
Esok hari setelah sarapan, Suci dan Riki pergi ke suatu pantai yang letaknya agak jauh dari hotel.
Ada berbagai water sport yang ada di sana. Namun keduanya memilih naik parasailing untuk bersenang-senang. Suci dan Riki sudah memakai rompi khusus yang terkait dengan parasut berbentuk seperti kanopi. Nah, parasut ini akan dibawa terbang dan digerakkan oleh speed boat. Dengan otomatis, tubuh mereka pun akan ikut melayang-layang di udara.
Kamu bisa memilih single parasailing atau parasailing adventure. Sebenarnya keduanya sama saja. Pada single parasailing, kamu hanya bisa menaikinya seorang diri, dengan speed boat lebih kecil. Saat naik dan mendarat pun dilakukan di tepi pasir pantai. Single parasailing sangat dipengaruhi oleh arah angin dan pasang surut air laut.
Sedangkan parasailing adventure bisa dinaiki oleh dua atau tiga orang. Speed boat dan parasutnya pun lebih besar. Saat naik dan mendarat maka akan dilakukan di atas speed boat. Itu berarti kalian bisa terbang di atas hamparan laut lepas.
Tandem atau parasailing adventure ini tidak terpengaruh oleh arah angin dan pasang surut air laut. Untuk menaiki jenis parasailing ini, sudah dipastikan harus membayar lebih mahal daripada single parasailing.
Suci sangat menikmati kecantikan air laut dari atas sana. Tubuhnya melayang tanpa beban. Semua kekesalannya pada wanita bernama Alice seakan menguap.
Begitu juga Riki, pria itu semakin bahagia saat melihat senyum tersungging dari bibir istrinya.
Puas menjadi burung, keduanya pun melanjutkan bersenang-senang dengan wahana air lainnya. Jika tadi mereka melihat keindahan laut dari atas, maka sekarang saatnya melihat kecantikan laut dari dalam.
Sea walker adalah kegiatan berjalan-jalan di bawah laut, melihat keindahan dari berjuta makhluk yang ada di sana.
Wahana ini aman bagi yang tidak bisa menyelam ataupun berenang. Kamu akan dilindungi helm kedap air sehingga bisa bernafas seperti di darat.
Suci terkekeh di balik helm, ia merasa geli dengan benda yang menutupi seluruh kepalanya itu. Otaknya mengingat sosok animasi seekor tupai yang mampu hidup di dalam laut karena memakai helm sepertinya.
Apa aku sudah mirip seperti Sandy ? tapi aku ini manusia. Hihi !
Matanya beralih pada ikan-ikan yang berenang melewatinya. Sekelompok ikan badut berwarna oranye dengan garis putih di badannya, mengingatkan Suci pada sesuatu.
Entah kenapa pikirannya hanya berkutat pada beberapa sosok animasi yang pernah ia tonton. Meski begitu, Suci sangat menikmati bermain-main di pantai itu.
Sore hari mereka baru kembali ke hotel. Hari ini sangat menyenangkan apalagi tanpa ada gangguan dari orang lain.
***
Esok paginya.
Suci dan Riki sudah duduk menghadap ke meja makan di restoran. Saat tengah asik menyantap sarapan, Alice datang dan langsung duduk di sebelah Riki.
"Morning !" Alice menyapa Riki tanpa malu.
Riki masih bergeming. Malas menjawab apalagi melihat wajah menor milik wanita agresif itu.
"Judes sekali mentang-mentang ada istrimu." Alice mendelik pada Suci.
Suci menatap tajam pada wanita tak tahu malu itu.
"Sayang, aku tidak berselera makan. Kita cari tempat yang lebih nyaman. Kenapa suasana di sini tiba-tiba jadi horor ya ?" Riki menyudahi makannya meski masih tersisa banyak. Dia bergidik seolah ada makhluk halus yang sedang mengganggu.
Riki dan Suci berdiri bersamaan dan langsung pergi meninggalkan Alice yang sudah geram.
Kurang ajar ! apa Riki pikir aku ini hantu ? keterlaluan !
Di dalam kamar.
Suci uring-uringan meminta segera kembali ke rumah. Dia tidak mau melihat lagi wajah Alice yang menyebalkan.
"Ya...tadinya aku juga berpikir hal yang sama. Tapi takut kamu masih betah di sini." Riki duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan Suci.
"Sudah tiga kali mas, dia berbuat ulah. Pokoknya sekarang juga kita harus pulang. Aku tidak mau dia muncul lagi di hadapanku !" Suci menyilangkan tangan di dadanya. Pandangan hanya tertuju ke depan, bibirnya sudah maju beberapa sentimeter.
"Ya, tapi kita sarapan dulu. Perutku masih ingin diisi. Kamu juga belum makan dengan benar gara-gara wanita badut itu mengganggu. Ya...!" Riki memasang wajah memelas.
Akhirnya mereka sarapan di dalam kamar. Setelah itu mengepak barang-barang.
Riki memesan taxi online untuk berangkat ke Bandara. Sepanjang perjalanan Suci masih terdiam. Bibirnya itu masih mekar. Tapi setelah di pesawat, moodnya membaik. Kebetulan posisi duduknya di sebelah kaca, pemandangan hamparan awan bisa terlihat jelas, mampu menenangkan hatinya.
Oleh-oleh ? bahkan aku melupakannya !
Suci menepuk jidatnya pelan. Hal itu baru muncul di kepalanya saat sudah sampai rumah. Dan Riki, dia sama saja. Hanya fokus pada wajah istrinya.
***
Dua hari berlalu.
Siang hari di ruangan Riki. Pria itu dengan serius menatap dokumen yang ada di mejanya.
Pintu terbuka dan terjadi keributan diantara sekertarisnya dengan seorang wanita yang menerobos ingin menemui bos.
__ADS_1
"Diam, lepaskan aku !" Alice menghempaskan tangan Lena yang mencengkram lengannya.
Riki menatap keduanya dengan kesal.
"Maaf pak, wanita ini memaksa ingin menemui bapak. Padahal saya sudah menyuruhnya menunggu." Lena tertunduk.
"Baik, sekarang kembali ke tempatmu."
Lena mengangguk dan segera pergi.
Sekertaris tidak berguna, aku kan sudah bilang bahwa aku ini orang yang spesial untuk Riki. Tidak perlu membuat janji dulu untuk menemuinya.
Alice tersenyum penuh kemenangan. Dia segera menghampiri Riki. Berjalan anggun layaknya di catwalk. Berdiri menantang di hadapan pria yang sebenarnya tidak ingin meliriknya sekilas pun.
"Katakan apa sebenarnya yang kau inginkan dariku ?" Riki sibuk menatap laptopnya.
"Sama seperti dulu, aku hanya menginginkanmu !" Alice membungkukkan badannya di meja kerja Riki. Sengaja ingin memperlihatkan kemolekan salah satu bagian tubuhnya.
"Dulu atau sekarang aku juga masih sama. Aku tidak pernah tertarik pada wanita sepertimu. Apalagi saat ini aku sudah menikah." Riki masih anteng dengan laptopnya.
"Ayolah Rik, wanita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku." Tangan Alice menyentuh pipi Riki dengan sensual.
Dia mengedipkan sebelah matanya dan menggigit bibir bawahnya untuk membangkitkan gairah pria di hadapannya. Alih-alih gairah yang muncul, malah rasa jijik yang bangkit di benak Riki.
Riki segera menangkap tangan halus namun lancang itu. Tatapan tajamnya menciutkan hasrat Alice. Wanita itu segera berdiri normal, namun tiba-tiba dia meringis kesakitan.
Riki memelintir tangan Alice. Meski tenaga yang dia pakai belum maksimal, namun wanita itu benar-benar tersiksa.
"Dengar, jangan pernah menghina istriku. Kau bahkan tidak layak untuk dibandingkan dengannya." Riki duduk dengan tenang dan tangannya masih mencengkram erat. Namun sorot matanya sangat mengintimidasi.
"Maaf Rik. Maksudku adalah, tolong berikan.... aku kesempatan untuk memilikimu." Suara Alice tersendat menahan sakit.
"Pergi sekarang juga dan jangan pernah lagi muncul dalam kehidupanku !" Riki semakin menguatkan cengkeramannya. Suaranya sudah sangat tinggi.
"Maafkan aku Rik ! aku tidak akan lagi menghina istrimu."
Riki melepaskan wanita itu. Alice memegangi tangannya yang sudah memerah bekas cengkraman kuat itu. Ini baru sebagian tenaga yang dikeluarkan, jika Riki benar-benar memelintir tangan Alice sekuat tenaga, maka bisa saja akan patah.
Aku harus mencari cara lain !
Alice segera pergi dari ruangan itu. Namun rasa penasarannya belum pergi. Dia akan berusaha kembali untuk mendapatkan pria incarannya.
***
Riki masih menemani istrinya mengobrol sambil berbaring di tempat tidur. Malam itu Suci banyak sekali berceloteh, banyak hal yang ia sampaikan. Mulai dari hal yang penting sampai sesuatu yang remeh temeh.
"Mas, aku mau es lancang kuning seperti di gambar ini." Suci memberikan ponselnya.
"Besok ya, sekarang kan sudah tengah malam. Aku tidak mau kamu nanti sakit perut." Riki mengembalikan ponsel milik istrinya itu.
"Sekarang saja, sepertinya enak seger." Suci memelas.
"Besok siang ya...!" Riki ikut memohon balik.
"Sekarang pasti lebih enak mas, aku tidak akan sakit perut kok." Suci menggoyangkan tangan suaminya dan semakin memelas.
"Baiklah, tapi makannya jangan banyak-banyak !" akhirnya Riki mengalah demi menyenangkan hati istrinya.
Dimana ya tempat yang menjual es itu malam-malam begini ?
Riki mencari di sebuah aplikasi. Memang banyak yang menjual minuman tersebut, mulai dari penjual di pinggir jalan sampai restoran pun ada yang menyediakan. Namun di tengah malam seperti ini, mana mungkin tempat-tempat itu masih buka.
"Sayang, besok saja ya. Sekarang sudah pada tutup." Riki sesekali menguap.
"Ya sudah, baiklah. Mas tidur saja, maaf !" wajah Suci menjadi sendu.
Ia membalikkan badannya agar membelakangi Riki. Tidak mau ketahuan menangis. Ia juga merasa kasihan pada suaminya.
Kenapa menyakitkan sekali ? heyyy kenapa aku menangis ? aku bukan wanita yang lemah.
Diusapnya pelan tetesan air di pipinya. Suci menelan salivanya keras, memandangi gambar minuman yang ada di ponselnya. Es itu menari-nari di pelupuk mata Suci. Ahhh sangat menyegarkan jika saja detik ini juga ia bisa meminumnya.
Riki memperhatikannya dari dekat, namun ia tak berani berkomentar. Ia hanya mengusap lembut kepala Suci agar istrinya itu bisa tenang.
Ada yang aneh pada Suci. Masa tengah malam dia ingin minum es ? dia juga sangat sensitif akhir-akhir ini. Apa jangan-jangan....kalau benar begitu, aku akan sangat bahagia.
Riki mesem-mesem. Dia adalah tipe pria yang cukup mengerti tentang urusan perempuan dalam hal sensitif seperti menstruasi atau kehamilan dan ngidam.
Semoga saja dugaanku benar !
__ADS_1
Riki melihat ponsel Suci yang masih menyala dengan gambar yang masih sama. Rupanya perempuan manis itu, masih menginginkan menyeruput es yang ada dalam gambar.
Ting ! Riki punya ide untuk membuat istrinya senang. Dia segera turun ke dapur setelah mencari tahu cara membuat minuman itu. Untung saja semua bahan yang dibutuhkan sudah tersedia di sana.
Usai menyiapkan es lancang kuning ala Riki, minuman itu segera diberikan pada Suci. Kini keduanya sudah duduk manis di tepi ranjang.
"Esnya nyonya ! kalau tidak puas, nanti besok kita beli saja." Riki tersenyum.
"Tidak pake es ya ? berarti ini namanya bukan es." Suci memperhatikan memang minuman yang dipegangnya agak berbeda dengan yang di gambar.
"Takut kamu sakit perut."
"Terima kasih mas. Maaf merepotkan." Suci langsung menyeruput es buatan suaminya yang tanpa es itu. Ia berusaha menutupi rasa kecewanya.
Ada sedikit senyum di bibirnya. Setidaknya perhatian Riki lah yang paling berharga daripada rasa dari minuman itu sendiri. Suaminya dengan tulus melakukan itu meski dalam keadaan penat dan kantuk.
"Aku senang melakukannya. Besok aku bawakan minuman yang asli untukmu." Riki mengelus rambut depan Suci.
Dia sangat bahagia melihat Suci menikmati es tanpa es itu sampai habis setengah. Setidaknya Suci menghargai usahanya.
***
Esok paginya Riki sudah ada di kantornya. Duduk lesu bersandar pada sofa. Lama kelamaan matanya terpejam, tak bisa menahan kantuk.
Selang beberapa menit, Alice muncul dan duduk di sebelah Riki. Wanita itu memang mencari kesempatan untuk masuk diam-diam ke ruangan itu, dengan berbagai cara membodohi semua petugas keamanan.
Alice menyisir seluruh area wajah Riki dengan jemarinya.
"Hidung ini, pipi ini, dan bibir ini sangat indah. Harusnya aku yang bisa memiliki semuanya. Kenapa kau tidak pernah mau menatapku, Rik ?" Alice terus mendekatkan wajahnya ke wajah pria yang masih terlelap itu.
Namun saat Alice sedikit lagi mencicipi bagian manis dari wajah Riki, secara mengejutkan pria itu membuka mata dan mencengkram leher Alice dengan ganas, menggunakan sebelah tangan saja.
"Rik...!" Alice sudah kesusahan bernafas.
Mata Riki melotot merah begitu tajam menusuk ulu hati wanita itu.
"Kau, mau apalagi kau menemuiku ? sudah kubilang jangan lagi muncul dalam kehidupanku ! apa kau sudah tuli ? kau benar-benar menjijikan, beraninya kau menyentuhku !" Riki sudah berteriak-teriak. Tangan kekarnya masih mencengkram erat leher Alice.
Alice berusaha melepaskan diri dari kemarahan Riki. Kedua tangannya mencoba menyingkirkan jemari kokoh yang membuatnya susah bernafas. Namun Riki belum mau membebaskannya.
"Kau pikir aku hanya menggertak saja kemarin ? aku akan lebih berani lagi jika kau masih tidak bisa diajari sopan santun." Riki semakin menguatkan serangannya.
"Ri...kkk !" Alice berbicara lirih. Suaranya timbul tenggelam.
"Semakin kesini kau semakin berani. Tadinya aku tidak mau bersikap kasar pada seorang wanita, tapi karena sikapmu sudah sangat keterlaluan, maka aku tidak akan diam saja !"
"Ma....a..f...!"
"Pergi kau sekarang !" Riki akhirnya melepaskan tangannya dari leher Alice.
Pria yang masih memendam amarah itu kini tengah berdiri berkacak pinggang, tak mau menoleh pada Alice.
Kini wanita yang masih shock itu beranjak dari sana dengan tubuh gemetaran. Ia menyeret kakinya lesu sambil melirik sekilas pada wajah merah milik Riki.
Riki benar-benar murka padaku !
Sikap Riki yang tak pernah dia duga membuat nyalinya ciut untuk mendekati pria itu lagi. Apakah Alice akan menyerah untuk mendapatkan Riki ? mungkin ya mungkin juga tidak.
Riki duduk bersandar pada kursi kebesarannya. Dia mengusap wajahnya kasar. Nafas dan denyut jantungnya masih belum teratur. Masih merasa marah pada kelancangan wanita yang agresif itu. Tangannya mengepal saat mengingat kekurang ajaran Alice.
"Mungkin dulu aku tidak pernah bersikap tegas pada wanita itu. Mungkin dia pikir saat kemarin aku memelintir tangannya, itu hanya ancaman saja."
Drrrt drrrt ponsel Riki bergetar. Ia segera merogoh saku celananya untuk mengambil benda yang masih bergetar itu. Sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Chat dari Suci.
[Jangan lupa nanti bawa es lancang kuning yang asli, yang banyak esnya]
Ada senyum di sudut bibir Riki. Istrinya itu memang selalu berhasil melumerkan hatinya.
Masih saja ingat dengan es berwarna kuning itu.
[Ya sayang....]
Pesan terkirim.
Sepertinya aku harus segera membawa Suci ke Dokter.
Senyum semakin berkembang di bibir Riki. Hatinya selalu bahagia saat membayangkan wajah manis milik Suci. Tak lama berselang, sebuah chat balasan dari istrinya muncul.
[Tidak usah jadi membeli es itu, aku sudah tidak menginginkannya lagi]
"Ahhh lucu sekali, dalam waktu singkat dia bisa berubah pikiran." Riki tersenyum setelah membaca pesan itu.
__ADS_1
Firasatnya semakin kuat. Rencananya sepulang dari kantor, Riki akan membeli test pact untuk istrinya. Agar rasa penasarannya segera terjawab.