
Di perjalanan menuju rumah Suci.
"Kamu masih mencintai Doni ?" bertanya tanpa menoleh.
Suci tidak menjawab.
"Baiklah saya tidak akan bertanya itu lagi. Apa kamu mencintaiku ?" masih fokus menyetir.
Suci otomatis menoleh ke arah yang bertanya.
Kenapa bertanya seperti itu ?
"Haha...ternyata kamu lebih tertarik membahas tentang kita ya. Baiklah, kapan kita menikah ?" tersenyum jahil meski masih menatap ke depan.
Suci memilih menatap kaca jendela mobil sambil mengerucutkan bibirnya.
Apa-apaan....pertanyaan konyol !
Setelah hening sejenak.
"Jika kamu masih mau menangis, lakukan di mana saja asal jangan di hadapanku ! aku tidak suka. Lepaskan semua kesedihanmu sampai semua benar-benar lenyap agar kamu lega. Tapi jangan terlalu sering menangisi Doni. Dia hanyalah pria bodoh karena melepaskan wanita baik sepertimu. Kamu tahu ? masih banyak sekali pria di luar sana yang ingin hidup denganmu."
Termasuk aku !
Suci mendengarkan baik-baik perkataan Riki.
Setelah ini aku jangan lagi menangisi mas Doni. Perjalanan hidupku mungkin masih panjang. Harus fokus pada masa depan. Masalah jodoh, terserah pada Tuhan.
Sampai di rumah Suci.
Riki mampir dulu di sana. Dia duduk bersama Suci, Bu Ayu dan Syarif. Mereka makan bersama dan mengobrol ringan.
Selepas waktu isha barulah Riki pamit. Suci mengantar hingga teras rumah.
"Besok ku jemput. Kita ke kantor bareng."
"Jangan pak nanti malah merepotkan hehe." Suci menggaruk sebelah alisnya.
Aku pasti lebih dibenci oleh para wanita penggila mu nanti.
"Kenapa selalu menolak kebaikanku ? aku tidak akan macam-macam."
"Saya hanya kasihan pada bapak. Nanti bapak cape lagi."
"Tidak cape kan pake mobil, kalau jalan kaki baru capeee. Kalau menolak terus berarti kamu membenci ku, ya kan ?!" pura-pura cemberut.
"Saya tidak benci bapak. Saya mau diantar jemput kok."
Upsss !!
__ADS_1
"Oohh kamu maunya diantar plus dijemput juga ? tadi kan aku cuma bilang mau mengantar mu besok." Riki tersenyum nakal.
"Buk.."
"Baiklah aku akan mengabulkan keinginanmu." Riki tersenyum penuh kemenangan.
Doni dan Teni tiba-tiba datang menghampiri.
Suci dan Riki terlihat akrab. Apa mereka benar-benar ada hubungan spesial ? Doni.
"Halo mas Riki ! kamu ada di sini ?" Teni berbasa-basi.
Riki tidak mempedulikannya.
"Suci, kamu pasti sudah mendengar kabar pernikahanku dengan mas Doni kan. Ku kira tadinya kamu sedang menangis, tapi ternyata salah besar. Kamu sudah cepat move on rupanya. Benar-benar wanita yang penuh kejutan." Teni beralih ke Suci dan tersenyum sinis.
"Doni, ajari selingkuhanmu sopan santun ! dia benar-benar wanita yang tidak tahu malu. Heran...kenapa kau lebih memilihnya daripada Suci ?"
Doni tak menjawab Riki meski amarahnya sudah naik. Sementara Teni, dia sudah murka sekaligus merasa dipermalukan.
"Mau apa kalian kemari ?" Riki kembali bicara.
"Suci, ini kartu undangan pernikahanku dan mas Doni. Aku sangat mengharapkan kedatanganmu. Kamu itu adalah tamu spesial kami. Pasti akan sangat menyenangkan kalau kamu bisa hadir." Senyum liciknya menyeringai.
"Tentu saja Suci akan datang, bersamaku !" Riki bicara lantang.
"Woww benar-benar seru jika kalian bisa datang bersama." Teni tersenyum menghinakan.
"Lepaskan mas." Suci berontak.
"Mas kenapa kamu pegang-pegang tangannya ?" Teni setengah berteriak namun tak digubris Doni.
"Don, lepaskan !" Tatapan tajam milik Riki membuat Doni akhirnya melepas tangan Suci.
"Riki, apa hubungan kalian sebenarnya ? apa sejak aku masih bersama Suci, kau sudah mengincarnya ?" Doni dan Riki bersitatap saling menantang.
"Apa maksud mas ?" Suci tak mengerti dengan sikap mantan suaminya.
"Mas ayo kita pulang sekarang !" Teni menarik tangan Doni namun ditepis.
"Suci, atau malah kamu yang mengincar Riki ? selama ini kamu hanya pura-pura bersedih dengan hubunganku dengan Teni, tapi nyatanya kamu lebih bahagia jika kita berpisah. Kamu menginginkan pria yang lebih mapan dariku ya kan ?!"
Saat itu Bu Ayu dan Syarif keluar rumah untuk melihat apa yang tengah terjadi.
"Aku tidak sehina itu mas. Tapi kenapa kamu mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu dibahas. Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, lagipula kamu akan segera menikah. Jadi fokus saja ke sana !" Suci bicara lantang.
"Kenapa setiap kita bertemu, kamu dan Teni selalu merendahkan dan menghina ku ? apa belum cukup puas kalian menghancurkan hatiku ? apa kalian pikir, kalian lebih baik dariku ? aku sudah merelakan kalian untuk bersama, jadi tolong sedikit saja hargai aku. Jangan lagi mengusik kehidupanku." Luapan emosi dan air mata tumpah bersamaan.
Doni dan Teni tidak bisa menjawab.
__ADS_1
Aku melihat kecemburuan di mata mas Doni. Aku harus memastikan bahwa dia tidak akan pernah meminta Suci kembali padanya.
Syarif sangat geram menyaksikannya. Dia ingin sekali meninju wajah Doni namun Bu Ayu menghentikannya. Dia tidak ingin situasi semakin panas.
"Dengar Doni, pria manapun di dunia ini pasti akan kagum dan tertarik pada Suci karena dia baik." Riki bicara dengan nada rendah namun penuh keyakinan.
"Tapi kau belum mengenalnya Riki. Dia.."
"Aku jauh lebih mengenalnya daripada dirimu. Dan akan ku pastikan bahwa kau akan menyesal karena telah melepaskan Suci."
Perkataan Riki terasa menampar wajahnya. Doni pun pergi dari sana diikuti Teni.
Suci masuk ke dalam kamarnya ditemani Bu Ayu. Syarif masih berada di luar bersama Riki.
"Apa anda mencintai mbak Suci ?" Syarif langsung mengeluarkan dugaannya.
"Apa yang dapat kamu lihat ?" Riki balik bertanya.
"Saya melihat ketulusan di mata Pak Riki. Saya harap bapak bisa menjaganya. Menjaga hati dan jiwanya."
"Aku memang ingin selalu melindunginya. Melihat senyumnya membuatku merasa tenang. Aku akan pastikan bahwa Suci tidak akan terluka lagi." Riki menepuk bahu Syarif.
Ku pegang janjimu ! aku harap kau tidak seperti Doni. Tapi hatiku berkata bahwa kau memang pria yang akan membuat mbak Suci bahagia.
Syarif mengangguk mantap.
"Saya pulang sekarang. Tolong hibur kakakmu. Jangan biarkan dia terus menangis. Assalamualaikum." Riki pergi menuju mobilnya.
"Waalaikumussalam."
***
Sementara itu, Teni terus mengumpat kesal. Membuat Doni semakin naik pitam.
"Apa mas masih mencintai wanita sampah itu ?" berteriak.
"Diam Teni ! aku pusing mendengarmu berceloteh dari tadi."
"Gara-gara mas melihat Suci dengan Riki, mas jadi marah-marah padaku. Apa mas cemburu ?"
"Diam ! kau yang dari tadi marah-marah, membuatku pusing !" Doni memaksimalkan kecepatan kendaraannya.
"Mas pelan-pelan, aku tidak mau mati konyol gara-gara kamu." Teni panik.
"Kalau begitu diamlah, atau ku turunkan kau di sini sekarang juga !"
"Aahhh baiklah aku akan diam !" Teni menyilangkan tangan di dadanya.
Semua ini gara-gara Suci. Aku tidak akan membiarkan dia merebut kembali mas Doni.
__ADS_1
Doni tiba-tiba teringat saat dia menurunkan Suci dari mobilnya. Kini rasa bersalahnya mulai muncul dan menghantui pikirannya.
Apa aku yang sebenarnya sudah keterlaluan pada Suci ?