Seperti Sampah

Seperti Sampah
Tetaplah bersamaku.


__ADS_3

Usai menenangkan Suci, Riki menyelimuti istrinya itu karena kini sudah terlelap. Ia menyeka sisa-sisa bulir bening yang masih menempel di wajah Suci. Diusapnya dan dikecup lembut kepala wanita yang sangat ia cintai itu. Ditatapnya penuh cinta, sangat dalam memperhatikan setiap garis kesedihan yang bisa ditangkapnya dengan jelas.


Meski tak mengatakan apapun namun dia bisa merasakan bahwa Suci sedang ada masalah. Karena sikap istrinya itu sangat berbeda. Belum pernah dia melihat Suci seperti itu.


Suci adalah tipe wanita yang tegar meski dirundung banyak kemalangan. Namun hari ini Riki melihat kerapuhan di balik tangisan wanita itu.


Di rumah ini tidak ada siapapun kecuali mama. Mungkin saja dia tahu alasan kesedihan Suci.Sebaiknya aku mencari tahu.


Riki bergegas menemui mama Merly di kamarnya. Saat itu ibunya tengah duduk di sofa. Termenung sendirian dan tatapannya kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Bahkan ia tak menyadari kedatangan putranya.


"Ma.....!" setelah beberapa kali dipanggil barulah ibunya sadar.


"Riki, kamu ada di sini ? bukannya di kantor ?" Mama Merly kaget dengan kehadiran Riki yang tak terduga.


"Aku sengaja pulang karena mengkhawatirkan istriku, tiba-tiba teringat padanya."


Apa sekuat itu perasaan mereka hingga Riki bisa merasakan bahwa Suci sedang ada masalah ?


"Duduk dulu. Memangnya Suci kenapa ? apa dia cerita sesuatu padamu ?" Bu Merly bersikap seolah tak tahu apa-apa. Tapi sebenarnya hatinya merasa tidak nyaman.


"Dia tidak mengatakan apapun, tapi saat aku menemuinya dia sedang menangis. Apa mama tahu kenapa alasannya ?"


Ternyata dia tidak menceritakan apa yang sudah terjadi diantara kami.


"Apa kamu sangat mencintainya ?"


"Mama kenapa malah balik bertanya ? tentu saja aku sangat mencintai istriku. Andai mama tahu bahwa sebenarnya sedari dulu aku sudah menunggunya. Aku tidak pernah menaruh perasaan khusus pada seorang perempuan kecuali hanya pada Suci. Dia satu-satunya yang aku sayangi. Aku tidak pernah tertarik pada yang lain meskipun mereka seribu kali lipat lebih cantik daripada Suci. Bagiku dia adalah yang terbaik."


"Kenapa kamu begitu mencintainya ?"


"Aku tidak tahu. Perasaan ini tiba-tiba muncul. Setiap bertemu aku tidak bisa berpaling dari wajahnya. Jika berjauhan maka hati dan pikiranku selalu ikut bersamanya. Tidak ada syarat untuk bisa menjatuhkan hatiku padanya. Lagipula dia adalah wanita yang baik, tangguh dan tabah. Aku rasa setiap pria yang bisa mengenalnya akan dengan mudah menaruh hati padanya." Ada rona kebahagiaan dan kebanggaan pada wajah Riki saat menggambarkan perasaannya.


"Kamu yakin ingin menghabiskan hidupmu dengan Suci ? seberapa jauh kamu mengenalnya ?" Malah bu Merly yang bertanya banyak pada Riki. Padahal awalnya dialah yang harusnya menjelaskan tentang alasan kesedihan menantunya.


"Aku mengenalnya, sangat mengenalnya."


"Mama sudah tahu kalau istrimu adalah jandanya Doni, sahabatmu."

__ADS_1


"Itu bukan masalah, aku bahkan lebih dulu mengenalnya daripada Doni."


"Benarkah ?"


Riki tak menjawab. Dan itu membuat ibunya penasaran.


"Kamu tahu bagaimana masa lalu istrimu ?"


"Kenapa mama menanyakan itu ? Apa mama mengetahuinya ? jangan bilang mama sudah sengaja mencari tahu. Apa jangan-jangan mama sudah membahasnya dengan Suci sehingga dia menangis ?" Riki sudah beranjak dari duduknya.


"Mama hanya ingin mengetahui bagaimana karakter perempuan yang sudah kamu jadikan istri. Mama percaya padamu, tapi mama juga harus memastikan sendiri bahwa kamu memilih wanita yang tepat." Bu Merly menggenggam erat tangan putranya.


"Apa mama tidak mampu melihat kebahagiaanku saat bersama Suci ? apa itu saja tidak cukup bagi mama ?" Riki sebenarnya sudah sangat murka, namun karena wanita itu adalah orangtuanya maka dia berusaha menahan amarahnya.


"Mama hanya ingin yang terbaik untukmu." Bu Merly menatap anaknya lekat. Sedikit mendongakkan kepalanya untuk bersitatap dengan Riki. Ekspresinya masih tenang meski sebenarnya hatinya gusar.


"Suci adalah wanita terbaik untukku. Aku harap mama tidak mengusiknya lagi." Mata Riki menghindari tatapan mata ibunya.


"Tapi dia dulu pernah menjadi wanita malam. Apa kamu tidak merasa risih ?" Bu Merly beranjak dari tempat duduknya. Tangannya masih memegang erat tangan Riki.


Riki melepaskan tangannya dari pegangan ibunya dan menatap tajam sampai menusuk hati Bu Merly.


Bu Merly tercengang mendengar pengakuan anaknya. Informasi ini tak sampai padanya. Ia tak menduga bahwa Riki ikut terlibat. Namun jelasnya dia masih belum tahu, seperti apakah Riki ikut andil. Benar-benar di luar dugaan.


"Jelaskan pada mama, apa maksudmu ?" Bu Merly kembali duduk.


Riki akhirnya menceritakan semuanya secara garis besarnya saja. Bagaimana mereka bertemu dan apa yang sudah dilakukannya pada Suci.


Takdir macam apa ini ? anakku dari dulu sudah terhubung dengan Suci. Meski sempat menikahi pria lain tapi nyatanya saat ini mereka bersama walaupun dengan cara yang tidak direncanakan.


"Jadi aku harap ibu tidak usah lagi mengganggu Suci." Riki pergi meninggalkan ibunya yang masih terpaku.


Riki mencintai Suci jauh lebih besar dari yang ku kira. Wanita itu memang bukan wanita biasa.


***


Makan malam saat ini hanya dihadiri Oleh Raisya dan ibunya. Meski Bu Merly hanya duduk saja sebenarnya, hanya menyentuh sepotong buah. Pikirannya masih tumpang tindih tak karuan. Hatinya gusar memikirkan hubungan pernikahan putranya.

__ADS_1


Riki tidak turun bergabung karena ingin menemani Suci di kamar. Lagipula dia juga masih marah pada Bu Merly.


"Mas, kenapa tidak makan di bawah ?" Suci duduk di sofa kamar. Di sebelahnya ada Riki yang terus setia memeluknya.


"Kita makan di sini saja. Aku hanya ingin berdua saja denganmu." Riki tersenyum meski sebenarnya hatinya tengah gundah.


Riki tidak menceritakan tentang pembicaraannya dengan mama Merly. Dia tidak ingin melukai hati Suci.


Dia semakin mencintai istrinya itu. Riki bangga karena Suci bukan tipe wanita pengadu. Rela memendam lukanya karena ingin menjaga hubungan baik antara Riki dan Bu Merly. Jika wanita lain mungkin saja akan langsung menceritakan semuanya. Atau bahkan akan mengompori supaya membenci ibunya.


"Jika ada masalah apapun, tolong beritahu aku agar aku bisa melindungimu. Jangan pernah mencoba menanggung beban sendirian. Aku tidak mau kamu terluka oleh siapapun." Riki menyandarkan kepala Suci di bahunya. Ia membelai lembut rambut Suci yang tergerai.


"Terima kasih banyak mas sudah selalu ada untukku. Aku sangat mencintaimu mas." Suci pun membalas memeluk erat tubuh Riki.


"Aku juga semakin sangat mencintaimu. Tetaplah bersamaku." Dikecupnya kening Suci dengan lembut.


Saat itu datanglah bi Fatma membawakan makan malam. ART itu pun pergi lagi setelah selesai dengan tugasnya.


Riki menyuapi Suci untuk makan. Kali ini dia tak banyak menggoda istrinya. Tatapan lekat dan lembut ditujukan untuk Suci sambil masih terus menyuapi.


Aku sangat mencintaimu Suci. Tidak pernah aku bayangkan untuk pergi darimu. Semua orang yang menentang hubungan kita akan ku hadapi meskipun itu adalah ibuku sendiri.


Suci pun memandang wajah suaminya dengan sangat dalam. Mulutnya mengunyah pelan namun hatinya serasa sesak. Mengingat perkataan ibu mertua yang sangat kejam. Matanya sudah berkaca-kaca.


Bagaimana mungkin aku meninggalkan suami yang sangat baik dan sangat mencintaiku ? aku tidak akan pernah melepaskan mas Riki sampai kapanpun.


"Heyyy kenapa menangis ?" Riki menyimpan dulu sendok dan segera mengusap lembut air mata yang sudah terlanjur mengalir di wajah Suci.


"Aku hanya terharu saja. Aku beruntung karena sudah menjadi istrimu." Suci ikut menyeka air matanya. Senyum getir muncul di bibirnya.


Aku tahu kenapa kamu menangis.


Riki menatap nanar wajah sendu itu. Dadanya ikut sesak. Hatinya ikut teriris melihat kesedihan Suci yang selalu ditutupi. Matanya ikut berair meski ia menahannya agar tak terjatuh. Kembali ia peluk tubuh mungil milik istrinya. Dibelai dan dikecup lagi kepala yang sudah bersandar di dadanya.


"Jangan takut, aku akan selalu ada bersamamu dalam keadaan apapun." Riki berusaha menenangkan dan menguatkan hati Suci.


"Mas ! mama pingsan tadi jatuh di kamar mandi." Raisya muncul begitu saja mengagetkan kedua orang itu. Namun yang membuat syok adalah perkataan yang keluar dari mulut Raisya.

__ADS_1


Mereka semua bergegas membawa Bu Merly ke Rumah Sakit. Dokter mengatakan bahwa wanita paruh baya itu kini mengalami stroke berat. Tidak bisa bergerak sama sekali, hanya gerakan matanya saja yang masih berfungsi. Kini ia harus menjalani berbagai perawatan medis di sana.


__ADS_2