Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 45 (Tamat)


__ADS_3

Andini dan Yusuf bergandengan tangan menuruni anak tangga. Senyum merekah di bibir mereka selama berjalan menuju ruang makan. "Silahkan duduk, sayang." Yusuf menggeser kursi untuk istrinya. Dini tersenyum, "Terima kasih, mas."


Oma dan si kembar cantik mesem-mesem memperhatikan keduanya yang terlihat seperti pengantin baru.


"Ahemmmm.....ahemmmm...pagi yang cerah ! Indahnya kalau sudah punya pasangan. Mau duduk disiapkan, mau makan disuapi. Tuh Khaira, makanya cepat menikah !" Khesya berceloteh tak jelas.


"Kenapa bawa-bawa aku ? Kamu sendiri, sudah punya calon belum ?" balas Khaira.


"Kamu kan kakakku, jadi yang harus menikah lebih dulu itu adalah kamu Khai !"


"Kita ini kembar, aku dilahirkan hanya beberapa menit lebih dulu daripada kamu." Tak mau kalah.


"Jangan mulai lagi, bersikaplah tenang saat sarapan !" ucap Oma.


Yusuf sama sekali tak terpengaruh oleh keributan adik-adiknya. Dia fokus menyuapkan makanan ke mulut Andini.


Khesya berkoar lagi karena kakak pertama belum merespon apapun. "Kak, kenapa hari ini kalian terlihat lebih happy dan bersemangat ?"


Yusuf tersenyum, "Itu karena kami memang sedang bahagia. Istriku sedang hamil." Mengelus perut Andini.


"Benarkah ? Kamu serius ?" tanya Oma.


"Ya, Oma. Andini hamil lagi, tapi belum cek ke Dokter. Mungkin nanti pulang sekolah, kami akan ke Rumah Sakit." Jelas Yusuf.


"Alhamdulilah, Oma sangat bahagia mendengarnya. Kalian harus lebih menjaga calon anak itu, jangan sampai keguguran lagi !" cemas.


"Baik, Oma. Kami akan lebih memperhatikan anak ini." Ucap Andini.


"Jangan mengerjakan hal yang berat. Jangan banyak stress. Harus banyak minum air, makan buah dan sayur !" Saran Oma.


"Ya, Oma. Kami tahu !" ucap Yusuf.


"Yeeeee, akhirnya sebentar lagi akan ada suara tangisan bayi di rumah ini." Seru Khesya.


"Semoga kehamilan kakak kali ini selalu dilindungi dan dilancarkan. Selalu diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah." Ucap Khaira. Semua orang mengamini perkataannya.


Usai sarapan, Yusuf dan Andini berangkat ke sekolah.


***


Sebelum turun dari mobil, Andini mengecup punggung tangan suaminya. "Mas, aku pamit."


"Hati-hati, jalannya pelan-pelan biar tidak jatuh ! Kalau kamu merasa tidak enak badan, mual atau apapun, minta ijin saja pada gurumu ! Jangan lupa hubungi aku !"


Andini mengangguk, "Ya, mas."


Yusuf mengecup kepala Andini sebelum istrinya itu benar-benar pergi.


***


Jam dua siang di Rumah Sakit.


Andini berbaring di sebuah ranjang. Yusuf berdiri di sebelahnya seraya mengelus kepalanya. Seorang Dokter wanita tengah menjelaskan gambar yang ada di monitor.


"Ini adalah gambar dari janin yang ada dalam kandungan ibu. Dilihat dari ukurannya yang masih sangat kecil, usia kehamilan ibu diperkirakan sudah empat bulan. Berhubung denyut jantung keduanya normal, saya pastikan jika calon anak-anak kalian sehat."


Andini dan Yusuf saling tatap. Kenapa dokter bilang kedua anak-anak ? Apakah berarti lebih dari satu ?


"Kalian akan mempunyai bayi kembar." Jelasnya sambil tersenyum.


Pantas saja gambar dalam layar monitor itu terlihat berbeda. Andini dan Yusuf bisa merasakannya, tapi mereka tidak mau berspekulasi dulu.


"Dokter yakin ?" tanya Yusuf.


"Tentu saja." Dokter mengangguk mantap.


Senyum tersungging di wajahnya dan Andini. Ternyata apa yang dia cita-citakan dapat terwujud. Ini semua berkat kebaikan dari Tuhan.


"Alhamdulilah, aku sangat bahagia. Aku sangat mencintaimu, sayang." Mengecup kening dan bibir istrinya. Saking senangnya, dia lupa jika di sana ada mahkluk hidup lain yang sedang tersenyum malu.


Andini memelototi suaminya yang tidak tahu tempat itu. Yusuf cuek saja, dia terlalu bahagia akan hadirnya calon buah hati mereka.


"Kondisi ibunya juga sehat. Oh ya, apakah ada keluhan selama anda hamil ?" tanya dokter.


"Tidak ada, dokter. Saya merasa tidak ada yang aneh. Di kehamilan kali ini, saya tidak merasa mual atau apapun." Jawab Andini.


"Itu bagus. Jarang sekali ada ibu hamil yang mengalaminya apalagi pada trimester pertama dan kedua. Tapi saya tetap akan memberi vitamin untuk anda."


Setelah beberapa saat, mereka pun pergi dari tempat itu.


***


"Sayang, aku mau mencoba makan baso yang bentuk kerucut itu. Baso apa namanya ?" tanya Yusuf sambil mengemudi.

__ADS_1


"Baso tumpeng....mas mau itu ? tumben ! Ahhh, aku lupa. Aku sedang hamil dan mas yang ngidamnya. Aku sih mau-mau saja, ayo !"


Tak butuh waktu lama, mobil pun berhenti di parkiran yang disediakan oleh pemilik warung baso itu.


Andini dan Yusuf duduk di kursi paling pojok. Setelah lumayan lama menunggu, makanan itu pun datang.


Yusuf semangat sekali menggejrotkan sambel ke mangkok miliknya. Dia begitu lahap memakan berbagai aneka jenis baso yang ada di sana. Selama dua bulan ke belakang, dia memang doyan makan pedas. Mungkin memang benar bahwa dia sedang ngidam, hehe !


Andini terbelalak melihat suaminya makan sampai habis dua mangkok baso jumbo plus mie. Apa tidak salah ? Sekarang nafsu makannya lebih besar daripada aku !


"Sudah puas makannya, mas ?" tanya Andini.


"Sebenarnya masih mau nambah, tapi perutku sudah terlalu kenyang."


"Hah ? Kamu rakus sekali !" geleng-geleng kepala.


Yusuf cuma nyengir. Selang beberapa waktu, mereka pun pulang.


***


Lima bulan ke depan.


Malam ini Andini tak dapat tidur. Sejak tadi siang mendadak dirinya merasa gusar. Mungkinkah karena saat ini kehamilannya sudah mencapai sembilan bulan ? Dini memang merasa gugup karena dia belum pernah merasakannya.


Andini duduk bersandar di ranjangnya. Mengelus-elus perutnya yang besar. "Anak-anak, cepatlah lahir ke dunia ! Mama sudah tidak sabar ingin menggendong kalian !" Biasanya jika sudah diajak ngobrol, perutnya akan bergerak-gerak kena tendang dari si calon anak. Namun kali ini tidak ada respon. "Kenapa kalian diam ? Apa kalian maunya diajak ngobrol sama papa ganteng ?" nyengir menatap pria yang tidur di sampingnya.


"Papa sedang istirahat, kasihan. Ehhh, apa ini ? Kenapa aku tiba-tiba ngompol ?"


Dia panik karena mendadak bagian sensitifnya mengeluarkan air yang banyak, hingga membasahi semua bajunya.


"Mas, tolong !" Andini berbaring memegangi perutnya yang sakit dan tiba-tiba mulas. "Awwww, mas !"


Yusuf terperanjat dari mimpinya. Dia duduk menatap Andini yang meringis kesakitan. "Sayang, kamu kenapa ?" panik.


"Tiba-tiba perutku mulas dan sakit !"


"Aku panggil Dokter, atau kita ke Rumah Sakit saja ?" Yusuf tak bisa berpikir cepat.


Andini tidak menjawab. Selain bingung, dia juga tak sanggup bicara. Rasa sakit itu semakin kuat. Entah mengapa tiba-tiba dia mengatur nafasnya agar tenang dan mencoba mengejan. Tak ada yang menyuruhnya, itu hanya refleks dia lakukan.


"Kamu mau apa ? Apa ini waktunya melahirkan ? Sebentar sayang, aku mau beritahu Oma dulu !" Yusuf berlari ke kamar Oma.


Dalam beberapa saat, dia sudah kembali bersama neneknya itu. Oma menghampiri Andini. "Andini sudah pecah ket*b*n, ini saatnya anak kalian lahir. Cepat panggil Dokter !" panik.


Dengan gemetaran, Yusuf menelpon Dokter itu. Andini terus berusaha mengeluarkan bayi-bayinya dengan bantuan Oma.


Andini terus mengejan sekuat tenaga. Oma mendadak jadi dokter persalinan. "Sedikit lagi, Andini. Kepalanya sudah terlihat."


"Emmm.....!!" satu dorongan kuat dan anak pertama pun lahir. Yusuf segera menggendongnya.


Selang sepuluh menit, bayi kedua pun menangis. "Oaaaa...oaaaa...."


"Apa saya terlambat ?" Dokter yang ditunggu pun muncul. Dia bersama asistennya segera mengambil alih untuk menyelesaikan persalinan. Mengeluarkan placenta yang tertinggal dan membersihkan bayi-bayi itu.


Andini terkulai lemas, tenaganya terkuras habis. Namun sudut bibirnya tersungging, lega dan bahagia karena akhirnya dia dapat melaksanakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Meski persalinannya tidaklah biasa, tapi semua berjalan lancar dan anak-anak yang dilahirkannya pun sehat juga normal.


Mau bagaimana lagi ? Andini terpaksa melahirkan di rumah karena waktunya mepet. Jika dia dibawa ke Rumah Sakit pun, pasti akan melakukan persalinan di dalam mobil.


***


Andini dipindahkan ke kamar lain karena kamarnya sedang dibersihkan usai dipakai sebagai ruang bersalin. Dia duduk di atas ranjang sambil menggendong salah satu bayi cantiknya. Anak satu lagi dibawa oleh Yusuf.


Seorang suster ditugaskan untuk membantunya mengurus si kembar selama dia dalam masa pemulihan. Suster itu juga bertugas untuk mengecek kondisi tubuh Andini dan anak-anaknya.


"Sayang, yang ku gendong ini Safa atau Marwah ? Aku benar-benar belum bisa membedakannya." Ucap Yusuf.


"Itu Marwah, bedanya dari bentuk wajah. Safa terlihat lebih tirus, sedangkan adiknya lebih bulat." Jelas Andini.


"Emmm, ya...ya...!" Yusuf mencoba mengingat.


"Assalamualaikum...!"


"Waalaikumussalam, Tante." Jawab Yusuf.


Raisya pun menghampiri Andini dan duduk di tepi ranjang. "Tante mau coba gendong." Andini memberikan Safa padanya. Raisya tersenyum bahagia. "Cantik sekali, wajahnya perpaduan kalian berdua."


"Itu karena hasil kerja sama yang baik saat memproduksinya. Harus adil dan merata agar sama-sama nyaman." Ucap Yusuf.


Andini menepuk jidatnya sendiri. Apa yang dia katakan ? Kenapa terkesan jorok, ya ?


Raisya tergelak, "Apa yang kamu katakan, nak ? Kamu jangan dulu berpikir kotor !"


Yusuf nyengir. Itu adalah jawaban spontan dari mulutnya. Dia juga tidak tahu kenapa hal itu nongkrong di otaknya ?

__ADS_1


***


Siang ini kedua orang tua Yusuf bersama Zidan dan Zein baru sampai di rumah. Mereka langsung menyerbu si bayi kembar.


Suci memeluk erat menantu perempuannya. Dengan penuh rasa haru dan bangga, dia mengecup kening Andini. "Terima kasih banyak, nak. Kamu sudah memberi keluarga ini keturunan yang begitu cantik."


Andini tersenyum, "Bukan karena kehebatan saya, ma....Ini semua adalah kebaikan dari Tuhan. Alhamdulilah kami diberi kesempatan untuk membesarkan sepasang anak kembar."


Suci mengangguk lalu mengambil bayi dari pangkuan Andini. Mengecup pipi cucunya dengan menggunakan hidung. "Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin mama menggendong anak-anak, dan sekarang giliran mama menggendong cucu."


Riki ikut berbicara, "Jadi ingat waktu pertama kita punya anak ya, sayang ?! Rasanya bahagia dan bangga. Ternyata kita bisa membuat anak juga."


Kebahagiaan dan keharuan itu seketika hancur lebur gara-gara perkataan konyol itu. Suci mendelik, "Apa mas tidak punya kata-kata lain ?"


Riki terbahak dipaksakan, "Jadi ingat waktu muda ya, Ma...." Nyengir sambil garuk-garuk kepala.


Yusuf tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya. Inilah yang sebenarnya selalu dia rindukan. Sikap konyol papa Riki kadang terasa lucu baginya.


***


Malam ini Yusuf dan papanya berbincang di ruang kerja. Duduk akrab di sofa. Curhat antar sesama pria yang sudah menikah dan punya anak. Berbagi tips agar hubungan pernikahan selalu harmonis.


"Kuncinya adalah saling menerima dan mensyukuri bagaimanapun karakter pasanganmu. Jika sudah begitu, maka kita tidak akan pernah tertarik pada yang lain." Ucap papa Riki.


Yusuf manggut-manggut. "Pa, selama mama baru lahiran, apa kalian tidur sekamar ?"


"Tidak, papa tidur di kamar berbeda." Tersenyum mengingat kejadian manis itu.


"Sampai kapan ?" masih penasaran.


"Tiga bulan !" mengayun-ayun tiga jari di depan wajah anaknya.


Yusuf membelalak, "Selama itu ? bukankah waktunya cuma sampai empat puluh hari ?!"


"Memang benar. Tapi sebenarnya perempuan yang habis lahiran itu butuh lebih banyak waktu untuk pemulihan. Dalam empat puluh hari memang kamu bisa saja mengunjungi istrimu, tapi harus dilakukan dengan hati-hati !"


Tapi memang benar juga. Aku tidak boleh dulu menyentuh Andini meski sudah empat puluh hari. Luka habis melahirkan dua anak secara normal, pasti akan memakan lebih banyak waktu untuk pemulihan.


"Pa, bagaimana cara bertahan dalam waktu tiga bulan itu ?"


Riki mulai bercerita lagi. "Papa menyibukkan diri dengan berada di ruangan ini. Kadang-kadang suka ketiduran di sini juga. Tapi papa suka curi-curi waktu untuk sekedar memeluk dan mengecup mama." Tersenyum, seolah adegan yang pernah dia lakoni berpuluh tahun lalu itu, terpampang jelas di depan wajahnya.


Yusuf mendengarkan dengan seksama dan antusias. "Lalu, saat kembali bersama, apakah papa kembali gugup dan gemetaran ?" matanya berbinar-binar.


Riki tergelak, tangannya menepuk-nepuk bahu putranya. "Kamu kenapa jadi tertarik pada hal beginian ? Apa tidak malu bertanya hal itu pada ayahmu sendiri ?"


Yusuf tertunduk malu, "Aku hanya bercanda !" Apa yang ku katakan ? Kenapa aku lebih konyol dari papa ?


"Papa mau balik ke kamar. Mau istirahat." Riki beranjak dari duduknya dan pergi.


Yusuf pun melangkah meninggalkan ruangan itu. Dia pergi ke kamar.


Jreng jreng jreng !! Kejutan ! Banyak sekali orang dalam kamarnya. Oma dan mama, Tante Raisya dan juga adik-adik perempuannya.


Apa-apaan ini ? Tunggu, apa ini yang juga dialami papa dulu ?


Yusuf menatap mereka bergantian. Suci tersenyum menghampiri putranya yang berdiri di dekat pintu. "Nak, kami akan menginap di sini agar istrimu ada yang menemani. Kamu untuk sementara, tidur di kamar berbeda. Kamu pasti sudah paham alasannya kenapa !"


"Ya, aku tahu. Tapi, aku mau menggendong dulu anak-anak. Dan...sedikit, menc**m istriku." Berbisik-bisik.


Suci tertawa kecil, "Mama mengerti."


Yusuf pun menghampiri istrinya dan duduk di tepi ranjang. Menggendong Safa dan Marwah secara bergantian. Menidurkan bayi-bayi itu di tempat semula.


Yusuf menggenggam erat tangan Andini dan menatapnya lekat. Kenapa wanita yang habis melahirkan itu, wajahnya terlihat begitu menggemaskan ? Ahhh, dia tidak boleh berpikir begitu ! Semangat untuk puasa, Yusuf !


Dia memeluk tubuh Andini. Mengusap rambutnya dengan lembut.


Semua ciwik-ciwik berdehem agar Yusuf segera pergi dari sana. Apalagi si kembar Khaira dan Khesya. Mereka merasa tercemari oleh adegan itu. "Kak, biarkan kak Andini istirahat ! Apa kakak tidak kasihan padanya ?" ucap Khesya.


Yusuf mendelik, "Aku tahu !" Dia mengecup dulu kening istrinya lumayan lama. Tak peduli pada beberapa pasang mata yang memperhatikan.


Si kembar cantik menutup mata agar tak dapat melihat kemesraan kakak dan iparnya. Sedangkan yang lain hanya mesem-mesem.


"Sayang, selamat malam. Aku tidur di kamar sebelah." Yusuf tersenyum sambil mengelus kepala istrinya. Andini mengangguk, "Ya, mas. Jangan cemas, aku tidak akan kesepian karena banyak yang menemani !"


Yusuf mengangguk. Tapi aku yang kesepian, sayang !


Perlahan dia menyeret kakinya keluar dari kamar itu. Khaira dan Khesya melambaikan tangan sambil tersenyum meledek.


"Dah, semoga mimpi indah !" ucap keduanya.


Yusuf mendelik, Awasss kalian !

__ADS_1


Dan seperti itulah. Sejarah akan berulang karena para sesepuh keluarga itu masih berpikiran sama. Yusuf dan papa Riki punya pengalaman yang sama setelah istri mereka melahirkan.


Nantikan extra babnya !


__ADS_2