Seperti Sampah

Seperti Sampah
Fitting baju pengantin.


__ADS_3

Wajah Riki berseri-seri mengalahkan cerahnya sinar matahari pagi ini. Senyum manis tak henti terpasang di bibirnya. Ia terus memandangi wajah merah milik istrinya yang malu-malu.


Dengan dada berdebar-debar, Suci berusaha mengikat dasi pada leher suaminya. Entah kenapa jantungnya selalu memompa tidak normal saat Riki menatapnya dengan lekat seperti itu.


"Mas, bisa diam tidak ?" Suci tersentak ketika tubuhnya sudah ditempelkan ke dada bidang milik Riki.


Debaran jantungnya semakin berlarian. Bukan pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu oleh Riki, tapi tetap saja tubuhnya selalu gemetaran.


Hanya mengikat dasi, tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya dengan benar ? ahhhh semua ini gara-gara mas Riki. Dia senang sekali jika berlama-lama melihatku.


"Kenapa belum beres juga ? kamu sengaja mau menahanku agar tidak buru-buru ke kantor ya ?" Riki tersenyum menggoda.


"Bukan, aku tidak bisa konsentrasi !" Suci menutup mulutnya dengan tangan.


Upsss !


"Benarkah ? apa aku sesexy itu sampai bisa mengacaukan pikiranmu ?" tangan Riki yang satunya berpindah memegang tengkuk Suci.


"Ahhhh bukan itu maksudnya." Nyengir yang dipaksakan.


"Sayang, kamu masih saja malu seperti itu." Tanpa memberi Suci kesempatan untuk bicara lagi, Riki langsung menyerobot bagian paling manis dari wajah istrinya. Semakin membuat Suci susah bernafas akibat serangan brutal darinya.


Mas Riki hobi sekali main nyosor begini !


Tok Tok Tok !!!! suara ketukan pintu itu membuat Suci panik, namun Riki masih anteng dengan aktivitas favoritnya.


"Riki, ini mama !" sudah beberapa kali Bu Merly memanggil.


Mama, gawat !


Saking tambah panik mendengar suara mama Merly, Suci sengaja menginjak kaki Riki sekeras mungkin.


"Awwww ! kamu tega sayang !" Riki sudah memegangi bagian kakinya yang sakit.


"Maaf mas !" Suci merasa bersalah tapi dia buru-buru membuka pintu karena takut ibu mertua lama menunggu.


"Ya ma..." tapi Bu Merly sudah tak ada lagi di balik pintu itu.


Ehhhh mama kemana ? apa pergi lagi ?


Suci celingukan mencari keberadaannya.


"Kenapa ? mama mana ?" Riki menghampiri Suci dan ikut celingak-celinguk.


"Keburu pergi, gara-gara kamu mas. Aku kan jadi tidak enak sama mama." Agak kesal dia bicara.


"Berarti mama tahu bahwa kita tidak mau diganggu. Ayo kita lanjut !" lagi-lagi tersenyum menggoda.


Suci tidak menggubris dan segera melangkah berniat ke kamar Bu Merly. Riki berhasil menggagalkan rencana Suci untuk melarikan diri. Ditariknya tangan Suci dan segera mengunci pintu kamar.


"Kamu tidak akan bisa kabur." Riki memangku tubuh Suci yang terus bergerak ingin melepaskan diri.


"Aku mau menemui mama, mungkin memang ada yang penting."

__ADS_1


Dan juga kabur sebenarnya !


Suci sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Riki masih berdiri.


"Mas kan harus cepat-cepat pergi ke kantor." Suci duduk dan menutupi dadanya dengan guling. Ada senyum tak rela dari sudut bibirnya.


"Aku kangen sekali padamu sayang. Kemarin-kemarin karena mama berlaga sakit bohongan, aku jadi terabaikan olehmu." Riki berbaring di pangkuan Suci dan bermanja-manja.


Bukannya tak mau melayanimu, tapi kamu juga harus tahu waktu mas. Dan juga jangan terlalu keseringan begini.


Suci sudah lemas melihat sinyal-sinyal darurat dari Riki. Tapi memangnya apa yang bisa dia lakukan lagi ? Riki tak membiarkannya lepas begitu saja. Untung mereka sudah menjadi pasangan halal, jadi hal itu tidak akan menjadi masalah.


Jam setengah sembilan pagi mereka baru keluar kamar. Wajah Riki semakin sumringah. Sementara wajah Suci agak sedikit layu. Riki terus memegangi tangan Suci saat berjalan.


Keduanya turun untuk sarapan. Di sana sudah duduk Bu Merly yang memperhatikan mereka sedari datang. Wanita paruh baya itu hanya mesem melihat anak menantunya.


Riki menggeser kursi untuk Suci dan dia ikut duduk di sebelahnya.


"Pagi !" Bu Merly menyapa duluan.


"Pagi ma...!" Suci mengangguk sopan plus senyum.


"Selamat pagi ma...!" Riki tersenyum sekilas dan kembali mengalihkan pandangannya pada wanita yang ada di sampingnya.


"Selamat pagi sayang...! aku lupa tidak menyapamu." Riki mencium tangan istrinya dan tersenyum nakal.


Tidak perlu mas ! kamu sudah lebih dari menyapaku tadi.


Suci nyengir pada ibu mertua, wajahnya kini sudah sangat matang. Bu Merly hanya kembali mesem. Bu Merly pura-pura memainkan ponselnya namun ia sesekali curi-curi pandang pada Riki dan Suci.


"Maaf ma..." lagi-lagi Suci nyengir malu.


"Kalau tidak ada jawaban sama sekali berarti kami memang sibuk. Kami sedang berusaha keras untuk memberikan mama seorang cucu." Riki bicara santai sambil mencium pipi istrinya yang sudah semakin merah saja.


Mas Riki tidak tahu malu, kadang sikapnya ini konyol ! kenapa dia bisa santai begitu saat membicarakan hal sensitif begini ?


Suci menundukkan wajahnya malu, kali ini dia sudah benar-benar kehilangan muka.


"Itu ide bagus ! berikan mama cucu secepatnya !" Bu Merly tersenyum sambil beranjak pergi meninggalkan anak menantunya. Teh hangat tidak lupa untuk dibawanya.


Ibu dan anak itu sudah berhasil membuatku malu setengah mati !


Suci menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Riki memeluk gemas istrinya yang malu-malu.


"Diam mas, kamu sudah membuatku malu." Masih menutupi wajah.


"Habisnya kamu terlalu menggemaskan. Aku tidak tahan jika tidak menggodamu meski di hadapan orang tuaku." Sebuah kecupan ditempelkan pada pipi Suci.


Riki tertawa saat Suci mengerucutkan bibirnya dan masih belum membuka wajah malunya. Tidak ada kata lagi yang diucapkan Suci, dia sudah sangat kesal. Bukan kesal karena tidak suka diminta segera punya anak, tapi kesal karena malu semalu-malunya.


Tingkah Suci ini malah membuat Riki semakin gemas, mungkin jika tidak kasihan pada istrinya itu, sekarang Riki sudah menyeretnya ke kamar lagi.


***

__ADS_1


Di Butik milik Raisya. Kini butik itu sudah lebih besar dan lengkap menyediakan berbagai pakaian. Dari mulai baju tidur, baju santai, sampai baju pesta pun ada. Suci dan Bu Merly sudah ada di ruangan yang menyediakan khusus gaun pengantin.


Ruangan itu memang hanya diperuntukkan bagi Suci. Dan mungkin akan dipromosikan pada para pelanggan nanti.


"Pilih saja gaun mana yang kamu suka !" Bu Merly tersenyum manis pada menantunya.


"Gaun pengantin ? untuk siapa ?"


"Untuk kamu. Sebentar lagi kamu dan Riki akan meresmikan pernikahan kalian. Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir, pilih saja mana yang kamu suka !"


Bu Merly membantu memilihkan gaun untuk Suci.



Sepertinya Suci kurang srek dengan model yang ini, jadi Bu Merly memilih gaun yang lain.



Suci tampak kebingungan, modelnya semua cantik tapi dia merasa kurang cocok dengan pilihan ibu mertua.


Tiba-tiba Raisya datang ditemani pegawai kesayangannya, Syarif. Mereka mengejutkan Suci dan Bu Merly karena muncul dengan memakai baju pengantin.



"Bagaimana ? kami cocok tidak ?" Raisya berdiri berdampingan dengan adik Suci.


Syarif saat itu hanya diam saja meski bingung kenapa harus melakukan hal konyol itu. Raisya berdalih ingin menjadi manekin hidup untuk membantu Suci memilih gaun pengantin. Padahal dia sebenarnya hanya ingin modus saja pada Syarif. Setidaknya dia tidak akan penasaran jika tidak bisa menikah dengan bocah itu. Apalagi momen itu sudah diabadikan di kamera ponselnya.


"Raisya kamu itu apa-apaan ? Suci yang harusnya mencoba gaun itu, malah kamu yang pakai ? kamu sudah mau menikah juga ya ?" Bu Merly terkekeh.


Suci juga ikut terkekeh namun tak berkomentar apapun.


"Maksudku, gaun ini cocok tidak jika dipakai mbak Suci ?" gelagapan mencari alasan.


"Kamu pergi saja, ini urusan mama dan Suci." Bu Merly masih terkekeh.


"Tapi aku pemilik butik ini." Raisya masih belum menyerah.


"Tapi mama ini ibu dari pemilik butik." Bu Merly tak mau kalah juga.


Akhirnya Raisya pergi ke ruangannya di ikuti oleh Syarif. Bu Merly kembali memilih gaun lain.



Suci masih bingung, gaun dengan model lain ditunjukkan oleh mama mertua.



Dan masih banyak lagi gaun dengan model berbeda yang tak kalah cantik dan lebih mewah dari yang tadi. Itu malah membuat Suci semakin tidak bisa berpikir untuk menentukan pilihan. Entah yang mana yang akan ia pakai nanti. Dan untuk Riki, dia hanya akan mengikuti apa yang Suci pilihkan.


Note:


Visual hanya menunjukkan bagaimana model dari gaun-gaun pengantin yang ada di butik Raisya. Selebihnya jika kurang puas, kalian bisa berimajinasi sendiri.

__ADS_1


Terima kasih banyak atas dukungan kalian pada novel ini 🤗🤗🤗


__ADS_2