
Malam hari yang dingin untuk jiwa-jiwa yang sepi. Hujan deras saat itu membuat aktivitas di luar rumah menjadi terhenti. Kendaraan yang membelah jalanan pun hanya beberapa yang masih lalu lalang. Tiupan angin yang berhembus agak kencang semakin membuat orang lebih memilih menghabiskan waktu di dalam ruangan.
Bagi Suci dan Riki, malam ini malah semakin menghangatkan hati mereka. Suara deras hujan terdengar seperti alunan melodi nan indah. Sekencang apapun angin kala itu tidak akan mampu menembus kulit mereka. Itu karena mereka tengah berada di tempat tidur dan dalam keadaan saling berpelukan. Berselimut berdua di dalam kasur yang super empuk, di kamar yang nyaman, dan ditemani selimut hidup, tentu saja semakin membuat tubuh mereka hangat.
Berbaring saling berhadapan dan bersitatap membuat detak jantung mereka mengalun lebih dominan daripada suara hujan. Sesekali Riki mengecup area wajah Suci, membuat dada istrinya itu semakin berdebar tak karuan.
"Terima kasih banyak mas, kamu sudah memberikan banyak sekali kebahagiaan untukku."
"Kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku."
"Tadinya aku pikir, kamu hanya akan melegalkan pernikahan kita sebatas pada surat-suratnya saja. Tidak akan ada pesta atau semacamnya."
"Kamu polos sekali. Mana mungkin aku tidak merayakan hubungan kita, yang selama ini sudah menjadi impianku. Bahkan saat kamu masih bersama Doni, ada sekilas niat jahatku untuk merebutmu darinya. Tapi hati kecilku berhasil melarangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengganggu hubungan pernikahan kalian." Riki membenamkan wajah Suci di dadanya.
"Masa ? pantas saja waktu itu mas sudah kurang ajar memegang tanganku sembarangan." Suci mencubit pelan pinggang Riki, namun itu sama sekali tidak mengusik suaminya.
"Sebenarnya aku sengaja mengikuti kamu saat jalan dengan Raisya. Tiap saat yang ada di kepalaku hanya ingin melihat wajahmu. Dan aku tidak bisa mengontrol diri saat itu, hingga akhirnya tanpa sengaja aku malah membuatmu terluka. Maafkan atas semua kelancangan yang pernah aku lakukan padamu. Dari mulai kita pertama bertemu, sampai sebelum kita menikah." Riki mengusap lembut rambut Suci.
"Ya..itu sudah berlalu dan aku sudah memaafkan. Tapi setelah kita menikah, kelancangan itu kamu sebut apa ?" Suci mendongakkan kepalanya. Ada senyum canda di wajahnya.
"Karena kita sudah menikah maka kelancangan itu disebut hak untukku dan kewajiban untukmu." Riki menggoyangkan dagu milik istrinya.
Dan setelah itu Riki kembali menuntut haknya. Malam itu, tidak ! setiap malam adalah malam yang hangat untuk mereka berdua.
***
Riki bergerak cepat saat mengurus hal-hal penting untuk mendaftarkan pernikahannya agar tercatat di mata hukum negara. Setelah melalui proses yang lumayan melelahkan, akhirnya permintaan istbat nikah mereka disetujui.
Semua persiapan sudah dilakukan dan hanya tinggal menunggu hari dimana dunia akan mengetahui status pernikahan mereka.
Pagi ini Pak Hans sudah kembali ke Indonesia. Ia terkejut melihat Bu Merly sudah normal lagi. Riki menceritakan semuanya tentang kebohongan ibunya dengan alasan yang sama untuk Raisya. Masa lalu Suci hanya diketahui oleh Riki dan Bu Merly.
__ADS_1
Sebenarnya Riki tidak terlalu khawatir jika ayah dan adiknya tahu, dia yakin bahwa Raisya dan pak Hans akan berlapang dada menerima. Riki hanya ingin menjaga hati perempuan yang sangat dicintainya.
Sore harinya seluruh keluarga Riki menemui Bu Ayu di rumahnya. Riki dan orangtuanya ingin melamar Suci secara resmi.
Mereka semua duduk di sebuah kursi di ruang tengah. Bu Merly, pak Hans, Riki dan Raisya duduk bersebelahan dan menghadap pada Bu Ayu, Syarif dan Suci.
Agak geli juga jika disebut lamaran, karena nyatanya Suci dan Riki sudah resmi menikah meski dibawah tangan. Namun meski begitu, Riki sendiri dan keluarganya menginginkan hal tersebut. Selain itu mereka juga ingin memberi penghargaan lebih pada Suci dan keluarganya.
"Kami selaku orangtua Riki, ingin mengatakan bahwa kami sangat menyukai Suci dan kami sudah menerimanya sebagai menantu. Dan kami juga ingin meminta restu dari anda untuk pernikahan anak-anak kita." Pak Hans buka suara.
"Sejak awal saya juga sudah merestui mereka. Saya sangat berterima kasih pada kalian karena sudah mau menerima anak saya untuk jadi bagian dari keluarga anda pak." Bu Ayu tak dapat menyembunyikan rasa harunya. Suaranya agak tersendat karena dibarengi tangisan.
"Saya percaya bahwa Suci akan bahagia dengan pernikahan ini." Bu Ayu melanjutkan perkataannya sambil menyeka air mata.
Suci ikut terharu meski dia tak meneteskan air mata. Dengan lembut diusapnya punggung Bu Ayu.
"Saya hanya meminta agar mas Riki selalu menjaga mbak Suci. Jangan biarkan dia menderita." Syarif yang biasanya pendiam kini ikut bicara tegas. Dia memang sangat mengkhawatirkan kakaknya.
"Aku pasti akan selalu melindungi Suci. Kebahagiannya adalah tujuan hidupku." Riki mengangguk mantap mengalahkan semua keraguan adik iparnya.
Seandainya saja aku bisa menikah dengan bocah ini, aku sepertinya akan sangat bahagia. Syarif sangat perhatian dan menyayangi kakaknya. Apalagi jika pada istrinya, dia pasti akan selalu bersikap manis.
Matanya tak sedikitpun beralih dari arah Syarif. Dia semakin terlarut dalam perasaannya.
Lama berbincang-bincang akhirnya Riki dan keluarganya pulang, tentu saja Suci pun ikut dibawa.
Esok paginya Riki, Suci dan keluarga mereka berangkat ke Majalengka untuk berziarah ke makam almarhum ayah Suci.
Setelah melalui perjalanan jauh, mobil langsung berhenti di sebuah pemakaman. Mereka semua turun dan langsung menghampiri sebuah makam dengan nisan bertuliskan Wahyudi Nugraha bin Abdul Aziz, lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematian almarhum.
Semua kompak membersihkan makam almarhum yang sudah banyak ditumbuhi rumput liar. Setelah itu, semua orang berjongkok saat membacakan doa-doa untuk almarhum.
__ADS_1
Ada rasa sesak menggelayut di benak Suci, Syarif dan Bu Ayu. Kembali teringat kenangan bersama almarhum. Pak Wahyudi adalah sosok yang ceria dan sayang pada keluarga. Tidak pernah mengeluh tentang apapun. Bahkan saat dirinya terlilit hutang pun Bu Ayu sebagai istrinya tak pernah diberi tahu.
Dia selalu menggenggam bebannya sendiri karena tak mau keluarganya ikut susah. Namun sikapnya itu justru menjadi bumerang bagi keluarganya, terutama Suci. Saat tak kuasa lagi menanggung beratnya hidup, Pak Wahyudi memilih jalan pintas dengan memutus semua hubungannya di dunia. Meninggalkan banyak hutang yang mengakibatkan Suci terjerumus ke dalam dunia nista.
Namun semua itu sudah berlalu, semua kekhilafan dan kesalahan di masa lalu telah Suci tebus. Dia sudah mengikhlaskan jalan hidupnya. Kali ini yang terpenting adalah bagaimana dia hidup sebaik-baiknya di masa sekarang agar tak ada lagi sesal di kemudian hari.
Setelah berdoa untuk almarhum Pak Wahyudi, mereka juga berziarah ke makam almarhumah Rani, istri Syarif dan mendiang anaknya.
***
Meski ragu, Suci akhirnya mengajak keluarganya untuk mampir di rumah Indah. Selain bersilaturahmi, dia juga ingin mengundang adiknya itu untuk hadir di resepsi pernikahannya nanti.
Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Saat itu hanya ada Indah di rumah, Toso sedang ada kerjaan di luar kota. Dia sangat terkejut dengan kedatangan keluarganya dan juga keluarga Riki.
Indah memeluk erat tubuh ibu dan adiknya, sudah lama mereka tidak bertemu. Dia pun dengan ragu merengkuh tubuh Suci. Meski Indah masih salah faham pada kakaknya itu, namun jauh di lubuk hatinya dia sangat merindukan Suci. Ada air mata yang muncul di sudut matanya.
Awalnya Indah bingung dengan kehadiran tamunya yang tiba-tiba. Tapi setelah dijelaskan akhirnya dia mengerti dan menyanggupi untuk hadir di pesta pernikahan Suci nanti.
Ada rasa bersalah yang muncul di hatinya.
Apa pernikahan pertama mbak Suci berakhir gara-gara insiden di rumah ini ? aku tidak menyangka bahwa masalahnya akan jadi sebesar itu. Tapi aku senang mbak Suci sudah menemukan pendamping lagi.
Meski masih ada rasa kecewa pada kakaknya namun dia tetap menyayangi Suci dan berharap yang terbaik untuk kakak perempuan satu-satunya itu.
Suci beserta keluarganya meninggalkan rumah Indah setelah cukup lama berbincang. Mereka bergerak menuju hotel untuk menginap, dan akan kembali ke Bandung pada esok harinya.
***
Indah menceritakan semua pada suaminya tentang kedatangan Suci dan keluarganya. Termasuk memberi tahu alasan dan tujuan kedatangan mereka.
Jadi wanita itu sudah bercerai dengan Doni ? berarti rencanaku sudah sangat berhasil. Kini saatnya membuat rencana baru untuk kakak ipar baru.
__ADS_1
Senyum licik muncul di bibir Toso. Entah rencana busuk apalagi yang akan dia jalankan untuk menghancurkan Suci. Tapi dia belum tahu bahwa Riki itu sangat berbeda dengan Doni.
Riki tidak akan pernah terpengaruh oleh rencana licik siapapun. Dia sangat percaya pada istrinya. Riki begitu mencintai Suci dan akan selalu melindunginya.