Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 20.


__ADS_3

Usai sarapan, Yusuf naik ke kamar atas menemui Oma untuk pamit ke kantor. Sedangkan Andini masih ada di ruang makan. Dia berusaha untuk menenangkan hatinya yang sedari tadi loncat-loncat saat berduaan bersama pria tampan perusak kesehatan jantungnya.


Gadis itu masih terengah-engah seperti habis lari keliling kompleks. Minum banyak air adalah salah satu cara agar nafasnya kembali normal.


Setelah benar-benar tenang, Andini beranjak dari duduknya. Mengambil peralatan makan yang kotor ke dapur. Mencucinya hingga bersih, mumpung Oma tidak ada di sana. Biasanya jika Bu Merly melihatnya melakukan pekerjaan rumah, neneknya Yusuf itu selalu melarang.


"Heyyy, hentikan ! apa yang sedang kau lakukan ?" suara setengah teriak itu membuat Andini hampir menjatuhkan piring yang ada di tangannya.


"Yusuf !!!! kau membuatku kaget !" Andini melotot kesal.


"Simpan piring itu dan cuci tanganmu ! ikut aku !" Yusuf berbalik lalu melangkah cepat.


Dini menggerutu kesal sambil menuruti perintah Yusuf. "Kenapa dia suka membuat ku jantungan ?" setelah itu melangkah menghampiri laki-laki yang berdiri menunggunya di dekat tangga.


"Siapa yang menyuruh mu cuci piring ? katakan !" kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya tajam menusuk.


"Tidak ada, ini keinginanku sendiri. Itu bukan masalah bukan ?!" tatapannya beredar ke sembarang arah, tak mau bersitatap.


"Ini terakhir kalinya kamu melakukan tugas rumah. Aku tidak mau melihatmu menderita lagi seperti dulu saat masih tinggal di rumah Pak Daniel." Tatapannya melemah dan penuh ketulusan.


Andini membalas tatapannya. Gadis itu merasa tersentuh atas perhatian pria di depannya. Yusuf sampai memikirkan hal yang sedetail itu. "Kenapa kamu melakukan ini ?" lirih gadis itu.


"Aku mencintaimu, Andini ! kenapa kamu masih bertanya ? apa kamu tidak percaya jika aku benar-benar ingin menjadikan mu sebagai istriku ?" tak ada keraguan dari perkataan yang terlontar.


Andini menunduk dan tersipu malu. "Ingin tahu jawabanku tidak ?" memainkan jemarinya sendiri.


"Tidak perlu !" pria itu pura-pura cuek.


Andini mendelik, "Apa ? ya sudah !" gadis itu hendak pergi jika tidak buru-buru dicegah.


Yusuf menghalangi langkah Andini dengan tubuhnya. "Minggir ! bukankah kau tidak mau mendengar jawabanku ?!" suaranya masih kesal.


"Bukan tidak mau, tapi aku sudah mengetahui jika kamu pun menyukai ku."


Andini mendongak, "Yakin sekali, mana buktinya ? bagaimana jika aku tidak menyukai mu ?" menyilangkan tangan di dadanya.


"Jika kau tidak suka padaku, maka saat aku mencium mu waktu itu, kau pasti akan menolak." Yusuf menyeringai merasa menang. Puas rasanya melihat gadis itu gelagapan dan salah tingkah.


Andini menggaruk kepalanya. Pandangannya kembali tertunduk. "Wak...waktu itu...a..aku...itu karena...aduhhh aku harus ke kamar mandi, perutku sakit !" memegangi perutnya sambil lari ke lantai atas.


Yusuf tertawa terbahak-bahak. Dia pikir aku tidak tahu, kalau dia hanya pura-pura ?! menggemaskan !


Willy datang menghampiri Yusuf yang masih senyum-senyum sendiri. Seperti biasa pria itu membungkuk hormat. "Selamat pagi, tuan."


Yusuf masih menatap ke lantai atas saat menjawab sapaan asistennya. "Pagi, Willy !" Yusuf melenggang keluar rumah diikuti pria yang saat ini tengah melihat ke lantai atas, mencari alasan tuannya berseri-seri di pagi hari.


Apa nona-nya tuan sedang ada di atas ? apa yang terjadi hingga tuan Yusuf senyum-senyum begitu ? ahhhh, tapi terserah ! yang penting tuan bahagia. Aku tidak perlu memikirkan hal yang tidak terlalu penting !


***


Siang hari di Perusahaan Angkasa Group. Yusuf duduk di kursi kebesarannya dengan tenang. Dia baru selesai menandatangani sebuah dokumen yang langsung disodorkan pada sang sekertaris.


"Pak, bagaimana dengan perempuan yang sedari pagi menunggu anda di depan ? apa saya suruh saja dia pulang ?" sekretaris itu bicara setelah mengambil dokumen dari meja bosnya.


Yusuf menyeringai, "Suruh dia menunggu satu jam lagi. Tapi jangan biarkan dia masuk sampai sore hari !"


"Baik, pak. Permisi !" membungkuk hormat lalu pergi.


Willy yang berdiri di samping bosnya, membungkuk sopan. "Maaf, tuan. Bukankah anda seharusnya mengusir perempuan itu ? jangan sampai dia merasa besar kepala karena anda bersedia bertemu dengannya."

__ADS_1


Senyum smirk masih ada di bibir Yusuf. "Lebih menyenangkan jika perempuan bernama Yasmin itu lelah menunggu seharian daripada membiarkannya pulang dengan tangan kosong. Bukankah kita harus memberikan oleh-oleh untuk wanita itu dan keluarganya ?!"


"Ya, tuan. Semua terserah anda saja, yang penting anda senang. Saya yakin anda tidak akan berbuat hal yang melanggar aturan."


***


Jam 5 sore, Yasmin baru dipersilahkan masuk ke ruangan CEO. Wajahnya yang sudah kusut dipaksakan tersenyum cerah. Gadis itu sebenarnya sangat kesal karena habis-habisan dikerjai oleh Yusuf. Seharian disuruh menunggu dengan waktu yang tak jelas. Pertama diberi tahu jika Yusuf akan mempersilahkannya masuk saat jam 9, tapi diundur lagi jadi jam 10 pagi. Setelah itu, waktu terus diulur-ulur hingga akhirnya sore ini barulah dia berhasil masuk ke ruangan itu.


Seandainya kedatangannya menemui bos besar Angkasa Group itu, tidak membawa misi penting dari ayahnya, maka Yasmin tidak sudi menunggu selama itu. Dia sampai tak berani beranjak satu sentimeter pun, karena takut Yusuf tiba-tiba mengijinkannya masuk. Rasa lapar dan haus tak dia pedulikan, saking kuatnya keinginan untuk bertemu Yusuf.


Jika saja ini semua bukan demi ayah, maka aku tidak sudi melakukannya. Jika ayah bisa kembali lagi bekerja di perusahaan ini, maka aku tidak akan menjadi orang miskin !


Perusahaan ini memang satu-satunya harapan Pak Daniel. Dia kesusahan untuk mencari pekerjaan lain, karena umurnya yang sudah tak muda lagi. Pria itu memanfaatkan putri kesayangannya untuk membujuk Yusuf.


Yasmin duduk di sofa setelah mendapat ijin dari Yusuf. Gadis itu terlihat tersenyum manis meski hatinya masih kesal. "Selamat sore, tuan !"


Yusuf tak sedikitpun meliriknya apalagi menjawab sapaannya. Willy menatap tak suka pada Yasmin. "Maaf, nona Yasmin. Ada perlu apa anda menemui tuan Yusuf ?" tatapannya meruncing tajam.


Gadis itu mencoba menahan amarahnya. "Maaf, tuan. Saya kemari karena ingin meminta sedikit belas kasihan anda." Wajahnya disetting menjadi sendu untuk menarik simpati Yusuf. "Setelah dipecat dari perusahaan ini, ayah sekarang menjadi pengangguran. Tidak bisa bekerja di manapun. Ingin membuka usaha juga tidak ada modal. Jika begini terus, maka mungkin kami akan jadi gelandangan, hiks....hiks..." Tuan Yusuf pasti akan merasa kasihan padaku. Bahkan mungkin dia akan mengusap kepala dan pipiku dengan lembut. Bukankah ideku bagus ?!


Yusuf dan Willy sudah dapat menebak jika gadis yang tidak diharapkan itu sedang berakting. Mereka sama sekali tidak tertarik untuk menenangkan hati Yasmin meski seandainya gadis itu benar-benar menangis.


"Lalu, apa hubungannya dengan ku ? itu salahnya sendiri karena sudah merugikan perusahaan. Ayahmu harusnya bersyukur karena aku masih berbaik hati tidak menjebloskannya ke dalam penjara." Yusuf menatap ke arah lain, dia tak sudi melihat kemunafikan Yasmin.


Tangis gadis itu dibuat lebih mendramatisir. "Tuan, tolong ijinkan ayah saya kembali ke perusahaan anda ! saya yakin beliau tidak akan mengulangi perbuatannya."


Yusuf tak bicara. Willy yang kali ini meladeni sikap menjijikkan Yasmin. "Maaf, nona ! itu bukan urusan kami. Pak Daniel harus bisa mempertanggung-jawabkan kesalahannya."


"Will, tolong tinggalkan kami berdua." Yusuf menatap tajam pada Yasmin.


"Baik, tuan." Asisten itu pergi dari ruangan dengan tenang. Dia yakin jika tuannya tidak akan bersikap manis pada gadis menyebalkan itu.


"Apa yang akan kau lakukan agar ayahmu bisa kembali ke perusahaan ini ?" bicara tanpa menoleh.


Yasmin segera berlutut dan memperbanyak air matanya agar pria di sampingnya itu bisa luluh. "Maafkan ayah saya, tuan. Beliau khilaf ! saya jamin ayah tidak akan mengkhianati anda lagi."


"Kenapa kau minta maaf untuk kesalahan yang ayahmu lakukan ? harusnya dia sendiri yang menemui ku !"


"Maaf, tuan. Ayah saya sedang dirawat di Rumah Sakit. Beliau sakit keras, mungkin depresi karena menjadi seorang pengangguran." Amit-amit, semoga apa yang aku katakan ini tidak menjadi nyata !


Yusuf masih belum menoleh, "Berdiri ! aku tidak mau siapapun berlutut padaku. Aku hanya ingin dihargai ! lakukan cara lain agar aku berubah pikiran !"


Yasmin menyeringai. Cara lain ? hemmm, aku baru paham ! pantas saja dia menyuruh asistennya keluar, ternyata diam-diam dia ingin bermain denganku ! tidak masalah !


Perlahan gadis itu bangkit dan mendekat. "Saya dengan senang hati akan menghibur anda, tuan." Suaranya dibuat sensual. Jemarinya meraba-raba wajah tampan itu. Yusuf menghadap gadis yang sedang merayunya. Yasmin memang gadis yang menggoda. Pria manapun pasti akan mudah berada di pelukannya.


Yasmin menatap lekat wajah sexy itu. Duduk di pangkuan Yusuf dan merasai bibir lembutnya. Mereka saling beradu dengan nakal sambil menggerayang.


Cukup lama Yasmin berada dalam khayalannya. Suara Yusuf yang sengaja dikeraskan, membuyarkan lamunan liarnya. "Aku ingin kau melakukan cara lain. Tapi jika kau hanya ingin diam saja maka silahkan keluar dari ruanganku !" menoleh sebentar dan kembali menatap ke depan.


"Baik, tuan. Saya akan melakukan apapun, termasuk menyerahkan jiwa raga saya, agar ayah kembali bekerja di sini." Yasmin tersipu malu.


"Aku tidak menginginkan jiwa dan ragamu. Aku hanya ingin berkunjung lagi ke rumahmu nanti malam. Tapi jika ayahmu masih ada di Rumah Sakit, maka kita bisa mengaturnya lain waktu."


Yasmin begitu bersemangat, ia bahkan ingin memeluk pria di depannya jika diijinkan. "Baik, tuan. Saya yakin ayah akan langsung sembuh setelah mendengar kabar baik ini."


Yusuf menyeringai, Yasmin, kau pikir aku ini bodoh sehingga tidak mengetahui jika kau berbohong ? Daniel baik-baik saja, bukan ?! aku harus memberi kau dan ayahmu hadiah yang indah karena kalian sama-sama penipu !


"Baiklah, tuan. Saya pulang sekarang agar bisa menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut anda. Permisi !" gadis itu melangkah pergi secepat mungkin tanpa menunggu Yusuf bicara.

__ADS_1


***


Malam ini Andini dan Yusuf duduk berdampingan di kursi belakang mobil. Gadis itu menunduk malu karena pria di sebelahnya tak henti menatapnya. Dan sudah jadi kebiasaan baru jika jantungnya berdegup kencang saat berdekatan dengan Yusuf.


"An, kamu semakin hari semakin cantik. Imut dan menggemaskan." Yusuf masih menoleh ke arahnya.


Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil. Dia memegang dadanya yang semakin meletup-letup. Perkataan pria itu benar-benar membuatnya meleleh. Tolong, aku ingin pingsan ! aku tidak biasa dipanggil cantik !


Yusuf tersenyum melihat sikap malu-malu Andini. Dia mengalihkan pandangannya ke depan, sebelum otaknya kumat. Sepertinya keberadaan Willy di depan tak terlalu berpengaruh.


"Apa kau siap bertemu ayah kandungmu lagi ?" pertanyaannya jelas tertuju pada gadis di sampingnya.


Andini sekilas menoleh lalu menunduk. Dia saat ini sedang gusar. Apa yang akan Pak Daniel, nenek lampir dan nona manja katakan, setelah melihatnya bersama Yusuf ? bukankah mereka tidak suka jika dirinya dekat dengan pria itu ? apalagi saat ini hubungan keduanya jauh lebih serius.


Jika saja pria di sebelahnya tak memaksa, maka dia enggan untuk menginjakan kakinya di rumah itu lagi. Tapi demi Yusuf, maka dia bersedia ikut. Selain itu, dia juga ingin memamerkan pada mereka bahwa dirinya mempunyai seseorang yang mampu memberikannya kasih sayang. Dia bukan sampah seperti yang orang-orang itu pikirkan !


"Apa yang akan kita lakukan di sana ? kenapa kau memaksa sekali agar aku ke rumah itu ?" masih menunduk.


Yusuf tersenyum, "Apa kau tidak mau memperkenalkan calon suamimu ?" tatapan nakalnya muncul.


Andini mendelik, "Pede sekali, aku belum mengiyakan."


"Jangan pura-pura ! aku tahu jika kau juga ingin sekali menikah denganku." Yusuf mesem menatap ke depan.


"Tapi, sebenarnya aku merasa tidak pantas mendampingi pria seperti mu. Kau tahu sendiri kan, aku ini bukan siapa-siapa. Aku hanyalah gadis yang tidak berkelas." Andini kembali pesimis.


Yusuf menatapnya lekat dan menggenggam erat tangannya. "Aku mencintaimu. Hanya itu ! jangan pikirkan yang lain !" usai bicara pria itu mengecup lembut tangan yang dipegangnya. Tatapannya masih setia pada gadis yang saat ini mematung.


Sementara Willy yang sedari tadi menjadi saksi bisu atau lebih tepatnya menjadi kambing conge, hanya bisa berpura-pura tenang meski di dalam hatinya sangat terusik. Astaga, tuan ! apa anda melupakan kehadiran saya di sini ? anda kejam sekali, memamerkan kemesraan di depan pria jomblo !


Mobil terus melaju membelah jalanan yang masih agak ramai. Masuk ke sebuah salah satu perumahan elite di kota tersebut. Saat tiba di depan rumah yang cukup besar dan mewah, seseorang membuka gerbang hingga mobil dapat masuk.


Awalnya Andini ragu untuk turun dari mobil. Dia masih mengingat hari-hari buruknya di rumah itu. Namun, berkat senyum tulus pria di sampingnya, Dini pun mantap untuk kembali bertemu dengan ketiga orang jahat itu.


Di depan pintu utama, keluarga Daniel sudah berdiri menyambut kedatangan tamu mereka. Bahkan kali ini, ketiga pemilik rumah itu berpenampilan lebih trendy dan heboh dari sebelumnya.


Yusuf dan Willy berjalan bersama, sedangkan Andini mengekor di belakang Yusuf hingga tubuh kecil gadis itu tidak terlihat.


"Apa kabar tuan ? berkat mendengar kabar kedatangan anda, saya jadi sembuh." Pak Daniel mengulurkan tangannya, tentu saja dengan full senyum.


Yusuf menyambut berjabat tangan namun tanpa senyuman. Tak ada kata yang dia ucapkan. Willy pun bersalaman dengannya, "Ajaib, begitu cepat anda sembuh setelah mendengar tuan akan kemari." Wajah jutek asisten itu jelas menunjukkan sindiran.


Bu Rahma mencoba mengalihkan perhatian mereka. Dia berjabat tangan dangan kedua pria di depannya. "Suatu kehormatan anda datang lagi ke rumah kami. Apalagi Yasmin, dia sedari tadi tidak berhenti senyum-senyum sendiri saking bahagianya."


Gadis yang disebut namanya kini tersipu malu dan mengulurkan tangannya pada Yusuf. Namun, pria itu tak menghiraukan. Willy berinisiatif menyambut jabatan tangan Yasmin. Gadis itu pura-pura ramah meski hatinya dongkol.


"Hati-hati nona, jangan terlalu sering tersenyum sendiri, nanti anda dikira tidak waras." Wajahnya datar dan tidak merasa bersalah sedikitpun.


Yasmin segera melepas tangannya. Pria gila !


Pak Daniel berseru, "Mari masuk, tuan !"


"Sebentar, saya harus mengenalkan seseorang pada kalian." Yusuf berbalik lalu merangkul pinggang Andini, membawanya hingga bersejajar dengannya.


Gadis itu menunduk. Yusuf berbisik, "Tegakkan kepalamu di hadapan mereka !"


Andini seperti mendapat energi. Dia perlahan mendongak, "Selamat malam, apa kabar ?" berkata tanpa dibumbui senyuman.


Ketiga orang itu terkejut semenjak kemunculan Andini. Awalnya mereka tak dapat mengenalinya, karena tampilan Andini kini jauh berbeda dengan saat dirinya masih tinggal di rumah itu. Namun, suara yang terdengar dapat mereka kenali dengan jelas. Tidak salah lagi, gadis di depan mereka adalah Andini. Belum lama gadis itu keluar dari rumah ini, tapi penampilannya sungguh jadi luar biasa !

__ADS_1


__ADS_2