
Sebelum jam istirahat.
"Saya mau makan siang lagi di sini. Tolong bawakan sesuatu."
"Bapak mau saya ambilkan apa ?" Suci menghadap Riki sambil menunduk.
"Mmm kira-kira enaknya makan apa ya ? saya mau sesuatu yang berbeda."
Mana saya tahu pak...
"Kamu biasanya makan siang apa ?"
"Saya ? biasanya kalau bukan bakso atau mie ayam paling...batagor, tidak ada yang spesial."
"Kalo gitu saya pengen coba makan batagor aja. Bikin dua porsi karena saya merasa sangat lapar. Minumnya jus jeruk saja."
"Bapak suka yang pedas atau yang biasa ?"
"Samain aja kayak punya kamu."
"Saya biasanya super pedas pak."
"Samain aja pokonya."
"Bapak yakin ?"
Riki mengangguk mantap.
Sesuai titah Bos Suci membawa dua porsi batagor super pedas plus minumannya.
"Saya permisi pak."
"Eittt tunggu dulu ! ini batagornya buat kamu satu porsi."
"Buat bapak aja. Tadi katanya bapak sangat lapar." Memaksakan tersenyum.
"Iya sih tapi saya pasti gak akan sanggup menghabiskannya."
Lalu kenapa tadi so so an pengen dua porsi ?
"Buat kamu aja satu biar gak mubazir."
Suci menurut saja dan segera angkat kaki.
"Tunggu ! kamu mau kemana ?"
Mendengar itu Suci berbalik lagi.
"Saya mau ke bawah kan ini sudah masuk jam istirahat."
"Makan di sini saja ! biar saya ada temen."
Suci mengernyitkan keningnya.
"Tapi pak saya biasa makan sama teman-teman di..." belum sempat selesai bicara langsung disalib Riki.
"Sekali ini saja. Hari ini saya kurang berselera jadi kalau ada yang nemenin mungkin nafsu makan saya jadi bagus."
Astaghfirullah....apa lagi ini ?
"Kamu cuma menemani saja tidak lebih dan..... dalam jarak aman tentunya."
__ADS_1
Lagi...Suci menurut lagi kali ini. Dia duduk di kursi berbeda.
Untuk keamanan dan kenyamanan lebih baik aku membelakanginya saja. Aku tidak mau dia menatapku seperti sebelum-sebelumnya.
Ammm ammm dengan cepat dihabiskannya makanan itu agar bisa segera kabur dari si Bos.
Riki bahagia meski hanya bisa menatap punggung Suci. Senyumnya seakan menyembur ke seisi ruangan. Makanannya bahkan masih belum disentuh.
Kenapa dia semakin terlihat menggemaskan begitu ? bodohnya Doni bisa melepaskan wanita seperti Suci.
"Makanan saya sudah habis. Saya permisi dulu pak." Mau berdiri namun dicegah.
"Tunggu dulu ! makanan saya masih banyak. Setidaknya setelah saya selesai makan baru kamu boleh pergi."
"Lima menit. Lebih dari itu saya pamit karena saya harus ke Mushola." Mulai penat dengan sikap konyol Riki.
Ini kan jam istirahat harusnya bebas mau kemana pun. Kenapa masih diatur juga ?
Mendengar ultimatum itu lantas Riki segera memasukan batagor ke mulutnya.
Baru sesuap Riki sudah cegukan karena memang tidak biasa makan pedas. Refleks Suci menyodorkan air mineral miliknya. Langsung disamber dan ditenggaknya air itu. Padahal ada jus di depan Riki namun tak kepikiran olehnya.
"Bapak gak apa-apa ?" Suci khawatir juga.
Riki diam sejenak mengambil nafas.
"Makasih airnya." Sudah kembali normal.
"Lain kali bapak jangan memaksakan diri untuk makan yang pedas. Saya ambil makanan yang biasa bapak konsumsi saja ya. Tunggu pak." Bergegas pergi.
Aku malah terlihat konyol olehnya. Tapi aku senang dia perhatian begitu meskipun hanya sedikit.
"Ini pak makan saja ini. Pelan saja." Suci memberikan Tacos.
"Ahh tidak seperti itu pak. Saya takut bapak tadi kenapa-napa, saya pasti akan merasa sangat bersalah jika itu terjadi."
Itu sebenarnya salah bapak juga kenapa memaksakan makan makanan super pedas begitu. Tapi salahku juga kenapa menuruti perintahnya tadi.
"Kamu boleh pergi sekarang."
Suci akhirnya bisa juga meninggalkan tempat itu. Saat di lantai bawah dia bertemu dengan seseorang.
"Wahhh gak nyangka kita bisa ketemu di sini ? apa yang sedang kamu lakukan ?" seorang wanita cantik menyapa Suci.
Kenapa aku harus bertemu dengannya ?
Suci hanya bergumam dalam hati. Tidak menjawab pertanyaan wanita itu.
"Kenapa diem aja ? apa gak jelas tadi yang aku tanyakan ?" berkacak pinggang.
"Saya bekerja di sini." Akhirnya menjawab juga.
"Ohhhh biar ku tebak. Dengan seragam seperti itu kamu tidak mungkin bekerja sebagai sekertaris. Kamu jadi OB kan ?! pas lah dengan karaktermu yang memang rendahan." Tersenyum sinis sambil menyilangkan tangan di dada.
"Ya mbak memang benar. Memang apa salahnya ? yang penting halal."
"Selalu saja bicara so suci. Memang aku tidak tahu apa pekerjaan kamu dulu itu bagaimana."
Suci tak mau meladeni Teni. Dia bergegas pergi menuju mushola.
"Kurang ajar sekali dia ! aku belum selesai bicara tapi dia sudah pergi saja. Ahh tapi aku ke sini bukan untuk wanita itu. Ada urusan yang harus ku selesaikan dengan Mas Riki." Teni melanjutkan misinya.
__ADS_1
***
Hari Senin.
Pagi-pagi sekali Riki sudah nongkrong di meja kerjanya. Sudah tidak sabar ingin bertemu Suci karena selama dua hari kantor libur.
Kenapa harus ada libur sih ? apa aku buat peraturan baru yang mewajibkan setiap hari kerja supaya aku bisa melihat Suci terus ? tapi yang ada nanti malah Perusahaan ditutup lagi. Apa aku coba untuk ke rumahnya ? tidak ! dia tidak akan suka aku melakukannya.
Celotehan Riki dalam hatinya berhenti saat OB tercintanya sudah berada di ruangan yang sama dengannya.
Dia rajin sekali ! harusnya kan dia tidak usah sepagi ini datang ke kantor. Dia kan Bos.
"Permisi pak." Merasa harus mengatakannya karena masih canggung.
Apa akan seperti ini terus setiap hari ? mengamati pekerjaanku.
Setelah beres seperti biasa Suci membawa kopi susu. Namun saat masuk dia kembali dikejutkan dengan kehadiran Teni yang tengah duduk di sana.
"Halo Suci ! kita ketemu lagi." Teni berbasa-basi namun tatapannya penuh hinaan.
Dia lagi. Sepagi ini Teni untuk apa datang ke kantor ini ?
Suci hanya tersenyum membalas wanita itu. Tiba-tiba Teni berdiri tepat saat Suci berjalan di hadapannya. Membuat minuman yang dibawanya tumpah tepat ke dada Teni.
"Awww panas ! kamu gimana sih ?" memegang bagian yang tersiram.
"Maaf mbak saya benar-benar tidak sengaja." Suci mengambil tissue dan mengelap baju Teni yang basah.
"Bohong ! kamu pasti sengaja kan ?! kamu kan gak suka sama saya."
"Maaf mbak saya memang tidak sengaja."
"Jangan sentuh ! lihat mas bagaimana kelakuan karyawan kamu. Kenapa orang seperti ini bisa bekerja untuk perusahaan mu ? harusnya kamu pecat saja dia."
"Kenapa saya harus pecat karyawan yang rajin dan pekerja keras seperti Suci ?" Riki menatap tajam Teni sambil masih duduk santai di kursi kebesarannya.
"Mas tidak tahu bagaimana sebenarnya wanita ni. Dia tidak sebaik yang terlihat." Teni masih mengompori.
"Memang sebaik apa kamu mengenal Suci ? apa hubunganmu dengannya ?"
"Mmmm dia...aku sebenarnya..." gelagapan menjawab.
"Aku tahu persis bagaimana hubungan rumit kalian." Riki berdiri dan menghampiri Teni.
Kenapa mas Riki jadi terlihat menakutkan. Tatapannya seperti ingin membunuhku.
Sementara Suci hanya diam saja sambil membereskan bekas tumpahan Kopi.
"Mmm begini mas..." mencoba memilah kata agar enak didengar.
"Kerja sama yang kau ajukan tidak akan pernah aku terima. Selain memang tidak menarik....aku juga tidak mau berurusan dengan orang licik sepertimu."
"Tapi mas..."
"Silahkan keluar ! aku sudah membuat keputusan. Meskipun kau tidak tahu sopan santun tapi kau tidak tuli kan ?!" Riki kembali duduk di kursinya.
Teni merasa sangat terhina. Tanpa berkata apapun dia meninggalkan ruangan itu.
Semua gara-gara Suci...awas kau !
Suci hanya tertunduk saat Teni menatapnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Apa mas Riki tahu bahwa aku sudah merebut mas Doni dari Suci ? pasti Raisya yang sudah memberi tahunya.