
Saat jam istirahat.
Suci sudah berada di lantai atas.
"Duduk sini !" Riki menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Suci menurut saja.
Mereka duduk di sofa ditemani beberapa hidangan makan siang yang sengaja dipesan Riki dari restoran.
"Aaa buka mulut !" Riki sudah menyendokkan makanan dan bersiap menyuapi.
Suci menurut dengan senang hati.
"Enak tidak ?" Riki menyendokkan lagi makanan.
Suci menjawab dengan anggukan.
"Tentu saja enak karena aku yang menyuapi. Aaaaaaaaa lagi yang banyak !"
Memang enak sih disuapi begini apalagi makanannya memang sudah enak. Tapi kalau terlalu penuh di mulutku malah repot juga.
Saat Riki mau menyuapi lagi, mulut Suci ditutup menggunakan tangan.
"Kenapa ?"
"Sudah dulu. Masih ada." Bicara sambil mengunyah.
Riki menunggu dengan menatap lekat istrinya itu.
Mas kalau kamu menatapku seperti itu, rasanya aku mau pingsan.
"Mas kamu kenapa tidak makan juga ?"
"Kamu duluan. Aku ingin menyuapimu dulu sampai kenyang." Menyuapi lagi.
Sambil mengunyah Suci mengambil sendok yang baru dan menyuapi Riki.
Malah jadi suap-suapan begini. Tapi menyenangkan juga.
Suci mesem.
Setelah sama-sama cukup kenyang, mereka beralih suap-suapan buah.
Selesai dengan ritual makan, mereka berbincang ringan.
"Aku sudah menghubungi mama dan papa. Sepertinya mereka belum bisa datang ke Indonesia dalam waktu dekat karena masih sibuk. Maaf ya ?!" Riki menggenggam tangan Suci.
"Tidak apa-apa mas. Nanti juga akan ada waktunya aku bertemu mereka." Tersenyum.
"Aku sudah tidak sabar untuk mengenalkan kamu kepada mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa kamulah wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta. Selalu bisa membuatku bahagia."
"Kamu terlalu berlebihan." Tersipu malu.
"Ini fakta yang tak bisa terbantahkan oleh siapapun." Riki tersenyum.
Suci menarik nafas panjang.
Saatnya berterima kasih dengan tindakan !
Suci memberanikan diri mengecup sebentar bibir Riki. Setelahnya ia langsung menundukkan wajahnya.
"Owww ini baru cuci mulut yang nikmat setelah makan. Tapi kenapa sebentar sekali ?" Riki menengadahkan kepala Suci agar menatapnya.
"Ingat ? kita masih di kantor jadi..." tidak selesai berbicara karena sudah diblokir bibir Riki.
Sentuhan lembut disertai pelukan hangat itu masih belum berhenti saat sampai jam istirahat habis. Terpaksa di cut karena ada ketukan pintu.
"Pak boleh saya masuk ?" suara sekertaris dari luar.
Suci merapikan diri dan segera beranjak dari tempat duduk. Segera dirapikan bekas makan mereka.
__ADS_1
"Yaa masuk !" suara Riki terdengar kurang bersahabat.
Menganggu saja !
Lena, sekertaris itu pun masuk dan langsung mendapat tatapan jengah dari bosnya.
Ehhh kenapa pak Riki ? apa aku sudah mengganggu nya ? OB itu ada di sini juga ? apa yang sudah terjadi sebenarnya sampai Pak Riki bermuka seram begitu ?
"Saya permisi pak." Suci segera pergi dari sana.
"Ada apa ?"
"Siang ini kan bapak sudah ada janji dengan Pak Kelvin. Sekarang beliau sedang menuju kemari."
Ahh aku lupa !
"Baik. Suruh saja dia langsung masuk."
"Baik pak." Lena kembali ke tempatnya.
Tak lama berselang Pak Kelvin masuk.
"Selamat siang Riki."
"Selamat siang silahkan duduk."
Kelvin pun duduk di sebelah Riki.
Pintu diketuk lagi seseorang dari luar.
"Masuk !"
"Permisi pak." Suci membawakan dua cangkir minuman sesuai perintah Bos.
Suci meletakkan hati-hati di atas meja. Kelvin menatap tak berkedip OB cantik itu.
Siapa perempuan ini ? aku baru pertama kali melihatnya ? manis sekali.
Suci segera meninggalkan ruangan.
"Ehemmm kenapa kau sampai menatapnya seperti itu ?" Riki bertanya dengan nada kesal.
"Yang tadi itu siapa Rik ? dia OB baru ya ? cantik sekali !" berdecak kagum.
"Kau sudah menikah dan punya dua anak, masih saja jelalatan begitu."
"Siapa namanya ?" nyengir.
"Tidak tahu !" menjawab ketus.
"Masa tidak tahu !"
"Pegawai ku banyak jadi aku tidak mungkin mengenal semuanya kan ?!"
"Ckkkk masa sih ?"
"Tapi dia sudah menikah. Jadi jangan mengganggunya."
"Kau tidak tahu namanya tapi tahu dia sudah menikah. Aneh !"
"Karena aku sangat mengenal suaminya. Kamu harus hati-hati, suaminya itu sangat galak ! jika dia tahu bahwa kau menggangu istri kesayangannya maka kau bisa saja dihabisi !"
"Kau pasti bohong !" Kelvin cengengesan.
"Untuk apa aku bohong ? suaminya itu bukan orang sembarangan dan dia sangat mencintai istrinya. Jika kau mengusik rumah tangga mereka, maka aku pun tidak akan bisa menyelamatkanmu dari amukan suaminya. Mungkin saja kau akan ditendang ke planet lain." Suara Riki diset seseram mungkin.
Kelvin bergidik juga.
Aku tidak mau ditendang ke planet lain, di sana kan ada alien !
Kekonyolan orang seperti Kelvin yang sedari kecil phobia alien.
__ADS_1
"Aku hanya terpesona saja dan aku tidak akan pernah menganggu wanita itu."
Riki tersenyum penuh kemenangan.
Dasar bodoh ! makanya jaga matamu itu ! jangan sembarangan menatap gadis lain selain istrimu, apalagi Suci itu adalah milikku. Kalau kau berani macam-macam maka akan ku adukan pada istrimu.
Akhirnya pertemuan mereka kembali pada jalurnya. Membahas masalah kerja sama antar perusahaan.
***
Saat pulang.
"Siapa pria yang sedang berbicara dengan istriku ?" Riki menghampiri mereka.
"Pak !" pria itu mengangguk sopan.
Riki tidak mempedulikan dan hanya memasang wajah jutek.
"Suci ikut saya sekarang !" Riki berjalan cepat.
"Mas Nizar, saya permisi."
"Saya duluan ya Suci." Agak berteriak karena Suci sudah cukup jauh berjalan menyusul Riki.
Sepanjang perjalanan menuju lantai atas, Riki tidak bersuara. Wajahnya masih ketus.
Kenapa dia ? perasaan aku tidak melakukan hal yang bisa membuatnya marah begitu ?
"Siapa pria tadi ?" Riki sudah duduk di sofa ruangannya.
"Maksudnya mas Nizar ya ? dia karyawan baru dan kami bisa saling mengenal karena dia suka meminta bantuan untuk mengkopi dokumen dan membuatkannya minuman." Sudah tidak enak hati.
"Kenapa dia berani menyuruhmu melakukan itu semua ?" semakin kesal.
"Itu kan sudah tugasku." Menjawab sambil menunduk, tidak mau melihat muka kusut Riki.
"Kalian tadi akrab sekali saat bicara. Dia juga selalu menatapmu dengan berbeda." Riki melonggarkan sedikit dasinya.
"Tidak seperti itu. Kami tidak ada hubungan apapun." Masih menunduk.
"Kemari ! kamu harus membuatku kembali tenang ! gara-gara aku melihatmu dengan pria tadi, mood ku jadi berantakan." Menepuk sofa.
Apa yang mau kamu lakukan mas ? apa kamu semarah itu ?
Suci belum bergerak. Riki menarik paksa tangannya hingga Suci berhasil duduk di pangkuannya. Suci tersontak. Bertambah kaget saat tiba-tiba Riki menyerangnya tanpa aba-aba.
Riki memeluk erat dan menyesap bibir Suci dengan garang.
Dia sangat marah rupanya !
Suci berusaha melepaskan diri namun gagal. Riki memegang tengkuk dan masih mempererat pelukannya. Namun perlahan sentuhan itu menjadi lembut membuat Suci ikut terlarut. Mungkin Riki sudah mulai tenang.
Sentuhan itu berlangsung selama setengah jam.
Pegal sekali !
Suci memegang tengkuknya. Dia sudah turun dari pangkuan suaminya.
Kini Riki sudah kembali cengengesan.
"Ayo kita pulang !" Riki mengusap lembut kepala Suci.
Suci mengangguk. Namun Riki kembali mengecup semua area wajah Suci.
Katanya ngajak pulang ! tapi malah....bibirku bisa doer nanti !
Riki mampir lagi di bibir Suci selama lima menit.
"Sudah cukup ! kita pulang !" Riki sadar dan segera beranjak dari duduknya.
Lama-lama aku tidak bisa mengontrol diri.
__ADS_1
Akhirnya mereka benar-benar pulang.