Seperti Sampah

Seperti Sampah
Menyesal.


__ADS_3

Malam ini Raisya tidur menemani Bu Merly. Seharian tadi ia tak bisa berada di samping ibunya saat dibutuhkan, jadi ia memutuskan untuk menjaganya malam ini.


Sebenarnya semenjak Bu Merly terkena stroke, Raisya belum sempat memperhatikan mamanya itu. Hanya kakak ipar saja yang dengan sigap merawat dan menyiapkan kebutuhan ibunya.


Ada rasa malu dan bersalah dalam benak gadis itu. Merasa tidak berguna menjadi seorang anak.


"Maafkan Raisya ma. Belum sempat menjaga mama dengan semestinya. Pekerjaan di Butik sekarang sedang banyak-banyaknya. Meskipun aku punya karyawan yang cukup banyak tapi mereka tidak bisa membantu dalam hal ini. Untung saja ada mbak Suci di rumah ini yang selalu menjaga mama dengan baik." Raisya memeluk tubuh kaku milik ibunya yang saat itu sudah memejamkan mata.


Bu Merly sebenarnya masih terjaga meski matanya tidak terbuka. Bisa mendengar jelas ocehan yang keluar dari mulut putri semata wayangnya. Kali ini perkataan Raisya seolah menampar egonya. Membuat mata hatinya terbuka dan menyadari bahwa menantu perempuannya itu mempunyai hati yang benar-benar tulus.


Putraku tidak salah memilih pendamping. Suci benar-benar wanita yang hebat. Aku pasti adalah mertua yang paling beruntung di dunia.


Bulir bening keluar dari mata yang masih terpejam itu. Menandakan penyesalan mendalam yang dirasakan Bu Merly. Namun Raisya yang sudah terlelap dengan masih setia memeluk, benar-benar tidak menyadari bahwa ibunya tengah menangis dalam diam.


Sementara itu di kamar lain.


Riki tengah mengusap lembut kepala Suci yang saat itu sudah terlelap memeluknya. Tarikan nafas wanita itu begitu halus, mata yang terpejam itu begitu tenang. Begitu damai dia berada di alam mimpi.


"Kamu pasti lelah seharian menjaga mama. Terima kasih karena sudah menjadi istri dan menantu yang baik. Aku semakin menyayangimu."


Riki mengecup agak lama kening Suci lalu memeluk dan kembali mengusap kepalanya hingga ia ikut terlelap.


***


Pagi-pagi sekali Suci sudah turun ke dapur. Ia menyiapkan waffle, roti panggang, sosis dan juga telur untuk sarapan. Membuatkan salad buah dan susu. Tidak butuh waktu lama untuk menghidangkan semua menu tersebut. Apalagi seorang ART juga ada di sana untuk membantunya.


Saat ini Riki dan Raisya sudah duduk dan bersiap untuk menyantap sarapan mereka. Sementara itu, Suci masih berkutat membuatkan bubur outmeal dan minuman herbal untuk mama Merly.


"Biar ku bantu, kamu sarapan dulu bareng Raisya." Riki menghampirinya.


"Mas saja yang duluan makan, mas kan harus ke kantor. Lagipula ini sudah selesai kok. Nanti setelah mama sudah sarapan, baru aku akan makan." Kompor sudah dimatikan.


Suci mengambil mangkok kecil dan memindahkan bubur outmeal yang masih ngebul itu ke dalamnya.


"Terima kasih banyak karena kamu sudah mau mengurus mama. Tapi kamu juga jangan lupa untuk makan. Aku tidak mau kamu sakit." Mata Riki terus menangkap pergerakan istrinya yang terlihat sangat sibuk itu.

__ADS_1


"Ya mas, jangan terlalu mencemaskan aku. Mas cepat sarapan saja, aku mau ke kamar mama sekarang." Bibir Suci nyerocos dan pandangannya hanya fokus ke nampan.


Secepat kilat Suci berjalan menghampiri mama Merly. Riki kembali ke tempat duduknya dan melahap makanannya. Raisya hanya memakan sedikit sarapannya, ia bergegas menyusul kakak ipar ke kamar ibunya.


"Mbak biar aku saja yang menyuapi mama. Mbak lebih baik temani mas Riki sarapan di bawah." Raisya sudah berdiri di sebelah Suci yang saat itu tengah duduk di tepi ranjang.


"Tidak apa-apa, biar mbak saja. Kamu sarapan dulu kan sebentar lagi harus ke butik." Suci sudah menyendokkan bubur dan bersiap menyuapi.


"Aku sudah selesai sarapan. Lagipula aku juga mau merawat mama sebelum berangkat."


"Baiklah, pelan saja dan suapi sedikit-sedikit."


"Ya mbak." Suci berdiri dan Raisya duduk mengambil alih untuk menyuapi ibunya.


"Mbak tinggal ya..." Suci menepuk pelan bahu Raisya dan segera turun ke bawah.


Melihat kedatangan istrinya, Riki menarik kursi di sebelahnya agar diduduki Suci.


"Makasih mas." Suci tersenyum menatap wajah suaminya.


"Kamu juga makan mas." Melakukan hal yang sama.


Akhirnya saling suap-suapan juga.


"Kamu sibuk sekali mengurus mama. Kamu tidak cape ?" masih menyuapi.


"Biasa saja. Tidak cape." Mengunyah sambil tersenyum.


Senyum kebanggaan tersungging di bibir Riki. Bangga memiliki wanita yang benar-benar tulus menjaga bukan hanya dirinya tapi juga menjaga mamanya.


"Kamu memang wanita yang terbaik." Masih dengan senyumnya, Riki menatap lekat wajah Suci.


"Tidak mas, aku tidak sebaik itu." Masih saja malu jika diperlukan seperti itu. Namun dia juga memang merasa biasa saja, menurutnya dia hanyalah wanita biasa yang tak pantas dipuji berlebihan.


"Aku semakin mencintaimu." Riki memegang wajah merah istrinya dan mengecup kening Suci dengan lembut dan lama.

__ADS_1


Meski mama sudah menyakiti hatimu, tapi kamu masih saja memperlakukannya dengan baik. Kamu benar-benar tulus.


Selesai sarapan Suci kembali sibuk membuatkan kopi susu untuk bekal suaminya ke kantor.


"Mas ini kopimu." Suci menyodorkan termos mini.


"Wahhh asikkk. Nanti kalau aku kangen kamu, ku peluk saja termos ini."


"Jangan mas, kalau karyawanmu melihat nanti dikiranya kamu tidak waras lagi." Suci terkekeh.


"Terserahlah, mereka tidak akan mengerti bagaimana perasaanku." Riki mengedikkan bahunya tak peduli. Termos mini sudah ada di tangannya.


Setelah pamit pada mama Merly, Riki berangkat ke perusahaannya. Raisya juga ikut pamit dan segera pergi. Kini tinggal Suci dan ibu mertua yang ada di kamar itu.


"Ma...hari ini suster Dara mungkin datangnya akan terlambat, dia bilang ada urusan mendadak yang tidak mungkin ditinggalkan." Suci duduk di tepi ranjang.


Tubuh mama Merly masih terbujur kaku. Matanya sesekali mengedip. Bibirnya masih tak dapat terbuka. Namun pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Dapat menangkap jelas apa saja perkataan yang keluar dari mulut Suci.


"Sekarang aku mau menyiapkan dulu air hangat untuk mama mandi. Nanti jika suster Dara masih belum juga datang, aku akan meminta bantuan bi Fatma untuk membawa mama ke kamar mandi."


Bu Merly hanya mengerjapkan matanya pelan memberi isyarat bahwa ia setuju. Suci tersenyum dan segera beranjak.


"Sebentar ya ma..." Suci berjalan memasuki kamar mandi.


Bu Merly kembali menangis dalam diam. Air mata sudah membanjiri seluruh wajahnya. Dadanya semakin sesak. Ingin menangis sekencang-kencangnya. Ingin segera memeluk menantunya dan mengatakan permohonan maaf dan penyesalan yang kini sudah memenuhi hatinya. Rasa benci pada dirinya sendiri karena telah menyakiti hati Suci selalu menghantui pikirannya. Harusnya dia tak perlu melakukan hal bodoh itu. Yang paling membuatnya sesal adalah saat ia menyuruh Suci untuk pergi dari kehidupan Riki.


Aku sangat menyesal karena sudah berbuat kejam pada menantu yang baik seperti Suci. Semoga dia mau memaafkanku.


Setelah beberapa menit berlalu, Suci keluar dari kamar mandi dan menghampiri Bu Merly.


"Mama ? astaghfirullah, ma...!" Suci histeris melihat kenyataan yang ada di depannya.


Matanya terbelalak seiring debaran jantungnya yang bergejolak. Apa sebenarnya yang telah terjadi ? setumpuk pemikiran tumpang tindih di otaknya. Memunculkan banyak pertanyaan bercampur kekhawatiran pada ibu mertuanya.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2