Seperti Sampah

Seperti Sampah
Hamil.


__ADS_3

Suci sudah menunggu di depan pintu dengan senyum paling manisnya. Menanti suaminya yang sesaat lagi akan pulang dari kantor.


Bibirnya melengkung sempurna ketika sosok pria yang ditunggunya itu muncul.


Riki berjalan tergesa menghampiri wanita yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Lelahnya seolah sirna karena senyum ketulusan dari istrinya.


"Assalamualaikum." Riki mengecup puncak kepala Suci.


"Waalaikumussalam." Dan Suci pun mencium punggung tangan suaminya.


Riki memperhatikan setiap inci wajah wanita yang masih tersenyum itu. Sambil melangkah bergandengan, pria itu bahkan terlihat mengamati semua perubahan pada wajah yang semakin hari semakin bersinar baginya.


Riki menghentikan langkahnya, membuat Suci pun ikut diam.


"Ada apa ?" Suci mengernyit.


"Ahhh tidak." Riki nyengir seraya menggeleng.


Keduanya sudah masuk ke dalam kamar. Suci membantu suaminya melepas jas yang masih menempel. Riki tetap anteng memindai wajah milik Suci.


"Sayang, kamu mau kemana ? sudah menor begitu." Tangannya melingkar di pinggang.


Dia bilang aku menor ?


Suci yang saat itu hendak melepaskan dasi dari leher Riki, kini malah mengencangkan talinya sehingga membuat suaminya engap. Matanya melotot menatap wajah bingung pria yang masih setia memeluknya.


Kedua tangan Riki membentuk huruf V meminta perdamaian, "Ampun sayang !!! maaf kalau aku salah bicara !"


Nyengirnya Riki malah membuat Suci semakin kesal. Dia mendorong tubuh suaminya. Jas yang semula digantung di lengannya, dilempar begitu saja ke muka bingung milik Riki. Lalu dia masuk ke kamar mandi.


Brakkk ! pintu dibanting keras hingga tertutup, membuat jantung Riki meloncat.


Pria itu mengusap-usap dadanya, "Astaghfirullah....gawat ! mudah-mudahan saja Suci tidak menyuruhku tidur di sofa malam ini."


Riki sangat takut pada istrinya, takut ditendang dan meringkuk sendirian, kedinginan di tempat terpisah. Itu membuatnya sangat tersiksa, tidak akan bisa tidur.


Sementara wanita yang masih ada di dalam kamar mandi, tengah mencuci mukanya dengan kasar. Hatinya terus menggerutu sembari menatap wajahnya di cermin.


Aku sedang semangat berdandan khusus untuknya, tapi dia malah mengejekku. Dia bilang aku menor ?! keterlaluan !


Tiba-tiba air matanya menetes. Rasa kesal dan sakit menyelimuti hatinya.


"Sayang....kenapa lama sekali ? apa yang sedang kamu lakukan di dalam sana ?" Riki menggedor-gedor pintu.


Suci menyeka air jernih dari pipinya. Bibirnya mengerucut.


"Sayang...cepat keluar ! aku sangat cemas." Riki sudah sangat panik.


Dia sudah berteriak-teriak sambil mendobrak pintu. Suci sama sekali tak mau menjawab.


"Sayang...!!!" Riki terus berusaha membuka pintu dari luar.


Saat ingin mendobrak lagi, tiba-tiba Suci muncul di hadapannya dengan ekspresi kesal.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang ?!" Riki memeriksa setiap inci dari tubuh Suci lalu memeluknya erat.


"Kenapa kamu diam saja saat aku memanggil ? kamu marah ?" Riki memegang kedua bahu Suci.


Suci mendelik dan berlalu, masih dengan muka juteknya. Dia duduk di meja rias. Menyisir rambutnya yang berantakan bekas diikat. Sedangkan penutup kepala yang tadi dia pakai, tergantung begitu saja di kamar mandi.


Sore ini dia memang sengaja ingin tampil lebih fresh, lebih cantik untuk Riki. Pipi dan bibirnya sudah dimerah-merahin, alis sudah ditebal-tebalin, dan mata sudah dilentik manja.


Bahkan dia sudah memakai banyak parfum pada bajunya yang berwarna mustard bermotif bunga-bunga yang sangat meriah. Hari ini Suci ingin tampil lebih cerah ceria di depan suaminya. Namun respon Riki yang menyebutnya menor sangat mengusik benaknya. Usahanya berarti hanya sia-sia. Maka dari itu, sekarang wajahnya sudah kembali polos.


Riki menghampiri dan membungkuk menempelkan pipinya pada pipi wanita yang masih cemberut itu. Tangannya melingkar pada pinggang Suci.


"Maaf, jangan marah ya...aku tidak bermaksud mengataimu menor. Aku hanya bercanda." Senyum kecil muncul di bibir Riki.


Suci bergeming.


"Justru aku sangat menyukai penampilanmu. Semakin cantik dan menggoda." Sebelah alis Riki terangkat, senyum terselubung maksud tertentu, muncul dari sudut bibirnya.


Cup, pipi kiri Suci dikecup sebentar oleh Riki, membuat wajahnya merona. Dia pura-pura tak terpengaruh dengan perlakuan manis suaminya, masih gengsi. Padahal hatinya sudah mulai meleleh.


Riki berdiri normal dan tatapannya ke arah cermin.


"Sini, biar aku yang menyisir rambutmu." Tangan Riki menjulur, meminta benda yang dipegang Suci.


Suci menunduk tak menjawab, namun benda itu nyatanya disodorkan pada suaminya.


"Rambutmu sangat indah, wangi. Sepertinya asik jika aku bisa mencucikannya untukmu." Riki menggoda meski matanya fokus pada rambut hitam yang tergerai sepinggang.

__ADS_1


"Modus !" Suci membuka suara.


"Ya memang, tidak bolehkah aku modus pada istri sendiri ?" Riki nyengir sambil terus menyisir lembut rambut hitam tergerai milik istrinya.


Suci hanya mesem. Usai merapikan rambut istrinya, Riki masuk kamar mandi.


Sepertinya malam ini Riki tidak akan diusir dari tempat tidur karena mood istrinya sudah membaik.


***


Esok paginya.


Riki menyodorkan sebuah test pact agar segera dipakai oleh Suci.


"Kamu membeli ini mas ?" ada sesuatu yang berdesir ketika dia memegangnya.


Riki mengangguk. Ia memeluk Suci dari belakang.


"Aku merasa tidak hamil, karena sama sekali tidak pernah mual atau mengalami gejala seperti wanita yang sedang mengandung." Suci agak mengernyit.


"Coba saja, nanti lihat hasilnya bagaimana !"


"Baiklah. Tapi...memangnya mas tidak malu saat membelinya ?"


"Kenapa malu ? cepat masuk ke kamar mandi, aku ingin segera melihat hasilnya."


"Ya, tapi lepaskan dulu."


"Baiklah." Sebelum melepas pelukannya, Riki mengecup sebentar pipi merona istrinya.


Suci berjalan pelan ke arah kamar mandi. Dadanya berdebar kencang. Mungkin karena ini pertama kalinya ia menggunakan test kehamilan, maka rasa gugup menguasainya.


Riki mondar-mandir di depan kamar mandi. Sebelah tangannya dimasukkan ke saku celana, dan sebelah lagi mengusap-usap dagu tak berbulunya. Jantungnya berdebar keras.


"Kira-kira dugaanku benar tidak ya ?" Riki bergumam pelan.


"Sayang...kenapa lama ?" Riki menggedor pintu setengah berteriak. Ia sudah tak sabar melihat hasilnya.


Tak lama kemudian, Suci muncul dengan wajah sendunya yang berderai air mata. Riki memeluknya erat dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Tidak apa-apa, jangan bersedih. Mungkin belum saatnya kita menjadi orangtua. Maaf karena aku sudah memaksamu untuk melakukan test kehamilan." Lirihnya menyesal.


Mungkin aku terlalu cepat mengambil kesimpulan.


Riki memperhatikan betul-betul benda itu. Ada dua garis merah di sana, meskipun yang satunya agak samar, tapi itu menunjukkan bahwa hasil testnya positif.


"Kamu benar-benar hamil ?" Riki memeluk kembali tubuh Suci lebih erat, tangis haru menyelimuti keduanya.


***


Siang ini Suci tengah terbaring di ranjang Rumah Sakit. Riki berdiri di sebelahnya.


Seorang dokter spesialis kandungan akan segera memeriksa janin yang ada di perut Suci.


"Stop Dok, jangan pegang-pegang istri saya !" Riki protes saat Dokter laki-laki akan menyentuh perut Suci.


"Maaf pak, ini memang termasuk tugas saya." Sang Dokter tersenyum ramah.


"Silahkan lakukan tugas anda dengan baik tapi jangan berani bersentuhan dengan istri saya." Muka jutek Riki membuat Dokter itu gemas, dia berusaha tersenyum meski sebenarnya sudah kesal.


Kebodohan jenis apa ini ? kalau aku tidak menyentuh istrinya, bagaimana aku akan memeriksanya ? memangnya aku ini penerawang apa ?


"Begini pak, saya tidak mungkin bisa mengetahui kondisi istri bapak dan janinnya hanya dengan menatapnya saja bukan ?!" masih dengan senyum yang dipaksakan, Dokter itu mencoba bicara.


"Menatap juga tidak boleh ! enak saja !" Riki berkacak pinggang.


Dokter memegang pelipisnya, semakin kesal dengan kekonyolan pria yang ada di hadapannya itu.


"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membantu kalian ? apa sebaiknya bapak saja yang saya periksa ?" berbicara ramah meski hatinya sudah gedeg.


"Dokter ini kurang cerdas, istri saya yang hamil, bukan saya."


Nahhh itu kau tahu, tapi kenapa kau begitu bodoh melarangku untuk menyentuh istrimu ?


Dokter itu mendencitkan giginya menahan amarah.


Sementara itu Suci yang memang sedang grogi dengan kehamilannya, kini semakin panik karena ulah kedua pria itu.


"Begini Dok, saya ingin seorang dokter wanita yang memeriksa istri saya. Jadi saya bisa tenang. Jika seorang pria yang melakukannya, bisa saja kan, pikirannya nanti aneh-aneh saat menyentuh istri saya." Riki masih judes, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.


"Kau benar-benar.....memangnya aku ini pria mesum ?!" Dokter sudah setengah berteriak sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


Suci beranjak duduk.


"Sudah diam semuanya !" suara Suci jauh lebih kencang daripada teriakan dokter.


Kedua pria itu pun bungkam. Akhirnya dokter laki-laki itu pun pergi dan digantikan oleh seorang dokter wanita.


Suci kembali berbaring di tempat semula. Dokter Sarah menghampiri untuk melakukan USG perut. Dia mengoleskan gel pada perut Suci. Lalu menempelkan transduser (alat pemindai) pada bagian itu dan menggerak-gerakannya.


Riki menggenggam erat tangan Suci dan mengelus kepalanya. Keduanya hanyut dalam keharuan ketika melihat layar monitor, terpampang gambar janin buah cinta mereka.


"Kandungan ibu sudah memasuki usia 8 minggu. Pada usia ini, bayi baru sebesar kacang merah dengan panjang sekitar 2,7 sentimeter. Bentuk wajahnya makin jelas. Telinga, bibir atas dan ujung hidung mulai terlihat. Mata janin juga terlihat jelas karena retina sudah mulai mengembangkan pigmen."


Air mata Suci berderai mendengar penjelasan dokter. Bahkan Riki pun sama, ia tak bisa menutupi harunya.


"Alhamdulillah, janin dan ibunya sama-sama sehat dan tidak ada masalah."


Riki beberapa kali mengecup kening istrinya.


"Terima kasih banyak sayang, kamu sudah memberikan seorang anak yang akan melengkapi kebahagiaan kita."


"Berterima kasih pada Tuhan yang sudah memberi kepercayaan pada kita untuk menjadi orangtua." Suci tersenyum.


Riki mengangguk dan menciumi kedua tangan wanita yang sangat ia cintai.


***


Malam hari.


Riki menghubungi seluruh keluarganya dan keluarga Suci, memberi tahukan kabar kehamilan istrinya. Mereka semua terhubung dalam satu waktu meski dengan tempat berbeda dan jarak yang berjauhan pula. Teknologi yang semakin canggih lebih memudahkan semua orang berkomunikasi.


Suasana sangat ramai seakan semua orang benar-benar sedang berkumpul dalam satu ruangan.


"Alhamdulillah, sebentar lagi ibu akan menimang cucu lagi." Tangis haru dari Bu Ayu.


"Mama sangat bahagia, secepatnya mama akan mengurus keberangkatan ke sana." Bu Merly tak kalah senang.


"Mas, tolong jaga mbak Suci, jangan sampai kelelahan." Syarif menimpali.


"Mbak, selamat ya ! aduh senangnya nanti di rumah akan ada tangisan bayi !" Raisya ikut nimbrung.


Dan masih banyak lagi obrolan-obrolan mereka, membuat kebahagiaan itu semakin berlipat.


Puas cuap-cuap berjamaah, sepasang suami istri itu kini berpelukan di atas tempat tidur.


"Aku sangat.....bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Kamu wanita yang hebat !" Riki membelai rambut istrinya yang menempel di dadanya.


"Aku juga bahagia sekali. Tapi aku bukan wanita hebat, hampir semua wanita itu hamil bukan ?! kamu ini !" Suci mesem.


"Usaha kita selama ini, berperang setiap malam dan kadang siang juga, ternyata membuahkan hasil. Tidak sia-sia lelahku ini, karena sekarang kamu sudah hamil."


"Nahhh karena usahamu sudah berhasil maka sekarang kita tidak usah lagi melakukan itu."


"Heyyy apa maksudmu ? kita tetap harus melakukannya setiap hari, agar anak kita nanti bisa mengenal lebih dekat siapa ayahnya." Riki mensejajarkan diri agar bersitatap dengan Suci.


"Kata siapa ? harusnya kan kita memang jarang melakukannya, usia kehamilanku ini kan baru trimester pertama." Suci mengerucutkan bibirnya.


Riki menangkupkan tangan di wajah istrinya, "Setidaknya, dua hari sekali saja boleh ya ?" wajah Riki memelas.


"No !" Suci menggeleng.


"Seminggu sekali ?"


"Tidak ! sebulan sekali saja ! aku tidak mau mas mengganggu bayiku."


Riki menghela nafas dalam-dalam, "Baiklah, aku akan berusaha demi anak kita." Riki berbicara sangat lemah. Suci hanya mesem-mesem.


Dia kembali membenamkan wajah Suci di dadanya. Mengusap dan menina bobokan istrinya itu. Saat Suci sudah ada di alam mimpi, Riki masih terjaga. Ia mengusap lembut wajah tenang milik istrinya, mengecup lama keningnya.


"Terima kasih banyak sudah memberiku bertubi-tubi kebahagiaan. Aku semakin mencintaimu." Riki berbisik memandangi wajah Suci.


Tiba-tiba otak ngeresnya muncul. Riki menepuk-nepuk keras jidatnya agar segera sadar.


Ahhh, kenapa selalu begini ? setiap berdekatan pasti pikiranku ke sana. Bertobatlah Riki !


Riki gelisah berbaring kesana-kemari. Membelakangi Suci rasanya tak nyaman, jika menghadap pun pasti pikirannya jalan lagi ke arah begituan.


Sampai lewat tengah malam pun Riki belum bisa memejamkan matanya. Kali ini dia duduk.


"Astaga ! sampai kapan aku harus seperti ini ? sabarrrrr !" Riki menyugar rambutnya kasar lalu mengusap dadanya.


Daripada bengong dan tersiksa begini, lebih baik aku ke kamar mandi.

__ADS_1


Riki mengambil wudhu dan melaksanakan shalat malam. Membuka kembali kitab yang sudah lama sekali tak disentuhnya. Ada rasa tenang setelah menjalani itu semua.


Setelah usai, ia kembali meringkuk memeluk Suci dan ikut terlelap. Pikiran mesumnya sudah ikut tidur juga.


__ADS_2