Seperti Sampah

Seperti Sampah
Kabar Teni & Doni.


__ADS_3

Setelah pindah ke luar Jawa, tepatnya ke Kalimantan, kehidupan rumah tangga Doni dan Teni sebenarnya masih berantakan. Teni yang berucap akan berusaha menjadi istri yang baik, semua hanya omong kosong. Nyatanya dia masih saja suka keluyuran seenaknya meski sedang dalam keadaan berbadan dua.


Hal itu terjadi disebabkan pergaulannya yang memang tidak mampu ia batasi. Teni masih saja suka berkumpul dengan teman-temannya yang suka hura-hura tak jelas. Setiap hari suka beredar untuk shopping, clubbing bahkan sampai berkencan dengan pria lain meskipun mereka sudah bersuami.


Teni memang lebih menyukai bergaul dengan teman-teman seperti itu. Saat di Bandung pun, pergaulannya tak jauh berbeda dengan temannya yang ada di sini. Mungkin karena Teni lebih nyaman dengan kebebasan yang sebenarnya tak senonoh itu.


Suatu ketika di sebuah klub malam. Mereka semua berkumpul dengan membawa kekasih masing-masing, hanya Teni saja yang tidak membawa teman kencan.


"Ten, sekali-kali bawa dong teman pria buat sekedar have fun." Ujar Via, salah satu temannya. Ia berpegangan tangan dengan seorang pria di sebelahnya.


"Kau gila ? aku sedang hamil." Teni menjawab dengan tertawa.


"Itulah alasannya kenapa aku tidak mau dulu punya anak. Merepotkan !" Via memutar bola matanya malas.


"Ehhh tapi kenapa juga kalau Teni sedang hamil ? masih bisa kan dia berhubungan dengan pria lain ?!" Shella tertawa terbahak.


Teni dan yang lainnya ikut tertawa. Saat itu muncullah seorang pria.


"Hai, lagi kumpul nih ? boleh gabung ?"


"Halo Anton ! tambah ganteng saja !" Shella tersenyum ceria.


"Aku dan Gery, akan pindah ke tempat lain yang lebih aman." Via beranjak dari duduknya dan langsung pergi dari sana bersama kekasihnya.


"Mmmm, aku juga, ayo sayang !" Shella mengikuti apa yang dilakukan Via.


Sebelum benar-benar pergi, wanita itu berbisik di telinga Teni. "Ini kesempatan yang bagus untuk menghabiskan waktumu dengan Anton. Kamu tahu kan, sudah lama dia naksir kamu. Jangan sampai menyia-nyiakan pria sexy itu."


Setelah tertawa kecil, Shella dan Erfan meninggalkan Teni bersama Anton.


Anton duduk di sebelah Teni dan menatapnya intens.


"Kamu masih terlihat cantik meski sudah menikah dan sedang hamil."


"Kau hanya menggodaku saja." Teni tersipu malu.


"Itu memang benar, penglihatanku ini masih bagus dan sangat normal. Apa aku terlihat menggombal ?" senyum manis muncul di bibir tebal milik pria itu.


"Kau juga terlihat lebih tampan sekarang."


Entah kenapa Teni merasa sedikit tertarik pada pria di dekatnya. Hatinya merasa hangat dan tersentuh. Padahal dari dulu dia tidak pernah mau jika hanya sekedar bertemu tanpa menyapa sekalipun.


Mungkinkah karena merasa kesepian ? sudah lama sekali dia tidak mendapatkan pujian dari suaminya. Doni pun jarang sekali menyentuhnya. Meski sikap suaminya itu masih baik, namun tetap saja terasa hambar. Tak ada kemesraan dan seolah dirinya tidak dicintai lagi oleh Doni.


Padahal sebenarnya masih ada perasaan Doni padanya. Saat ini Doni sedang sibuk mengurus perusahaan, dia tidak bisa memberi perhatian seperti yang diinginkan Teni. Di lain sisi juga, pria itu memang kehilangan hasratnya untuk menjamah istrinya.


Dan ketika ada tangan lain yang menyentuhnya lembut, maka secara sadar atau tidak, Teni menerimanya dengan terbuka. Dia tidak memikirkan janin yang tengah hidup dalam tubuhnya. Sedangkan yang namanya pria, kebanyakan dari mereka tidak akan pernah membuang kesempatan. Jika seekor kucing diberi ikan, tentu saja tidak akan menolak bukan ?!


"Mau ke apartemenku ? mungkin kau ingin kita melakukan hal lain selain berbincang."


Perkataan Anton membuat jantung Teni berjingkrak. Nafasnya terasa tidak tenang. Tubuhnya menginginkan kehangatan secepatnya. Dia tidak perduli pada status dan keadaannya kini. Yang paling penting untuknya saat ini adalah melepaskan dahaganya akan cinta meski sesaat.


Tanpa ragu akhirnya Teni menyetujui ide gila pria yang bersiap menerkamnya itu. Hal itu terus berlanjut. Setidaknya mereka melakukan itu seminggu sekali.


Doni sama sekali tidak mengetahui kebejatan istrinya. Wanita itu berkilah bahwa dia menginap di rumah orangtuanya setiap malam minggu. Padahal dia bermalam di apartemen Anton.


Dan saat malam minggu ini, sepasang kekasih haram itu ingin menghabiskan waktu di rumah Teni. Kebetulan Doni sedang ada bisnis di luar kota, mereka jadi leluasa berpacaran.


"Status hubungan kita bagaimana ? aku tidak mungkin hanya jadi pemuas nafsumu saja bukan ?!" Anton bertanya di sela-sela mereka berpelukan di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Memang apa yang kau harapkan ? aku sudah bersuami bahkan sedang mengandung anaknya. Bukankah yang penting kita sama-sama suka ?!" Teni menjawab sembari tersenyum.


Sebenarnya Anton tidak menyukai jika dia hanya dijadikan pelarian. Tapi di lain sisi dia juga merasa bebas karena tidak akan terikat atau harus bertanggung jawab pada wanita yang sudah berkali-kali disentuhnya.


Sedangkan Teni, dia hanya merasa kecanduan dengan kehangatan Anton. Cuma ingin menjadikannya pelampiasan. Cintanya tetap untuk suaminya. Meski kadang ada rasa bersalah namun dia malah menyalahkan Doni atas semua yang dia lakukan.


Jika saja mas Doni selalu memperlakukanku seperti saat kami pertama bertemu kembali, maka aku tidak akan seperti ini.


"Kenapa melamun ? tidak mau meneruskan lagi ?" Anton menangkup wajah Teni.


Wanita itu tersenyum sensual dan segera menyerang terlebih dahulu.


Brakkk ! pintu tiba-tiba saja terbuka dengan keras. Sosok pria yang mendorongnya tengah berdiri menatap jijik dan murka pada kedua orang yang berada di tempat tidur dalam keadaan hampir tanpa busana.


"Mas Doni ! bukankah kamu sedang di luar kota ?" suara Teni bergetar bersamaan dengan tubuhnya yang mendadak menggigil.


Doni memang tengah berada di luar kota, namun tiba-tiba urusannya dibatalkan karena alasan tertentu. Dia memutuskan untuk pulang dan ternyata setelah sampai rumah, Doni malah mendapatkan kejutan besar.


Sementara itu, Anton segera beranjak mengambil pakaiannya yang berserakan dan segera memakainya. Pria itu hendak melarikan diri jika saja Doni tidak berdiri menghalangi.


Semua ini gara-gara Teni, jika saja dia tidak memaksa untuk bermain di kamar ini, maka pasti aku akan selamat !


Anton berceloteh dalam hati. Wajahnya tertunduk karena takut pada kemurkaan Doni.


Doni menghampiri pria asing yang berada seranjang dengan istrinya. Bagaimanapun juga meski Teni seperti itu, dia merasa terhina jika ada pria lain menyentuh istrinya. Harga dirinya terkoyak.


Tanpa basa-basi lagi, Doni meninju Anton habis-habisan hingga pria itu tidak bisa melakukan perlawanan. Teni hanya bisa memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika berusaha melerai, maka hal itu akan membuat Doni semakin membencinya.


"Katakan, apa yang kau lakukan di kamarku !" Doni bertanya namun tangannya masih memukul.


"Istrimu yang mengundangku !" Anton tanpa ragu menjawab dengan jujur. Toh berbohong tidak akan ada gunanya, semua sudah terlanjur ketahuan.


Teni hanya bungkam dan bergeming. Bahkan pakaiannya belum ditempelkan lagi ke tubuh setengah polos itu.


Hal itu dimanfaatkan Anton untuk kabur.


"Jawab ! kau tidak tuli kan ?!" suara keras Doni semakin mengunci mulut Teni.


"Aku yakin kau masih bisa berbicara. Kenapa sekarang kau mendadak terdiam ? padahal tadi jelas-jelas suaramu terdengar indah saat bersenggama dengan pria brengsek itu !" Doni amuk-amukkan.


Dia menunjuk-nunjuk wajah Teni sambil berkacak pinggang.


"Maaf mas, aku khilaf !" suara Teni akhirnya muncul meski tersendat. Seluruh tubuhnya masih bergetar.


"Kau !" Doni sudah bersiap menampar. Namun hal itu dia urungkan mengingat kondisi istrinya sedang hamil.


Ya hamil, hal itu juga yang membuat amarahnya semakin melonjak. Doni tak habis pikir kenapa Teni bisa melakukan hal tidak senonoh meski dia sedang berbadan dua.


Doni bergerak dan membanting semua barang yang ada di hadapannya. Dia pun merobek baju atasan milik Teni yang dia temukan di atas lantai.


"Dasar murahan ! kaulah wanita sampah yang sebenarnya !"


Teni yang mulanya menunduk ketakutan, kini mendongakkan wajahnya dan menatap marah ke arah suaminya.


"Semua ini salahmu ! jika kau bersikap lembut padaku, selalu perhatian dan mencintaiku, maka aku tidak akan tergoda oleh kehangatan pria lain !" Teni berbalik teriak.


"Kau tidak usah membela diri, apapun alasannya kau tetap salah." Dada Doni naik turun masih memendam amarah.


Mungkin jika wanita itu tidak sedang hamil, maka dia sudah memberinya pelajaran.

__ADS_1


"Dengar mas, aku hanya bermain-main saja dengan Anton. Selama ini aku sangat kesepian. Mas harus percaya bahwa cintaku hanya milikmu." Teni memegang tangan Doni, namun pria itu menepisnya.


"Jika kau mencintaiku dengan tulus, maka kau tidak akan pernah berhubungan dengan pria lain." Sorot mata Doni masih dipenuhi amarah, meski tak ditunjukkan pada wajah Teni.


"Awwww mas....sakit !" secara mendadak Teni meringis memegangi perutnya.


"Tidak usah berpura-pura !" Doni enggan melihat akting istrinya.


"Sakit ! mas tolong....!" Teni tak sadarkan diri setelah selesai berucap.


Doni memperhatikan Teni dan menepuk pipinya. Tak ada reaksi. Terpaksa pria itu membuka selimut yang menutupi tubuh Teni. Ada cairan merah pekat yang masih segar mengalir sampai ke mata kaki Teni. Lantas Doni segera membungkus kembali tubuh Teni dengan selimut dan mengangkatnya. Meski sebenarnya dia merasa jijik dengan keadaan tubuh wanita itu yang setengah telanjang, namun karena ada janin darah dagingnya sendiri, maka Doni tetap membawanya ke Rumah Sakit.


Doni berhadapan dengan seorang dokter kandungan yang memeriksa keadaan Teni.


"Maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dalam kandungan istri anda."


Perkataan Dokter jelas mengatakan bahwa Doni harus merelakan calon anaknya yang sudah tiada. Berbagai perasaan hinggap di benaknya. Sedih karena kehilangan sudah pasti ada. Selain itu, amarahnya pada perempuan bernama Teni, yang sayangnya masih berstatus istri sahnya, semakin meluap-luap.


Doni menemui Teni yang saat itu sudah duduk bersandar di ranjang Rumah Sakit. Tangannya terkepal erat, matanya menghujam ke arah wanita yang masih lemah itu.


"Kau sudah membunuh anakku ! kau perempuan berhati iblis !"


"Apa maksudmu ?" Teni bertanya dengan nada lemah.


"Kau keguguran karena terlalu sering berhubungan intim, dan aku tahu dengan pria mana kau melakukannya."


Teni menganga, air matanya bercucuran.


"Harusnya kau menjaga betul kandunganmu. Aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan melakukan hal sekeji ini !" Doni menahan tangannya agar tidak menyakiti wanita yang ada di hadapannya.


Teni menunduk penuh sesal. Kenapa dia begitu bodoh dan egois mengedepankan nafsunya. Teni memang rutin seminggu sekali berkencan dengan Anton. Namun dalam semalam mereka bisa melakukannya bahkan sampai dua atau tiga kali.


Teni menangis tersedu. Dia mencengkram erat selimut yang dia pakai. Doni sedikit pun tidak merasa iba padanya. Sudah jelas bahwa ini semua diakibatkan kesalahan fatal dari istrinya.


"Aku talak tiga kau Teni. Aku tidak ingin lagi hidup bersama wanita tak berhati sepertimu." Doni langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun pada wanita yang kini sudah semakin sesenggukan.


Di depan kamar, Doni berpapasan dengan kedua mertuanya.


"Mau kemana kamu Don ? kenapa Teni menangis ?" Papa mertua bertanya panik sekaligus kesal.


"Tanyakan saja pada anak kalian." Doni segera berlalu.


Papa dan mama segera menghampiri Teni yang tangisnya semakin menjadi. Keduanya mencoba bertanya namun tak mendapat jawaban dari mulut anaknya.


Aku sangat menyesal mas....aku memang egois, bodoh dan juga jahat !


Teni tak mampu berucap. Dadanya sangat sesak. Karena ulahnya, malam itu dia kehilangan anak dan juga suami yang dia cintai.


***


Di dalam kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Doni masih mengamuk dan merusak barang yang dia temui. Menendang dan bahkan menjungkirkan ranjang yang dipakai mesum oleh istrinya. Dia meninju cermin di ruang ganti. Tangannya yang berdarah tak dipedulikan. Hatinya yang tak mengeluarkan darah yang justru merasakan sakit dan perih.


Akhirnya pria itu terduduk memegangi kepalanya. Air matanya tumpah, Doni menangis tanpa bersuara. Ingatannya berputar saat dirinya melakukan pengkhianatan pada mantan istrinya. Meski Suci sudah memberi maaf, namun penyesalan itu tak akan pernah hilang seumur hidupnya. Bahkan kali ini semakin menggunung setelah mendapati Teni berselingkuh. Mungkinkah ini karma ?


Sekarang aku tahu bagaimana perasaan Suci saat mengetahui pasangannya berselingkuh di depan matanya.


Kepedihannya bertambah mengingat calon anaknya yang telah gugur. Jika saja yang diberi kepercayaan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya adalah Suci, maka sudah pasti wanita itu akan menjaga kandungannya dengan baik. Lagi lagi berujung pada Suci. Jika dulu Doni tidak gegabah dalam melangkah, maka dia saat ini masih berbahagia dengan mantan istrinya. Tertawa bersama dengan anak-anak mereka.


Doni berteriak-teriak menjambak kasar rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Aarghhhh ! aku yang bodoh ! semua memang salahku !"


Dan malam itu perasaan kehilangan dan penyesalan yang akan dibawa sampai mati, melanda Doni dan juga Teni. Mungkin itu semacam hukuman atau pembelajaran bagi mereka agar bisa menjaga dan mensyukuri apa yang sudah mereka miliki.


__ADS_2