Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 39.


__ADS_3

Satu setengah bulan berlalu sejak peristiwa penjebakan Andini. Dia selalu menjenguk Meta, sebelum temannya itu dipindahkan ke Rumah Sakit Singapura dua minggu ke belakang. Hari-harinya berjalan normal meski ada sedikit kehampaan karena ketidak-hadiran Meta.


Dalam waktu yang lumayan lama itu pula, penampilan Andini banyak berubah. Dia selalu memakai baju gamis plus kerudung kemanapun dia pergi. Dia merasa nyaman, terlindungi dan tenang saat memakainya.


***


Siang itu setelah pulang dari sekolah, Andini berbaring di sofa kamar. Tubuhnya sangat lemas, padahal perutnya sudah penuh. Yusuf duduk di sisinya, hendak mengecup bibir Andini.


Cup ! Dini langsung terbangun sambil menutup bibir dan hidungnya. Yusuf menautkan kedua alisnya. "Kenapa, sayang ?"


"Bau, kenapa mulutmu bau sekali ?" usai bicara, bergegas ke kamar mandi.


Yusuf membuang nafasnya pada telapak tangan, lalu membauinya. Aneh, perasaan mulutnya tidak bau. Malah aroma mint begitu segar menusuk hidungnya.


Suara Andini yang muntah-muntah di dalam kamar mandi, terdengar jelas oleh telinga Yusuf. Dia segera menghampiri istrinya. "Sayang, kamu sakit ?" memijit tengkuk Dini. Tak ada jawaban, perempuan itu masih mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.


Beberapa menit kemudian, Andini keluar dari sana dipapah oleh suaminya. Berbaring lagi, kali ini di atas tempat tidur. Yusuf menyelimutinya kemudian berlalu mengambil air minum hangat. Setelah istrinya minum, dia membantu membuka penutup kepala yang masih menempel pada Andini.


"Sayang, kamu istirahat saja. Aku akan menemanimu." Berbaring di samping istrinya.


"Ya, tolong jangan menciumku lagi ! Bau nafasmu itu membuatku mual." Menutup wajahnya dengan selimut saat bibir suaminya mendekat.


"Sayang, jangan menyiksaku seperti ini ! Mulutku tidak bau !"


"Sayang, aku serius. Aku tidak mau dicium !" Masih menutupi wajah.


"Baiklah, aku hanya akan memelukmu saja." Sebenarnya kecewa, tapi mau bagaimana pun juga dia begitu mencintai Andini. Bukankah wanita itu selalu benar ?


"Aku panggil Dokter kemari, ya ?!" mengusap kepala Andini.


"Tidak usah !" membelakangi.


"Setidaknya aku mau pelukan darimu. Kenapa malah membelakangi suamimu ini ?" membalikkan badan Andini namun wanita itu menolak. "Maaf, sayang. Aku tidak mau mencium bau mulutmu." Akhirnya Yusuf menyerah, dia terbaring dengan menempelkan kepalanya di punggung Dini.


***


Andini mengerjapkan mata ketika bagian perutnya serasa ada yang meraba-raba. Sontak dirinya terbangun ketika melihat wanita asing duduk di sebelahnya. Dilihat dari tampilannya, dia yakin jika wanita itu adalah seorang Dokter.


"Maaf, saya menganggu tidur anda. Kenalkan saya Lia, Dokter baru keluarga Hadi Wijaya." Wanita berumur tiga puluh tahunan itu tersenyum ramah.


"Maaf, Dok. Saya kaget barusan." Nyengir malu. Tatapannya beralih pada pria yang tengah berdiri di sebelahnya. Yusuf cuma nyengir ketika Andini menatapnya lekat, seolah meminta penjelasan. Bukankah sudah ku bilang, tidak usah memanggil Dokter ? Aku tidak sakit !


"Sayang, aku sangat cemas. Jadi aku memanggil Dokter Lia kemari." Jelas Yusuf seakan mengerti isi pikiran istrinya.


Dokter itu tersenyum pada keduanya. "Sepertinya tidak ada yang harus dikhawatirkan. Kondisi nona baik-baik saja."


Sudah ku bilang jika aku tidak sakit ! Gumam Andini dalam hati.


"Lalu kenapa dia muntah-muntah tadi ?" Yusuf masih belum puas dengan penjelasan Dokter.


Lia masih tersenyum manis, "Itu adalah suatu kondisi yang wajar saat seorang perempuan sedang hamil muda."


Yusuf berbinar, "Benarkah istriku hamil ?" duduk di sebelah Andini sambil memegang tangannya.


Sementara Dini belum berkata apapun. Wajahnya seperti orang linglung.

__ADS_1


"Saya adalah Dokter, saya yakin istri anda memang sedang mengandung dan kemungkinan usia kehamilannya baru enam minggu." Setelah memberi beberapa vitamin dan obat penambah darah, Dokter Lia pun pamit.


Yusuf memeluk Andini yang masih saja membuntang. "Kamu hamil, sayang. Aku tidak menyangka jika kita akan diberi keturunan secepat ini." Pria itu pun melepas pelukannya karena istrinya belum merespon. "Kenapa diam saja, apa kamu masih ragu ?"


Di kepala Andini bertumpuk berbagai pikiran yang membuatnya gusar. Bukan masalah hamil, tapi pertanyaannya adalah siapa ayah dari anak yang dikandungnya ? Yusuf atau....Alex, si pria bejad yang sudah melecehkannya ? Kenapa usia kandungannya bertepatan dengan peristiwa itu terjadi ? Jika benar itu anak Alex, lantas apa yang harus dia perbuat ? Apakah suaminya masih mau menerima, atau akan meninggalkannya ? Jangankan Yusuf, dia sendiri bahkan tidak menginginkan seorang anak dari pria pemer***a itu !


"Sayang, kenapa ? Katakan padaku !" menatap lekat.


"Aku takut, bagaimana jika.....a...anak ini ternyata bukan anakmu ?" menunduk.


Yusuf menautkan kedua alisnya, "Maksudmu ?" Awalnya dia tak mengerti arah pembicaraan istrinya, tapi lama-lama ingatannya kembali pada peristiwa kelam sebulan setengah yang lalu. Ya, kenapa waktunya sangat tepat dengan kehamilan Andini ?


"Aku takut jika anak ini adalah anaknya lelaki bejad itu !" suaranya mencicit sangat rendah.


Yusuf menghembuskan nafas yang berat. Dadanya seolah tertimpa tumpukan besi, sesak membayangkan jika perkataan Andini benar-benar terjadi. Masih dengan tatapan yang dalam, dia kembali bicara. "Aku harap anak yang ada dalam perutmu ini adalah anakku. Nanti kita akan melakukan test DNA jika waktunya sudah tepat. Lebih baik kamu istirahat saja." Membaringkan tubuh Andini dan menyelimutinya. Setelah itu dia pamit ke ruang kerja.


***


Yusuf duduk termenung dengan bersandar di kursinya. Tangannya memainkan pulpen yang diketukkan pada meja. Sosoknya memang ada di ruangan itu, tapi pikirannya melayang-layang. Tidak bisa dia pungkiri jika saat ini hatinya pun bimbang. Perkataan Andini sangat mempengaruhinya. Rasa bahagia yang muncul di awal, semuanya buyar ketika memikirkan kemungkinan terburuk itu.


Dia sudah mengubur kisah pahit yang menimpa istrinya, tapi tanpa terduga hal itu malah muncul lagi ke permukaan. Sebagai manusia biasa, jelas dirinya sangat terusik. Bagaimana jika benar anak itu adalah anak Alex ? Apakah dia akan sanggup menyaksikan Andini membesarkan anak itu ?


Sudut matanya mengeluarkan butiran bening. Dia tidak marah atau kecewa pada Andini karena ini bukanlah keinginan apalagi kesalahan istrinya itu. Hanya saja, kenapa nasib seolah ingin bermain-main dengannya ? Menguji cinta dan kesabarannya.


Yusuf kini memutar kursinya ke kanan dan ke kiri dengan pelan. Sama seperti pikirannya yang kini berubah-ubah. Tapi bagaimana jika anak itu benar-benar anakku ? Yusuf, sepertinya kau harus banyak bersabar mulai saat ini !


Perlahan dia beranjak dari duduknya sambil menatap jam dinding. "Astaga, aku terlalu lama berada di sini. Sudah jam sepuluh malam. Andini, apa dia sudah makan ?"


Saking galaunya, dia bahkan melupakan istrinya. Jangankan mengingat Andini, dia bahkan tidak memperhatikan dirinya sendiri. Saat Oma memanggilnya untuk makan malam, pria itu selalu menolak.


Yusuf bergegas naik ke lantai atas dengan membawa berbagai macam makanan. Masuk ke dalam kamarnya lalu meletakkan makanan itu di atas meja. Dia duduk di tepi sofa yang Andini tiduri.


Maaf ! Dia mengusap rambut istrinya. Sangat merasa bersalah karena sempat meninggalkan Andini seorang diri di dalam kamar.


Andini sebenarnya belum tidur. Dia hanya ingin menghindari untuk berbicara dengan suaminya. Saat ini perasaanya tambah kacau. Kegusaran atas kehamilannya ditambah lagi sikap Yusuf yang terkesan mengacuhkannya, kian membuat dadanya sesak. Apakah sikap suaminya itu adalah pertanda jika dirinya akan terbuang ?


Saat Yusuf berniat memindahkan Andini ke tempat tidur, matanya menangkap wajah wanita itu yang sembab. Sepertinya Dini baru saja menangis. Air mata itu mengalir tepat ketika Yusuf menatapnya.


"Kamu belum tidur ? Sayang, apa aku yang sudah membuatmu menangis ?" mengusap bulir bening di wajah istrinya.


Wanita itu belum mau bicara, tapi dilihat dari tetesan air yang terus jatuh dari matanya, menandakan jika dia memang sangat terluka. Dadanya kembang kempis menahan sesak yang ada di dalam.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu." Mengecup tangan Andini. "Kamu pasti belum makan. Aku juga belum, kita makan sama-sama !"


Andini menggeleng. Setidaknya dia merespon meski belum mau bicara. Tapi sayangnya, perutnya segera menjawab dengan jujur. Terus berbunyi menandakan jika dirinya sedang lapar. Yusuf membangunkannya. Kini Andini sudah membuka mata, meski pandangannya tertunduk.


"Aku suapi, ya ?!" mengambil piring dari atas meja.


Andini masih bungkam dan tak mau membuka mulut. Yusuf terus menyodorkan makanan itu, "Sayang, makan dulu ! Aku tahu kamu lapar. Jika kamu tidak makan, maka aku pun tidak akan makan." Akhirnya mulut yang tertutup itu perlahan terbuka dan menerima makanan yang masuk. Tapi selama mengunyah, air mata itu belum mau pergi. Rasa sakit dan kegusarannya masih bertengger di benaknya. Hingga dirinya makin merasa sesak, mulut itu kembali tertutup seolah terkunci.


Yusuf menyimpan piring itu di atas meja, meskipun masih tersisa makanan. Dia menggenggam erat tangan Andini sambil menatapnya lekat. "Tolong, bicaralah ! Jangan mendiamkan aku seperti ini !"


Andini malah makin tersedu. Dia duduk miring membelakangi suaminya. Yusuf menyentuh pundaknya, "Maaf, maafkan aku !"


"Aku tahu jika kamu merasa terusik akan kehamilanku ini. Kamu pantas mengacuhkan aku, tidak peduli lagi padaku. Katakan, apa yang harus aku lakukan ?! Jika anak ini ternyata milik pria itu, apa kamu akan meninggalkan aku ? Atau jangan-jangan kamu berniat untuk melenyapkan anak yang ada dalam rahimku ?" Suaranya agak tersendat.

__ADS_1


"Sayang, tidak seperti itu. Aku memang merasa risih dan takut. Tapi aku tidak sekejam itu sampai menyuruhmu mengugurkan kandungan. Dan, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Hanya saja, jika anak ini adalah milik pria brengsek itu, aku bingung harus bersikap seperti apa ? Apa aku bisa menerimanya atau tidak ?"


Andini beranjak dari duduknya, pindah ke atas tempat tidur. Duduk menangisi nasibnya. Pikirannya dipenuhi hal-hal buruk. Kenapa dia harus bertemu dengan pria bernama Alex ? Kenapa juga dia harus hamil saat ini ? Bagaimana jika anak ini benar-benar anaknya Alex ?


"Aku tidak mau mengandung anak pria itu ! Tidak mau !" menangis histeris sambil memukul-mukul perutnya.


Yusuf segera memeluknya erat dan mengusap kepalanya. "Andini, jangan berbuat begini ! Bagaimana jika anak ini adalah anakku ?"


"Aku tidak tahu !" masih tersedu.


"Bagaimana pun juga, kita tetap harus menjaga anak ini. Dia tidak bersalah." Tapi aku sendiri belum tahu, apa yang akan aku lakukan jika ternyata anak ini benar-benar bukan milikku ?


Andini terdiam. Mungkin suaminya itu benar. Siapapun ayah dari anaknya, dia tetap tidak boleh menyia-nyiakannya. Untuk urusan ke depan, dia pasrah saja.


***


Pagi ini di ruang makan. Yusuf untuk pertama kalinya, tidak menyuapi Andini. Pria itu kebanyakan bengong dan tidak fokus. Andini pun begitu, banyak tertunduk dengan wajah muram. Anggota keluarga lain tak ada yang berani bertanya meskipun mereka penasaran. Biarkan itu menjadi rahasia rumah tangga Yusuf dan istrinya.


"Aku sudah selesai." Yusuf beranjak dari duduknya.


"Tapi, makananmu masih banyak." Ucap Oma.


"Aku sudah kenyang. Semuanya, aku berangkat. Andini, aku berangkat sekarang !" Perkataan itu benar-benar terdengar hambar dan sekedar basa-basi saja. Andini hanya mengangguk tanpa berkata apalagi menatap.


Yusuf segera pergi. Di depan sudah ada sang asisten yang menunggu.


Usai sarapan, Andini masuk lagi ke kamarnya. Berbaring di sofa sambil menangis. Kenapa suaminya bersikap acuh lagi ? Bukankah semalam pria itu berkata akan selalu menerima dirinya ? Tapi mungkin kehadiran anak ini, sedikit banyak akan mempengaruhi suasana hati Yusuf. Harusnya Andini sadar, jika dia tidak boleh terlalu mengharapkan cinta suaminya seperti kemarin-kemarin.


***


Jam tujuh malam, Yusuf baru pulang dari kantor. Sebenarnya bisa saja dia pulang lebih awal, tapi entah mengapa dia ingin menghindari bertemu istrinya. Dia sendiri tak terlalu paham, kenapa suasana hatinya berubah ?


Saat ini dia merasa risih. Saat menatap wajah Andini, selalu saja teringat akan calon anak yang belum jelas ayahnya itu. Tapi tidak ada rasa marah ataupun benci pada wanita itu. Dia hanya ingin sedikit menghindar saja.


Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian, pria itu menghampiri istrinya. Memeluk dan mengecup kepala Andini, "Selamat malam, sayang." Berjalan ke arah lemari untuk mengambil selimut.


Andini lagi-lagi meneteskan air mata ketika Yusuf melangkahkan kaki menjauh darinya. Suaminya itu lebih memilih tidur di atas sofa. Apakah Yusuf sudah mulai jijik padanya ? Benar, seberapa besar pun perasaan pria itu padanya, tetap saja Yusuf tidak akan mungkin menerima anak ini dengan mudah.


Andini tidak sabar untuk segera melakukan test DNA. Dia berharap anak dalam perutnya adalah anak Yusuf. Tapi bagaimana jika bukan ? Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Beberapa hari berlalu. Keadaan masih tetap sama. Yusuf tidak terlalu banyak bicara pada Andini. Hampir setiap malam tidur di sofa. Hatinya masih belum stabil. Pikirannya pun masih kalut.


Dan setiap Andini bangun tidur, muntah-muntah di kamar mandi, Yusuf selalu keluar dari kamarnya. Tak mau mendengar suara itu, suara muntah khas wanita hamil yang mengingatkannya pada bayi itu.


Andini menangis setelah keluar dari kamar mandi. Yusuf benar-benar tak peduli lagi padanya. Apakah ini pertanda jika dia harus siap-siap untuk ditinggalkan ?


Meski tubuhnya terasa lemas, wanita itu memaksakan diri untuk pergi ke sekolah. Setidaknya pikirannya akan teralihkan.


"Aku berangkat." Ucap Andini pada suaminya yang duduk di ruang kerja.


"Andini, maaf. Aku tidak bisa mengantarmu. Ada beberapa dokumen yang harus aku periksa."


"Tidak apa-apa, aku mengerti." Tersenyum kelu dan matanya berkaca-kaca. Aku sangat paham jika kamu tidak mau lagi memperhatikan aku !


Andini menyeret kakinya yang terasa berat. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat suaminya berucap lagi.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan. Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting. Jaga bayimu dengan baik, bagaimanapun juga dia tidak berdosa !" menatap lekat istrinya sekilas lalu kembali fokus pada dokumen yang dia pegang.


Andini menatap pria itu dalam-dalam. Kenapa Yusuf mengatakannya ? Bukankah salah satu penyebab Andini banyak pikiran, adalah karena sikap acuhnya ? Kadang dia tidak mengerti apa maksud suaminya.


__ADS_2