
Bu Merly selama beberapa hari dirawat di Rumah Sakit. Setiap hari semua keluarga bergantian menjenguknya. Yang paling intens berada di sampingnya adalah Suci. Dia sengaja resign dari pekerjaannya menjadi OB agar lebih fokus memperhatikan ibu mertua.
Menantu perempuannya itu dengan telaten menjaga sekaligus merawatnya. Kadang Bu Ayu ikut serta menemani.
Dokter sudah memberikan perawatan maksimal namun kondisinya masih belum membaik.
"Sebaiknya nyonya dirawat di rumah saja agar tidak merasa jenuh. Suasana hangat di rumah akan membantu memperbaiki moodnya jadi lebih baik dan bersemangat. Itu akan membantu penyembuhan beliau. Tidak perlu cemas karena saya akan menugaskan seorang perawat untuk mengecek kondisi nyonya Merly." Dokter menjelaskan pada Riki dan pak Hans.
"Baiklah, kami setuju." Pak Hans menyanggupi setelah sebelumnya menanyakan pendapat Riki.
Hari itu juga Bu Merly dibawa pulang. Dia dibaringkan di tempat tidur. Seorang staf medis sekaligus terapis ditugaskan pihak Rumah Sakit untuk mengurusnya. Namun untuk urusan memberi makan dan membersihkan badannya dilakukan oleh Suci dengan senang hati. Suci sendiri yang memintanya.
Esok paginya.
Pak Hans kini sudah ada di ruang kerja Riki. Duduk bersebelahan dengan putranya di sebuah sofa.
"Papa sekarang juga harus kembali ke Jepang, masih banyak sekali pekerjaan di sana yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Papa titip mama di sini. Secepatnya setelah semua urusan di sana selesai, papa akan kembali ke Indonesia." Pak Hans dengan berat hati mengambil keputusan itu. Sebenarnya dia ingin selalu berada di samping istrinya namun segunduk pekerjaan sudah menunggu untuk segera dibereskan.
"Papa jangan cemas, kami semua akan menjaga mama dengan baik." Riki mengangguk mantap dan tangannya menepuk pundak pak Hans, mengalirkan energi positif untuk ayahnya agar lebih bersemangat.
Senyum simpul tersungging di bibir pak Hans. Ia memegang tangan Riki yang masih ada di bahunya. Menandakan bahwa ia sudah siap dengan keputusannya. Pria yang masih memancarkan pesona di usia yang tak lagi muda itu kini lebih tenang. Dia percaya bahwa istrinya akan baik-baik saja mengingat ada staf medis yang merawatnya. Apalagi ditambah dengan adanya Suci di rumah ini, tak ada yang harus ia cemaskan. Pak Hans memang mempunyai kepercayaan yang besar pada menantu perempuan nya itu.
"Papa percaya pada Suci. Dia akan menjaga mamamu dengan baik." Lagi-lagi senyum muncul di bibirnya.
Riki ikut menyunggingkan senyuman. Ada kebanggaan yang terpancar di sana.
"Papa senang karena kamu sudah menemukan pendamping yang sangat baik seperti Suci. Semoga kalian selalu bahagia." Kini giliran tangan Pak Hans yang menepuk pelan pundak anaknya.
Riki hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
__ADS_1
***
Bu Merly terbaring kaku di atas tempat tidur. Matanya mengedar ke langit-langit kamar. Sesekali melirik ke kiri dan ke kanan, melihat siapa orang yang ada di sana.
Pak Hans dan Riki berada di samping kanannya dan Suci juga Raisya berdiri di samping kirinya. Pak Hans duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut kepala wanita yang sudah berpuluh tahun mendampinginya.
"Ma...papa sekarang juga harus kembali ke Jepang karena banyak sekali pekerjaan yang sudah menunggu. Mama juga pasti sudah tahu kan ?! secepatnya papa akan kembali setelah semuanya beres. Mama baik-baik di sini dan harus tetap semangat. Mama tidak akan kesepian karena sekarang sudah ada tiga anak kita yang akan menjaga mama." Pak Hans tersenyum.
Suci menoleh ke arah ayah mertuanya.
"Ada Riki, Raisya dan juga Suci yang akan menemani mama. Papa jadi lebih tenang untuk pergi." Kini Pak Hans mengalihkan pandangan ke arah menantunya dan tersenyum penuh arti.
Suci kembali menunduk. Sungguh perkataan yang terlontar dari mulut Pak Hans benar-benar tulus.
Semoga saja suatu saat nanti mama juga bisa mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Seperti papa yang dengan tulus menerimaku bukan hanya sebagai menantu, tapi juga sebagai putrinya.
Setelah berpamitan Pak Hans akhirnya pergi ke Bandara diantar oleh Riki. Raisya harus kembali ke Butik karena memang pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Hanya ada Suci dan seorang perawat yang ada di kamar Bu Merly.
Beberapa lama berlalu dan kini Suci sudah membawa semangkuk kecil bubur dan juga minuman herbal. Disimpannya nampan itu di atas nakas.
"Bagaimana kondisi mama suster ?" Suci bertanya sambil menyendokkan bubur ke mulut Bu Merly.
"Kondisi nyonya sudah lebih membaik dari kemarin meski badannya masih belum bisa digerakkan."
"Mama yang sabar, nanti juga pasti bisa normal lagi seperti semula." Suci tersenyum menyemangati.
Tangannya masih berusaha memasukan makanan ke dalam mulut Bu Merly. Disuapkan sedikit-sedikit karena mulutnya masih belum bisa terbuka normal. Setelah bubur habis separuh, ia memberikan minuman herbal itu dengan cara disendokkan sedikit-sedikit juga sama seperti tadi.
Selesai menyuapi, Suci membawa kembali peralatan makan tadi ke bawah. Sesegera mungkin kembali ke atas. Saat itu Dara sedang menyiapkan air hangat untuk membersihkan badan Bu Merly.
__ADS_1
"Biar saya saja yang melakukannya."
Dara mencoba menolak halus permintaan Suci. Sebenarnya dia merasa tidak enak hati karena harusnya dialah yang melakukan itu. Namun nyatanya Suci selalu menawarkan diri untuk menggantikan tugasnya. Bahkan selama di Rumah Sakit pun Suci lah yang selalu merawat bu Merly. Tidak pernah membiarkan perawat yang melakukannya.
"Tapi ini adalah bagian dari tugas saya nona." Dara kembali mencoba menolak.
"Ini juga adalah tugas saya merawat ibu mertua. Jadi suster jangan sungkan."
"Baik nona, anda sungguh menantu yang baik. Nyonya Merly sangat beruntung. Saya yakin beliau akan cepat sembuh." Perawat itu tersenyum manis.
Suci membawa Bu Merly ke kamar mandi dibantu oleh Dara menggunakan kursi roda. Namun saat membersihkan badannya hanya Suci yang melakukan. Sementara Dara menunggu di luar.
"Mama sekarang sudah segar." Suci terlihat sangat senang saat memakaikan baju pada ibu mertua.
Suci sangat memperhatikan setiap kebutuhanku. Dia sama sekali tidak merasa risih apalagi jijik saat melakukannya. Gerakannya begitu lembut. Kenapa dia masih bisa berbuat baik padahal aku sudah banyak menyakiti hatinya ?
Semua sikap lembut dan perhatian menantunya itu berhasil menampar pemikirannya. Hatinya tersentuh, benar-benar tersentuh diperlakukan seperti itu. Air mata mengalir di kedua pipinya.
"Kenapa mama menangis ?" Suci menyeka bulir-bulir bening itu.
Dara hanya diam berdiri memperhatikan.
"Mama jangan sedih, mama pasti akan sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Sekarang lebih baik kita berjemur sambil melihat pemandangan biar mama tidak bosan."
Suci adalah wanita yang sangat baik.
Air mata itu kembali berjatuhan. Sungguh dia ingin menjerit. Ingin segera memeluk menantunya yang berhati seperti malaikat itu. Namun sekarang ia belum bisa melakukannya.
"Mama tidak terlihat anggun jika menangis." Suci kembali menyeka air mata itu.
__ADS_1
Setelah selesai mendandani Bu Merly, Suci dan Dara membawanya ke balkon untuk menyapa sinar mentari pagi.
Meski tidak bisa berekspresi namun terlihat bahwa saat ini suasana hati Bu Merly sedang baik. Ia menikmati kebersamaan dengan Suci. Sangat menyenangkan karena menantunya itu tak henti mengajaknya bicara. Membahas hal-hal yang lucu untuk menghibur hatinya. Dara pun ikut berbaur. Mereka terlihat akrab.