Riki sudah berdiri di dihadapannya. Dia tak mau berkoar lagi.


Kenapa dia malah tertawa ? tapi aku tahu pasti bahwa dia sedang sangat marah.


Toso menundukkan wajahnya. Dadanya sudah dag dig dug tak karuan. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Riki.


"Kau pikir aku akan percaya begitu saja pada cerita dongengmu itu ? aku tidak sebodoh Doni." Riki sudah berkacak pinggang. Nada bicaranya masih rendah.


Toso belum mampu bersuara, mulutnya seolah terkunci. Kepalanya berputar memikirkan cara untuk keluar dari masalah yang mungkin akan segera menghampirinya.


"Aku sudah tahu semuanya tentang masa lalu Suci dan aku tidak akan mempermasalahkannya. Bagiku dia adalah wanita terbaik. Aku sangat percaya pada istriku." Riki berkata penuh keyakinan yang semakin membuat Toso terdiam.


"Mulai sekarang jaga mulut lemesmu itu ! jangan pernah lagi menjelekan Suci. Aku tahu betul bahwa sebenarnya kau lah yang mengincarnya. Aku tidak sebodoh itu !" kerah kemeja Toso sudah dipegang erat oleh Riki, membuat pria itu terpaksa berdiri.


Toso tak dapat melawan, tubuhnya semakin lemas bergetar. Dia menundukkan wajahnya agar tak dapat melihat mata membunuh milik Riki.


"Jika kau berulah lagi, maka akan ku pastikan bahwa kau tidak akan pernah bebas berkeliaran di luar. Kau akan mendekam di penjara." Riki sekuat tenaga meninju bagian wajah menyebalkan milik Toso.


Sebelah tangannya masih memegangi kerah baju Toso, dan sebelah lagi kembali meninju berulang-ulang. Riki menghempaskan kasar tubuh Toso ke lantai.


Terlihat cairan kental merah pekat mengucur dari sudut bibirnya. Wajah pria itu sudah bonyok dan memar-memar. Toso menatap tajam ke arah Riki, dia sangat marah namun tak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah rumah Riki, jika dia melawan maka sudah pasti akan tamat saat itu juga. Lagipula tenaga Riki jauh lebih kuat daripada Toso.


"Pergi kau sekarang. Aku bisa saja menyingkirkanmu jika kau masih ada di hadapanku." Nafas Riki masih memburu. Tatapannya masih membunuh. Teriakan Riki membuat nyali Toso saat itu semakin ciut.


Sekuat mungkin Toso berusaha berdiri dan menyeret kakinya. Dia ingin segera melarikan diri dari sana.


Saat ini aku mengalah, tapi aku akan membalas penghinaanmu ini tuan Riki !

__ADS_1


Toso masih saja berpikir untuk menghancurkan orang-orang yang mengusiknya. Dia masih belum kapok setelah mendapat pelajaran dari Riki.


__ADS_2