Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 22.


__ADS_3

Di depan pintu kamar Andini, Yusuf masih belum melepaskan genggaman tangannya. Matanya menatap lekat pada gadis di depannya. "Jangan banyak pikiran ! fokus saja untuk belajar menjadi istri yang baik. Jadi, setelah kita menikah nanti, kamu sudah paham apa saja tugas-tugas yang harus kamu lakukan." Sengaja menggoda agar gadis itu tidak muram lagi.


Namun Andini masih terlihat sendu. "Kamu yakin dengan keputusanmu ? kamu tidak akan menyesal menikahi perempuan rendahan seperti aku ? aku ini tidak berpendidikan, tidak cantik, dan aku hanyalah anak haram. Pria sebaik dirimu, berhak mendapatkan wanita yang...." mulutnya dibungkam oleh tangan Yusuf, hingga mau tidak mau perkataannya harus berhenti.


"Jangan banyak bicara ! bibirmu yang terus bergerak nyerocos membuat otakku kumat. Apa kamu sengaja memancing dan menggoda diriku ? ingat cantik, kita belum menikah !"


Mata Andini membulat sempurna. Jantungnya mendobrak seolah ingin keluar. Pria di depannya ini memang pandai membuatnya shock.


Yusuf mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Dia memang sengaja ingin mengalihkan kegusaran hati Andini. Dan sepertinya cara yang ditempuhnya memang ampuh.


Gadis itu mengusir tangan yang membekapnya. "Lepaskan ! dasar mesum ! aku bicara serius tapi kau malah merespon seperti ini."


Yusuf malah tergelak, sangat menikmati ekspresi kesal dan gugup gadis itu. "Aku serius, jika kamu masih saja bicara yang tidak-tidak, maka aku akan mengulang adegan hot kita waktu itu." Yusuf memangkas jarak diantara mereka. Wajah mereka semakin dekat.


Tidak, tidak ! jangan sampai aku terhipnotis olehnya !


Andini sekuat tenaga mendorong tubuh pria di depannya. "Jaga jarak !" wajah judesnya terlihat menggemaskan bagi Yusuf.


Andini berbalik dan tanpa sengaja keningnya mencium pintu kamar dengan keras. "Awww !" mengelus dahinya yang terasa berdenyut.


"Hey, cantik. Bisakah kamu berhati-hati ? jangan sampai kamu terluka. Tubuhmu itu sangat berharga." Yusuf hendak menyentuh bagian tubuh Andini yang sakit, tapi gadis itu menghindar.


Andini mendelik dan bergumam dalam hati. Ihhh, mesum sekali perkataannya !


Andini membuka pintu kamarnya dan segera masuk. Yusuf berteriak dari luar, "Maksudku bukan begitu. Segala sesuatu yang ada padamu bagiku sangat berharga, jangan sampai terluka atau apapun itu. Jika itu terjadi, maka aku pun akan ikut sakit. Paham ?!"


Tak ada suara dari dalam, Yusuf kembali bicara. "Baiklah, aku juga mau ke kamar. Selamat malam !"


Andini merasa ada yang hilang saat pria itu pamit. Apakah dia merindukan Yusuf ? tapi mereka tinggal satu rumah, kamar mereka pun hanya terhalang dua ruangan. Kenapa dia masih ingin melihat wajah tampan itu lagi ?


Dini perlahan membuka kembali pintu kamarnya. Berharap sedikit saja bisa menatap punggung Yusuf.


Deggg ! Tapi dia benar-benar beruntung, bisa melihat bagian yang lebih indah daripada punggung. Dia bahkan saat ini, bisa menatap Yusuf pada bagian wajah tampannya yang sedang tersenyum manis. "Kenapa ? ingin menyapaku dulu ? atau, ingin memberi ciuman selamat malam ?!" menyandarkan kepalanya di bingkai pintu sembari menatap Andini. Tangannya terlipat di dada.


Gadis itu gelagapan menjawab, "Ten...tentu saja tidak. Aku....ingin menghirup udara segar sebentar." Andini mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan sebanyak tiga kali. "Sudah cukup, aku akan masuk lagi ke dalam kamar." Berbalik lalu menutup pintunya tergesa-gesa.


Yusuf tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Semakin lucu saja kelakuan gadis itu.


"Kak, sedang apa di sana ?" Khaira baru keluar dari kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Andini.


Yusuf berdiri dengan tegak dan tersenyum pada adiknya itu. "Khai, belum tidur ?"


"Belum, aku mau ke kamar Khesya."


"Emmm. Ya sudah, masuk saja." Manggut-manggut pelan.


"Kakak masih ingat pesan mama dan papa ? kita dilarang bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Itu juga diatur dalam agama kita. Kakak harus bisa menjaga pandangan. Bersabarlah sampai hubungan kalian halal !" jika untuk urusan begini, Khai memang berani mengemukakan suaranya. Itu karena dia hanya ingin mengingatkan saja. Tidak mau kakaknya terjerat dosa.


Yusuf tertunduk malu. Ya, dia memang sudah salah. Harusnya dia mampu menahan hasratnya untuk selalu ingin dekat dan berlama-lama menatap wajah pujaan hatinya. "Ya, terima kasih sudah mengingatkan !" sedikit tersenyum.


Khaira mengangguk lalu mengetuk pintu kamar di sebelah kanannya, yang merupakan kamar Khesya. Tak lama berselang, dia pun masuk.


Sementara Yusuf, melangkah menuju kamarnya setelah terlebih dahulu menoleh ke kamar Andini.


***


Siang hari ini rumah besar kediaman keluarga Yusuf terlihat lebih ramai. Kedua orang tua beserta si kembar tampan baru tiba satu jam yang lalu. Setelah istirahat sebentar dan makan bersama, mereka berbincang di ruang keluarga. Namun, di sana hanya ada Suci, Riki dan juga Yusuf beserta Andini.


Andini terlihat gugup, sedari kedatangan calon mertuanya, dia tak berani menegakkan kepalanya apalagi berbicara. Suci dapat mengerti bagaimana perasaan gadis itu. "Andini, kemari ! duduk di sebelah mama !" menepuk kursi kosong di sebelah kirinya.


Gadis yang ada di hadapannya itu, perlahan mendekat dan menuruti perintahnya. Suci mengenggam tangan calon menantunya, "Kamu gugup atau takut dengan kami ?"

__ADS_1


Andini masih menunduk, "Sedikit, nyonya."


Suci dan Riki tergelak. "Nak, jangan gugup atau takut ! kami tidak akan menggigit kok !" pria paruh baya itu bersandar di bahu istrinya.


Yusuf memijit pelipisnya karena malu dengan sikap papanya. Semoga saja Andini tidak membatalkan pernikahan mereka karena tidak mau punya mertua sekonyol papa Riki.


Suci menepis wajah Riki, dan kembali fokus pada gadis yang duduk di sebelahnya. "Dini, anggap saja kami orang tuamu sendiri. Jangan sungkan atau takut. Panggil kami mama dan papa !"


Andini menatap wajah wanita yang tersenyum manis itu. Betapa tulus dan terasa menyejukkan hati. Persis seperti ketika melihat wajah mendiang ibunya. Matanya berkaca-kaca, "Terima kasih banyak, mama !"


Tak kuasa lagi menahan, akhirnya air mata itu tumpah juga. Mungkin dia terbawa perasaan, merindukan sosok ibunya. Suci mengusap pipi gadis itu dengan lembut, "Mari peluk mama !" keduanya pun berpelukan. Andini merasa seperti sedang memeluk ibunya sendiri.


Riki dan Yusuf tersenyum menyaksikan adegan itu. Keduanya dapat merasakan jika antara Suci dan Andini, sudah terjalin ikatan yang tulus, tanpa rekayasa.


Setelah Andini sudah tenang, obrolan pun berlanjut. Tapi di saat itu, Khesya datang menghampiri. "Oma meminta kak Dini menemuinya di kamar."


Andini menatap ke arah Suci, seolah meminta ijin. Calon mertuanya itu tersenyum, "Pergi saja. Nanti kita ngobrol lagi."


"Baik, ma. Andini permisi dulu, pa !" menoleh ke arah Suci dan Riki bergantian.


Andini beranjak dari duduknya. Sebelum menyusul langkah Khesya, dia memamerkan senyumnya pada sang calon suami. Yusuf membalas senyum. Hebat, hanya melihat senyum manis gadis itu, jantungnya serasa mau meledak !


Suci dan Riki berdehem keras. "Kenapa son, kamu gemas melihat calon istrimu itu ? nahhh, begitulah perasaan papa pada mama. Sekarang mengerti kan ?!" tangannya menggerayangi pinggang istrinya.


Suci menepis tangan nakal Riki dan memelototi pria itu. "Mas sudah tua, masih saja tidak tahu malu !"


Riki tergelak. Sementara Yusuf, yang tadinya merasa malu, kini malah merasa sedikit terinspirasi dengan kekonyolan papanya. Mungkin suatu saat nanti dirinya pun akan melakukan hal yang sama.


"Yusuf, mama dengar Andini itu tidak punya keluarga."


"Ada, tapi mereka tidak mau menerima Andini." Yusuf akhirnya menjelaskan semua mengenai calon istrinya.


"Ya, papa benar. Tapi mau bagaimana pun juga, dia tetap ayah kandung Andini." Yusuf menimpali.


"Jika Andini lahir di luar nikah, maka ayahnya tidak berhak menjadi wali nikah. Berarti kita harus menyerahkannya pada wali hakim. Itu yang mama tahu. Tapi, kita tetap saja harus meminta restu dari ayah kandung Andini. Kapan kita akan ke rumah ayahnya ?"


"Lusa, lebih cepat lebih baik." Yusuf berkata dengan mantap.


Riki merespon, "Baikah, nak. Kita akan persiapkan semuanya. Kita tetap akan melamar Andini kepada ayahnya. Ini adalah cara kita menghargai calon istrimu."


"Baik, terima kasih banyak ma, pa !" tersenyum bahagia.


"Tapi, ada satu hal yang menjadi uneg-uneg mama. Kamu dan Andini belum resmi menjadi pasangan halal, maka dari itu mama ingin kalian tinggal terpisah, di rumah berbeda."


Yusuf terdiam. Ibunya itu memang benar. Harusnya dari awal dia memikirkannya. Hal itu untuk menjaga agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik.


"Aku mengerti. Mulai besok, aku akan tinggal di apartemen. Mama tenang saja."


Suci mengangguk puas, tapi dia juga sebenarnya merasa kasihan pada putranya itu. "Ini semua demi kebaikan kita semua. Mama tidak mau kamu terjerumus ke dalam dosa yang mungkin sebagian besar orang menganggapnya biasa saja."


Yusuf manggut-manggut paham. Riki hanya menyimak sambil tersenyum. Dia setuju pada rencana istrinya.


***


Hari terus bergulir. Kini Yusuf dan keluarga besarnya berada di rumah Pak Daniel. Tempat itu sudah dihias sedemikian rupa untuk menyambut tamu yang akan melamar salah satu putri pemilik rumah. Meski Andini datang bersama keluarga Yusuf, tapi kini gadis itu duduk di tengah-tengah keluarga ayah kandungnya.


Seorang MC memandu acara itu. Kini saatnya Yusuf berdiri mengutarakan maksud kedatangannya. "Saya Yusuf Hadi Wijaya, berniat ingin meminang Andini Wiranata, putri dari bapak Daniel Wiranata dan almarhumah ibu Lastri Maryati, untuk menjadi istri saya. Saya berjanji akan selalu berusaha menjaga, melindungi dan juga membahagiakannya."


Andini berdiri, "Saya Andini Wiranata, bersedia menjadi istri dari Yusuf Hadi Wijaya."


Kini giliran Pak Daniel memberi ijinnya, "Saya Daniel Wiranata, memberi restu pada tuan Yusuf Hadi Wijaya, untuk meminang putri saya yang tercinta, Andini Wiranata. Saya yakin anda dapat membahagiakan putri saya." Pria itu berkata dengan penuh bangga. Tak peduli jika ada sebagian tamu dan keluarga pihak istrinya yang sedang mengumpatnya. Saat ini yang terpenting baginya adalah terlihat baik di mata calon menantu tajirnya.

__ADS_1


Acara demi acara berlangsung. Kini saatnya penyerahan hantaran secara simbolis dari pihak Yusuf kepada pihak keluarga Andini.


Semua keluarga Yusuf saat ini sangat berbahagia. Lain halnya dengan keluarga Andini. Mereka hanya terpaksa tersenyum padahal di dalamnya menyimpan kedengkian. Itu karena yang dilamar adalah anak yang tidak pernah diharapkan keberadaannya.


Yasmin saat ini masuk ke dalam kamarnya. Membanting semua barang-barang yang dia temui. Berteriak-teriak, "Harusnya aku yang dilamar, bukan anak haram itu !" semakin melihat Andini berbahagia, maka hatinya semakin panas. Bagaimana pun juga dia tidak akan pernah sudi jika harus kalah bersaing dengan gadis yang paling dia benci.


***


Usai lamaran, Yusuf pulang ke apartemennya. Sebenarnya dia ingin ikut ke rumah besarnya, ingin lebih lama melihat wajah cantik Andini. Namun, dia harus menjaga jarak seperti yang dikatakan ibunya. Sebelum resmi menikah, dia harus bersabar untuk menjaga hasratnya.


Yusuf duduk di tepi ranjang sambil memegangi ponselnya. Menghubungi nomor Andini untuk sekedar melepas rindu.


"Halo, Yusuf." Suara gemetaran itu terdengar indah di telinganya.


"Calon istriku, kamu sedang apa ?"


"A...aku...mau ke kamar mandi." Suara pria itu membuat jantungnya bertalu-talu.


"Kamar mandi ? mau mandi ?"


"Iya....memang kenapa ?"


"Tidak....itu bagus !" otaknya mulai konslet. Mengetahui dia mau mandi saja, dadaku serasa bergemuruh hebat ! ayolah Yusuf, jangan membayangkan hal aneh !


"Halo....kenapa menelpon ?"


"Aku, hanya ingin mendengar suaramu. Aku masih kangen. Rasanya tidak menyenangkan sekali jika harus jauh darimu."


"Benarkah ?"


"Aku tidak bohong. Nanti setelah mandi dan ganti baju, kamu datang saja kemari. Di sini kita bebas melakukan apapun. Tidak akan ada yang menggangu !" Yusuf sengaja ingin menggoda. Suaranya disetting lebih sensual.


"Apa kau sudah tidak waras ? memangnya aku wanita panggilan ? dasar mesum !" suara itu terdengar penuh kekesalan bercampur malu.


Yusuf terbahak, "Aku bercanda. Pasti wajahmu sekarang sangat merah. Imut dan menggemaskan !"


"Kau memang jahil ! sudah, aku mau ke kamar mandi. Badanku sangat gerah !"


"Ya, baiklah. Kita akhiri pembicaraan kita. Tapi sebelum itu, bilang dulu I love you padaku !"


"Tidak mau !"


"Ayolah, aku belum pernah mendengar kamu mengatakannya." Yusuf bersikukuh.


Andini sejenak terdiam, lalu kambali bersuara. "Yusuf, aku tidak mau mengatakannya. Dahhhh ! aku mencintaimu !!!" gadis itu langsung menutup telponnya.


Yusuf tersenyum kegirangan, akhirnya Andini mengatakan I love you meski dalam bahasa Indonesia. Tidak masalah, yang penting artinya sama saja. Lihatlah, keajaiban cinta kembali beraksi. Hanya mendengar itu saja, hatinya sangat bahagia.


Yusuf merebahkan tubuhnya di atas kasur. Senyum di wajahnya masih mengembang. Membayangkan wajah gadis manis itu. Sungguh dia merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan Andini. Gadis kucel yang galak, yang sebenarnya adalah gadis cantik dan baik.


"Andini, aku sangat mencintaimu." Mencium foto gadis tersebut yang ada dalam ponsel. Memeluk benda itu seolah memeluk tubuh Andini. Sedikit melepaskan rasa rindunya.


"Coba saja, jika saat ini kami sudah menikah. Pasti Andini sekarang sedang menemaniku tidur di sini." Jantungnya kembali mengamuk.


Pikirannya itu menggiring nya menjelajahi khayalan nakal. Yusuf menggertakkan giginya menahan hasrat. Dia bangun dan duduk dengan frustasi. Rambutnya diacak-acak, "Ahhh, diamlah otak mesumku ! jangan menyiksa seperti ini !" menepuk-nepuk kasar kepalanya.


"Sepertinya aku harus ke kamar mandi. Kepalaku harus dicuci bersih." Yusuf bangkit dan berjalan mengambil handuk.


Tapi saat di dalam sana, pikirannya kembali ingat pada si gadis manis. Andini mungkin saat ini sudah selesai mandi. Sudut bibirnya tersenyum, sejurus kemudian dia marah-marah sendiri. "Sadarlah, Yusuf ! jangan ngeres ! sabarlah sampai satu bulan lagi. Setelah itu, kau bisa melakukan apapun pada Andini." Yusuf mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Rencana tinggal di apartemen itu memang ide yang bagus. Mungkin saja jika dirinya terus berada di rumah yang sama dengan calon istrinya itu, hasratnya akan terus memuncak dan tak terkendali.

__ADS_1


__ADS_2