
Waktu bergulir begitu cepat. Menyisakan banyak kenangan, entah yang pahit maupun yang manis. Mungkin beberapa momen memang sudah kita rancang sebaik mungkin. Namun, ada sebagian hal juga yang telah kita susun rapi, tapi tidak dapat terwujud. Semua adalah garis kehidupan yang harus kita lalui.
Suci tidak pernah bercita-cita menjadi seorang wanita penghibur. Namun, takdir sempat menyeretnya pada dunia hitam itu. Segala penghinaan sudah dia rasakan. Kehilangan seseorang yang dia cintai juga sudah dia lakoni. Semua dia jalani dengan ikhlas meski awalnya sangat berat.
Perlahan dia bangkit dan berusaha menghapus segala rasa sakitnya. Saat itu Tuhan mengirimkan kembali pria yang dulu sempat dia benci. Dan pada pria itulah takdirnya berujung. Siapa sangka jika pria bernama Riki yang dulu pernah menorehkan luka mendalam di hatinya, tapi justru saat ini dialah yang benar-benar mampu menerima dan memberikan segala kebahagiaan pada Suci.
Rencana indah yang diimpikan Suci hancur lalu digantikan dengan takdir terindah untuknya. Tuhan memang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi umatNya. Di saat kita mampu bersyukur dan menjalani ujian dengan baik, maka nikmat dan kebahagiaan pun akan menghampiri.
Kini semua bisa terlihat jelas jika kehidupan Suci saat ini sangat sempurna dalam ukuran manusia. Selain memiliki suami yang baik, dia juga dikaruniai keturunan yang lucu dan tampan. Riki dan anaknya adalah anugrah terindah yang dia miliki saat ini.
Namun semenjak usia Yusuf 3 tahun, Suci harus rela kehilangan anak pertamanya itu setiap malam. Anak itu hanya betah tidur bersama Oma Merly. Kadang Suci merasa bahwa ibu dari anaknya itu adalah mertuanya.
"Mas, aku ingin sekali tidur dengan Yusuf. Tapi anak itu lebih memilih bersama neneknya. Aku merasa jadi ibu yang tidak dianggap."
"Biarkan saja. Kita kan jadi lebih bebas berduaan." Riki memeluk erat tubuh Suci.
"Ckkkk ! mas ini. Aku serius. Apa aku ini memang ibu yang buruk ya ? anakku sendiri lebih nyaman menghabiskan waktu dengan Omanya."
"Tidak seperti itu. Mungkin karena mama selalu memanjakannya. Sedangkan kamu kadang suka galak dan ngomel. Jika Yusuf ingin makan es, kamu larang. Yusuf ingin main hujan-hujanan kamu larang juga."
"Tapi kan aku ngomel karena demi kebaikannya. Yang penting kan aku tidak mengeluarkan kata-kata kasar apalagi sampai memukul."
"Aku tahu. Biarkan saja mereka bersama. Mungkin mama juga kangen ingin mengurus anak kecil. Tidak mungkin mama harus memproduksi dulu seorang anak, beliau kan sudah sepuh." Riki terbahak.
Suci mencubit keras pinggang suaminya. Riki hanya cengengesan menahan geli, baginya dicubit oleh Suci seperti sedang dikelitiki.
"Sayang jangan menggodaku dong." Riki masih nyengir.
Suci tambah kesal karena suaminya hanya menanggapi dengan candaan. Padahal dia benar-benar ingin berbagi keluh kesah saja. Setidaknya jangan mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengar jika tidak bisa memberi solusi atau sekedar menenangkan. Akhirnya dia memilih untuk tidur membelakangi suaminya.
Riki segera memeluk lagi tubuh Suci dan berbisik di telinganya.
"Maaf ! aku hanya ingin menghiburmu. Dengar sayang, jangan terlalu dipikirkan ! tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku yakin Yusuf juga sangat mencintaimu."
Suci masih membisu. Riki kembali berbicara, "Kamu ingat saat usia Yusuf baru dua tahun ? waktu kamu sedang demam tinggi, anak itu dengan tulus menyelimuti dan memijit kepalamu. Dia juga menyuapkan bubur untukmu. Itu adalah bukti bahwa Yusuf menyayangimu."
"Ya mas. Saat itu Yusuf terlihat sangat menggemaskan. Jarang sekali ada anak sekecil itu memberi perhatian pada orangtuanya." Suci tersenyum dan membalikan badan menghadap suaminya.
"Tapi jika kamu masih kesepian, aku bisa mencoba memberikan anak lagi padamu." Riki nyengir, dia sebenarnya hanya ingin mencoba peruntungannya.
Kenapa di otaknya selalu saja terhubung dengan hal-hal seperti itu ?
Suci memicingkan matanya, "Mas...ayo kita tidur, aku ngantuk sekali !"
"Yakin, kamu tidak mau menerima kebaikanku untuk memberimu anak lagi ?" Riki menangkup wajah istrinya.
"Isshh, mas ini !" mukanya sudah merah merona, antara malu dan juga kesal.
"Ok...tapi aku adalah suami yang baik. Maka dari itu aku akan berusaha untuk memberi anak lagi agar kamu tidak kesepian. Jangan menolak rezeki !" Riki tersenyum nakal.
Suci hanya nyengir tanpa ikhlas.
Rezeki apa ? niatnya hanya modus saja. Jelas-jelas itu hanya untuk kepentingannya sendiri. Dasar !!!
"Mas, aku ngantuk sekali. Kita tidur saja ya ?!"
"Baik, tapi sebelum tidur kita produksi anak dulu." Riki masih bersikukuh tak mau menyerah.
Produksi anak ? tentu saja itu adalah hal yang paling dia suka. Tapi kenapa otaknya selalu terisi hal begituan ?
"Mas, apa kamu tidak bosan padaku ? sudah empat tahun kita menikah. Tapi lagamu seperti pengantin baru saja."
"Tentu saja tidak. Malah setiap hari kamu terlihat semakin menggemaskan. Aku jadi tambah cinta padamu." Selesai bicara, dia langsung melancarkan aksinya tanpa menunggu persetujuan dari Suci.
Suamiku ini benar-benar !
Dan akhirnya Suci mengalah. Riki tidak memberinya kesempatan untuk protes, apalagi menghindar.
***
Esok pagi.
Suci membantu mengikatkan dasi di leher suaminya. Dan lagi-lagi meski sudah bertahun-tahun melakukannya, dia selalu grogi karena Riki masih saja suka menatapnya lekat sambil memeluk pinggangnya.
"Terima kasih banyak untuk tadi malam. Benar-benar indah !" Riki menaik-turunkan alisnya.
Wajah Suci sudah sangat matang mendengar ucapan yang terkesan fulgar di telinganya. Ingin sekali menutupi muka merahnya dengan kedua tangan. Tapi hal itu tidak dia lakukan karena takut bertambah malu.
"Sudah selesai, ayo kita turun untuk sarapan !" mencoba mengalihkan pikiran suaminya namun tidak berhasil.
__ADS_1
Riki semakin mendekatkan tubuh mereka hingga menempel. Mereka saling pandang dan sama-sama berdebaran. Beruntung sekali jika pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun, masih merasakan getaran seperti ini.
Salah satu kuncinya adalah harus saling menerima seutuhnya segala kekurangan pasangan. Syukuri dan jaga bagaimana pun dia. Karena sejelek apapun pasangan kita, dia adalah orang yang dipilih Tuhan untuk mendampingi kita.
Saat kedua insan ini terhanyut dalam buaian asmara, tiba-tiba pintu diketuk.
"Maaf tuan, nyonya. Nyonya besar menunggu di ruang makan." Wanita paruh baya itu masih berada di luar kamar.
"Ya...bi kami akan segera ke bawah." Suci agak gelagapan menjawab.
"Baik nyonya. Maaf sudah mengganggu, saya permisi !"
"Tidak apa-apa bi." Suci menjawab lagi meski mungkin pembantunya itu sudah pergi.
"Tidak apa-apa bagaimana ? jelas-jelas dia sudah mengganggu kita." Riki berkacak pinggang sedari tadi.
"Sudah mas, ayo ! aku juga mau menyuapi Yusuf." Suci melangkah lebih dulu sambil mengusap bibirnya yang terasa belepotan.
"Tunggu, itu tanda cintaku. Jangan pernah dihapus !" Riki menarik tangan Suci lalu mengecup lagi bibir pink itu.
Ribet sekali !
Suci geleng-geleng kepala karena tingkah konyol suaminya.
Di ruang makan.
Yusuf duduk di tengah-tengah orangtuanya. Suci dengan sigap mengambilkan makanan ke piring milik anaknya. Ibu muda itu sudah bersiap menyuapi, tapi Yusuf menolak.
"No, ma ! aku bisa makan sendiri." Anak itu mengambil alih sendok dan garpunya.
Sebenarnya Suci agak kecewa, dia ingin sekali berakrab ria dengan putranya. Namun dia juga merasa bangga karena Yusuf ingin belajar mandiri.
"Baiklah, beri mama morning kiss dulu !" Suci menunjuk pipinya.
"Ok, tapi sebelum aku, harus papa dulu yang memberi mama morning kiss."
Anak ini !
Suci hanya nyengir. Sementara Riki tentu saja sangat sumringah. Dia mengelus rambut milik anaknya.
Anak pintar !
Ayolah, morning kiss mu sudah dilakukan tadi di kamar !
Sudah menjadi kebiasaan Suci harus menanggung malu saat di ruang makan. Sudah tidak aneh juga jika ibu mertua dan adik iparnya menertawakan.
"Giliranku !" Riki menunjuk pipinya agar mendapatkan hal sama dari istrinya.
Meski sudah kehilangan muka, tapi Suci menurut. Setelah itu barulah suaminya bisa duduk kembali dengan tenang.
"Ma...!" Yusuf memanggil.
Suci tersenyum dan membungkukkan badannya. Anak itu memberikan ciuman manis pada ibunya. Suci pun membalas. Riki tak mau kalah, dia juga mencium jagoannya.
"Tante dan Oma juga mau morning kiss dari Yusuf." Ucap Raisya.
"Tadi kan sudah." Anak itu bicara sambil mengunyah makanan.
Yusuf benar-benar anak yang menggemaskan. Selain tampan, dia juga cerdas dan mandiri. Semua orang selalu dibuat tersenyum hanya dengan melihat wajah imutnya.
Selesai sarapan, Riki menggendong anaknya sambil berjalan menuju depan rumah. Suci mengikuti dari belakang.
Saat di depan pintu. Riki berbicara, "My son, apa kamu ingin punya dede bayi ?"
Yusuf menjawab lantang, "Tentu saja pa. Biar aku punya teman bermain. Kalau bisa aku ingin punya dede bayi sepuluh. Jadi kami bisa jadi satu tim sepak bola."
"Minta sama mama !" Riki tersenyum nakal.
Suci hanya nyengir tak rela.
"Ma, buatkan aku dede bayi yang banyak biar mainnya seru." Dengan polosnya anak itu berbicara hingga membuat ibunya semakin malu.
"Tuhhh dengar kan mama....jangan malas, harus rajin-rajin memproduksi. Kasihan Yusuf kesepian." Riki masih terus menggoda.
Dasar modus !
"Sayang, kamu masih kecil, memang kamu bisa menjaga seorang adik ?" Suci mengelus kepala anaknya.
"Bukan seorang, tapi banyak adik. Aku bisa menjaga mereka semua !" Yusuf bersemangat sekali saat bicara.
__ADS_1
"Anakku memang jenius ! hahaha !" Riki bicara penuh kebanggaan. Dia pun mencium pipi tembem putranya.
"Mas, bukankah sudah saatnya kamu pergi ke kantor ?" berusaha mengusir Riki secepatnya dari sana agar dia tidak lagi digoda dan dipermalukan.
"Ahhh ya, hampir saja lupa ! jagoan, papa berangkat kerja dulu ya ?! jangan nakal dan ajak main mama biar tidak cemberut terus." Usai bicara dia mencium kening Yusuf lalu menurunkan tubuh mungil anaknya.
Anak itu hanya mengangguk. Suci mendelik sebentar lalu mencium punggung tangan suaminya. Dan hadiah yang dia dapat dari sikap manisnya itu adalah sebuah kecupan agak lama di keningnya. Yusuf mengikuti apa yang dilakukan ibunya. Bocah imut itu sungkem dulu pada papanya.
"Assalamualaikum." Riki pun berlalu.
"Waalaikumussalam." Suci menjawab salam diikuti oleh anaknya. Keduanya kemudian masuk lagi ke rumah.
***
Beberapa hari ke depan.
Saat pagi hari di kamar mandi. Suci terus muntah. Cukup lama dia berada di dalam sana. Hal itu membuat Riki panik, dia menyusul ke kamar mandi.
"Sayang, kamu sakit ?" Riki memijit tengkuk istrinya.
Namun, Suci masih saja mengeluarkan cairan menjijikan dari perutnya. Riki tidak merasa risih dengan hal itu. Dia hanya merasa khawatir dengan keadaan istrinya.
Setelah beberapa menit berlalu, barulah Suci berhenti muntah. Badannya terlihat lemas. Wajahnya juga pucat. Riki segera membopong tubuh yang lemah itu lalu merebahkannya di tempat tidur.
"Tunggu di sini, aku bawa sarapanmu kemari." Riki pergi ke bawah setelah mengelus rambut Suci terlebih dahulu.
Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi dan duduk di tepi ranjang. Sudah bersiap menyuapi tapi, Suci sama sekali tidak menoleh. Berusaha dibujuk pun masih tetap tidak mau makan.
"Tidak mau mas. Aku mau tidur lagi, badanku rasanya sangat kedinginan." Suci meringkuk.
"Satu suap saja, perutmu jangan sampai kosong. Aku takut kamu sakit."
Suci berusaha duduk bersandar. Dia mencoba membuka mulutnya. Namun, saat makanan itu masuk, Suci langsung menutup mulut agar makanan itu tidak keluar dan jatuh sembarangan di tempat tidur. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali makanan yang hanya numpang lewat saja di lidahnya.
"Sayang, kamu harus diperiksa ke dokter. Aku sangat cemas." Riki menyusul lagi istrinya dan mengangkat tubuh itu ke ranjang.
Dia segera menghubungi Dokter Lia, untuk cepat ke rumahnya. Sebenarnya keluarga Riki punya dokter pribadi, tapi karena dokter itu seorang pria, maka dia lebih memilih Dokter Lia yang merupakan dokter kandungan. Itu semua demi keamanan dan kenyamanan istrinya, tidak ! demi kenyamanan dan ketenangan Riki sendiri. Dia tidak mau istrinya disentuh atau dekat-dekat pria lain meskipun oleh seorang dokter.
Setelah lumayan lama menunggu, dokter itu pun datang dan segera mengecek keadaan Suci. Senyum muncul di sudut bibir sang dokter yang duduk di tepi ranjang.
"Selamat boy, kamu akan punya bayi lagi. Istrimu sedang mengandung. Dan usianya kira-kira baru mau masuk minggu ke-7."
"Benarkah ?" mata Riki berbinar, sungguh ini kabar yang menggembirakan. Dia segera memeluk istrinya yang saat itu juga tengah tersenyum bahagia.
"Kamu harus memastikan asupan gizinya. Banyak konsumsi buah dan sayur, banyak minum air putih. Jika sering mual, beri saja minuman jahe agar perutnya nyaman. Saya percaya kamu bisa menjaga istrimu dengan baik."
***
Setelah kepulangan dokter Lia, Riki kembali berusaha membujuk istrinya agar mau makan. Tapi tetap saja tidak berhasil.
"Suci kenapa Riki ?" Bu Merly menghampiri sambil menuntun cucunya. Dia lalu duduk di sebelah menantunya.
"Suci hamil lagi ma...!" Riki tersenyum cerah.
"Benarkah ? Alhamdulillah ! mama akan punya cucu lagi." Bu Merly mengusap kepala menantunya.
"Hamil itu apa ?" Yusuf duduk mendekati ibunya.
"Itu artinya, mama akan segera memberimu adik." Riki menjawab.
"Hore..!!! mama hebat !" Yusuf bersorak lalu memeluk ibunya.
Suci semakin bahagia dengan kehamilan keduanya, karena melihat si sulung sangat antusias.
"Tapi Suci tidak mau makan, pagi ini perutnya belum terisi apapun. " Riki mengadu pada ibunya.
"Hal itu memang kadang terjadi pada kebanyakan ibu hamil. Suci, biar mama suapi kamu ya ?! makan buah atau biskuit saja ya ? biar tidak terlalu mual."
Suci hanya mengangguk. Sang ibu mertua segera turun untuk mengambil makanan tersebut dan segera kembali ke kamar itu. Dengan telaten, dia menyuapi menantu perempuannya.
"Maaf ma, merepotkan." Suci berkata sambil tertunduk.
"Tidak merepotkan. Mama sangat senang melakukan ini." Bu Merly tersenyum cerah, sembari terus menyuapi Suci.
Sungguh sangat beruntung memiliki mertua yang baik dan perhatian seperti mama Merly. Suci berkali-kali lipat merasakan kebahagiaan saat ini. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintainya.
Note:
Bila terdapat kesalahan, mohon bantuannya untuk mengoreksi. Terima kasih banyak 🤗
__ADS_1
Mau extra part lagi tidak ? jika mau, inshaa Allah akan saya usahakan.