Seperti Sampah

Seperti Sampah
Rahasia yang terkuak.


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian lakukan ? bukannya kamu sudah punya suami ? kenapa malah berselingkuh dengan bosmu sendiri ?" Nizar langsung menghampiri Suci dan Riki setelah dirinya sadar bahwa apa yang sudah dilihatnya adalah nyata.


Kenapa mas Nizar tiba-tiba muncul ?


"Mas sudah salah paham." Suci sudah berdiri panik.


"Heyyy kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk ? tidak sopan sekali !" Riki mendengus kesal. Dia pun ikut berdiri di samping Suci.


Mengganggu saja !


"Sudah saya duga, bapak memang ingin mendekati Suci. Bapak so so an melarang saya untuk dekat dengan Suci tapi malah bapak sendiri yang sudah lancang menggaet istri orang." Nizar semakin menantang.


"Mas Nizar, sebenarnya suami saya ada..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Nizar langsung menyela.


"Ayo Suci kita pergi, jangan sampai kamu tertipu dengan rayuannya. Dia hanya akan menjadikanmu kekasih gelapnya saja." Nizar menarik paksa tangan Suci.


"Mas tolong dengar dulu ! kamu harus tahu siapa suamiku sebenarnya." Mencoba melepaskan diri meski pegangan tangan Nizar sangat kuat.


Brukkk ! tubuh Nizar ambruk setelah mendapat tinju keras dari Riki. Cairan merah bahkan menetes dari sudut bibirnya.


"Suami Suci adalah aku. Kami sudah menikah." Riki menunjukkan cincin yang sama pada jemarinya dan jemari Suci.


Apa ? mereka adalah suami istri ? kenapa tidak ada yang mengetahuinya ? pantas saja sikapnya berlebihan pada Suci.


Nizar melongo sambil menyentuh bagian bibirnya. Sebelah tangannya masih setia memegang erat beberapa dokumen.


"Mas kenapa memukulnya ? mas Nizar jadi berdarah."


"Karena dia lancang memegang tanganmu."


Riki masih kesal tapi dia membantu pria yang dipukulnya itu untuk berdiri. Kini Nizar sudah duduk di sofa. Suci mengambilkan kotak P3K. Riki langsung menyabetnya.


"Biar aku yang mengobatinya. Kamu diam saja."


Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengannya. Enak saja !


"Ya mas, aku mengerti. Aku juga akan menyodorkannya padamu."


Aku juga tidak akan membantu mas Nizar mengobati lukanya. Kamu yang meninjunya jadi kamu harus tanggung jawab mas.


"Awww pelan-pelan pak, sakit perih sekali." Nizar sedikit berteriak.


"Tahan saja, kau itu laki-laki masa begini saja sakit. Ini juga sudah pelan, tahu !" Riki menekan agak keras bagian luka Nizar saat mengobatinya.


"Awww." Nizar menatap kesal pada bos aneh itu.


Pelan apanya ? jelas-jelas dia melakukannya dengan kasar. Jangan-jangan dia memang sengaja ingin balas dendam.


Suci hanya menonton saja tanpa berkomentar. Pengobatan spesial dari bos pun selesai. Kotak P3K diamankan kembali. Suci ikut duduk di sebelah Riki.


"Maafkan saya karena sudah tidak sopan dan lancang pada Suci." Nizar menundukkan wajahnya.


"Saya juga minta maaf karena sudah melukaimu." Riki memberi respon.


"Kenapa merahasiakan pernikahan kalian ?"


"Kamu tidak akan mengerti. Sebentar lagi kami akan meresmikan hubungan pernikahan kami. Dan mempublikasikannya pada semua orang. Tapi sebelum itu, kamu harus tutup mulut. Saya tidak mau orang-orang akan bergosip apalagi menyudutkan Suci."


"Baik pak. Bapak juga harus menjaga sikap agar orang-orang tidak curiga."


"Berani sekali kau mengaturku. Cepat kembali ke tempatmu ! lain kali jika mau menemuiku, kau harus bicara pada sekertarisku dulu. Dan harus mengetuk pintu sebelum masuk."


"Baik pak. Saya tadi langsung masuk karena Lena sedang tidak ada di tempatnya.Maafkan saya pak."


"Memang mau apa kau menemuiku ?"


"Saya mau menyerahkan ini." Nizar menyodorkan dokumen yang sedari tadi dia pegang.


"Baiklah terima kasih. Oh ya, satu lagi peringatan paling penting untukmu. Jangan pernah menyentuh Suci !"


"Saya mengerti pak, permisi." Nizar beranjak dari duduknya.


"Suci, mas Nizar permisi ya." Nizar tersenyum. Dia sengaja memancing kecemburuan Riki.


"Ya mas." Suci membalas senyum.


"Ehhh apa-apaan kau ini ? mau kupecat ? cepat pergi !" Riki sudah ikut berdiri dan menantang Nizar.


Secepat kilat pria yang sudah mengganggu kesenangan Riki pun pergi. Hanya tinggal mereka berdua saja di sana. Suci sudah berdiri.


"Aku juga mau kembali ke bawah. Masih banyak kerjaan, nanti Pak Juned marah."


"Sebentar saja. Jika Juned marah, aku akan memarahinya kembali."


Memang kau mau apalagi sih mas ?


"Mas, coba berbaring dan tutup matamu. Jangan bergerak. Aku akan memberi kejutan untukmu." Suci tersenyum.


Memang apa yang mau kamu lakukan Suci ? aku penasaran !

__ADS_1


Riki menurutinya dengan senang hati. Dia sudah berbaring di atas sofa dengan menutup mata.


"Hitung sampai sepuluh nanti aku akan beraksi." Suci mengomando.


"Baiklah, sepuluh...sembilan...." Riki mulai menghitung.


Sekarang saatnya kabur.....!


Suci mengendap-endap keluar ruangan.


"Tiga...dua...satu !" Riki sudah selesai dengan hitungannya.


"Sudah selesai, memang kamu mau apa sih ? cepat lakukan !" Riki masih menutup matanya.


"Jangan malu-malu begitu."


Kenapa tidak terjadi apapun ? memang apa sebenarnya yang dia lakukan ?


Riki akhirnya membuka mata. Dia tak melihat Suci ada di sana.


Wahhh istriku sudah mulai jahil sekarang. Lihat saja, aku akan meminta pertanggung jawaban darimu.


Senyum mencurigakan muncul di bibirnya. Suci harus membayar kejahilannya dengan melayani Riki sepanjang malam.


***


Bu Merly duduk sendiri di kamarnya. Di tangannya sudah ada beberapa dokumen mengenai latar belakang menantunya. Dibaca dengan sangat teliti setiap katanya.


Dia sangat terkejut melihatnya. Setelah selesai membaca semuanya, Bu Merly segera menelpon seseorang.


"Apa kamu yakin sudah memberi saya informasi yang akurat ? kamu tidak memberi informasi yang salah kan ?!"


"Anda tahu sendiri bagaimana pekerjaan saya. Tidak usah meragukannya. Semua informasi itu adalah fakta mengenai perempuan bernama Suci."


Bu Merly langsung mengakhiri pembicaraan itu. Dia benar-benar syok mengetahui tentang semua masa lalu menantunya.


"Ini sungguh di luar dugaan. Kenapa putraku bisa mengenal dan jatuh cinta padanya ?" Dia memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.


Semua informasi terkait Suci sudah diketahui oleh mama Merly, kecuali tentang pertemuan pertama anaknya dengan Suci yang membuat menantunya itu kehilangan kehormatan.


***


Makan malam kali ini masih sama saja. Bu Merly terus memperhatikan anak menantunya. Sementara yang diperhatikan itu sama sekali tidak menyadari.


Setelah selesai makan, Riki langsung masuk ke ruang kerjanya ditemani Pak Hans. Raisya juga masuk ke kamarnya. Ini kesempatan bagi Bu Merly untuk berbicara pada Suci di ruang keluarga.


"Saya mau bicara dengan kamu. Tapi tidak sekarang, besok saja. Kamu jangan menolak." Sorot mata Bu Merly benar-benar tajam.


"Besok jangan dulu bekerja agar kita bisa leluasa berbicara."


"Baik ma." Akhirnya Suci menyanggupi kemauan mertuanya.


Suci kembali ke kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang.


Sebenarnya hal penting apa yang mau mama Merly bicarakan ? kenapa tidak bicara tadi saja ? apa dia mau membahas hubunganku dengan mas Riki ?


Tak berselang lama Riki menghampirinya. Ikut duduk dan memeluknya erat.


"Kamu harus membayar hutang padaku sekarang !" Riki berbicara pelan di telinga Suci.


Suci mengernyitkan dahinya.


"Hutang apa ?"


"Tadi di kantor kamu sudah berani menjahili suamimu. Jadi harus tanggung jawab."


"Ahhh itu ya...maaf." Suci nyengir.


"Ku maafkan asal...." perkataannya dilanjutkan dengan tindakan menghujani wajah Suci dengan sentuhan.


Pandai sekali memanfaatkan situasi. Kau ini mas !!!


Lelah bergulat mereka terbaring di sana. Suci teringat kembali obrolannya dengan ibu mertua.


"Mas, besok aku ijin tidak masuk kerja lagi."


"Kamu sakit ?" Riki yang tadinya terlentang kini sudah duduk dan mengecek suhu tubuh istrinya.


"Tidak mas. Mama ingin mengobrol denganku. Mungkin dia ingin ditemani besok."


"Bagus itu. Kalian bisa lebih akrab lagi." Riki tersenyum dan memeluk kembali tubuh Suci.


***


Besoknya Riki dan Raisya sudah ada di tempat kerjanya masing-masing. Pak Hans berangkat ke luar kota untuk bertemu rekan bisnis. Bu Merly sudah duduk berhadapan dengan menantunya di ruang keluarga.


Hening sejenak dan canggung. Hal itu membuat Suci semakin deg-degan. Apalagi saat ini tatapan tajam milik mertuanya sudah mengarah padanya.


"Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan, tolong jawab dengan benar karena semua kata yang kamu ucapkan akan menentukan hubunganmu dengan putra saya."

__ADS_1


Memang dia mau tanya apa ? membuatku sangat takut.


"Kamu pernah menikah dengan Doni ?"


Deg ! Suci tidak heran jika mama mertua mengetahuinya. Dia hanya tidak menyangka mertuanya akan bertanya tentang hal itu.


"Saya memang pernah menikah dengan mas Doni dan hanya sebentar. Kami lalu berpisah karena beberapa hal. Mungkin kami tidak berjodoh."


Dia sama sekali tidak menyinggung perihal perselingkuhan Doni dengan Teni.


Bu Merly memang sudah mengetahui alasannya. Dia hanya ingin mengetahui kejujuran Suci.


"Baiklah. Apa ayahmu sudah meninggal ?"


"Benar."


"Saat kamu baru lulus SMA ayahmu bunuh diri dan meninggalkan banyak hutang. Benar ?"


Dia bertanya tapi sebenarnya dia sudah tahu. Tapi bagaimana bisa ? apa dia selama ini sudah mencari tahu ?


"Benar." Suci menunduk. Perasaannya sudah tidak enak. Dia meremas jemarinya untuk menghilangkan ketegangan.


"Apa benar dulu kamu pernah menjadi...wanita penghibur ?" tatapannya lebih tajam.


Tangan Suci gemetaran seiring dadanya yang bergemuruh. Ia tidak mau lagi mendengar apalagi membahas masa lalunya. Bukan karena ingin terlihat baik di mata ibu mertua, tapi itu membuat hatinya kembali tergores. Suci sangat membenci kehidupan kelamnya dulu. Tidak mau mengingatnya kembali.


"Kenapa diam ? jawab pertanyaan saya. Pikirkan baik-baik sebelum mengeluarkan perkataan. Itu akan menentukan masa depanmu." Bu Merly berbicara masih dengan nada yang sama namun tatapan tajamnya mampu membuat nyali siapapun ciut.


Sambil menyilangkan tangan di dada, mama Merly terus melihat ke arah Suci yang saat itu sedang menjadi terdakwa.


Suci mengambil nafas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk bersitatap dengan ibu mertua.


"Anda benar. Tapi saya sangat menyesalinya." Meski dengan suara bergetar, Suci mantap saat menjawab.


Hebat, dia mengakuinya !


Bu Merly sama sekali tidak berubah air mukanya saat mendengar jawaban Suci. Dia masih terlihat santai meski sorot matanya menegangkan.


"Menurutmu siapa yang dapat disalahkan dalam hal ini ? ayahmu ?"


"Tidak sama sekali. Ini semua adalah kesalahan saya. Harusnya dulu saya mencari cara lain untuk membayar semua hutang-hutang almarhum ayah." Matanya sudah berkaca-kaca.


"Apa Riki sudah tahu ?"


"Sudah. Saya tidak menyembunyikan apapun darinya."


"Apa kamu pikir kamu itu pantas untuk menjadi pendamping anak saya ?"


Deg ! hati Suci semakin sakit mendengarnya.


"Mungkin di mata kebanyakan orang saya ini wanita kotor, tidak berharga. Saya pun sadar bahwa saya tidak pantas jika disandingkan dengan mas Riki yang sangat baik dan juga terpandang. Saya hanya punya cinta dan ketulusan untuknya." Suci terus berbicara meski dadanya semakin sesak.


"Tolong tinggalkan saja Riki. Saya akan memberimu uang yang banyak, jika masih kurang maka saya akan memberikan beberapa aset saya." Secarik cek disodorkan pada Suci.


Astagfirullah....aku tidak menyangka mama akan berbuat begini. Sangat menyakitkan !


Suci menatap nanar cek itu. Air matanya sudah tak terbendung dan mengalir begitu saja di pipinya.


"Kenapa diam ? ambil dan tulis nominal yang kamu inginkan !" Bu Merly juga memberikan pulpennya.


Suci menatap lekat ibu mertua. Diambilnya kertas cek itu dan segera mencabiknya, membuatnya menjadi potongan kecil dan membuangnya begitu saja di atas lantai.


"Maaf ma...saya tidak bermaksud lancang pada orangtua. Saya dan mas Riki saling mencintai. Saya tidak akan pernah meninggalkannya sampai kapanpun. Kami sudah menikah. Saya tidak mau mempermainkan hubungan kami hanya untuk harta dan uang. Saya hanya ingin bahagia hidup dengan suami saya. Saya harap mama bisa mengerti dan tidak pernah lagi menyuruh saya meninggalkan imam saya. Permisi ! assalamualaikum !" Suci berderai air mata meluapkan kesedihan dan kekecewaannya pada ibu mertua. Dia pun pergi.


Tidak ku sangka dia akan seberani ini ! Suci memang bukan wanita sembarangan.


***


Suci menangis sejadi-jadinya. Bantal yang dipakainya mengadu kini sudah basah oleh air matanya. Hatinya merasa teriris-iris oleh perkataan tajam Bu Merly. Dia tidak menyangka bahwa ibu mertua akan memperlakukannya sekejam itu.


Sampai kapanpun aku akan mempertahankan pernikahan kami, apapun yang terjadi aku akan menghadapinya. Aku sangat mencintai mas Riki. Aku membutuhkanmu saat ini mas.


Suci butuh bersandar di bahu suaminya, hanya meminjamnya agar semua lukanya bisa dia lupakan.


Tanpa terduga, sosok yang dia harapkan pun muncul menghampirinya.


"Sayang kamu kenapa ?" Riki mengusap kepala Suci yang saat itu masih telungkup menangis.


Mendengar suara Riki, Suci langsung bangun dan memeluk erat suaminya. Tangisnya semakin pecah. Membuat Riki semakin panik.


"Ada apa ? siapa yang sudah membuatmu menangis ?" Riki memeluk dan mengusap kepala istrinya. Nada bicaranya antara marah dan juga khawatir.


Suci tidak menjawab, dia terus menangis meluapkan kepedihannya. Pelukannya semakin erat seolah tak mau melepaskan Riki.


"Aku sangat mencintaimu mas. Aku tidak akan pernah melepaskanmu." Bicara meski tangisnya belum reda.


"Kamu jangan takut, aku tidak akan membiarkan siapapun atau apapun akan mengusik kebahagiaan kita. Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Riki pun merasakan kesedihan istrinya. Tak terasa air matanya ikut jatuh.


Riki membaringkan tubuh Suci dan memeluknya erat. Mengecup lembut keningnya agar wanita yang ia cintai bisa lebih tenang.

__ADS_1


Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba histeris seperti ini. Tapi aku akan memastikan bahwa tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Aku akan selalu ada di sampingmu.


Riki saat di kantor tiba-tiba saja ingat pada Suci. Hatinya sangat gusar dan tak bisa fokus pada pekerjaan. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Ternyata firasatnya memang benar. Suci menangis di tempat tidur. Hanya dia yang bisa membuat hati Suci lebih tenang.


__ADS_2