
Andini ada di kamar si kembar cantik, Khesya. Bu Merly sengaja membawanya untuk meminjam salah satu baju adiknya Yusuf. Pakaian milik Khesya menurut Bu Merly lebih cocok bagi Andini, dibanding baju Khaira yang semuanya gamis.
Dengan perlahan dia keluar dari ruang ganti. Baru kali ini Andini memakai baju bagus, rasanya sedikit aneh dan merasa rendah diri. Orang sepertinya mungkin tidak cocok memakai pakaian semahal itu.
Bu Merly manggut-manggut puas. Dia sangat menyukai tampilan Dini yang rapi. Meski hanya memakai celana jeans panjang dan kemeja krem dengan motif polkadot, gadis itu terlihat sangat berbeda dan lebih cantik. Selain karena dia memang aslinya manis, mungkin juga karena baju yang dia kenakan bukanlah barang abal-abal. Setelan kemeja dan celana jeans itu adalah produk salah satu merek paling mahal di dunia. Atasannya saja bisa mencapai harga puluhan juta.
"Oma, apa nanti nona pemilik baju ini tidak akan marah ? saya sudah lancang memakai barang miliknya."
"Tentu saja tidak. Semua cucu oma pada baik, tidak ada yang judes."
"Apa saya tidak terlihat aneh memakai pakaian seperti ini ?"
"Kamu terlihat sangat cantik dan terkesan lebih enerjik. Sekarang saatnya kita berburu baju untukmu." Bu Merly merangkul pundak Dini sambil tersenyum. Orangtua itu sangat sumringah dan bersemangat layaknya anak muda.
***
Sampai di Raisya Boutique. Andini dan Bu Merly duduk di sofa ruang kerja Raisya, di lantai tiga.
"Jadi ini temannya Yusuf yang mama sebutkan lewat pesan ? cantik !" Raisya menatap Andini dengan antusias. Wanita itu sangat penasaran akan sosok gadis yang berhasil dekat dengan pria acuh seperti keponakannya.
Setelah ikut duduk di sebelah Andini, Raisya mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Halo, saya Raisya, tantenya Yusuf."
Andini balas tersenyum dan meraih tangan Raisya. "Saya Andini, tante."
"Baiklah, Andini. Berapa lama kamu mengenal Yusuf ?" Raisya benar-benar penasaran akan hubungan Yusuf dengan Andini.
"Belum lama, tante. Itu pun tidak sengaja."
"Begitu....apa kalian pacaran ?" pertanyaan itu membuat Dini terbelalak. Dengan cepat gadis itu melambaikan kedua tangannya sambil geleng-geleng kepala. "Tidak ! tidak seperti itu !"
"Raisya, kamu malah menggoda dia. Kami kesini mau cari baju yang cocok buat Andini. Tolonglah bantu pilihkan, kamu pasti lebih tahu dibanding mama. Cari baju yang bagus, elegan, tapi jangan yang terbuka !"
Ahhhh, aku kan penasaran ! tapi, investigasi bisa berlanjut sambil memilih baju bukan ?!
Raisya nyengir kuda setelah mendapatkan ide di otaknya. "Baiklah, mama. Andini, ayo ikut Tante !" beranjak dari duduknya lalu meraih tangan Dini.
Andini menoleh ke arah Oma Merly untuk meminta pencerahan. Orang tua itu hanya mengangguk sambil tersenyum, seolah bilang, sudah pergi saja !
Andini berdiri lalu berjalan beriringan dengan Tante Raisya. Bibi dari Yusuf itu menggiringnya ke lantai dua. Di sana banyak berderet pakaian khusus wanita.
"Jika ada yang kamu suka, ambil saja !"
"Tapi, saya..." Andini ragu-ragu untuk memilih. Dia bingung bagaimana nanti cara membayar baju yang pasti mahal itu ? dia sama sekali tidak punya uang.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, kamu pilih saja duluan !" Raisya mengutak-atik ponselnya. Ada notifikasi pesan yang masuk dari Bu Merly.
[Pilihkan baju yang bagus sekalian dengan baju dalamnya, yang banyak ! jika perlu mama akan borong semua yang ada Butikmu]
Raisya sedikit tertawa. Dia langsung mengetikkan balasan untuk ibunya.
[Baiklah yang mulia Ratu, hamba akan lakukan perintah anda dengan senang hati]
Ibuku ini, mentang-mentang banyak duit ! sepertinya mama sangat menyukai Andini. Dia bahkan rela mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan gadis itu.
Raisya menyimpan ponsel ke saku bajunya di bagian pinggang. Dia kembali fokus pada gadis yang dari tadi hanya menatap bingung baju-baju yang ada di hadapannya.
"Kenapa bengong ? apa kamu tidak suka ?"
"Saya suka, tapi....sebaiknya saya tidak usah membeli baju. Masih ada baju lama yang bisa dipakai." Andini menunduk, takut jika Tante itu tersinggung.
"Andini, mama yang akan membayar semuanya. Ditambah lagi saya juga akan memberimu bonus beberapa pakaian. Jangan khawatir !" Raisya tersenyum sembari menepuk pelan bahu Dini.
Gadis itu mendongak menatap lekat pada wanita yang barusan berbicara. "Tapi saya tidak enak hati. Saya sudah banyak mendapatkan kebaikan dari Oma. Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya ?"
"Itu adalah rezekimu. Tidak usah memikirkan cara untuk membalas kebaikan mama. Tuhan pun pasti sudah lebih dulu akan membalas kebaikan beliau. Jika mau, temani saja mama saya. Tolong bantu jaga dan sayangi beliau seperti keluargamu sendiri. Selama ini saya belum bisa sepenuhnya berbakti. Jika sudah punya keluarga sendiri, maka waktu kita akan terbatas bagi orang tua."
Andini terdiam. Dia memang akan menyayangi Bu Merly layaknya ibu atau neneknya sendiri. Bukan karena orangtua itu sudah memberikan tempat tidur dan pakaian yang layak, itu semua karena sikap dan perkataan oma Merly yang sangat santun dan juga tulus padanya.
Senyum tulus Andini mampu meyakinkan Raisya. Hatinya berkata bahwa gadis itu adalah perempuan berhati lembut. Tidak salah jika ibunya dapat dengan mudah menyukai Andini. Dan keponakannya, kemungkinan besar akan jatuh cinta pada gadis sederhana seperti Dini.
"Yang ini bagaimana, suka tidak ?" Raisya mengambil satu buah baju atasan tiga perempat berwarna putih, dengan sentuhan warna hitam pada kedua mansetnya dan sedikit di bagian lain.
Andini tersenyum tipis menatap baju yang cantik itu. Warna dan modelnya tidak terlalu mencolok. Raisya paham betul jika gadis itu menyukai baju pilihannya. "Baiklah, kita ambil yang ini. Pilih lagi yang lain !" karena Andini diam saja, maka Raisya kembali yang bertindak. Mungkin Dini masih tidak enak hati, dia tidak mau dibilang aji mumpung. Mentang-mentang Oma Merly baik hati, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membeli semua baju yang dia suka ? itu bukanlah sikap Andini.
Setelah banyak mengambil pakaian, Raisya menyeret Andini untuk memilih pakaian dalam. Gadis itu malu-malu, jadi lagi-lagi Tante Raisya yang harus turun tangan.
Puas memilih seabreg-abreg pakaian, Raisya mengajaknya makan bersama Bu Merly di sebuah restoran seafood terdekat. Di sana Andini juga merasa sungkan, tapi tidak bisa dipungkiri jika perutnya memang sudah mengeong ingin diisi ulang. Akhirnya dia makan dengan lahap meski agak malu, apalagi di depannya banyak menu makanan yang tidak pernah dia cicipi seumur hidupnya.
Usai makan dan istirahat sebentar, Bu Merly dan Raisya mengajaknya membeli sepatu, tas, seperangkat alat kosmetik dan lainnya. Sekalian gadis itu digiring ke sebuah salon ternama. Gadis itu sedikit dirombak tampilannya. Rambutnya sedikit dipotong untuk membuang yang bercabang. Rambut gelombang Andini kini menjadi lurus. Wajahnya pun tak luput dari perawatan, terlihat lebih bersinar dan tidak kusam lagi.
***
Sore itu Yusuf baru pulang dari kantor. Dia berjalan menuju lantai atas. Saat di depan kamar Andini yang terbuka, dia melihat Omanya ada di sana. Bu Merly menoleh, "Yusuf, kemari ! ada yang ingin Oma tunjukkan."
Kenapa Oma terlihat sangat senang begitu ? ada siapa di dalam, selain Andini ?
__ADS_1
"Ya, Oma !" Yusuf berjalan pelan menghampiri.
Bu Merly mengajak cucu pertamanya itu menunggu di depan ruang ganti. Tak lama kemudian, muncul sosok tak asing namun sangat berbeda bagi Yusuf. Gadis kucelnya sudah bertransformasi menjadi gadis yang modis, anggun, elegan, cantik dan.....intinya lebih imut !
Yusuf sampai dibuat tak berkedip lama saking terkesima dengan penampilan baru Andini. Bahkan laki-laki itu hampir lupa untuk bernafas. Tubuhnya seolah membeku.
Andini hanya menundukkan wajahnya karena malu. Dia sadar jika saat ini dirinya tengah diperhatikan begitu dalam oleh pria di depannya. Jantungnya berdegup terlalu kencang. Seluruh tubuhnya gemetaran. Dia meremas erat jemarinya, mengalihkan rasa gugup. Ini pertama kalinya Andini ditatap seperti itu oleh laki-laki.
Bu Merly menatap kedua orang itu bergantian. Dia hanya tersenyum, mengerti jika cucunya sangat terpesona oleh Andini. Dan gadis itu pun malu-malu, persis sepertinya di kala masih belia.
"Yusuf, kenalkan ini Andini !" Bu Merly tersenyum menggoda.
Yusuf belum bisa mendengar kicauan Omanya. Dia masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari Andini, yang juga masih menunduk. Setelah Oma Merly berdehem cukup keras, barulah Yusuf tersadar. Dia gelagapan bicara, "Ya, Oma. A....pa yang...tadi, oma katakan ?" menoleh pada Bu Merly meski sesekali menatap Andini.
"Oma mau mengenalkan kamu pada Andini." Bu Merly mendekat dan merangkul pundak gadis tersebut.
Yusuf mengernyit, "Tapi kan aku sudah mengenalnya."
Bu Merly tersenyum, "Jika sudah mengenal Andini, kenapa ekspresimu seperti tadi ? seperti baru pertama melihat wajah Dini."
Yusuf garuk-garuk tengkuknya. "Andini terlihat sangat berbeda sekali dari sebelumnya. Jadi, aku agak ragu, apa benar dia adalah Andini ?" bicara dengan menunduk.
Dia tidak mau neneknya menangkap keraguan di mata Yusuf. Dia sendiri tidak yakin bahwa apa yang dia katakan barusan adalah benar. Jauh di dasar hatinya mengatakan jika sosok Andini yang baru, semakin menariknya ke dalam perasaan kagum atau menyukai, atau...bahkan lebih dari itu.
"Ohhh, oma pikir itu karena kamu terpesona dengan Andini !" Bu Merly masih tersenyum menggoda.
Yusuf semakin gugup, "Aku mau ke kamar. Permisi !" buru-buru pergi karena takut salah tingkah, itu akan sangat memalukan.
Andini memegang dadanya, rupanya jantungnya berdegup, itu berarti masih ada di tempatnya. Dia pikir organ tubuhnya yang berharga itu sudah copot. Syukurlah masih ada di dalam sana meskipun debarannya belum normal.
"Oma, apa aku terlihat aneh ? tadi Yusuf melihatku dengan begitu. Mungkin aku tidak cocok dengan penampilan seperti ini." Setelah pria itu pergi, barulah dia berani mengangkat wajahnya dan menoleh pada Oma Merly.
"Yusuf hanya terkesan dengan penampilanmu yang sangat cantik."
Andini memegangi pipinya yang sudah merah merona. Dia malu jika dipuji seperti itu. Apakah itu benar, jika dirinya cantik ? kadang Andini merasa tidak percaya diri.
***
Yusuf mengguyur tubuhnya dibawah shower di dalam kamar mandi. Kepalanya sudah dingin tapi otak yang ada di dalamnya masih saja panas dan sedikit kotor. Bayangan wajah Andini yang sangat berkali lipat imut, cantik dan menggemaskan, masih menari di pelupuk matanya.
Saat matanya terpejam, sosok Andini yang malu-malu tergambar jelas di sana. Jantungnya makin berdebar kencang, mengingat pancaran cahaya dari wajah Andini yang selama ini tertutupi. Meski gadis itu menunduk, tapi bibir pink miliknya bisa terlihat oleh Yusuf. Pikirannya semakin tidak waras ketika membayangkan lagi apa yang dia lihat tadi. Andini mengigit bibir bawahnya saat gugup, itu membuat otak ngeres Yusuf makin liar.
Astaga, kenapa gadis itu selalu mengganggu pikiranku ? makin lama aku makin dibuat hilang akal !
__ADS_1
Meski berlama-lama di dalam kamar mandi dan sekuat tenaga membersihkan badannya, tetap saja air tak mampu mengalirkan pikiran macam-macamnya dari gadis bernama Andini.