
Setahun berlalu.
Rasa sakit perlahan memudar dalam hati. Namun lukanya sampai kapan pun tidak akan pernah sirna. Duka berganti tawa walau kadang kenangan pahit itu menyapa.
Kini Andini menjalani hidupnya seperti biasa. Kembali ceria dan bahagia bersama Yusuf dan keluarganya. Seminggu sekali dia selalu berkunjung ke makam ayah ibunya. Sekedar untuk melepas rindu dan juga berkirim doa.
***
Saat ini Andini berada di kelasnya. Dia sibuk bertanya pada Meta, tentang pelajaran sejarah yang baru saja selesai. Tapi suasana kali ini begitu riuh dengan suara teman-teman Andini yang bergosip. Itu sedikit mengganggu konsentrasinya.
"Kenapa mereka berisik sekali ?" Andini kesal.
"Mereka sedang membicarakan tentang guru matematika kita yang baru. Katanya guru itu masih muda dan jauh lebih tampan daripada Pak Nino." Meta berseru.
"Mereka tahu darimana ? Bagaimana jika ternyata guru itu adalah pria yang sudah tua ?" Andini terkekeh.
Meta mengedikkan bahunya, tak peduli.
Mereka lebih riuh saat guru yang dibicarakan itu berjalan hendak masuk ruangan.
"Aduhhh beneran bening, kalau begini aku pasti semangat !" ucap salah seorang wanita.
"Ahhh, gantengnya....!!"
"I love you...!"
Ketika sang guru baru mengetuk pintu, semua orang pun diam. Dengan mantap, kakinya melangkah. Semua pasang mata menatapnya kagum. Bahkan ada yang sampai menganga karena takjub akan pesona pria itu.
Hanya Andini dan Meta yang tak memperhatikan. Keduanya masih sibuk membahas pelajaran sejarah.
"Selamat siang, semua !" ucap sang guru.
"Siang.....!" menjawab penuh semangat.
Andini dan Meta menatap guru itu bersamaan. Sungguh di luar dugaan, guru itu ternyata bukan orang asing. Pantas saja suaranya sangat familiar, ternyata guru matematika baru mereka adalah.....
"Perkenalkan, nama saya adalah Yusuf Hadi Wijaya. Panggil saja Pak Yusuf. Mulai saat ini, saya yang akan mengajar matematika."
"Baik, Pak Yusuf !" seru siswa cengengesan.
Andini dan Meta masih membelalak. Apakah ini mimpi ? Bagaimana bisa Yusuf mendadak jadi guru mereka ?
"Meta, tolong cubit tanganku ! Ini mimpi atau nyata ?" Andini mengulurkan tangannya ke belakang.
"Aku juga, cubit tanganku dengan keras biar aku tahu apakah ini mimpi atau bukan !" melakukan hal yang sama.
Andini dan Meta saling cubit. Keduanya pun sama-sama meringis kesakitan.
"Aaaaaaaaa, sakit !" ucap Meta.
"Ini bukan mimpi, Met !" mengusap-usap lengannya yang sakit.
Yusuf menghampiri keduanya. "Ada apa ribut-ribut ? Kalian tidak suka jika saya berada di kelas ini ?"
Andini dan Meta menggeleng. "Maaf pak."
Yusuf berjalan lalu duduk di kursinya yang berhadapan dengan Andini. "Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini." Ekspresinya judes sekali. Menatap tajam pada wanita yang menatapnya penuh tanya.
Andini menggerakkan alisnya, mulutnya komat-kamit tak jelas. "Apa yang kamu lakukan di sini ?"
Yusuf mesem-mesem. Dia tahu betul apa yang ada di pikiran istrinya. Dia memang sengaja mencari cara agar menjadi salah satu pengajar di sekolah itu. Alasannya adalah agar dapat lebih banyak memandang wajah Andini. Sungguh aneh bukan, padahal dia dapat melakukannya saat berada di dalam rumah.
Yusuf berdiri dan memulai pelajarannya. Pria itu beribu kali lipat lebih tampan saat mengajar. Pembawaannya begitu tegas dan fokus. Namun, entah karena gugup atau apa, Andini tak dapat begitu mencerna apa yang dijelaskan suaminya.
Yusuf kembali duduk. "Kamu, tolong kerjakan soal yang ada di papan tulis !" tatapannya tertuju pada siswi di depannya.
Andini gelagapan, "Sa...saya ?"
Yusuf mengangguk judes.
Perlahan Dini melangkah ke depan. Gawattt ! Aku sama sekali belum paham bagaimana cara menyelesaikan soal itu.
Dengan tangan gemetaran, dia menuliskan jawabannya. Entahlah, dia menulis apapun yang ada di kepalanya. Meski tidak bisa menjawab, jangan sampai dia terdiam dan bengong. Itu akan lebih memalukan !
Pelajaran ini memang yang paling sulit ! Apalagi jika gurunya suamiku ! Aku makin tidak bisa berpikir !
Yusuf berdiri di sebelah Andini dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Sebenarnya dia ingin tertawa, tapi itu akan membuat istrinya malu. Ngaco sekali jawabannya ! Jika saja ini adalah di rumah, maka aku akan menghukumnya saat ini juga !
Tumbuh berbagai ide gila nan kotor dan licik pada otak miringnya.
Andini berdebar, jantungnya sepertinya akan copot. Pasti salah ! Jawabanku sama sekali tidak berbobot !
"Silahkan kembali ke tempat dudukmu !" Perintah Yusuf. Andini mengangguk malu dan segera duduk.
"Siapa yang bisa menyelesaikan soal di papan tulis ?" Yusuf berbicara sambil menghapus bekas tulisan Andini yang tidak tepat.
Seorang siswi mengacungkan tangannya, "Saya, pak."
"Siapa namamu ?"
"Pretty."
"Baiklah, Pretty silahkan maju !" tersenyum.
Andini merasa terusik dengan keramahan Yusuf pada salah satu teman sekelasnya. Kenapa sikapnya jauh lebih ramah pada Pretty ?
Yusuf memperhatikan jawaban itu. "Bagus, jawabanmu tepat. Selain punya nama yang bagus, otakmu juga cerdas. Silahkan kembali ke tempat dudukmu, Pretty !" lagi-lagi tersenyum manis.
Pretty membungkuk hormat sebelum kembali duduk. Dia adalah tipe perempuan yang cuek dan tidak kecentilan. Sama sekali tidak tertarik pada pria lain selain tunangannya. Meski begitu, Andini tetap saja cemburu. Akhirnya ketakutan sendiri jika suaminya akan kecantol wanita lain.
__ADS_1
Waktu terus berdetak. Kini saatnya pulang. Beberapa siswi berkerumun di meja Yusuf.
"Pak, bisa minta nomer HP bapak ? Mungkin saya akan membutuhkannya jika ada yang ingin saya tanyakan."
"Saya juga, pak. Biar nanti lebih mudah untuk berkomunikasi dan tanya-tanya."
"Bapak sudah menikah, belum ?" bahkan ada yang nekat bertanya hal yang pribadi.
Sebenarnya Yusuf malas meladeni mereka semua. Tapi jika untuk menggoda istrinya, mungkin patut dicoba.
"Kalian mau nomor saya ?" Yusuf menatap mereka bergantian.
"Mau, pak." Menjawab serentak.
Andini monyong lima senti saking geramnya. Lihatlah suaminya begitu menikmati saat dikerubungi para wanita !
Dasar laki-laki !
Andini beranjak dari duduknya dengan kesal. "Meta, ayo kita pulang !"
"I...iya. Tunggu sebentar !" Meta pontang-panting menyusul langkah kaki Andini yang begitu cepat.
Usai Andini pergi, Yusuf membubarkan massa yang mengerubunginya. Dia buru-buru menyusul istrinya itu.
***
Dittt ditttt !!! Suara klakson mobil. Andini dan Meta yang ada di depan gerbang pun menoleh.
"Sayang, cepat naik !" ajak Yusuf.
Andini membuang muka. Masih kesal dia ceritanya.
"Sayang, aku mau mampir di restoran seafood. Yakin tidak mau naik ?!"
Mendengar kata restoran seafood, perut Andini langsung berdendang. Dia memang sangat lapar sebenarnya. Tapi bukankah dia harus terus ngambek untuk menunjukkan kekesalannya ? Tidak ! Cacing-cacing di perutnya jauh lebih keras menyiksa.
"Meta, sekalian saja ikut !" pinta Andini.
"Tidak usah, sebentar lagi suamiku menjemput. Kami mau mengajak anak-anak bermain." Nyengir.
"Emmm, kalau begitu aku duluan. Sampai jumpa besok !" Andini melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil.
Yusuf tersenyum puas, triknya berhasil. "Ngambeknya sudah selesai ?"
Andini mendelik, "Siapa yang ngambek ?"
"Entahlah..."
Mobil melaju meninggalkan tempat itu.
"Mas, kenapa kamu tiba-tiba menjadi guru di sekolahku ?" bertanya dengan nada kesal.
"Maksudmu, Pretty ?" entah kenapa nama itu yang ada di otaknya.
Yusuf tergelak, "Kenapa berpikir begitu ? Aku ingin melihat wajah istriku, kamu ini....cemburu ya ?!"
"Mas, aku tidak mau kamu menjadi guruku. Aku tidak bisa fokus belajar, tahu ?!" mengalihkan perhatian.
"Tenang saja, aku hanya dapat jatah dua pertemuan di kelasmu."
"Syukurlah...." dia tidak tahu kenapa suaminya bisa mengajar di kelasnya. Yang penting keadaan itu hanya berlangsung sebentar saja, sampai Sabtu depan.
***
Yusuf dan Andini duduk berhadapan di sebuah restoran. Makanan yang mereka pesan pun sudah memenuhi isi meja. Seperti biasa, Andini makan dengan lahapnya. Tapi ada yang sedikit berbeda dari suaminya. Untuk pertama kalinya, Yusuf melahap makanan yang super pedas. Anehnya lagi, dia sama sekali tidak merasa kepedasan. Malah terlihat begitu menikmati.
Andini menatapnya heran sambil mengunyah. "Tumben, kamu kuat makan yang pedas."
"Yang ini tidak sepedas rujak yang waktu dulu kamu beli. Coba saja !"
"Ah, masa ?" mengicip-icip makanan di piring Yusuf. "Ahhhh, ini sangat pedas !" menenggak air.
Yusuf anteng saja malahap lobster extra pedasnya itu. Raut wajahnya sangat tenang, seperti sedang minum teh hangat.
Andini geleng-geleng kepala melihat keanehan suaminya. Sejak kapan Yusuf doyan makanan pedas ? Apa diam-diam dia suka memakannya, hingga kini sudah terlatih ? Ahhh, untuk apa Andini memikirkannya ? Yang penting suaminya itu happy, ya sudah !
***
Malam hari Yusuf meminta istrinya membuatkan rujak kedondong muda yang pedas. Keanehan apalagi ini sebenarnya ? Meski heran tapi Andini menuruti saja permintaannya. Tapi karena tidak ada buah asam itu, maka kedondong diganti dengan buah nanas yang matang.
Yusuf memakan rujak itu sambil berdiri. Wajahnya tidak menunjukkan jika makanan itu pedas ataupun asam. Tetap kalem dan tenang.
"Bagaimana rasanya ? apa jangan-jangan terlalu pedas." Tanya Andini.
"Kurang pedas malah....tapi lumayanlah segerrr !"
Andini penasaran, dia mencoba memakannya. Dia bergidik keasaman lalu bergegas mengambil air dan meminumnya. Aneh sekali, rujak ini kelewat pedas malah dia bilang kurang !
"Mas, jangan terlalu banyak makan yang pedas. Aku takut kamu sakit perut nanti !"
"Tidak akan !!" Ucap Yusuf tanpa keraguan.
Dan ternyata memang benar, setelah beberapa hari pun tak pernah dia mengeluh sakit perut ataupun mulas.
***
Sabtu siang setelah pelajaran Pak Yusuf selesai. Siswi-siswi kembali mengerubungi meja guru kilat itu.
"Pak, katanya mau kasih nomor ?"
__ADS_1
"Ya, minta nomor bapak dong !"
"Bapak, kita kan ingin lebih mengenal bapak."
Yusuf tersenyum, "Saya kan sudah bilang, jika ini adalah pertemuan terakhir kita. Saya bukan lagi guru kalian. Jadi tidak perlu menyimpan nomor saya."
"Ya....bapak. Bagaimana jika kami ingin bertemu dengan bapak ?"
"Maaf, saya harus pulang sekarang. Kasihan istri saya menunggu lama." Beranjak dari duduknya dan menghampiri Andini. "Sayang, ayo kita pulang !" tersenyum manis sambil mengulurkan tangan.
Andini berdiri dan menyambut uluran tangan itu. Sebelum pergi dia menoleh ke belakang. Meta tersenyum, "Duluan saja !"
Andini tersenyum puas ke arah wanita-wanita yang melongo itu. Bangga sekali jika dialah sebenarnya pemilik pria tampan idola mereka.
Para wanita itu berhamburan mengintrogasi Meta.
"Apa benar Pak Yusuf adalah suami Andini ?"
"Kenapa aku tidak pernah melihat dia mengantar atau menjemput Andini ?"
"Mereka memang suami-istri. Dan tuan Yusuf selalu mengantar ataupun menjemput istrinya kemari, mungkin kalian saja yang tidak memperhatikan." Jelas Meta.
"Tuan ? Kenapa kamu memanggilnya tuan ?" tanya salah satu wanita.
Meta tersenyum, "Karena tuan Yusuf adalah atasan saya. Saya bekerja di perusahaannya setiap hari Senin sampai Jumat." Apa yang diucapkannya memang benar. Sudah beberapa bulan ini Meta bekerja di perusahaan Angkasa Group sebagai salah satu pihak keamanan.
"Selain itu, yang harus kalian tahu adalah...tuan Yusuf sebenarnya pemilik yayasan ini." Dan lagi-lagi itu adalah fakta. Yusuf adalah pendiri dari yayasan pendidikan tempat Andini menimba ilmu.
Mulut para ladies semakin menganga. Begitu banyak fakta mengejutkan tentang pria tampan itu. Mulai saat ini mereka harus menjaga sikap.
***
Andini tertawa puas dalam mobil. Dia ingat jelas bagaimana konyolnya wajah-wajah wanita itu. Suruh siapa kecentilan dengan suamiku ?
Yusuf tersenyum melihat istrinya segirang itu. "Bahagia sekali....memang ada apa ?" pura-pura tidak tahu.
Andini menggeleng. "Tidak ada, aku hanya merasa senang karena tadi adalah hari terakhir perempuan-perempuan itu menatapmu."
"Kamu salah, aku bisa saja muncul di hadapan mereka kapanpun aku mau."
"Kenapa begitu ?" mulai kesal.
"Karena sebenarnya aku adalah pendiri yayasan pendidikan itu."
"Hah, yang benar ?" setengah berteriak.
Yusuf mengangguk.
"Pantas saja kamu tiba-tiba menjadi salah satu guru di sana."
Pria itu nyengir kuda.
"Mas, antar aku ke apotek dulu." Pinta Andini.
"Kamu mau beli obat ? Untuk siapa, apa kamu sakit ?" mulai panik.
"Tidak, mas. Ada yang mau ku beli."
"Tapi kamu baik-baik saja kan ?!"
"Aku tidak kenapa-kenapa. Jangan cemas !"
"Ok, kita ke sana."
Selang beberapa menit, mereka sudah sampai di apotek. Andini turun sendirian dan segera masuk ke sana.
"Mbak, saya mau test pact." Celingukan dan berbicara pelan. Entah kenapa dia merasa malu jika ada yang mendengar.
Sang pelayan apotek pun mengambil alat tersebut. "Ini kak."
Andini segera menyabet test pact itu dan pergi setelah membayarnya. Alat kecil tersebut disimpan di dalam tas.
***
Pagi hari.
Andini mencoba memakai alat test kehamilan yang dibelinya di apotek. Dengan jantung berdebaran dan tangan gemetaran, dia memegang alat tersebut. Memperhatikannya dengan seksama, nyaris tak berkedip.
"Cuma satu garis...." kecewa. Dia sebenarnya berharap jika saat ini Tuhan kembali mempercayainya seorang keturunan. Sejurus kemudian matanya terbelalak saat garis merah itu bertambah menjadi dua, meskipun yang satunya agak samar.
Andini segera keluar dari kamar mandi. Menghampiri suaminya yang sedang berganti pakaian.
"Mas, aku punya kejutan !" sangat antusias.
"Apa sayang ?" memakai baju.
"Lihatlah, mas !" menyodorkan test pact.
Yusuf mengambil dan memperhatikan. "Apa artinya ini ?"
"Aku hamil."
"Kamu hamil ? Syukurlah....aku sangat bahagia." Memeluk erat tubuh Andini.
"Ya, mas. Akhirnya Tuhan memberi lagi kita kepercayaan untuk membesarkan seorang anak."
Yusuf membelai dan mengecup puncak kepala istrinya. "Aku harus menjaganya dengan sangat baik. Aku tidak mau mengulangi kesalahan apapun lagi ! Aku akan melindungi kamu dan bayi kita !"
"Kita akan menjaganya, mas."
__ADS_1
Akhirnya mereka kembali diberi kesempatan untuk mengurus seorang anak. Semoga saja untuk kali ini, kehamilan Andini baik-baik saja !