
Sore hari di rumah Riki sudah ada Bu Ayu dan Syarif. Mereka sengaja dibawa oleh Raisya atas perintah Riki. Sebenarnya Riki menyuruh salah satu pegawainya namun Raisya menawarkan diri secara sukarela. Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Bu, aku kangen." Suci memeluk erat ibunya.
"Ibu juga." Bu Ayu tersenyum.
"Mas aku jadi kangen juga pada kedua orangtua kita. Aku ingin memeluk mereka secara langsung." Raisya berbicara pelan pada kakaknya.
"Mas juga sama. Semoga saja mereka bisa cepat pulang ke Indonesia."
Pandangan Raisya beralih ke Syarif yang dari tadi irit bersuara.
Syarif yang pendiam dan juga cuek berhasil membuatku move on dari mantanku.
"Mas apa tidak masalah jika seandainya aku menyukai pria yang usianya jauh lebih muda ?" berbisik di telinga Riki.
"Memang siapa ? boleh saja sih. Tapi harus tahu dulu bagaimana karakternya." Riki tidak terpikir bahwa pria yang dimaksud Raisya adalah adik iparnya.
Saat itu ponsel Riki bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk dari seseorang. Riki memilih pindah ke tempat lain agar tidak terdengar siapapun.
(Bagus ! saya akan ke sana sekarang juga. Jangan sampai mereka kabur)
Setelah menutup panggilan itu Riki pamit. Ia segera meluncur ke lokasi yang dimaksud.
***
Pak Agus dan istrinya beserta Bu Retno yang menjadi orang suruhan Teni sudah diintrogasi habis-habisan oleh orang kepercayaan Riki. Mereka ada di sebuah bekas gudang.
"Maafkan kami tuan. Kami hanya disuruh." Mereka berlutut di kaki Riki.
"Berdiri ! saya tidak suka diperlakukan seperti itu. Siapa yang menyuruh kalian ?"
"Kami tidak mengenalnya tapi kami punya nomer kontaknya." Bu Agus segera memberikan ponsel miliknya.
"Wanita gila ini ternyata." Riki mengembalikan ponsel itu.
"Mau saya kirim ke penjara, Rumah Sakit, atau kalian mengakui perbuatan bejad kalian kepada seluruh warga kampung ?" Riki berteriak.
"Kami minta maaf tuan. Kami sekarang juga akan mengatakan yang sebenarnya pada warga." Pak Agus mewakili.
"Bagus ! Vir, tolong kau pastikan bahwa mereka menepati janji." Riki beranjak pergi dari sana.
"Baik tuan." Virza, si pria berotot besar itu memang bisa diandalkan.
__ADS_1
Dia bersama seorang rekannya menggiring ketiga pelaku fitnah itu untuk menunaikan janji mereka. Berkat Riki maka sekarang nama Suci kembali baik di mata para warga. Mereka berbalik membenci dan mengecam ketiga orang itu.
Sementara itu, Riki pergi menemui Teni.
"Mau ku bawa ke kantor polisi sekarang ?" Riki langsung bicara pada Teni yang saat itu sedang ongkang-ongkang kaki di ruang tamu.
"Mas Riki bicara apa ?" Teni membetulkan posisi duduk.
"Kau menyuruh orang untuk memfitnahku dan Suci. Aku akan melaporkan perbuatanmu pada polisi."
"Jangan mas ! tolong kasihanilah aku. Aku melakukannya agar mas Doni tidak bisa kembali pada Suci. Lagipula karena rencanaku ini, kamu bisa berhasil menikahi wanita yang kamu cintai kan ?! Jadi tidak usah marah." Dia berdiri di samping Riki.
"Aku memang sangat mencintai Suci tapi aku tidak mau memakai cara yang bisa menyakitinya."
"Mas tolong jangan beritahu mas Doni bahwa aku yang sudah merencanakan ini semua. Aku janji tidak akan lagi menganggu kalian. Bila perlu aku akan pergi dari kota ini sekalian membawa juga mas Doni agar jauh dari kalian."
"Tidak perlu kemana-mana karena aku akan memasukanmu ke dalam penjara !"
"Jangan mas ! aku sedang hamil, masa kamu tega membiarkanku ada di penjara dalam keadaan hamil muda." Teni merengek sambil memegang tangan Riki.
"Singkirkan tanganmu !" Riki menatap tajam tangan yang sembarangan menyentuhnya.
"Maaf mas." Teni segera melepasnya.
"Aku janji mas !" suaranya bergetar.
Riki segera pergi dari sana.
Gila ! dia begitu menakutkan ! rupanya Riki sudah benar-benar jatuh cinta pada Suci. Untung saja saat ini aku sedang hamil. Kau sudah menyelamatkan ibumu nak !
Teni mengelus-elus perutnya.
***
Usai makan malam bersama, Syarif dan Bu Ayu pamit. Riki sudah menyuruh mereka untuk menginap namun mereka menolak. Akhirnya Riki berinisiatif mengantar mereka pulang, ditemani oleh Suci tentunya.
Sampai di depan rumah mereka sudah disambut oleh para warga yang sedari tadi menunggu.
"Maafkan kami Suci. Kami semua sudah menuduhmu berbuat tidak senonoh. Maafkan kami juga ya tuan, Bu Ayu dan Syarif. Kami sudah mencemarkan nama baik kalian." Pak RW mewakili.
"Maafkan kami ya ! kami sudah tahu kejadian yang sebenarnya." Ibu-ibu memeluk Suci dan Bu Ayu.
Suci hanya terpaku. Tak pernah menyangka akan secepat itu fakta terkuak. Siapapun mereka yang sudah berada di balik semua ini, Suci hanya berharap mereka sadar.
__ADS_1
Marah ? tentu saja Suci sangat marah karena sudah difitnah sekeji itu. Tapi karena nama baiknya sudah kembali, maka dia mencoba memberi maaf pada semua orang yang sudah menyakitinya. Bukan perkara mudah namun Suci hanya ingin agar hatinya tenang tanpa amarah dan dendam.
Setelah para warga itu pulang ke rumah mereka masing-masing, Bu Ayu dan Syarif beserta Suci dan Riki masuk ke dalam rumah kecil itu. Mereka duduk bersama.
"Kenapa mbak dengan mudah memaafkan mereka ?" Syarif berbicara dengan nada kesal.
"Sama sekali tidak mudah Syarif. Mbak hanya mencoba membuka pintu maaf pada mereka. Kita semua ini sama-sama punya kesalahan. Ketika ada yang meminta maaf, apa salahnya jika kita memaafkan."
"Tapi mereka sudah sangat keterlaluan !"
"Agar hidup kita tenang maka kita harus menyingkirkan penyakit yang ada dalam hati kita. Marah kecewa itu pasti, namun dengan memaafkan dan mengikhlaskan maka rasa sakit kita akan sembuh lebih cepat." Suci tersenyum.
Syarif akhirnya tak berkomentar lagi. Perlahan dia meresapi perkataan kakaknya.
"Yang terpenting sekarang semua orang sudah tahu bahwa Suci tidak berbuat apa yang mereka tuduhkan." Bu Ayu menambahkan.
Riki tidak bersuara. Dia hanya menyimak saja. Semakin kagum pada sosok wanita yang kini menjadi istrinya itu.
Aku tidak salah mencintai perempuan. Aku sangat bangga bisa memiliki istri berkarakter luar biasa seperti Suci. Aku semakin mencintai nya.
Setelah lama mengobrol, Riki dan Suci pamit.
Dalam perjalanan.
"Aku bangga mempunyai istri sebaik dirimu." Riki bicara sambil menyetir.
"Ehh kenapa ?" Suci menoleh ke arah Riki.
"Kamu mempunyai jiwa yang besar dan juga tangguh. Sepertinya masalah seberat apapun mampu kamu lewati dengan tenang." Tersenyum pada Suci.
"Tidak mas. Aku hanya wanita biasa. Tidak sebaik dan sehebat yang kamu pikir. Aku hanya mencoba untuk lebih baik saja. Dan aku punya keyakinan yang kuat bahwa seberat apapun ujian hidup, pasti akan ada solusinya. Tidak ada ujian yang Tuhan berikan yang melebihi batas kemampuan hambaNya. Setelah ada duka pasti ada suka."
Riki menghentikan mobilnya dan mengalihkan pandangannya pada Suci.
"Aku semakin mencintaimu." Riki menggenggam tangan Suci dan mengecupnya.
Suci membalas mencium kedua pipi suaminya.
"Terima kasih banyak karena sudah selalu mendukungku." Suci tersenyum manis.
Suci menciumku ! dia menciumku ! istriku sudah menciumku !!!
Hati Riki seolah menari-nari. Sampai di depan rumahnya pun dia tak henti mesem-mesem.
__ADS_1