
Hari ini Yusuf dan Andini sedang melakukan fitting baju pengantin. Dimana lagi jika bukan di butik milik tantenya. Bukan karena dia tak mampu untuk memesan di tempat yang lebih mahal. Ini adalah solidaritas kepada keluarga, harus saling mendukung. Lagipula, di butik Raisya baju-bajunya berkualitas bagus dan modelnya pun tak kalah cantik.
Yusuf mempercayakan sepenuhnya pada Raisya, model seperti apa baju pengantin yang akan dia kenakan. Tantenya itu pasti tahu bagaimana seleranya. Dan mungkin akan disesuaikan dengan keinginan calon istrinya.
Raisya saat ini sedang mengukur badan Andini menggunakan meteran. Yusuf diam-diam memperhatikannya sambil duduk di sofa.
"Jangan membungkuk Andini, tegakkan badanmu !" Raisya melilitkan alat ukurnya pada lingkar dada Andini.
Yusuf nyaris tak berkedip menyaksikannya. Mendadak dirinya ingin menjadi meteran agar dapat bersentuhan dan memeluk Andini seerat itu. Ohhh, tidak ! selalu seperti ini. Yusuf segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia mencoba mengalihkan pikiran miringnya dengan mengutak-atik ponsel.
"Ok, selesai !" Raisya duduk di kursinya.
Andini duduk di sebelah calon suaminya. Yusuf menoleh pada Raisya. "Kalau begitu kami pamit. Terima kasih banyak atas bantuan Tante."
"Sama-sama. Tapi sebentar, apakah Andini mau pake kerudung atau tidak, saat ijab kabul dan resepsi ?"
Yusuf menatap ke arah gadis di sampingnya. Andini sekilas melihat kepada Yusuf, lalu beralih pada Tante Raisya. "Boleh, Tante. Saya mau pake kerudung. Sepertinya lebih anggun dan menenangkan."
"Baiklah, Tante akan buatkan sekalian. Setelah ini kalian mau kemana ?"
Yusuf yang menjawab, "Ke apartemenku. Di sana sepi, pasti akan sangat menyenangkan." Menatap nakal pada calon istrinya dengan ekspresi serius.
Andini mendelik, "Apa maksudmu ? aku tidak mau ke sana."
Raisya terbahak, dia sudah tahu jika keponakannya itu hanya ingin iseng pada Andini. "Yusuf pasti hanya menggoda saja, dia tidak mungkin melakukannya."
Andini nyengir menahan malu. Dasar Yusuf ! dia suka sekali membuat aku gemetaran.
Yusuf beranjak dari duduknya. "Tante, kami pamit."
Raisya mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan, nak ! awas banyak setan, jangan sampai kalian kecelakaan !"
Yusuf sedikit tersenyum dan berlalu. Dia paham maksud dari tantenya itu. Andini bangkit dan membungkuk hormat pada Raisya. "Saya pamit, Tante. Terima kasih banyak !"
Setelah mensejajarkan diri, gadis itu menoleh. "Memang setan apa yang dimaksud Tante Raisya ?" tak ada jawaban dari yang ditanya.
Andini sejenak berpikir lalu kembali bicara, "Ohhh, ya. Aku pernah mendengar ada orang kecelakaan karena diganggu makhluk halus. Dulu di desaku, pernah ada satu mobil yang masuk ke jurang. Katanya, si pengendara itu melihat hantu yang menjelma sebagai gadis, melintas di tengah jalan. Untuk menghindari agar tidak menabrak, mobil itu dibelokkan dan malah masuk ke dalam jurang. Jadi, kamu harus fokus saat membawa mobil. Jangan lupa juga berdoa !"
Yusuf tergelak, "Seram sekali ceritamu ini."
"Kenapa tertawa begitu ? katanya seram ! Apa kau mau meledek ? tidak percaya dan menganggap ini hanya omong kosong ?"
"Maksud Tante Raisya adalah, sudahlah jangan dibahas. Aku takut kamu pingsan mendengarnya." Mengulum senyumnya.
Andini masih mengernyitkan dahi. "Aku semakin penasaran. Cepat jelaskan !" menggoyangkan lengan pria di sebelahnya, sambil terus berjalan.
"Maksudnya adalah, seperti ini. Saat kita berduaan, banyak setan yang menggoda. Jika aku tidak berhati-hati, maka kamu akan habis ku lahap." Yusuf berhenti melangkah. Dia menggerakkan mulutnya seolah ingin mengunyah gadis itu.
Andini segera melepaskan tangannya. Apa maksudnya begituan ya ? Gadis itu nyengir kuda dan membungkam mulutnya agar tak lagi berkoar.
Keduanya tiba di depan mobil dan langsung masuk. Yusuf memakai sabuk pengamannya lalu menghidupkan mesin.
"Pakai sabuk pengaman ! itu sangat penting untuk menjaga keselamatanmu. Atau, mau ku bantu ?" menoleh sambil menggerakkan alisnya.
Andini secepat kilat memakai seatbelt-nya. "Aku bisa memakainya sendiri," cengar-cengir agak gugup.
Mobil melaju menyusuri jalanan kota. Berhenti di sebuah restoran setelah lima belas menit perjalanan. Usai memarkir mobilnya, Yusuf turun terlebih dahulu. Tentu saja pria itu membukakan pintu untuk calon istrinya. Andini merasa bagaikan seorang putri raja, saat dia turun dari mobil. Perlakuan Yusuf membuatnya merasa istimewa. Mereka pun melenggang masuk ke restoran itu.
Kini keduanya telah duduk berhadapan, terhalang oleh meja bundar di depan mereka. Seorang pelayan menghampiri dan memberikan daftar menu. Andini memperhatikan pria yang berdiri itu dengan teliti. Wajahnya serasa tidak asing, Andini sepertinya mengenal pelayan itu. Ya, benar. Pasti dia, tidak mungkin salah !
__ADS_1
Yusuf ternyata dapat menangkap gelagat gadis itu. Wajahnya berubah masam, tak rela jika calon istrinya itu memperhatikan pria lain. "An, kau mau pesan apa ? jangan bengong begitu !" suaranya terdengar kesal.
Andini masih sempat melirik pria yang tengah bersiap mencatat pesanan. Jika aku menyapa, apa dia akan mengenali diriku ? Gadis itu masih berkutat dengan pikirannya sendiri.
Yusuf mengeluarkan suara lebih tinggi, "Andini, kau mau memesan makanan atau hanya ingin menatapnya ?" matanya meruncing ke arah gadis yang kini berusaha tersenyum padanya, agar terhindar dari masalah. "Aku, aku ingin makanan yang sama denganmu."
Sementara si pelayan tadi hanya pura-pura tak tahu jika dirinya dilibatkan dalam kecemburuan si tamu pria. Dia juga tak mau ambil pusing saat Andini menatapnya penuh selidik. Dia dengan tenang, mencatat semua pesanan Yusuf. "Baik, tuan. Pesanan akan segera diantar. Permisi." Pria itu tersenyum kemudian berlalu setelah mengambil kembali buku menu.
Yusuf bersandar di kursinya, tatapannya mengintimidasi gadis yang kini tertunduk. "Kau menyukai pria itu ?"
Andini mendongak, dahinya mengerut. "Siapa yang kamu maksud ?"
"Waiters yang baru saja pergi. Yang sedari tadi kamu tatap sampai matamu tidak berkedip." Tangannya terlipat di dada.
"Pelayan itu ? tidak begitu ! aku memperhatikan dia, karena sepertinya aku mengenalnya."
Yusuf mencebik kesal, "Jika kalian saling mengenal, maka pria itu pun mungkin akan menyapa mu tadi."
"Aku yakin jika pria itu adalah teman seangkatanku waktu di SMP. Tapi kami beda kelas. Dia adalah salah satu siswa populer waktu itu, jadi aku mengenalnya. Kalau dia, belum tentu hafal dengan wajahku ini." Andini menunduk.
"Kenapa ? kamu kecewa karena pria itu tidak mengenali dirimu ?"
Andini mengerucutkan bibirnya, "Kau salah paham. Aku hanya kecewa karena dulu aku tidak punya teman. Pantas saja jika dia tidak mengenali aku. Jangankan pria itu, teman sekelasku saja bahkan tidak menyadari keberadaan ku."
Gadis itu memang selalu bersedih ketika mengenang masa sekolah. Tidak ada yang sudi berteman dengannya, hanya karena dia kucel. Dia juga bukan murid yang berprestasi, wajar saja jika dirinya selalu terlupakan.
Tak lama kemudian, waiters itu pun kembali dengan membawa semua pesanan Yusuf. Dia meletakkan makanan dan minuman di meja bundar tersebut. "Selamat menikmati, tuan dan nona," ucapnya dengan ramah.
Yusuf tak mempedulikan pria itu. Sementara Andini lagi-lagi menatapnya. "Maaf, apa kamu Malik yang dulu pernah sekolah di SMP Harapan Negara ?"
"Maaf, nona. Kenapa anda bisa mengenal saya ?"
Yusuf benar-benar terbakar melihat gadis itu mengakrabkan diri dengan pria lain. Dia malah sengaja memperkenalkan diri. Yusuf menenggak air di hadapannya hingga habis, agar rasa panas di dadanya bisa hilang.
"Maaf, nona. Saya benar-benar tidak mengenali anda. Permisi !"
"Eh, tunggu. Kamu tahu gadis yang kucel dan selalu menyendiri saat di sekolah ? nahhh, itulah diriku !" Andini terlihat agak kesal. Kenapa hampir semua orang tidak menganggapnya ada di dunia ini ?
Malik mengernyitkan dahi sambil garuk-garuk kepala. Dia benar-benar tidak mengenali Andini. Sekeras apapun mengingat, tetap saja gadis itu tak pernah ada dalam memorinya.
Yusuf menatap tajam pada pelayan itu, "Sudah pergi, kau masih punya banyak pekerjaan, bukan ?!"
Malik membungkuk hormat, "Maaf, tuan. Saya permisi, silahkan menikmati hidangan dari kami !" buru-buru melarikan diri dari situasi gawat itu.
Yusuf menatap tajam pada Andini. "Bagus, di depanku saja kau berani bicara pada pria lain. Bagaimana jika aku tidak sedang bersama mu ?"
"Kau ini, begitu saja cemburu."
"Tentu saja, aku calon suamimu. Bayangkan saja jika aku bicara dan akrab dengan wanita lain, apa yang kau rasakan ?"
"Tidak masalah, asal jangan berlebihan." Gadis itu menjawab ketus dan langsung melahap makanan yang ada di hadapannya. Lebih baik mengisi perutnya yang sudah keroncongan, daripada harus mengurus hal yang tidak penting.
Yusuf menghembuskan nafasnya kasar. Dia benar-benar tidak peduli. Aku ragu, dia mencintai aku atau tidak ?
Dia pun melampiaskan kekesalannya dengan cara mengunyah makanan itu dengan rakus. Baru kali ini Yusuf makan tergesa-gesa dan sebanyak itu. Andini sampai melongo melihatnya. Apa dia kesurupan ? biasanya makannya sangat berwibawa. Tapi lihatlah sekarang, dia bahkan mengalahkan aku.
Yusuf sudah menghabiskan makanannya, sementara piring milik Andini masih terisi.
Yusuf memanggil waiters yang tadi untuk melakukan pembayaran. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya. "Jika kau masih betah di sini, maka aku akan pulang sendiri." Yusuf melangkah tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
Andini segera minum lalu ikut berdiri. Dia menyusul langkah panjang pria itu. "Tunggu !"
Yusuf terdiam sambil terus berjalan ke arah parkiran. Sampai di depan mobil pun dirinya masih membisu. Pria itu masuk duluan ke dalam kendaraannya, tanpa membantu membukakan pintu untuk Andini.
Dini mencebik kesal sambil membuka pintu mobil. Dasar bocah ! begitu saja marah ! jika dia bukan calon suamiku, maka aku akan mencubitnya.
Andini memasang sabuk pengamannya. Sesekali matanya melirik pada pria di sebelahnya yang masih bungkam. Kau mau main diam-diaman dengan ku ? baiklah, aku mau melihat sampai kapan kau akan bertahan ?
Yusuf melajukan mobilnya dengan kencang. Matanya tertuju ke depan. Dia masih kesal pada Dini. Gadis itu sudah membuatnya cemburu dan marah, tapi tidak meminta maaf sedikit pun. Dia harus memberi calon istrinya pelajaran.
Mobil bergerak cepat tapi bukan ke arah kediaman keluarga Yusuf. Entah kemana dia akan membawa gadis itu ? Andini beberapa kali memperhatikan jalanan, dia yakin ini bukan jalan pulang ke rumah besar Hadi Wijaya.
Gadis itu sedikit gemetaran, apalagi melihat wajah jutek milik Yusuf. "Kita mau kemana ? ini bukan jalan pulang ke rumahmu." Dia kalah dalam permainan diam-diaman itu karena terlalu takut.
Yusuf belum mau menjawab. Andini berusaha lagi bertanya meski suaranya bergetar, "Kau tidak berpikir macam-macam, bukan ?!"
Yusuf mendengus kesal, "Diam saja, aku akan membawa mu ke suatu tempat. Aku ingin membuktikan apakah kamu benar-benar mencintai aku atau tidak." Mata tajam itu masih mengarah ke depan.
Tubuh Andini mengerut, dadanya berdebar tak karuan. Dia takut pria itu melakukan hal aneh atau gila. Dia mau membawa ku kemana ? apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan cintaku padanya ? semoga saja otaknya tidak konslet !
Andini ikut membisu. Perasaannya kalang kabut. Bingung, takut tapi di sudut lain hatinya dia percaya jika pria di sebelahnya tidak akan menyakiti dirinya.
Mobil berhenti di sebuah toko pakaian muslimah. Yusuf membelikan gadis itu kerudung dan pakaian yang saat itu juga harus dikenakan Andini. Setelah itu dia menyuruh Dini mengambil wudhu, dia pun melakukan hal yang sama.
Keduanya masuk lagi ke mobil dan perjalanan pun berlanjut.
Dini melihat ke luar mobil, memperhatikan setiap jalanan yang dia lewati. Sepertinya tidak asing, bukankah ini jalan menuju TPU dimana mendiang ibunya bersemayam ? Perlahan dirinya mulai paham maksud perkataan Yusuf.
Yusuf menepikan mobilnya. Sambil membuka sabuk pengaman, dia berbicara pada gadis di sampingnya. "Ayo, kita turun ! saatnya kamu membuktikan, bahwa aku adalah pria yang kamu cintai."
Andini menoleh, "Kamu mau aku melakukan apa ?" pura-pura bertanya padahal bisa menebak apa jawabannya.
Yusuf menatapnya lekat, "Aku akan membawa kamu menemui mendiang kakek, aku akan menunjukkan jika kamu adalah perempuan yang aku cintai dan akan aku nikahi. Kamu juga harus melakukan hal yang sama. Jika kamu benar-benar mencintai aku, kamu akan mengenalkan aku pada mendiang ibumu."
Andini mengangguk. Keduanya turun lalu membeli dulu bunga dan air kepada penjual yang ada di depan TPU. Setelah itu, melangkah masuk ke pemakaman tersebut. Karena makam ibunya Andini yang pertama mereka lewati, maka mereka berziarah dulu ke tempat itu.
Seperti biasa jika berkunjung ke makam, mereka pasti akan membacakan doa-doa dan lain sebagainya. Menaburkan bunga dan air ke peristirahatan terakhir mendiang keluarga mereka.
Andini berjongkok sambil mengusap nisan ibunya. Dia berbicara seolah sedang mengobrol dengan sosok yang sangat dia rindukan. "Bu, Andini membawa pangeran tampan dan baik hati. Namanya Yusuf. Tapi dia itu bodoh, dia ingin menikahi putri ibu yang jelek ini." Gadis itu tersenyum kelu. Seandainya saja ibunya itu masih ada, pasti beliau akan kegirangan dan ikut bahagia.
"Bu, Andini juga mau menjadi istrinya. Yusuf itu pria yang tulus, dia satu-satunya laki-laki yang selalu memberikan aku kasih sayang yang berlimpah." Air mata tumpah ke wajahnya.
"Saya berjanji akan berusaha untuk membahagiakan Andini." Yusuf berkata dengan penuh keyakinan.
Usai ziarah ke makam Bu Lastri, mereka bergerak ke kuburan Pak Hans. Melakukan hal yang sama seperti tadi.
"Opa, gadis yang bersama Yusuf adalah Andini, calon istriku. Dia adalah gadis yang baik, aku sangat mencintainya."
"Opa, Andini akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Yusuf."
Usia berziarah, mereka masuk ke dalam mobil untuk melakukan perjalanan menuju rumah kediaman keluarga Yusuf.
Kali ini wajah Yusuf sudah tidak masam lagi. Bahkan aura keceriaan dan kebahagiaan terpancar jelas dari wajah tampannya. Dia benar-benar lega karena kini dirinya sangat yakin, bahwa Andini mencintainya dengan tulus.
Dengan senyum mengembang, pria itu sesekali melirik gadis yang tengah menatapnya.
Andini tersenyum geli, "Kamu benar-benar tidak suka melihatku bicara pada laki-laki lain ? pantas saja waktu itu kamu so-so an membuat peraturan aneh. Aku dilarang menyapa, tersenyum, bersentuhan dengan pria lain. Ternyata alasannya karena kamu cemburu."
"Ya, memang benar."
__ADS_1
Andini tersenyum puas dan bahagia. Itu berarti calon suaminya, benar-benar mencintainya. Dia tak pernah menyangka akan mendapatkan hati seorang pria tampan seperti Yusuf.