
Suci berjalan dipapah oleh Barbi. Riki berada di belakang mereka.
Sudahlah Barbi....mbak masih kuat jalan sendiri.
Tatapan mata Suci mengarah ke tangan temannya itu. Gelengen kepalanya menyuruh Barbi melepaskan tangannya.
Namun Barbi membalas dengan senyuman yang dipaksakan dan penuh harap.
Sudahlah mbak...menurut saja ! kalau aku melepaskan tanganmu nanti Bos Riki bisa-bisa melepaskan nyawaku ! mengerikan !
"Kalian tunggu di depan. Saya mau ambil mobil dulu."
Barbi dan Suci mengangguk saja.
"Siti ! tolong jaga Suci jangan sampai dia kenapa-napa. Jika Suci pingsan itu berarti salahmu !" menatap tajam gadis yang diajaknya bicara.
"Baik pak ! siap !!!" Barbi berbicara layaknya komandan upacara. Takut dengan ancaman Bosnya.
Apa-apaan ini ? kenapa aku yang harus disalahkan jika mbak Suci pingsan ? memangnya aku bisa mengontrol tubuh orang apa ?
Riki pun pergi.
"Mbak harus kuat ! jangan pingsan lagi ! SEMANGAT !!!" mengepalkan satu tangannya ke udara seperti sedang berorasi.
"Kalau itu terjadi aku bisa tamat mbak..." Barbi terduduk lesu dan menangis yang dibuat-buat.
"Mbak sudah baikan kok sekarang. Kamu jangan takut !"
Barbi kembali berdiri dan setelah beberapa waktu Riki datang bersama mobilnya.
Dengan sigap Barbi membantu Suci naik ke mobil tanpa disuruh. Antisipasi untuk mengamankan dirinya sendiri.
Sikap Bos sangat berlebihan pada mbak Suci. Kepanikan dan kekhawatirannya pun terlalu jelas terlihat. Apa jangan-jangan.....
***
Sudah lima belas menit di perjalanan namun belum ada yang bersuara. Suci lebih memilih menatap kaca jendela mobil. Dan Riki tetap fokus menyetir meski sesekali sudut matanya melirik ke wanita di sampingnya.
Jika Suci tahu bahwa tadi aku sudah menyentuhnya mungkin dia akan marah. Aku benar-benar lupa kalau Suci tidak akan menyukainya. Tapi aku hanya ingin menolong. Bukan untuk berbuat mesum. Maafkan aku ya Suci !!!
Hingga akhirnya sampai di depan rumah Suci mereka tetap bertahan untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Assalamualaikum." Suci mengetuk pintu.
"Waalaikumussalam." Bu Ayu membuka pintu dan menyuruh mereka masuk.
Beberapa pertanyaan mengitari kepala Bu Ayu. Setelah memberi tamunya segelas air, Bu Ayu ikut duduk bersama mereka.
"Saya Riki." Memperkenalkan diri dengan mengangguk sopan.
"Saya ibunya Suci." Menjawab namun ekspresinya masih bingung.
"Pak Riki adalah atasan Suci Bu." Menjelaskan.
"Ohhh maaf pak ibu tidak tahu. Bukannya ini masih pagi kenapa kalian ada di sini ?"
"Suci tidak enak badan jadi saya mengantarnya pulang. Tadinya mau saya bawa berobat tapi Suci tidak mau."
"Kamu sakit ?" Bu Ayu mengecek suhu tubuh anaknya dengan telapak tangan yang ditempelkan ke kening.
__ADS_1
"Sedikit Bu. Tapi sekarang sudah baikan. Ibu jangan khawatir." Tersenyum memegang tangan ibunya.
"Terima kasih banyak karena anda sudah sangat berbaik hati mengantar Suci pulang." Bu Ayu menyunggingkan senyum untuk tamunya.
"Jangan berterima kasih pada saya Bu. Ini adalah kewajiban saya sebagai atasan harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan para karyawan." Menjeda kalimatnya.
"Suci, kamu jangan sampai keluyuran atau beraktivitas yang berat. Istirahat di rumah dan setelah benar-benar sehat barulah kamu boleh bekerja kembali."
"Baik pak. Terima kasih."
"Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum." Menangkupkan kedua tangannya dan beranjak dari tempat duduk.
"Waalaikumussalam." Ibu dan anak itu menjawab hampir bersamaan.
Esoknya.
"Emang mbak udah sehat ? apa tidak sebaiknya mbak istirahat lagi sehari ini ?" Syarif memberi saran.
"Mbak gak apa-apa kok. Jangan terlalu cemas." Suci menepuk-nepuk bahu adiknya.
"Tapi kan atasan mbak juga menyuruh untuk istirahat sampai benar-benar sehat."
"Dia hanya sedikit berlebihan. Ayo kita berangkat sekarang." Sudah memakai helm.
"Tapi mbak beruntung mempunyai atasan sebaik Pak....siapa namanya ?"
"Riki..." terasa aneh saat menyebut namanya.
"Pak Riki orangnya baik." Syarif pun sudah memakai helm dan jaket.
"Ya...ayo jangan membahasnya lagi."
Setelah sampai di Perusahan XZ.
"Kamu mau melamar kerja lagi ?" tanya Suci.
"Ya mbak. Semoga hari ini aku lebih beruntung."
"Jangan putus asa ! pasti kamu akan mendapatkan pekerjaan cepat atau lambat."
***
"Ruangan sudah rapi dan kopi sudah tersedia. Hari ini Bos rupanya kembali ke rutinitas normalnya. Dia tidak datang pagi-pagi lagi." Suci menggerutu sendiri.
Ceklek !!! pintu terbuka.
"Suci ?? kenapa kamu ada di sini ?" Riki menghampirinya.
"Saya kan bekerja, bapak tidak lupa kan ?!"
"Bukan begitu, kamu kan seharusnya istirahat dulu di rumah sampai kamu sehat. Cepat duduk !" menunjuk sofa.
"Saya sudah sehat jadi saya masuk kerja." Suci menurut juga untuk duduk.
"Benarkah ? kalau nanti kamu pingsan lagi bagaimana ? saya juga yang repot."
"Tidak pak. Saya sudah sehat."
Sebenarnya masih agak pusing dan mual sedikit tapi aku masih kuat bekerja.
__ADS_1
"Baiklah tapi hati-hati kerjanya. Kalau tiba-tiba tidak enak badan lagi mending kamu istirahat."
"Baik pak. Saya permisi."
Suci beranjak pergi dari sana.
Apa benar dia sudah sehat ? kalau ku tahu Suci masuk kerja hari ini aku pasti datang lebih pagi tadi.
Di ruang OB.
Saat Suci masuk dia langsung dikerubungi tiga temannya. Mereka menatap lekat dan seperti ingin mengintrogasi.
"Mbak udah sehat ?" Barbi yang pertama berbicara.
"Kalau masih sakit lebih baik pulang lagi saja mbak." Irfan menimpali.
"Apa hubungan mbak dengan Pak Riki sebenarnya ? apa kalian ada main ?" Arif si pria tukang gossip tak kuat memendam penasarannya.
"Apa maksudmu ? kami tidak ada hubungan apapun selain hubungan kerja." Suci menjelaskan.
"Tapi ya sih mbak bukan cuma Arif tapi saya dan Barbi juga ingin tahu. Sepertinya perlakuan Pak Riki pada mbak sangat berbeda dibanding dengan perlakuannya pada karyawan lain." Irfan ikut menambahkan.
"Apa mbak tidak merasa bahwa perhatian Bos itu berlebihan pada mbak ? jangan-jangan dia naksir mbak lagi." Barbi menyimpulkan.
"Tidak seperti itu. Kalian jangan berpikir aneh-aneh." Kepala Suci tambah pening saja oleh kelakuan rekan-rekannya.
Malah tambah sakit kepalaku. Perutku juga makin mual. Apa memang seharusnya hari ini aku di rumah saja ?
Suci masuk kamar mandi. Di dalam sana terdengar suaranya sedang muntah-muntah. Saat keluar dari sana.....
"Kita ke Rumah Sakit sekarang." Riki sudah berdiri di hadapannya.
"Saya ti..."
"Tolong jangan membantah !" menatap lembut wanita yang sudah lama bertengger di hatinya.
***
Di Rumah Sakit.
Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter meminta Suci melakukan test kehamilan.
Apa aku hamil ? gejala yang aku alami ini biasanya dirasakan oleh wanita yang sedang hamil muda.
Jantungnya berdetak sangat kacau saat melihat hasil test pact yang dipegangnya.
***
Riki dari tadi hanya mondar-mandir saat menunggu Suci. Dia sangat gusar sudah seperti seorang suami yang sedang menanti istrinya melahirkan.
"Apa yang Dokter katakan ? kamu pasti baik-baik saja kan ?!" Riki tak bisa menutupi kecemasannya saat wanita yang ditunggunya keluar dari ruang pemeriksaan.
"Saya hanya anemia dan masuk angin saja."
"Tapi tetap saja kamu harus banyak istirahat dan harus makan yang bergizi. Sekarang saya antar kamu pulang."
"Baik pak terima kasih banyak." Suci menurut saja karena Riki benar-benar memaksa.
Untung saja aku tidak hamil. Bukannya tidak mau tapi di saat situasi seperti ini rasanya malah akan menambah sakit hatiku. Aku tidak akan sanggup jika seandainya menyaksikan anakku harus hidup tanpa kasih sayang seorang ayah.
__ADS_1