Seperti Sampah

Seperti Sampah
Semakin gila.


__ADS_3

Siang hari Suci mendapati suaminya sudah pulang dan duduk di sofa kamar. Meski agak was-was namun dia menghampiri Doni.


"Mas...gak kerja ?"


"Kenapa bertanya ? aku ada di hadapanmu berarti aku gak kerja. Aku sangat lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu dengan calon istriku. Jadi aku sengaja ijin libur hari ini."


Mas Doni sepertinya memang sengaja berkata begitu agar aku semakin terluka.


"Apa mas lapar ? biar ku buatkan sesuatu."


"Gak usah. Aku masih kenyang. Kemarilah !" Doni menepuk sofa di sebelahnya agar diduduki Suci.


Istrinya itu hanya manut tak membantah meski sebenarnya dia bingung juga dengan sikap suaminya.


"Istriku ini sangat cantik sebenarnya." Tangan Doni merayap menyusuri dan membelai wajah dan berpindah ke leher Suci.


Mendapat perlakuan seperti itu malah membuat Suci semakin heran. Dia meremas jemarinya dan tertunduk tak mau menatap suaminya.


Apa yang mau kau lakukan sebenarnya mas ? kenapa sikapmu aneh ?


Doni mendekatkan wajahnya ke wajah Suci membuat wanita itu terpejam. Jantung Suci memompa lebih kencang saat bibir Doni semakin dekat dengan bibirnya.


"Kau cantik tapi sayangnya kau itu murahan." Berbisik di telinga Suci dan mendorong tubuhnya.


Refleks mata yang terpejam itu kembali terbuka. Dadanya semakin bergemuruh namun yang muncul adalah perasaan sakit dan terhina.


"Mas kenapa masih mengungkit masa laluku ? lagipula itu terjadi jauh sebelum aku bertemu denganmu." Mulai berkaca-kaca.


"Tetap saja semua itu sudah pernah terjadi kan ?! apa kau tahu ? setiap aku melihatmu aku selalu teringat dan membayangkan kau sedang berbuat mesum dengan para pria hidung belang itu. Mereka pasti melakukan seperti yang tadi ku lakukan padamu. Itu sangat menjijikan !" berdiri dan berbicara setengah berteriak.

__ADS_1


"Tapi itu dulu mas. Dan sekarang aku ingin menjadi wanita yang lebih baik. Aku ingin menjadi istri yang baik untukmu. Semua masa laluku itu tidak terkait langsung padamu. Jadi aku sebenarnya tidak pernah menyakitimu. Malah sebaliknya mas, kamu yang sudah berkhianat." Ikut berdiri dan menatap Doni.


"Heyyy jangan pernah samakan aku denganmu ! aku dan Teni melakukannya didasari perasaan cinta dan kami juga akan segera menikah." Nada bicaranya pelan namun tetap menikam.


"Itu tetap saja dosa mas. Kalian belum halal."


"Orang sepertimu tidak pantas berbicara dosa. Cekkk !!! aku semakin muak melihat wajahmu !"


"Jadi mas benar-benar mau menikahi dia ? bagaimana denganku ? apa mas lupa bahwa mas pernah mencintaiku ?" suaranya bergetar menahan tangis yang sudah ingin dikeluarkan.


"Jangan takut. Aku tidak mau berpoligami. Kau secepatnya akan ku ceraikan. Sebaiknya sekarang bereskan semua barang-barang milikmu. Dan juga milik ibumu yang masih ada di rumah ini."


"Tapi mas...apakah keputusanmu ini sudah bulat ?" memegang tangan Doni meski mendapat penolakan.


"Aku sangat sangat yakin sekali. Sekarang tolong tinggalkan aku sendiri. Aku semakin penat setelah melihatmu. Lama-lama aku bisa gila jika terus bersamamu."


"Mas...apa masih ada sedikit ruang di hatimu untukku ?" membelai lembut wajah Doni meski ditepis.


"Rasa cinta itu sudah hilang. Sekarang hanya ada rasa jijik jika melihatmu. Semakin aku memandang wajahmu maka semakin besar kebencianku."


Astaghfirullah...sakit sekali rasanya. Perkataan mas Doni bagaikan ribuan anak panah yang menancap langsung ke dadaku. Aku sudah tak ada lagi di hatinya. Aku benar-benar melihat kebencian itu di matanya.


Akhirnya Suci pergi dan masuk kamar lain. Di sana air matanya tumpah. Sudah tak dapat dibendung lagi. Meratapi dan semakin menyesali semua perbuatannya dulu. Jika dulu semua itu tak dia lakukan maka hari ini kata-kata Doni yang menghujam ulu hatinya tak akan pernah terlontar.


Apa yang harus ku lakukan untuk menyelamatkan rumah tanggaku ?


***


Sudah larut malam saat Suci keluar dari kamar. Dia bergerak ke dapur dan membuat dua cangkir teh lalu membawanya ke kamar.

__ADS_1


Akan ku coba lagi meluluhkan hati mas Doni. Aku harus lebih tenang agar bisa berbicara dengan baik padanya. Mungkin jika begitu mas Doni mau sedikit mengerti dan memberi kesempatan pada hubungan kami.


Sebelum masuk kamar Suci menghela nafas panjang untuk mengontrol hatinya.


Bismillah...aku pasti bisa !


Nampan berisi minuman didekap oleh tangan kirinya. Sementara tangan kanannya membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci. Setelah pintu terbuka sedikit kedua tangan itu pun kembali memegang nampan.


Pranggg !!! nampan terjatuh begitu saja ke lantai disusul suara gelas yang pecah bahkan teh yang masih panas itu membasahi kaki Suci. Tak sedikit pun merasa kepanasan karena terhalang oleh hatinya yang jauh lebih sakit saat melihat pemandangan tak terduga di kamar itu.


Astaghfirullahaladzim....


Suci menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tak percaya bahwa suaminya dan wanita lain sedang berciuman. Kedua orang yang kepergok berbuat mesum malah terkesan santai saja.


"Kenapa kaget ? bukannya kamu sudah tak asing dengan adegan seperti ini ? berlaga so suci kamu." Doni menyeringai.


Suci tak mampu berkata apapun. Dia tak habis pikir ternyata mereka bisa segila itu. Dan parahnya lagi kedua orang itu malah melanjutkan ciuman mereka tanpa malu. Seolah tak ada orang lain lagi di kamar itu. Bahkan Doni kini sudah berada di atas selingkuhannya. Bersiap menyerang gadis itu.


Suci geleng-geleng kepala dan semakin syok. Segera dia meninggalkan kamar itu dan kembali lagi ke kamar bekas ibunya.


Suci terduduk lesu menyandar di balik pintu. Tubuhnya serasa tak bertulang. Air mata semakin membanjiri wajahnya. Mata yang sudah lelah menangis itu kini semakin bengkak.


Mas Doni sangat kejam...dia sengaja mencabik-cabik hatiku. Ini sudah sangat keterlaluan ! aku harus segera pergi dari sini. Sudah tak ada kesempatan lagi untuk hubungan kami. Aku hanya wanita biasa. Aku tidak akan sanggup lagi menanggung kepedihan ini.


Suci membereskan semua pakaian ibunya terlebih dahulu. Nanti besok setelah Teni dan Doni pergi barulah dia akan membereskan pakaian miliknya.


Ya...tenang saja mas...aku besok akan pergi dari rumah ini. Kamu tidak akan merasa terganggu lagi dengan kehadiranku. Aku pun tidak harus lagi tersakiti olehmu. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua.


Begitulah akhirnya perasaan Doni. Yang awalnya kagum dan cinta pada Suci kini semuanya hilang. Berganti dengan rasa jijik dan benci yang teramat besar. Ketika seseorang membenci maka tidak akan pernah bisa melihat kebaikan pada orang lain.

__ADS_1


Ditambah hadirnya orang ketiga semakin menambah hancur rumah tangga mereka.


__ADS_2