Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bos.


__ADS_3

Hari kedua bekerja Suci melakukan tugasnya seperti kemarin namun kali ini ditambah dengan mengantar beberapa dokumen dan juga membelikan makan siang para karyawan. Meski tersedia kantin di sana namun ada beberapa yang mau jajan di luar.


"Mbak nyaman gak kerja di sini ?" tanya Barbi saat mereka selesai makan siang.


"Nyaman karena kalian pada baik sama mbak." Menjawab plus senyum.


"Siti ! nanti habis jam istirahat kelar kamu temui saya ada yang harus saya bicarakan denganmu." Pak Juned menghampiri.


"Baik siap ketua !" jawab Barbi.


"Nama kamu Siti ? bukannya Barbi ? atau Siti itu nama depanmu ?" tanya Suci.


"Nama asli saya Siti Khofifah tapi dipanggil Barbi karena mungkin saya secantik boneka Barbie hehe." Menjelaskan dengan cengengesan.


"Ah itu mah maunya si Barbi aja. Muka kayak boneka Suzan aja pengen dibilang mirip Barbie." Berlalu pergi sambil tertawa.


"Pak Juned gitu banget sihhh." Barbi mengerucutkan bibirnya.


"Memang kenapa kamu mau dipanggil Barbi ? kan nama yang dikasih orang tuamu juga sangat bagus."


"Aku kan emang menyukai dunia Barbie sejak dari kecil. Membayangkan seandainya aku punya body sesempurna itu. Pasti banyak cowok yang tertarik."


"Jadilah diri sendiri dan syukuri apa yang kamu miliki. Yang terpenting bukanlah penampilan fisik, tapi apa yang ada dalam hati dan juga pemikiran." Suci memberi petuah.


"Hehehe oh ya mbak...tadi pagi mbak diantar sama siapa ?"


"Sama adik."


"Ganteng lho mbak adiknya. Boleh kenalin sama aku dong."


"Nanti mbak kenalin."


"Adik mbak masih kuliah atau udah kerja ?"


"Gak kuliah dan masih cari kerjaan. Melamar kesana-kemari belum dapet."


"Bilangin sama dia...gak usah ngelamar kerja. Mending ngelamar aku aja pasti ku terima hahaha."

__ADS_1


Obrolan terhenti karena jam istirahat telah habis.


***


Saat pulang kerja.


"Syarif kenalin ini temen mbak."


"Barbi...." mengulurkan tangan sambil tersenyum semanis mungkin.


"Syarif." Namun pria itu menangkupkan kedua tangannya.


"Maaf hehe." Barbi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ahhh benar-benar sesuatu banget nih cowok. Udah ganteng sopan lagi dan sepertinya baik. Syarif....I love you full. Ku tunggu kau di pelaminan.


"Mbak duluan ya assalamualaikum." Suci dan adiknya meluncur meninggalkan Barbi yang masih berputar dengan hayalannya. Dia bahkan lupa menjawab salam.


Esok harinya.


Suci harus telat datang ke tempat kerja karena motor Syarif mogok. Ia akhirnya naik angkot yang terlalu lama ngetem hampir tiap gang berhenti.


"Suci kenapa kamu telat ? itu si Bos baru aja masuk ke ruangannya. Cepetan bawain dia kopi."


"Maaf Pak."


Secepat kilat Suci menyeduh kopi dan naik ke lantai atas. Sebelum masuk dia menghela nafasnya yang masih tersengal-sengal.


Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk Suci pun meletakan minuman yang dibawanya di atas meja.


"Mmmm Bos. Maksud saya Pak. Maaf saya terlambat."


Belum ada jawaban dari atasannya bahkan pria itu belum menghadap ke arah Suci.


"Tolong kamu urus secepatnya jangan sampai mengecewakan mereka." Masih duduk membelakangi Suci yang sedang mematung.


Ohhh si Bos rupanya sedang berbicara dengan seseorang di telpon.

__ADS_1


Selang beberapa menit pembicaraan Pak Bos dengan rekannya berakhir.


"Pak maafkan saya karena hari ini saya terlambat datang."


"Karena kamu karyawan baru dan ini adalah kesalahan pertama jadi saya tidak akan mempermasalahkannya. Jangan diulangi lagi. Sekarang kamu kembali bekerja." Berbicara tapi masih membelakangi Suci.


"Baik pak terima kasih banyak. Saya akan lebih disiplin lagi ke depannya. Saya permisi."


Suci kembali ke lantai bawah.


"Gimana apa bos marah ?" Pak Juned sudah panik.


"Tidak pak. Saya masih beruntung."


"Bos memang baik tapi tetap saja aku takut dia marah. Kalau kamu out dari sini aku juga yang bingung. Ehhh tapi gimana menurutmu ? bos orangnya ganteng kan ?!"


"Gak tahu saya belum pernah melihat wajahnya."


"Apa ? malang sekali nasibmu karena melewatkan pemandangan indah nan elok. Biar ku kasih sedikit gambarannya. Bos itu mempunyai tubuh yang atletis dan tinggi. Hidung mancung, matanya yang sipit, kulit putih bersih, bibirnya yang mungil sexy, ohhh ya ampunn dia adalah makhluk Tuhan yang paling sexy. Aku tidak sanggup lagi menjelaskan betapa indahnya dia. Jika aku perempuan mungkin sudah sejak lama aku menggaetnya."


Suci gagal fokus dan tidak memikirkan perkataan Pak Juned. Dia malah lebih memperhatikan ekspresi pria itu yang lebay dan menggelikan.


Saat jam makan siang Suci kembali dipanggil ke ruangan bos.


"Permisi pak." Menghampiri dan berdiri di depan meja kerja.


"Saya mau makan siang di sini. Tolong bawakan saya Tacos dan lemon tea." Masih duduk membelakangi.


"Baik pak. Ada yang lain yang harus saya bawa untuk bapak ?"


"Tidak ada.Siapa namamu ?"


"Suci."


"Suci ???" sekarang kursi itu sudah berputar dan membuat si Bos bersitatap dengan karyawannya.


Suci terkesiap melihat siapa sebenarnya atasannya itu. Baru kali ini dia mengetahui bahwa pria yang menjabat sebagai Direktur utama perusahaan tempatnya bekerja adalah....

__ADS_1


Riki ? jadi si Bos itu adalah dia ?


__ADS_2