
Dalam perjalanan menuju Perusahaan XZ.
"Sudah puas menangisi Doni ?" Riki bicara datar.
"Maksud bapak ?" Suci menatap ke arah depan.
"Semalam kamu pasti menangis. Matamu masih sembab. Apa sudah puas ?"
Suci belum menjawab lagi.
"Aku harap itu tangisan terakhirmu, ku ingatkan lagi, jangan pernah membuang air matamu yang berharga hanya untuk pria macam dia. Sebagai sahabatnya, aku pun kecewa karena sikapnya sekarang sangat berbeda. Dia bukanlah Doni yang pernah ku kenal. Ternyata memang benar, manusia itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Entah menjadi lebih baik atau lebih buruk."
"Saya sebenarnya juga tidak mau lagi menangis. Tapi semalam saya benar-benar tidak sanggup menahan lagi. Mulai saat ini saya akan berusaha untuk lebih bisa mengontrol diri."
"Baguslah, tidak usah membuang energi untuk memikirkannya lagi. Buktikan pada mereka kalau kamu itu wanita tangguh yang tidak akan terpengaruh oleh kelakuan jahat mereka. Kamu harus datang ke pernikahan Doni. Aku akan menemanimu."
"Saya datang sendiri saja."
"Memang kamu bisa tegar ? ini pernikahan mantan lhoo."
"Bapak bilang saya harus tangguh, saya akan buktikan ke mereka bahwa saya ini kuat."
"Sebenarnya, aku sih yang mau ditemani." Nyengir kuda.
"Bapak ajak yang lain saja."
"Aku tidak punya teman perempuan."
"Masa ? kalau begitu ajak teman laki-laki bapak."
"Nanti aku dibilang tidak normal lagi. Teman-teman ku itu suka bawel. Tiap ketemu selalu bilang, heyyy Riki kamu masih saja jadi jomblo abadi. Aku kan malu. Kalau aku bawa perempuan apalagi yang cantik sepertimu, pasti mereka nanti tidak akan membully lagi."
"Masa ??? tapi mungkin mereka akan mengenali saya. Dari beberapa tamu yang akan datang pasti pernah bertemu dengan saya saat menikah dengan mas Doni."
"Tidak akan seperti itu, mereka tidak akan menyadari bahwa kamu mantan istri Doni. Andai pun mereka tahu, itu tidak masalah. Kalian kan sudah tidak lagi bersama."
"Tapi nanti bapak jangan kenalkan saya sebagai pasangan."
"Aku akan bilang bahwa kamu temanku. Setuju ? anggap saja kita saling membantu. Kamu bantu saya agar tidak dibully, dan saya akan melindungi kamu di sana."
"Baik pak."
"Kalau begitu hari Sabtu kita ke butik."
"Untuk apa ?"
"Cari bajulahhh untuk ke pesta pernikahan Doni."
"Saya masih punya kok di rumah."
"Aku mau kamu tampil spesial karena kamu akan mendampingi pria yang spesial juga. Ayolah kenapa harus menolak terus jika aku mau berbuat baik ?"
"Saya tidak enak jika terus merepotkan bapak. Kita pergi bersama tapi untuk pakaian biar saya yang urus."
"Tidak bisa, karena kamu pergi denganku maka aku yang bertanggung jawab atas penampilanmu. Tenang saja, aku tidak akan menyuruhmu memakai baju sexy. Kamu bisa tampil elegan meski seluruh tubuhmu tertutup. Aku tidak mau nanti kamu direndahkan oleh Teni."
***
Di ruang OB.
__ADS_1
"Mbak, babang Syarif apa kabarnya ?" Barbi duduk di sebelah Suci.
"Baik."
"Bilangin dong kalau aku kangen, emang dia kerja dimana sih ?" berbicara sambil mengunyah gorengan.
"Di Butik di jalan RR, arahnya berlawanan dengan kantor ini, jadi dia tidak bisa mengantar mbak." Menyeruput teh hangat.
"Nafsu makanku jadi bertambah gara-gara kangen sama babang Syarif." Sambil terus makan.
"Perasaan tidak ada bedanya. Kamu tetap saja doyan makan hehe." Suci tertawa kecil.
Barbi mengerucutkan bibirnya.
"Ehhh mbak, semenjak kejadian di kantin kemarin, mbak jadi trending topik di kantor ini. Semua pegawai membicarakan kedekatan mbak dengan Bos."
"Mbak sudah menduganya. Mbak tidak bisa mengontrol mereka. Sebaik dan sehebat apapun kita, pasti ada saja orang yang tidak menyukai kita. Apalagi mbak ini hanya manusia biasa."
"Memang hubungan kalian itu sebenarnya bagaimana sih ?"
"Kami hanya....atasan dan bawahan." Menjawab ragu.
"Masa sih ? yang bener ?" Barbi mendekatkan wajahnya ke wajah Suci.
"Mungkin...selebihnya hanya teman. Ya...hanya teman." Meyakinkan diri sendiri sebenarnya.
Dia menganggapku teman ? itu berarti sudah ada kemajuan dalam hubungan kami.
Riki diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Senyum tersungging di bibirnya.
***
Minggu pagi.
Di hari ini pun, saat pernikahannya dengan Teni berlangsung, Suci masih saja bertengger di pikirannya. Membuat tak fokus mengucap ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Suci binti.."
"Mas !" Teni memperingatkan.
Ijab kabul diulang lagi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Suci..."
"Mas...! kenapa kamu malah menyebut nama dia ?" menggoyangkan tangan Doni.
"Maaf !"
Ada apa denganku ? kenapa tanpa sadar nama Suci ku sebut ? Doni.
"Kenapa mas Doni malah menyebut namaku sampai berulang kali ? Suci.
Awas saja jika sekali lagi kau sebut nama Suci dalam sumpah pernikahanmu ! Riki.
Mas Doni, kamu sudah mempermalukan ku di depan banyak orang. Teni.
Pikiran Doni masih kalang kabut, entah kenapa saat penting seperti ini dia malah gusar. Orang-orang yang hadir berbisik-bisik membicarakan calon pengantin. Entah sudah semerah apa wajah Teni saat ini.
Ijab kabul kembali diulang.
__ADS_1
Awas kau Doni, jangan sampai menyebut nama Suci lagi kali ini !
Riki sudah bersiap-siap mencari sesuatu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Suc...aww !" sesuatu menimpa kepala Doni.
Sebelah sepatu anak kecil tiba-tiba melayang begitu saja dan jatuh tepat di belakang kepala calon pengantin pria.
"Sepatu siapa ini ?" Doni sudah geram.
Rasakan itu Doni ! dasar pria plin-plan !
Riki tersenyum penuh kemenangan.
Para tamu cekikikan menertawakan Doni. Suasana lebih riuh dari tadi. Teni semakin malu karena itu.
"Maaf mas, sepertinya itu milik anak saya. Tadi terlepas, saya dari tadi mencarinya. Tapi saya tidak mengerti kenapa bisa sampai menimpa kepala mas." Seorang wanita menghampiri Doni dan meminta sepatu itu.
Dengan kasar Doni memberikan sepatu yang melayang tadi. Dia tidak berkata apapun, mukanya sudah sangat kusut.
"Maaf mas." Wanita itu pergi setelah mengambilnya.
Aneh sekali, kenapa sepatu anakku bisa sampai melayang bebas menimpa kepala pengantin pria ?
Sebenarnya sepatu itu tidak melayang bebas begitu saja. Riki yang sudah sengaja menimpuk kepala Doni karena kesal.
Rasakan itu Doni ! kau pantas mendapatkannya ! anggap saja itu hukuman karena kau sudah lancang menyebut nama Suci dengan mulut kotormu.
Tidak ada yang mengetahui nya karena semua orang hanya sibuk membicarakan kesalahan Doni saat ijab kabul.
"Baiklah sekarang tolong anda fokus, karena ini sangat menghambat. Saya masih harus ke tempat lain setelah ini." Penghulu sudah mulai kesal.
"Kamu kenapa sih Doni ? jangan sampai salah lagi, kami sudah sangat malu karena ulahmu." Calon mertua Doni juga sudah naik darah.
Doni menghela nafasnya panjang dan mencoba lagi mengucap janji suci pernikahan. Kali ini dia melakukannya dengan benar. Akhirnya dia resmi menikahi Teni.
Rasanya baru kemarin aku dan mas Doni mengucap janji setia, tapi sekarang dia sudah melakukannya dengan wanita lain.
Suci menghela nafasnya, mengatur perasaannya agar tak menjadi kacau. Dia tak mau lagi menangis.
"Suci...kau baik-baik saja ?!" Riki menatap lekat wanita di sampingnya.
Suci mengangguk sambil tersenyum.
Kau memang wanita yang tegar Suci. Aku berjanji akan selalu melindungimu.
***
Pengantin sudah berdiri menyambut tamu.
"Selamat ya Don atas pernikahan kalian." Riki menyalami pengantin pria.
Doni menyambut tangan Riki meski tatapannya menyiratkan kekesalan.
"Kau beruntung memiliki istri yang sangat mencintaimu. Lihat saja Teni, dia begitu erat memeluk tanganmu. Seperti takut ada yang mengambil saja haha."
Pengantin baru itu sama sekali tidak suka mendengarnya. Gurat amarah terlihat pada keduanya.
"Selamat atas pernikahan mas Doni dengan Teni, semoga kalian berbahagia." Suci menangkupkan kedua tangannya dan tersenyum.
__ADS_1
Suci sama sekali tidak bersedih dengan pernikahanku dan Teni. Apa dia sudah benar-benar melupakan aku ?
Doni kembali teringat momen pernikahannya dengan Suci. Terasa lebih berkesan dibanding pernikahannya kali ini.