
Setelah makan malam, Yusuf masuk ke ruang kerjanya. Di sana Willy telah berdiri menunggu.
Ceklek !! pintu terbuka dan langsung ditutup kembali. Yusuf melenggang menuju kursinya. Willy membungkuk hormat, "Selamat malam, tuan ! ini dokumen berisi semua informasi mengenai nona anda. Saya sudah terlebih dahulu membacanya, seperti perintah anda. Apa anda juga ingin melihatnya, atau biar saya saja yang menjelaskan ?"
"Biar aku baca sendiri. Kau boleh duduk." Yusuf mengambil dokumen di atas meja lalu membukanya.
"Tapi, sebaiknya anda harus menyiapkan mental. Sepertinya anda akan berurusan kembali dengan salah satu pria yang tidak anda sukai."
Yusuf mendongak dan mengernyit, "Siapa maksudmu ?"
"Anda akan mengetahui setelah membacanya." Willy membungkuk hormat lalu duduk di hadapan tuannya.
Berbagai pikiran memenuhi kepalanya. Asisten pribadi itu ikut gelisah saat mengetahui masa lalu Andini. Gadis yang disukai bosnya itu adalah anak kandung Pak Daniel, pria yang baru saja didepak dari Perusahaan karena telah berbuat curang. Yusuf tidak menyukai Pak Daniel dan tidak mau terlibat apapun lagi dengannya. Bagaimana perasaan tuan Yusuf setelah mengetahui rahasia besar ini ?
Dengan sangat teliti Yusuf membaca setiap kata dalam dokumen yang ada di tangannya. Kurang lebih informasi yang tertera antara lain mengenai biodata dan masa lalu gadis itu.
Andini Wiranata, lahir sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu di sebuah desa kecil. Dia lahir di luar nikah. Ibunya bernama Lastri Maryati, merupakan gadis yang tidak pernah menikah seumur hidupnya. Saat orang-orang mengetahui wanita itu hamil tanpa suami, mereka menjauhi dan menghujatnya. Bahkan keluarganya pun tak mau menganggapnya. Karena itu Lastri tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan kecil untuk mengurus Andini. Untuk memenuhi kebutuhan, Lastri bekerja menjadi tukang cuci baju di rumah tetangganya.
Saat Andini berusia enam tahun, ibunya meninggal karena hanyut di sungai. Semua keluarganya tak ada yang mau menampung Andini kecil. Akhirnya paman Andini membawanya ke rumah ayah kandungnya. Pria kaya yang sudah berkeluarga bernama Daniel Wiranata, adalah pria yang menghamili Lastri namun tak mau menikahi dan mengakui Andini sebagai anak.
Tapi karena suatu alasan, akhirnya Daniel beserta istrinya mengijinkan Andini tinggal bersama mereka. Namun, mereka tak pernah bersikap baik pada anak itu. Andini ditempatkan di kamar sempit sendirian. Dia dijadikan pembantu di rumah ayah kandungnya sendiri.
Untuk masalah pendidikan, gadis itu hanya disekolahkan sampai SMP. Itu pun bukan di sekolah ternama. Daniel dan istrinya tidak mau mengeluarkan banyak uang bagi Andini. Jangankan untuk sekolah, mereka bahkan membelikan pakaian hanya setahun sekali untuk anak itu.
Yusuf mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Ketika mengetahui gadis yang dia cintai ternyata mendapat banyak perlakuan tidak adil dalam hidupnya.
"Apa benar Daniel adalah ayah kandung Andini ? kau sudah mengeceknya ?"
"Sudah, tuan. Pria itu memang ayah kandung nona anda."
Yusuf melempar dokumen itu ke samping. Dia bahkan belum membaca semuanya. Yusuf bangkit dari duduknya. "Jika aku tahu sebelumnya, maka aku akan menghajar pria itu habis-habisan. Tapi, ini belum terlambat, bukan ?! Will, antar aku ke rumah pria bajingan itu !" Yusuf melangkah namun asistennya menghadang.
"Jangan bertindak gegabah, tuan ! jika anda datang lalu menghajarnya, maka reputasi anda akan hancur dan itu akan sangat berpengaruh terhadap Perusahaan. Selain itu, nona juga akan bersedih jika mengetahui ayahnya anda pukuli. Bahkan mungkin nona akan membenci anda. Meskipun Daniel itu ayah yang kejam, tapi nona sangat menyayanginya."
Yusuf berbalik dan kembali ke kursinya. Tapi sebelum duduk, dia menghajar meja kerjanya berkali-kali. Tangannya yang memar dan mengeluarkan darah sama sekali tak dia rasakan. "Pria brengsekkkk !"
Willy bergerak mengambil kotak P3K dan mengobati luka tuannya. "Tuan, berjanjilah untuk tidak lagi melukai tangan anda hanya karena pria tidak berguna seperti Daniel. Biar saya sendiri yang akan menghajarnya untuk anda."
"Tidak, aku yang harus memberinya pelajaran."
"Jangan, tuan ! seperti yang saya bilang tadi, jangan membiarkan imej anda buruk terutama di hadapan nona. Jadi, apa rencana anda selanjutnya ?"
"Rencana apa ?"
"Anda mencintai anak dari pria yang tidak anda sukai. Apa yang akan anda lakukan ?"
Yusuf terdiam. Bagaimana asistennya itu bisa mengetahui perasaanya, sedangkan dia tak pernah memberi tahu ?
Willy berdiri lalu menyimpan kembali kotak P3K di tempat semula. "Jika anda memang benar-benar mencintai nona, maka berjuanglah untuk mendapatkannya. Jika perlu, lamar secepatnya sebelum ada pria lain yang akan mendahului anda." Kembali duduk di hadapan tuannya.
"Apa dia akan menerima ku ? aku belum tahu bagaimana perasaannya." Yusuf menundukkan wajahnya.
"Anda tidak akan pernah tahu jika hanya berdiam diri saja."
"Apa usia 26 tahun, adalah usia yang tepat bagi seorang pria untuk menikah ?"
"Bukan masalah usia, ini masalah hati. Jika anda sudah siap menikah, maka harus segera dilaksanakan."
__ADS_1
Yusuf masih menunduk dan kembali diam. Mungkin perkataan asistennya itu memang benar. Tiba-tiba pikirannya teralih pada ibunya Andini. "Will, aku tidak mengerti. Jika Bu Lastri meninggal di desanya, kenapa kuburannya ada di kota ini ?" wajah bingungnya menatap Willy.
"Warga desa tidak ada yang mau menerima jenazah Bu Lastri. Pak Lukman, paman nona membawa jenazah itu ke kota ini, diserahkan kepada Pak Daniel. Dengan ancaman yang sama saat dia menyerahkan nona kepada ayah kandungnya. Akhirnya ibunya nona dimakamkan di TPU yang sama dengan almarhum Pak Hans."
Yusuf tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang yang kadang hanya mampu menghakimi orang lain. Tak mau tahu dan peduli dengan apa yang terjadi sebenarnya. Seenaknya menghujat bahkan membiarkan jenazah Bu Lastri terkatung-katung. Dimana hati nurani mereka ? Bahkan keluarga Bu Lastri sendiri pun, tak ada yang membelanya.
***
Yusuf duduk di sofa berdampingan dengan Bu Merly. Omanya itu menangis sambil memegangi tangan cucunya yang dibalut perban. "Tanganmu kenapa bisa sampai seperti ini ?" bahkan orang tua itu meniup-niup tangan Yusuf agar rasa sakit dan perih yang dirasakan cucunya bisa hilang.
"Jangan terlalu khawatir, Oma ! Yusuf baik-baik saja." Melepaskan tangannya dari genggaman Bu Merly. "Yang sakit itu di sini." Telunjuknya diarahkan ke dada.
Bu Merly mengernyitkan dahi, "Maksudmu ?"
Yusuf tersenyum dan menunduk, "Oma, apa tidak masalah jika aku ingin menikah secepatnya ?"
Mata Oma terbelalak, sejurus kemudian tertawa bahagia. "Cucu oma ingin menikah ? apa perempuan yang sudah berhasil membuatmu jatuh cinta adalah Andini ?"
Yusuf mendongak, wajahnya memerah. "Kenapa Oma berpikir begitu ?"
"Oma ini sudah tua, banyak pengalaman. Tahu jika kalian saling menyukai. Jika itu benar, segeralah melamarnya ! Oma akan mendukung." Bu Merly menepuk pelan bahu cucunya.
"Mama dan papa ? apa mereka bisa pulang dulu untuk ikut menemani Yusuf ?" wajahnya penuh harap.
"Oma akan bantu bicara pada mereka jika kamu merasa malu. Oma yakin mereka akan secepatnya kemari setelah mendengar kabar bahagia ini."
"Terima kasih, Oma !" Yusuf memeluk erat tubuh neneknya.
Bu Merly sangat bahagia dan terharu. Dia memang sudah mengira jika cucu pertamanya tertarik pada Andini. Bu Merly sama sekali tidak mempermasalahkan bagaimana status sosial gadis itu. Cukup satu hal yang dia yakini, yaitu Yusuf memilih gadis yang baik. Dia tidak perlu lagi mengetes apapun pada Andini. Tidak mau mengulang kesalahan saat menguji menantunya, Suci. Bu Merly tak ingin menyakiti hati Andini seperti yang dia lakukan dulu pada istri dari putranya.
***
Yusuf tersenyum manis membuat jantung Andini melompat-lompat. "An, kau...mau menemui Oma ?" sebelah tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tatapannya dialihkan ke arah lain, agar rasa malunya bisa disembunyikan.
Andini menunduk namun senyumnya mengembang indah. "Ya, aku....mau bertemu Oma. Apa...Oma belum tidur ?"
"Belum. Masuk saja ! Oma pasti bahagia melihat salah satu cucunya datang." Yusuf mengulum senyumnya, pandangannya masih beralih.
Andini mengernyit. Apa tidak salah dengar ? dia adalah salah satu cucu oma Merly ? apa Oma benar-benar sudah menganggapnya sebagai cucu ? jika benar begitu, maka Andini sangat bersyukur dan bahagia.
Tak sengaja matanya menangkap keanehan pada pria di depannya. Tangan kanan Yusuf diperban. Kenapa dia baru menyadarinya ? tapi saat makan malam, tangan itu masih baik-baik saja. Lalu kenapa sekarang diperban begitu ?
Andini refleks memegang tangan Yusuf. "Tanganmu terluka ? kapan ? kenapa ? kenapa tidak memberi tahu aku ?" gadis itu tak pandai menutupi rasa cemasnya.
Yusuf tersenyum, "Nanti jika kau sudah menjadi istriku, aku pasti akan memberi tahukan semua yang terjadi padaku. Selamat malam, cantik !" melepaskan tangannya lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi.
Andini mematung. Dia benar-benar shock mendengar perkataan laki-laki itu. Kedipan nakalnya membuat jantung Andini terasa lepas dari tempatnya.
Apa maksudnya ? apa dia berniat menjadikan aku sebagai istrinya ? ahhhh, tidak mungkin ! sepertinya telingaku yang sudah rusak. Aku pasti salah dengar !
Andini menepuk-nepuk keras keningnya. Membangunkan dirinya sendiri dari dunia halusinasi.
Andini mengetuk pintu lalu segera masuk ke kamar Oma setelah mendapat ijin. Dia duduk di sebelah Bu Merly.
"Dini, kebetulan sekali kamu kemari. Oma ingin ngobrol penting."
"Ngobrol apa, Oma ?"
__ADS_1
Bu Merly menatapnya dalam, "Jika ada seorang laki-laki yang serius ingin menikahi kamu, mencintai dan ingin selalu melindungi mu, apa kamu akan menerima ?"
"Maksud Oma ? memang pria bodoh mana yang ingin punya istri jelek dan berasal dari kalangan bawah seperti saya ?" gadis itu menunduk malu sekaligus pesimis.
"Yusuf !"
Deggg ! jantung Andini mengamuk. Dia menatap dalam-dalam pada orang tua yang baru saja bicara. "Oma, jangan bercanda ! ini tidak lucu !"
"Andini, Oma sangat serius. Tadi Yusuf bicara pada Oma. Dia bilang ingin segera melamar kamu. Dan Oma yakin jika kamu juga menyukai Yusuf."
Andini menunduk malu. Wajahnya merah merona, senyum kebahagiaan terpancar dari bibirnya. "Siapa yang tidak suka pada pria sepertinya ? tapi, saya merasa tidak pantas untuk pria seperti cucu oma. Saya banyak kekurangan." Wajah pesimis kembali muncul.
"Semua orang punya kekurangan. Tapi menurut Oma, kamu adalah gadis yang baik. Yusuf tidak mungkin tertarik padamu jika kamu tidak punya kelebihan. Yang jelas, Oma akan mendukung hubungan kalian. Itu jika kamu mau menerima Yusuf, jika tidak maka Oma akan mencari gadis lain." Oma sedikit menggoda.
"Baik, Oma ! Andini bersedia menikah dengan Yusuf. Tapi, bagaimana ? saya sudah tidak punya keluarga lagi."
"Yusuf sudah cerita semuanya. Nanti setelah orang tuanya ke Indonesia, kami akan menemui ayah kandungmu."
Andini menoleh, "Apa Yusuf tahu siapa ayah kandung saya, Oma ?"
Oma mengangguk, "Dia mengetahui semua asal-usul kehidupan kamu. Itu tidak masalah. Mari peluk Oma !" tangannya merentang menunggu sambutan tangan Andini.
Keduanya berpelukan. Andini begitu bahagia malam ini. Dia memang pernah bermimpi untuk mendapatkan seorang pangeran tampan dan baik hati seperti Yusuf. Tapi tak pernah berharap bahwa mimpi itu akan menjadi nyata. Namun, kini semuanya sudah ada di depan mata.
Meski dia heran kenapa laki-laki itu bisa mengetahui masa lalunya, itu tak mengusik rasa suka citanya.
***
Saat di ruang makan. Mendadak hanya ada Yusuf dan Andini saja di sana. Oma beserta si kembar sarapan di kamar mereka masing-masing. Suasana terlihat canggung. Keduanya sama-sama menunduk malu. Sesekali Yusuf menatap gadis di depannya. Saat tak sengaja Dini pun melihat ke arahnya, laki-laki tampan itu tersenyum sangat manis. Gadis di depannya membalas dengan senyum gugupnya.
Andini segera menunduk kembali. Dia mengambil air minum yang ada di sebelahnya. Menenggaknya hingga habis. Mungkin itu salah satu cara menghilangkan nervous. Tak biasanya, pagi ini dia malas makan. Mendadak perutnya terasa kenyang hanya karena berduaan dengan pria tampan yang mungkin saja akan segera menikahinya.
Andini menjerit dalam hati. Masih ada rasa tidak percaya jika pria di hadapannya berniat ingin melamarnya. Jika benar apa yang Oma katakan, berarti suatu hari nanti aku akan selalu sering bersamanya. Lebih sering, lebih lama dan lebih dekat dengan Yusuf ! astaga, dengan membayangkan saja membuatku gemetaran !
Yusuf menangkap kegugupan dari sikap gadis itu. Dia hanya tersenyum, Andini pasti sudah tahu rencana Yusuf ingin melamarnya. Dia berusaha tenang untuk bicara. "An, Oma pasti semalam sudah membicarakan hal penting padamu."
"Tentang apa ?" gadis itu pura-pura bego saking malunya. Dia memaksakan mengunyah makanan yang ada di piringnya.
Yusuf menatapnya lekat. "Tentang niatku ingin melamarmu. Apa kau keberatan ?"
Andini tersedak, "Uhukkk Uhukkk !!!" memegangi dadanya yang terus batuk.
Yusuf beranjak dari duduknya lalu menghampiri Andini. Menyodorkan air dan membantunya minum. "Sudah baikan ?" menepuk-nepuk punggung Andini.
Dini melepaskan nafasnya lega. Akhirnya dadanya bisa tenang. "Sudah sembuh. Terima kasih !"
Yusuf berbisik tepat di telinga Andini, "Sama-sama calon istriku !" kembali melenggang ke kursinya.
Yusuf mesem melihat gadis di depannya sedang mematung. Benar-benar menggemaskan ! ayo Yusuf, sekarang fokus makan sebelum kegilaanmu kambuh !
Andini masih membuntang. Tubuhnya terasa beku. Pria itu benar-benar pandai membuatnya terkena serangan jantung mendadak. Ini memang bukan mimpi ! pria itu memanggilnya dengan sebutan calon istri !
"Andini, sampai kapan kau akan menjadi patung ?" Yusuf masih mesem. Dia bicara sambil mengunyah.
"Ahhhh, ya ! aku tidak berniat jadi patung untuk selamanya. Sudah selesai, aku akan makan !" gadis itu salah tingkah. Saat ini dia makan dengan tergesa-gesa sambil menunduk.
Yusuf berusaha menahan tawanya. Gadis itu terlihat lucu saat ini. Benar-benar ajaib, hanya melihatnya seperti itu, Yusuf merasa sangat bahagia. Cinta memang indah !
__ADS_1