Seperti Sampah

Seperti Sampah
Persahabatan yang kembali utuh.


__ADS_3

Hari ini Suci merasa kesepian di rumah. Kedua mertuanya sudah kembali ke luar negeri. Raisya hanya sibuk di Butik. Ibu dan adiknya sekarang telah tinggal di Majalengka. Tidak ada yang menemaninya. Riki ? jangan ditanya. Suaminya dengan senang hati menemani setiap detik jika saja tidak harus mengurus perusahaannya. Kantor, ya ! kenapa Suci tidak ke kantor saja untuk menemui Riki ? itu adalah ide yang bagus.


Sebelum berangkat, Suci sengaja memasak makanan untuk ia santap bersama Riki. Chicken katsu dan steak, juga salad buah sudah selesai dibuat.


Masak sudah, sekarang tinggal mandi dulu.


Dengan semangat Suci bergegas membersihkan badannya. Setelah itu dia berdandan spesial untuk suaminya. Meskipun masih dengan gaya yang sederhana dan tertutup, namun Suci terlihat sangat manis dan anggun.



Gamis berwarna krem senada dengan kerudungnya, begitu cocok dengan kulit putih bersihnya. Membuat wajah Suci semakin berkilauan.


Setelah semuanya siap, Suci langsung meluncur ke tempat tujuan diantar oleh sopir.


Ada sesuatu yang berbeda saat dia memasuki gedung yang tinggi menjulang milik Perusahaan XZ. Rasa gugup dan deg-degan entah kenapa tiba-tiba muncul. Mungkin karena saat ini dia sudah benar-benar sah menyandang status nyonya bos. Dan itu berarti akan ada banyak pasang mata yang akan berpusat padanya.


Fuhhhh, tenang saja ! jangan grogi !


Suci berpikir mungkin dari sekian banyak karyawan perempuan, akan ada yang menatapnya iri karena sudah merebut sang idola. Bahkan halusinasinya menggambarkan bahwa dia akan dikeroyok oleh para fans suaminya.


Astaghfirullah....ini kenapa otakku jadi kerdil begini ? itu tidak mungkin terjadi !


Suci menggelengkan kepala dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia kembali melangkahkan kakinya. Sepanjang perjalanan menuju lift, semua pegawai tersenyum hormat padanya. Suci pun membalas mengangguk dan tersenyum. Dia belum terbiasa diperlakukan seperti itu. Biasanya keberadaannya tidak terlalu disadari oleh orang-orang, tapi setelah dunia tahu bahwa dia adalah nyonya Riki, maka Suci harus terbiasa juga.


Saat masuk lift, tidak ada siapapun di sana.


Ting ! saat pintu lift terbuka di lantai 3, dari luar seorang pria bersiap masuk. Namun setelah dia mengetahui ada Suci, pria itu mengurungkan niatnya.


Dia kan istrinya si bos, kalau aku ketahuan satu lift berdua dengannya, sudah pasti Pak Riki akan marah. Lebih baik cari aman saja !


"Selamat pagi Bu !" pria itu mengangguk hormat sambil tersenyum.


Suci hanya balas mengangguk dan tersenyum. Pintu lift kembali tertutup. Suci mengernyitkan dahinya.


Pria itu kenapa tidak masuk ke lift ? tidak mungkin dia cuma iseng memencet tombol kan ?!


Suci sudah sampai di lantai atas. Sekertaris Riki segera berdiri saat mengetahui kedatangannya.


"Selamat pagi Bu !" Lena menyapa sama seperti pria tadi yang tidak jadi naik lift.


"Selamat pagi ! bos ada ?" Suci tersenyum secerah mentari pagi.


"Ada Bu. Sebentar." Lena mengangguk dan segera mengantar Suci ke depan pintu ruangan Riki.


Sekertaris itu hendak mengetuk pintu namun dicegah oleh Suci. Akhirnya Lena kembali ke tempatnya.


Tok tok !


"Boleh saya masuk bos ?" suara Suci mengalihkan pandangan Riki dari dokumen yang sedang ia amati. Riki hafal benar suara siapa yang baru ia dengar.


"Tunggu sebentar, jangan dulu masuk !" Riki menutup dokumen itu lalu merapikan dulu tampilannya.


Wajahnya begitu sumringah mengetahui Suci menemuinya di tempat kerja. Riki sudah seperti anak gadis yang sedang diapeli oleh kekasihnya. Pria ini memang belum pernah sekalipun menjalin hubungan dengan wanita. Hanya dengan Suci saja, wanita yang sudah sah menjadi istrinya, Riki mempunyai perasaan khusus seperti ini.


Setiap hari rasa cintanya pada Suci semakin berlipat-lipat.


Ceklek ! pintu terbuka !


"Assalamualaikum cantik !" Riki langsung menyerobot pipi merah istrinya.


"Waalaikumussalam." Suci tersipu. Dia memegang pipinya yang tadi disentuh bibir nakal milik Riki. Ada senyum malu-malu yang muncul.


Lena yang tak sengaja melihat adegan itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun Suci tahu betul bahwa sekretaris itu memang sudah memergokinya.


"Ayo kita masuk sayang." Riki merangkul pundak Suci dan tak peduli sedikitpun jika sepasang mata kembali memperhatikan gerak-geriknya.

__ADS_1


"Ahhh mereka mesra sekali ! aku jadi kangen pacarku !" Lena menggerutu sendiri. Dia merasa bosnya itu sengaja membuatnya ngiler. Padahal Riki memang tidak memperdulikan keberadaan sekertarisnya itu.


Di dalam ruang kerja Riki.


Kedua insan tengah asik duduk berdua di atas sofa. Sang pria terus mengecup tangan mungil milik istrinya. Tatapannya hanya fokus pada wajah merah merona milik Suci. Sementara itu, jantung si wanita sudah mengamuk.


"Mas, jangan melihatku terus ! apa tidak bosan ?" Suci mengedarkan pandangannya ke tembok.


"Kenapa ? kita kan sudah menikah, jadi aku tidak akan berdosa jika terus memandangimu. Lagipula aku tidak akan pernah bosan melihat wajah manismu ini." Riki memegang wajah Suci agar bersitatap dengannya.


"Mas, aku bawakan makanan." Suci mencoba mengalihkan perhatian.


"Ahhh ya. Kamu bawa apa ini ?" Riki meraih tupperware yang ada di atas meja lalu membukanya.


Untung saja.....!


Suci bisa bernafas lega karena lolos dari serobotan suaminya.


"Wahhh pasti enak. Aku jadi lapar." Harumnya makanan itu membuat perut keroncongan.


Mereka menyantap makanan itu setelah sebelumnya mencuci tangan dengan hand sanitizer.


Setelah puas suap-suapan, mereka berdua cuap-cuap santai. Riki mengusap kepala Suci yang bersandar di pundaknya. Ada senyum mengembang di bibir Riki.


"Mas, maaf aku sudah mengganggumu."


"Aku senang kamu ada di sini. Rasanya aku kembali bersemangat. Jadi jangan minta maaf."


"Boleh tidak, aku menemui Barbie nanti saat jam istirahat ?" Suci duduk normal tanpa bersandar lagi di bahu suaminya.


"Tentu saja boleh."


Pintu diketuk dari luar, Lena meminta ijin untuk masuk ke ruangan Riki.


"Maaf, Pak. Di luar ada Pak Doni. Dia ingin menemui bapak." Lena berdiri di hadapan Bos.


"Suruh dia masuk !"


"Baik pak, permisi." Lena pergi dari sana.


"Apa yang dimaksud Lena, adalah mas...Doni ?" Suci agak berhati-hati saat bertanya.


"Ya ! mantanmu ! dia memang ingin menemuiku dari kemarin." Mood Riki mendadak anjlok.


Ishhh ! judes sekali, aku kan cuma bertanya !


Suci akhirnya memilih diam.


"Ehemmm. Selamat siang !" Doni sudah ada di depan mata Riki.


Suci ? kebetulan kamu juga ada di sini.


Doni menatap wanita yang dulu pernah ia nikahi itu dengan lekat.


"Duduk !" Riki menunjuk ke sofa di hadapannya dengan lirikan mata.


Kau bertambah galak saja Riki.


Doni akhirnya duduk dengan posisi tubuh agak condong ke depan. Kedua tangannya bertumpu pada paha. Pandangannya menatap kepada dua orang yang ada dihadapannya secara bergiliran.


"Mas, aku permisi. Aku tidak mau mengganggu kalian." Suci sudah berdiri.


"Tidak usah Suci. Aku juga sebenarnya ingin sekalian bicara denganmu. Kebetulan kamu ada di sini."


Suci menatap suaminya untuk meminta pencerahan. Meski masih terkesan cemberut, tapi Riki mengangguk, meminta Suci kembali duduk. Dan dengan bangganya dia merangkul tubuh Suci. Tangan yang satunya lagi memegangi jemari wanita cantik itu. Seolah sengaja memperlihatkan pada Doni bahwa dialah pemilik dan pemenang hati Suci.

__ADS_1


Posesif sekali kau, aku sudah tahu bahwa kalian sudah menikah. Aku tidak akan mengganggu kalian meksipun sebenarnya aku merasa terusik.


Doni mencoba tenang menghadapi sikap kekanak-kanakan Riki, yang seperti bocah sedang mempertahankan mainannya yang ingin direbut.


"Sebenarnya aku sengaja menemui kalian karena ingin meminta maaf. Aku belum meminta maaf secara benar. Terutama padamu Suci. Maafkan semua dosa-dosaku. Aku sangat menyesal." Wajah Doni menunduk merasa bersalah.


"Mas kenapa membahasnya lagi ? aku sudah pernah bilang bahwa aku sudah memaafkan mas Doni dan juga Teni. Jangan lagi dipikirkan !"


Doni tak mampu berkata-kata. Dia semakin malu pada ketulusan hati wanita yang ada dihadapannya. Dia hanya bisa mengangguk dan menatap Suci dengan senyum kelunya.


Riki komat-kamit tak jelas merutuki kelakuan Doni yang menurutnya sangat menjengkelkan.


Enak saja dia terus-terusan memandangi istriku seperti itu !


"Doni, tatap aku saja Don. Jangan istriku !" Riki berbicara tapi pandangannya fokus ke wanita di sebelahnya. Sesekali dia menciumi punggung tangan Suci.


Maksudmu aku harus melihat kau berbuat mesum pada Suci ? kenapa kau semakin menyebalkan ?


Rasanya ingin sekali Doni menjitak kepala Riki.


Teng ! saatnya istirahat makan siang. Ini kesempatan Suci untuk keluar dari situasi yang tidak nyaman ini. Dia segera pamit untuk ke kantin menemui teman-temannya.


Sekarang hanya ada Doni dan Riki saja di ruangan itu.


"Riki, aku juga minta maaf karena kemarin-kemarin sikapku sudah sangat menyebalkan."


"Ya...kau memang sangat menyebalkan." Jawab Riki sarkas.


"Jujur saat itu bahkan sampai sekarang pun aku masih merasa terusik dengan kemesraanmu dengan Suci. Aku merasa cemburu dan iri. Akhirnya penyesalanku pun semakin menggunung. Tapi jangan takut, aku tidak akan pernah mengganggu kebahagiaan Suci. Aku tidak ingin menyakitinya lagi."


Riki mendengarkan baik-baik penuturan Doni yang terkesan memang tulus. Moodnya sudah membaik.


"Aku sangat lega karena Suci bisa mendapatkan suami yang sangat baik sepertimu. Aku percaya bahwa seorang Riki Hadi Atmaja akan selalu melindungi wanita yang dia cintai." Doni tersenyum bangga menatap pria di depannya.


Riki pun membalas tersenyum. Ia seperti telah kembali melihat Doni yang dulu. Doni yang baik hati.


Dan hari ini bukan hanya rasa tenang yang Riki rasakan saat mendengar kerelaan Doni untuk benar-benar melepas Suci untuknya. Dia juga bahagia karena sahabat lamanya telah kembali memeluknya.


Suci, wanita yang mampu membuat mereka berseteru. Namun wanita itu juga yang bisa membuat keduanya bersahabat kembali.


***


"Don, kenapa tidak menemuiku di rumah saja ?" nada bicara Riki sudah akrab sekarang.


"Aku tidak enak pada papa mamamu." Doni menjawab santai sambil menyesap kopinya.


"Mereka sudah kembali ke Jepang."


"Benarkah ? tahu begitu aku ke rumahmu saja tadi pagi. Biar bisa berduaan dengan Suci." Doni sengaja memanas-manasi.


"Brengsek kau Don, berani lakukan itu berarti aku akan menendangmu sampai ke Kalimantan." Meski tahu sahabatnya bercanda, tapi Riki tetap saja kesal. Dia bahkan benar-benar menendang meja yang ada di hadapannya.


"Wisss santai Rik ! kau tahu kan aku sedang bercanda. Lagipula jika aku ditendang sampai ke Kalimantan berarti bagus, aku tidak usah beli tiket pesawat untuk pulang." Doni terbahak-bahak.


"Sialan !" Riki ikut tertawa dan melemparkan sendok bekas makannya tepat di jidat Doni.


"Awww Rik, teganya !" Doni mengelus keningnya yang agak ngilu.


"Sorry" Riki hanya nyengir.


Tiba-tiba dia teringat saat Doni mengucap ijab kabul ketika menikahi Teni. Riki sengaja menimpuk temannya itu dengan sepatu bocah yang kebetulan tergeletak di dekatnya.


Upssss, untuk masalah itu aku tidak perlu meminta maaf kan ?! itu pelajaran untuknya karena selalu memanggil nama Suci.


Riki mesem-mesem menahan rasa ingin tertawanya. Sementara Doni masih mengelus-elus keningnya.

__ADS_1


__ADS_2