
Yusuf melemparkan tubuhnya yang lelah di atas kasur empuknya. Kedua tangannya dijadikan bantal. Mata sipitnya menyisir ke langit-langit kamar. Bayang wajah gugup Andini ketika melihatnya seolah tercetak jelas di sana. Senyum simpul muncul di bibirnya.
Sebenarnya pria itu bertekad tidak ingin memikirkan lagi tentang Dini. Tapi entah mengapa otak dan hatinya tidak bisa diajak berkompromi ?
Sudah lewat tengah malam. Tak ada tanda-tanda Yusuf ingin memejamkan mata. Dia duduk tanpa bersandar. Kadang geleng-geleng kepala, kadang mengusap wajahnya dengan kasar. Tapi, bayangan wajah gadis kucel masih belum ingin pergi dari pikirannya.
"Astaga, ada apa denganku ? wajah konyol gadis itu terus saja menghantui. Apa aku sudah gila ? ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak boleh lagi memikirkan hal yang tidak penting !" mengacak-acak rambutnya sendiri.
Mungkin karena baru kali ini dia berdekatan dengan seorang gadis walaupun tanpa disengaja. Sebelumnya Yusuf tak pernah merasa tertarik dengan makhluk lembut namun mampu melemahkan, bernama perempuan. Bukan karena dia tidak normal, melainkan hatinya memang tidak merasa tersentuh oleh wanita secantik apapun. Hanya gadis kucel itu yang mampu membuat perasaannya gusar.
Esoknya Yusuf datang ke kantor dengan tubuh yang lesu. Itu karena efek begadangnya semalam. Moodnya pun berada di titik rendah. Wajah kusutnya menegaskan bahwa pria itu tengah kesal. Kesal pada gadis itu, atau pada dirinya sendiri yang sudah bertindak konyol ?
"Tuan, sekretaris anda bilang ada seorang perempuan bernama Yasmin yang ingin menemui anda. Bukankah dia adalah putri Pak Daniel ? saya yakin tidak ada hal penting yang akan dia bahas." Willy berdiri menghadap atasannya.
"Suruh saja dia masuk !"
Willy mengedutkan sudut bibirnya. Benarkah yang dia dengar ini ? tadinya dia pikir bosnya itu akan menyuruhnya mengusir wanita itu. Yusuf adalah tipe pria yang tidak mau akrab dengan seorang perempuan, apalagi jika tidak ada kepentingan untuk saling bertemu. Tapi kenapa dia bersedia membiarkan wanita itu masuk ke ruangan ini ?
Yusuf sebenarnya hanya ingin tahu, kenapa Yasmin berani menemuinya di kantor ? dan siapa tahu gadis itu akan membawa sedikit informasi tentang Andini.
"Baik, tuan !" Willy tentu saja menurut meski tidak setuju.
Tak berapa lama berselang, seorang gadis melenggang anggun memasuki ruangan CEO. Willy menatap tidak suka pada sosok yang sebenarnya sexy dan menarik itu. Dia menganggap Yasmin adalah pengganggu bagi tuannya. Sementara Yusuf masih duduk bersandar di kursi kebesarannya. Matanya menatap ke layar komputer.
"Willy, bisa tinggalkan kami sebentar ?"
Asistennya itu sedikit membungkuk dan berbisik, "Tuan, maaf ! sebaiknya anda jangan melakukan hal yang tidak penting !"
Yusuf mendelik, "Tinggalkan ruanganku sekarang !" emosinya saat ini sedang kurang stabil.
"Baik !" meski berat untuk melangkah, tapi pria itu menuruti perintah tuannya.
Yasmin tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa sangat spesial karena dirinya bisa dengan mudah bertemu dengan pria tampan incarannya. Apalagi saat ini hanya ada mereka berdua di sana.
Yusuf menatap tajam ke arah Yasmin. "Silahkan duduk nona. Katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku ?" gadis itu menurut dan duduk di kursi berhadapan langsung dengan Yusuf.
Tangannya gemetaran karena gugup. Dengan senyum manis, dia menatap pria berwajah sempurna itu. Benar-benar indah !
"Maaf tuan jika kedatangan saya mengganggu anda. Saya kemari karena ingin mengundang anda secara langsung, untuk hadir di acara ulang tahun saya malam ini." Malu-malu dia berkata sambil menundukkan wajahnya.
"Baiklah ! saya akan usahakan untuk hadir di sana. Dimana acaranya berlangsung ?"
Yasmin berbinar, "Di Hotel Kencana tuan. Terima kasih banyak. Kedatangan anda memang sangat berarti dalam acara ini."
__ADS_1
"Hemmm. Sebentar lagi saya ada meeting." Yusuf melihat jam di tangannya.
"Baiklah tuan. Saya permisi !" Yasmin segera berdiri dan mengulurkan tangan ingin berjabatan. Namun pria di hadapannya itu enggan membalas, kembali fokus ke layar komputernya.
Yasmin melangkah pergi dengan perasaan agak malu. Aku terlalu agresif mungkin. Semoga saja tuan Yusuf tidak berubah pikiran untuk datang ke pestaku !
Yusuf memang tertarik untuk hadir ke pesta ulang tahun Yasmin. Namun, itu karena dia ingin kembali bertemu dengan si gadis kucel. Hatinya semakin bandel !
***
Di Hotel tempat acara berlangsung. Yusuf menyisir segala arah. Siapa lagi sosok yang dia cari selain si gadis kucel yang imut ? namun tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Apa mungkin karena terlalu banyak orang di sana hingga mata Yusuf tak berhasil menjangkaunya ?
Pak Daniel memperkenalkan Yusuf sebagai tamu spesial dalam acara ulang tahun putrinya, dengan sangat bangga. Di hadapan para sahabat dan keluarga, itu akan membuat harga dirinya menjadi tinggi. Yusuf tak memperhatikan sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Matanya masih menyapu seluruh ruangan. Dia berbisik pada sang asisten yang berdiri di sebelahnya. "Will, gadis itu tidak ada di sini. Apa mungkin ada di tengah-tengah para tamu ? tolong suruh anak buahmu mencarinya !"
"Anda yakin tuan ? maaf, bukankah anda menyuruh saya untuk mencegah anda berbuat hal yang tidak penting ?" Willy bicara dengan menunduk.
Yusuf yang memang kesal karena tak kunjung melihat wajah Andini, saat ini semakin murka karena asistennya itu tidak langsung menurut. "Will, ini sangat penting. Kau tidak tahu jika saat ini aku sedang khawatir ? bagaimanapun caranya, Andini harus cepat ditemukan !" meski dengan nada rendah, tapi terdengar jelas jika bosnya itu sedang marah.
"Baik tuan !" Willy berlalu pergi setelah membungkuk hormat.
Apanya yang penting ? kenapa gadis itu harus dicari ? ada apa dengan tuan Yusuf ? dia tidak pernah mencemaskan wanita lain selain keluarganya.
Willy menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk segera melaksanakan tugas dari tuannya. Setelah ditelusuri ke semua sudut ruangan tempat pesta berlangsung, tak ditemukan gadis dengan ciri-ciri seperti Andini.
Willy berbisik di telinga Yusuf, "Maaf tuan, gadis bernama Andini tidak ada di sini. Sepertinya dia memang tidak ikut."
Harusnya Yusuf tidak perlu mencemaskan gadis itu. Andini pasti berada di rumah besar majikannya. Mungkin saja sudah berada di alam mimpi. Tapi perasaannya malah bertambah gusar. Dia membayangkan si gadis kucel sedang menangis sendirian di sana, karena tidak diikut sertakan dalam acara mewah majikannya.
"Aku harus menemuinya !" Yusuf melangkah cepat meninggalkan pesta tidak penting itu. Willy menyusul di belakangnya. Asisten itu sangat bingung dengan tingkah aneh dan berlebihan dari Yusuf. Baru kali ini dia menyaksikan kekonyolan dari atasannya.
Keduanya telah ada di dalam mobil. Yusuf duduk dengan tidak tenang. Raut wajahnya sangat tegang seperti seorang ibu yang tengah mencari anaknya yang hilang. "Will, bisa lebih cepat ? aku tidak sabar ingin menemui gadis itu ! jika terjadi hal yang buruk padanya, maka aku tidak akan memaafkan mu !" teriakan dari tuan Yusuf membuat asistennya semakin heran.
"Baik, tuan !" Willy membawa mobil itu dengan lebih kencang sesuai perintah sang raja.
***
Andini menangis tersedu di kamarnya. Setiap nona manja merayakan pesta ulang tahunnya, gadis itu selalu sendirian di ranjang bututnya. Padahal pekerja yang lain diperbolehkan menghadiri acara itu.
Dengan memeluk erat lututnya sendiri, Andini menumpahkan segala kesedihannya. Sendirian dan tidak pernah diinginkan kehadirannya di rumah ini. Hanya ibunya seorang yang memberikan kasih sayang yang tulus untuknya. Namun, sosok itu pun sudah tak ada lagi di dunia ini.
Semua memori berputar di kepalanya. Masa kecil yang dingin tanpa kehangatan orangtua. Kadang dia merasa, seharusnya dia tidak punya seorang ayah. Lebih baik jika ayahnya itu sudah mati. Mungkin saat ini setidaknya dia tidak akan terjebak dalam rumah besar namun penuh kepedihan di dalamnya. Semua adalah salah pria itu ! tapi, sudut hatinya yang lain sudah terlanjur menyayangi ayah kandung yang tak pernah mengakuinya itu. Dia mampu bertahan di rumah ini agar berharap suatu saat ayahnya bisa berubah.
"Aku iri pada Yasmin. Dia selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Aku tidak menginginkan kemewahan yang dimiliki Yasmin. Aku hanya mau dipeluk dan dicintai dengan tulus." Lama sekali gadis itu sesenggukan.
__ADS_1
Di saat seperti ini tak ada yang bisa dia jadikan teman berbagi. Tak ada yang sudi melirik ataupun sekedar bertanya kenapa dia bersedih. Kesendirian adalah bagian dari hidupnya sejak kecil.
Sudah cukup Andini, untuk apa kau menangis ? itu tidak akan merubah keadaan. Lebih baik isi saja perutmu yang dari tadi mengaung !
Gadis itu tersenyum kelu. Dia menertawakan dirinya sendiri. Di saat sedih begini, bisa-bisanya memikirkan tentang makan ? tapi benar juga. Lebih baik makan sepuasnya mumpung tuan rumah tidak ada di sini.
Andini menyeka air matanya lalu beranjak ke dapur. Baru saja akan mengambil makanan, terdengar bel pintu berbunyi.
Ahhh ! sebentar ya perut, aku harus membuka pintu dulu !
Andini mengelus perutnya yang sudah mengerut karena kelaparan. Dia melangkah ke pintu utama. Saat pintu dibuka, matanya membulat sempurna karena melihat sosok tak asing di hadapannya.
Pria ini lagi !
Dengan nyengir yang dipaksakan, dia mencoba berkata. "Maaf tuan, semua majikan saya tidak ada di rumah, sedang ada acara di luar. Sebaiknya anda pulang lagi !"
"Ada siapa saja di rumah ini ?" Yusuf celingukan.
Andini mengernyit, "Hanya ada saya sendiri di rumah ini. Dan anda pasti sudah tahu bahwa di depan ada dua security."
Kenapa bertanya begitu ? apa yang dia rencanakan ?
Yusuf berkacak pinggang mengingat sosok Pak Daniel. Ternyata dugaannya memang benar. Andini sendirian di sini dan kesepian. Pria itu benar-benar kurang ajar ! jahat sekali membiarkan Andini sendirian.
Willy yang berdiri di belakangnya hanya bisa menghela nafas panjang. Tak habis pikir kenapa sikap tuannya bisa berubah jadi konyol.
"Kau menangis ?" memperhatikan dengan lekat mata merah milik Andini.
"Tidak !" Andini menggeleng cepat sambil berteriak. Itu semakin membuktikan bahwa dia sudah berbohong.
Yusuf tertawa kecil, "Jangan bohong ! matamu masih merah dan bengkak. Bahkan masih ada sisa air di sudut matamu." Mengusap lembut mata melotot kaget milik Andini. Hatinya mencelos. Kenapa harus pria menyebalkan ini yang melakukannya ? kenapa bukan ayahnya ? tidak ! Andini jangan lagi memikirkannya ! itu akan membuatnya bersedih lagi dan kembali menangis. Bukankah itu akan sangat memalukan ?!
"Tuan, apa anda tidak punya kerjaan lain selain jadi orang yang so tahu ? lebih baik anda sekarang pulang ke habitat anda !"
Willy geram mendengar gadis itu berkata kasar pada tuannya. Dia maju beberapa langkah agar sejajar dengan Yusuf. Ditatapnya Andini dengan tajam. "Tolong jaga sikap dan perkataan anda !"
"Will !" Yusuf menatap tajam asistennya. Itu berarti perintah agar Willy diam. Willy tertunduk lalu mundur dan berdiri di posisi semula.
"Kau yakin baik-baik saja ?" Yusuf kembali menatap wajah Andini.
Tiba-tiba ruangan itu gelap. Bahkan seluruh ruangan di rumah itu pun tak bercahaya. Listriknya mendadak mati.
Andini berteriak histeris. "Ahhhh, tolong !"
__ADS_1
Yusuf dibuat panik karena suara itu. Dia segera merogoh ponsel dari saku celananya, lalu menghidupkan senter dari benda canggih itu.
Cahaya dipusatkan pada Andini. Gadis itu masih histeris menyembunyikan wajahnya di lutut. Tubuhnya gemetaran takut. Yusuf berjongkok dan segera memeluknya. Ada perasaan ingin melindungi gadis itu saat ini. "Tenanglah, ada aku di sini !"