
Suci sudah berbaring di tempat tidur. Riki menyelimutinya dan duduk menemani. Bi Fatma datang membawa sup dan minuman herbal. Disodorkan pada tuannya. Lalu dia pun pergi.
"Makan dulu terus minum obat." Riki bersiap menyuapi.
"Tadi aku sudah makan di kantin."
"Biar cepat sembuh. Aku tidak akan tenang jika melihatmu sakit begini." Riki menyimpan dulu nampan yang dipegangnya.
Suci pun menurut. Ia duduk bersandar pada bantal dengan bantuan suaminya. Nampan kembali diraih Riki dan menyuapi Suci dengan hati-hati.
Sesekali Riki mengelus rambut Suci dan mencium tangan juga keningnya. Mendapat perlakuan istimewa dari suaminya, membuat hati Suci berdesir.
"Sekarang minum obat." Riki begitu semangat merawat istrinya.
Suci hanya diam dan memperhatikan gerak-gerik Riki.
"Sekarang kamu tidur yang nyenyak. Aku mau ke kamar mandi sebentar." Membaringkan kembali tubuh Suci dan membenarkan selimutnya.
"Istirahat yang tenang, aku tidak akan mengganggu." Riki mencium lembut kening istrinya.
Suci hanya menatap lekat pada Riki. Hatinya semakin tersentuh oleh perhatian yang didapatnya dari pria itu.
"Kenapa menatapku begitu ? baru sadar ya kalau aku ini tampan ?" tersenyum menggoda.
"Mas...terima kasih banyak karena sudah mencintaiku dengan tulus. Memberikan perhatian dan kebahagian yang sangat besar untukku." Suci memegang tangan Riki sembari menatapnya dalam.
"Aku juga ingin berterima kasih karena kamu sudah mau bersamaku dan membuat hidupku lebih berarti." Riki mengenggam tangan Suci dan tersenyum.
Empat mata itu bertemu. Debaran jantung mereka menanjak.
"Aku mencintaimu mas."
"Apa ? katakan lagi !" mata Riki berbinar saat mendengarnya.
"Aku mencintaimu mas Riki."
"Aku juga sangat mencintaimu istriku sayang. Sekarang tidur. Aku mau mandi dan setelah itu aku akan menemanimu lagi." Riki kembali mengecup kening Suci.
Senyum sumringah menghiasi wajah Riki. Bahkan saat di kamar mandi pun dia masih saja mesem.
Akhirnya Suci mengakui bahwa dia mencintaiku juga.
Saat kembali menghampiri Suci, istrinya itu sudah terlelap.
"Terima kasih sudah memberikan hatimu padaku. Aku akan selalu menjaganya." Riki mengelus kepala Suci dan menciumnya. Dia ikut tertidur di sebelah Suci.
***
Rabu pagi.
"Suci mana ?" Riki bangkit dari tidurnya.
Dia menyisir segala penjuru ruangan. Di kamar mandi tidak ada, di mushola pun tak nampak, di ruang ganti tiada. Di semua tempat di kamarnya pun nihil.
Riki keluar kamar dan mencarinya di bawah. Benar saja ternyata Suci sudah berkutat di dapur. Riki menghampirinya.
"Kamu harus istirahat, jangan dulu berkeliaran apalagi melakukan pekerjaan apapun di rumah ini. Aku khawatir !" Dipegangnya wajah Suci.
"Badanku sudah enakan sekarang. Sudah tidak lemas lagi. Sudah lebih bertenaga."
"Lalu apa sekarang kamu mau pergi bekerja juga ?" Bertanya dengan senyum yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Kalau mas ijinkan aku mau berangkat kerja." Menjawab dengan polosnya.
"Tentu saja tidak boleh ! kamu ingin membuatku jantungan ya, karena mencemaskan mu ?" sudah berkacak pinggang.
Dia marah !
"Aku tidak akan kemana-mana. Mau istirahat saja di tempat tidur seharian." Berharap dengan tersenyum manis maka suaminya kembali tenang.
"Bagus. Ku antar lagi ke kamar." Riki mengangkat tubuh Suci menuju lantai atas.
"Mas aku bisa jalan sendiri. Tadi juga tidak terjadi apapun saat aku berjalan menuju dapur." Celingukan takut ada yang melihat.
"Biar tidak mengeluarkan tenaga maka ku bantu, biar cepat sembuh."
Ya baiklah. Aku merasa tidak enak hati sebenarnya. Tapi senang juga diperlakukan seperti ini.
Suci senyum-senyum.
Dia kembali berbaring di tempat tidur. Riki terus setia menemani dan merawatnya dengan baik. Menyuapi, memberikan obat, memijat, menina bobokan, menyiapkan air hangat untuk mandi, bahkan jika diijinkan Riki pun bersedia memandikan Suci. Tapi tentu saja ditolak oleh istrinya itu.
***
Besoknya Riki bersiap pergi ke kantor setelah seharian kemarin dia tidak nongol karena harus menjaga Suci.
"Kamu jangan kemana-mana dan jangan melakukan pekerjaan apapun. Istirahat di rumah. Nanti akan ku suruh orang untuk menjemput ibu agar kamu ada yang menemani."
"Ya mas. Terima kasih. Hati-hati di jalan." Suci mencium tangan Riki.
"Sudah diam saja di sini. Jangan mengantarku ke depan, kamu harus istirahat kan ?!" mengecup kening sebentar.
Saat di kantor.
"Terima kasih karena kemarin kalian sudah menolong Suci saat pingsan. Tapi siapa yang sudah membawanya ke ruang kesehatan ?" menatap tajam.
Ini bos mau berterima kasih atau mau memberi hukuman ? Barbi.
Sudah ku duga ! Irfan.
"Kenapa kalian diam ?" menatap kedua pekerjanya bergantian.
"Bukan kami yang membawanya." Barbi mencoba mengamankan diri sendiri.
Tatapan mata Riki semakin menusuk, meminta segera dijawab.
"Mas Nizar yang menolong dan membawa mbak Suci ke ruang kesehatan." Irfan yang kali ini bersuara.
Pria itu lagi...
Raut muka Riki semakin masam.
"Tolong panggilkan dia untuk segera menemui saya sekarang juga !"
"Baik pak." Barbi dan Irfan menjawab serentak dan segera pergi.
Selang beberapa menit, Nizar sudah menghadap bosnya.
"Anda memanggil saya pak ?"
"Apa benar kamu yang kemarin membawa Suci ke ruang kesehatan ?" tatapan matanya sudah sinis.
"Benar pak. Saya lebih tepatnya me-no-long Suci ke sana agar segera diperiksa Dokter." Nizar menekan perkataannya.
__ADS_1
"Kamu sudah menyentuh apa saja hah ?" sudah naik pitam.
"Tidak menyentuh apapun, saya cuma menolong saja. Mengangkat Suci ke ruang kesehatan."
Kenapa lagi orang ini ? memangnya aku sudah berbuat kriminal ?
Aliran darah Riki semakin mendidih.
Berani sekali dia menyentuh istriku !
Riki memang ingin memberi Nizar bogem nya. Riki menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tenang....pria ini hanya menolong Suci, bukan mau macam-macam !
tapi dia sudah berani menyentuh wanita milik mu !
coba bayangkan jika Suci tidak segera dibawa ke ruang kesehatan, mungkin saja keadaannya bertambah buruk !
Pikiran Riki bergelut. Akhirnya dia bisa meredam amarahnya. Untung saja otaknya masih berfungsi dengan normal. Rasa cemburunya ia kesampingkan.
"Baiklah, terima kasih sudah menolong Suci. Tapi ingat janjimu waktu itu, untuk tidak lagi dekat-dekat dengannya !"
"Baik pak."
Aku masih ingat pak ! tapi apa anda sendiri menjaga jarak dengan Suci ? aku akan mengadukan anda pada suaminya nanti, tentunya setelah aku mengetahui siapa orangnya.
Nizar kembali ke tempatnya.
***
Sementara itu, Suci menghabiskan waktunya di kamar ditemani oleh Bu Ayu. Mereka saling mengobrol hingga sore hari.
Kini Suci berada di depan rumah untuk mengantarkan ibunya.
"Ibu menginap saja di sini ! nanti biar Syarif juga suruh pulang ke rumah ini." Bujuk Suci.
"Tidak usah, nanti saja. Kalian kan pengantin baru, ibu tidak mau mengganggu." Bu Ayu tersenyum, membuat merah wajah anaknya.
"Ahhh ibu ini. Kalau begitu hati-hati ya Bu. Maaf aku belum main lagi ke rumah ibu."
"Ya...tidak apa-apa. Yang penting kamu di sini bahagia, maka ibu dan Syarif juga akan sama bahagia."
Setelah peluk cium perpisahan, Bu Ayu pun meninggalkan rumah itu. Suci kembali ke kamarnya.
Beberapa lama kemudian.
"Riki !" suara seorang wanita dari luar kamar dan langsung membuka pintu.
Suci yang saat itu tengah ada di kamar mandi tidak bisa mendengarnya.
"Riki, kamu sedang mandi ? tidak ke kantor ? lihat siapa yang sudah datang dan memberi kejutan ?" wanita itu ada di depan kamar mandi.
Suci terbelalak melihat wanita itu tiba-tiba muncul di sana.
"Maaf anda siapa ?"
Wanita itu tak kalah kagetnya dengan Suci. Dia memindai Suci dari atas hingga bawah.
Siapa wanita ini ? kenapa bisa ada di dalam kamar Riki ? Wanita itu pun sama bingungnya dengan Suci.
To be continued.....
__ADS_1