
Malam hari Suci dan Riki sudah berpelukan di atas tempat tidur, sambil mengobrol.
"Mulai sekarang jangan terlalu dekat dengan pria lain." Agak ketus.
"Aku tidak dekat dengan pria manapun. Dengan Arif dan Irfan pun hanya berteman biasa."
"Itu pegawai baru tadi ? yang sebelum pulang kalian ngobrol." Riki melepas pelukannya.
"Mas Nizar ? kami hanya saling menyapa saja. Tidak ada hubungan apapun. Berteman pun tidak."
"Mesra sekali kamu memanggilnya. Mas Nizar !" air mukanya tambah kusut.
"Mas cemburu ?" masih setia memeluk.
Riki tidak menjawab.
"Tapi kalau diperhatikan mas Nizar itu memang tampan dan lebih muda. Dia juga baik dan ramah. Tipe pria idaman." Sengaja memancing Riki.
"Kamu menyukainya ? tidak boleh ! kamu hanya milikku !" kembali memeluk Suci.
"Haha...mas kapan aku bilang aku menyukai mas Nizar ?" Suci tertawa.
Riki tertegun merasa heran.
"Aku tadi bilang dia memang tipe pria idaman tapi bukan berarti aku menyukainya." Masih dengan tawa kecilnya.
Kamu pasti panas kan mas mendengarnya.
"Kamu sengaja ya bikin aku semakin cemburu ? tanggung jawab ! sekarang kamu harus mengembalikan ketenangan ku." Riki langsung menyosor seluruh area wajah Suci tanpa jeda.
Namun adegan itu tak berlanjut karena tamu bulanan Suci masih belum pergi.
***
Pagi-pagi sekali Riki sudah ada di dapur.
"Hari ini aku berhasil mendahului Suci. Sekarang saatnya membuat sarapan spesial untuknya."
Setelah berkutat cukup lama akhirnya selesai juga. Riki menata rapi makanan buatannya di atas meja makan.
"Mas maaf aku telat bangun. Mas yang menyiapkan semua ini ?" Suci menghampiri. Dia terpukau dan kagum pada suaminya.
"Silahkan tuan putri. Nikmati sarapan spesial ini." Riki membantu istrinya duduk.
"Terima kasih mas. Kita tunggu Raisya dulu."
Riki mendekatkan pipinya di bibir Suci.
Ahhh tentu saja harus berterima kasih dengan tindakan.
Suci celingak-celinguk. Setelah dikira aman barulah dia mengecup pipi suaminya.
"Bibirnya juga !"
Dia benar-benar ya....untung dia ini suamiku.
Suci segera mengecup bibir Riki secepat kilat.
"Selamat pa...gi..!" Raisya muncul mengagetkan Suci dan Riki. Padahal sebenarnya dialah yang syok melihat adegan mesra sepagi ini.
Apa yang kalian lakukan ? jiwa jomblo ku meronta. Ahhh....
Raisya terduduk lesu di sebelah Suci. Bibirnya sudah monyong. Suci nyengir menutupi rasa malunya.
"Raisya, kamu mengganggu saja." Riki duduk berhadapan dengan Suci.
"Apa ? kalian yang sudah bermesraan sembarangan. Tidak menghargai jiwaku yang kesepian."
"Makanya buruan menikah ! memang kamu mau jadi perawan tua ?" Riki bicara sambil mengambilkan makanan untuk Suci.
Maunya juga buru-buru menikah tapi Syarif masih saja cuek.
Raisya memulai makannya meski tidak bersemangat.
Melihat Suci dan kakaknya saling menyuapi membuat Raisya semakin ngiler.
Aku ingin segera menikah !!!!
Suci bisa menebak isi kepala adik iparnya. Menggemaskan tapi jika dia tertawa itu tidak sopan kan.
__ADS_1
Kasihan juga Raisya. Mas Riki sih kenapa masih harus pamer kemesraan. Pakai memaksa harus suap-suapan.
Selesai dengan sarapan mereka menuju tempat kerja. Raisya ke butik. Suci dan Riki berangkat bersama ke kantor.
Di depan gedung Perusahan XZ.
Suci bertemu dengan Nizar. Mereka saling menyapa.
"Nanti buatkan aku teh seperti kemarin ya ?!" Nizar tersenyum.
"Baik mas." Suci mengangguk dan segera berlalu.
Manis sekali. Suci itu pemalu, selama ini dia selalu saja tertunduk. Apa dia gugup ya ?
Nizar senyum-senyum sendiri.
Pria itu lagi. Lancang sekali dia menatap istriku seperti tadi. Apa dia menyukai Suci ?
Riki memonitor sedari tadi.
"Selamat pagi pak." Nizar tersenyum dan mengangguk.
Riki sama sekali tidak mempedulikan. Dia hanya berjalan melewati Nizar seolah tak ada orang.
Sombong sekali ! mentang-mentang dia CEO perusahaan ini.
***
Saat jam istirahat. Seperti kemarin Suci makan bersama Riki di ruangannya.
"Mas aku mau numpang ke toilet mu, boleh ?"
"Tidak usah bertanya, masuk saja."
Suci pun pergi ke sana.
Tiba-tiba ponsel Suci bergetar. Ada pesan yang masuk. Riki memeriksanya dan memang hp Suci tidak memakai sandi apapun.
[Suci, kita ke kantin bareng ? nanti ku traktir]
"Cihhh dia lagi. Mau ku bogem rupanya."
Riki mengetikan balasan pesan untuk Nizar.
[Maaf...kalau begitu aku tidak akan mengganggu. Nanti besok saja bagaimana ? atau nanti kapanpun kamu bisa. Aku akan menunggu.]
"Pantang menyerah juga dia."
[Tidak akan pernah, jadi jangan menungguku. Aku tidak mau diganggu !!!]
Pesan terkirim dan langsung terbaca.
"Ku blokir saja sekalian biar tahu rasa. Hapus sekalian pesannya biar Suci tidak membaca pesan menjijikan dari pria menyebalkan itu."
Suci keluar dari toilet. Riki segera menyimpan ponsel itu ke tempat semula.
"Ada yang menelponku tidak mas ?" Suci duduk di samping Riki dan mengutak-atik ponsel nya.
"Memang kamu sedang menunggu dihubungi oleh siapa ?" ketus.
"Ibu katanya mau bicara. Apa ku telpon saja duluan ya ?"
"Ohhh ibu. Telepon saja sekarang takut ada sesuatu yang penting."
Suci pun menghubungi Bu Ayu.
***
Jam setengah dua siang Suci sudah berada di ruang tempat kerja Nizar. Memberikan kopian beberapa dokumen.
"Terima kasih banyak ya Suci. Kamu sudah sangat membantu."
"Itu kan memang tugasku mas."
"Kamu kenapa memblokir nomerku ? apa kamu marah karena aku sudah mengajakmu makan bareng di kantin ? apa aku sudah mengganggu mu ?"
Kapan aku chat an dengan nya ? aku tidak merasa memblokir nomernya. Tunggu...ini mungkin ulah mas Riki. Gawatttt pantas saja tadi sikapnya agak jutek.
"Suci ? kenapa bengong ?"
__ADS_1
"Maaf mas. Tadi aku salah pencet. Aku sedang agak pusing tadi."
Astaghfirullah...tidak mungkin aku mengatakan bahwa yang memblokir nomernya adalah mas Riki.
"Begitu ya. Eh tunggu !" Nizar mengangkat tangannya mendekati kepala Suci.
Suci mundur untuk menghindar.
"Maaf bukannya tidak sopan. Aku cuma mau ambil ini." Nizar mengambil semut yang bergelantungan di kerudung Suci.
"Cuma semut ? padahal biarkan saja mas." Suci terpaksa nyengir.
"Ehemmm." Deheman keras mengagetkan Suci dan Nizar.
Mas Riki kenapa tiba-tiba muncul ? dia pasti melihat semua yang dilakuan mas Nizar barusan. Dia pasti salah paham. Gawatttt
Suci sudah tidak enak hati.
"Heyyy kamu. Ikut saya ! saya mau bicara." Riki menatap tajam Nizar.
"Baik pak."
Jutek sekali. Seperti sedang melihat selingkuhan istrinya saja.
"Suci, kembali ke tempatmu. Jangan pernah lagi masuk ke ruangan ini !"
"Baik pak." Suci segera pergi.
Riki berjalan cepat diikuti Nizar. Setelah masuk ke ruang kerjanya, Riki duduk di kursi kebesarannya. Sementara itu Nizar masih berdiri.
"Bapak mau bicara apa ?" memberanikan diri membuka suara.
"Apa yang tadi kamu lakukan pada Suci ? kenapa sembarangan menyentuhnya ?" menatap lebih tajam.
"Saya hanya mengambil semut dari kerudungnya."
Modus sekali pria ini.
"Apa kamu menyukai Suci ? caramu menatapnya itu berbeda."
"Bapak bisa menebaknya ya ? apa terlihat jelas jika saya menyukai Suci ?" malu-malu menjawab.
Kurang ajar. Berani sekali dia bicara begitu.
Dada Riki sudah terbakar. Ingin sekali meninju wajah pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Jangan lagi mengganggu Suci karena dia sudah jadi milik orang lain."
"Apa ? Suci sudah punya pacar ? siapa pak ? tapi saya tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya." Bicara berapi-api.
"Suci sudah punya suami."
"Apa ? sudah menikah ?"
"Jadi jangan lagi mengganggunya. Atau kau akan berhadapan langsung dengan suaminya yang sangat galak. Kau bisa saja digantung di Monas. Siapapun tidak bisa menyelamatkanmu."
"Baik kalau benar begitu saya tidak akan lagi mendekati Suci. Bukan karena suaminya yang galak. Saya tidak akan takut padanya. Saya hanya ingin menghargai saja hubungan pernikahan mereka."
"Bagus. Kau pintar juga."
"Tapi apakah suami Suci itu baik ? kalau jahat maka saya akan berusaha menjauhkan mereka. Saya tidak mau Suci tersiksa." Semangat sekali Nizar bicara.
"Suci dan suaminya saling mencintai dan hubungan mereka sangat harmonis. Jadi jangan pernah berpikir untuk memisahkan mereka. Kau mengerti ?" Riki sudah berteriak.
"Ahh ya pak. Saya hanya khawatir saja. Tapi jika mereka hidup bahagia maka saya akan mundur." Nizar mengusap dadanya.
Apa suami Suci segalak pak Riki ? ahh tapi yang penting Suci bahagia dengan pernikahannya.
"Sekarang kembali ke tempatmu. Jika kau berani dekat-dekat dengan Suci lagi, maka sebelum suaminya mencabik-cabik tubuhmu maka kau akan ku pecat terlebih dahulu !"
"Baik pak saya permisi." Nizar buru-buru pergi.
Berlebihan sekali Pak Riki. Memangnya suami Suci itu dia ?
Note.
Mohon maaf ya para pembaca jika author up nya kurang memuaskan kalian. Saya juga sudah berusaha membagi waktu untuk update. Terima kasih banyak sudah selalu menunggu dan menyimak cerita ini.
Mohon dukungannya 🙏🤗 like, komen, kritik dan saran, vote dll🤭
__ADS_1