
Pagi ini wajah Riki semakin berseri. Sebaliknya Suci, sudah beberapa hari ini mukanya kusut tak bersemangat. Terlalu keletihan menghadapi sikap rakus suaminya.
Saat sarapan, Suci hanya makan beberapa suap saja. Meski sudah dibujuk dan dipaksa oleh Riki, namun tetap menolak. Nafsu makannya hilang.
Dalam perjalanan menuju kantor, Suci tertidur pulas.
Kasihan sekali Suci. Dia pasti sangat lelah menghadapi ku siang dan malam. Aku jadi merasa bersalah.
Saat sampai di tujuan,setelah memarkirkan mobilnya, Riki membelai wajah tenang yang masih terlelap itu. Menunggu selama setengah jam lamanya sampai akhirnya Suci bangun.
"Aku ketiduran ya ?" mengucek mata.
"Kamu istirahat saja, tidak usah bekerja. Aku antar lagi ke rumah ya ?!" Riki membelai wajah Suci.
"Tidak mas, aku tidak apa-apa. Cuma masih ngantuk sedikit." Senyum kecil muncul.
"Kalau tidak enak badan jangan memaksakan diri. Bicara saja padaku." Beralih membelai kepala.
Suci mengangguk sambil tersenyum. Riki turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Suci.Mata Riki menyisir ke semua penjuru arah.
"Tidak ada yang melihat kita kan ?!" Suci memastikan.
"Aman."
Akhirnya Suci pun turun dan jalan duluan masuk ke gedung. Riki mengekor dengan jarak cukup jauh.
Di ruang CEO.
Riki sudah duduk menatap layar laptop. Mengutak-atik dengan serius.
Ceklek ! pintu sudah terbuka. Suci datang membawakan secangkir kopi susu.
"Sayanggg, tidak usah repot membuatkan ku kopi." Riki menghampiri dan mengambil alih nampan lalu menyimpannya di atas meja.
"Ini kan tugas sebagai OB dan juga sebagai istrimu." Berbicara pelan.
"Aku tidak mau menambah bebanmu." Riki mendorong tubuh Suci agar duduk di sofa bersamanya.
"Sini aku pijat !" Riki menggerakkan tangannya di kepala Suci.
"Tidak usah mas, nanti ada yang masuk."
"Akan ku cegah siapapun yang mengganggu."
Setelah beberapa menit.
"Balikkan badan, biar ku pijat juga bahu dan punggung mu."
Suci menurut saja. Dia terlihat relax, begitu menikmati setiap gerakan tangan suaminya.
Enak juga, tidak disangka ternyata dia pandai memijat.
"Boleh saya masuk pak ?" Lena mengetuk pintu dan meminta ijin.
"Tidak boleh ! silahkan keluar !" suaranya cukup menakutkan.
Gawat ! masih pagi begini pak Riki sudah ngambek.
"Baik pak." Lena kembali ke tempatnya.
Perasaan di dalam ada OB itu, tapi dia masih bertahan di sana. Tidak disuruh keluar ruangan. Apa jangan-jangan...ohhhh aku tahu ! mungkin wanita itu sudah membuat kesalahan. Jadi sedang dihukum. Pantas saja suara pak Riki terdengar menyeramkan.
Situasi sebenarnya tidak seperti yang kau pikirkan, nona sekertaris. Suci bukan sedang mendapat hukuman, justru dia sedang asik mendapat pelayanan terbaik dari suaminya.
"Sudah mas cukup. Kamu nanti pegal."
"Tidak apa-apa." Masih setia memijit.
"Sudah mas, aku sudah enakan. Sudah lebih bersemangat." Suci membalikan badan menghadap Riki. Senyum manis menghiasai bibirnya.
"Istirahat saja di kamar." Sudut mata Riki menunjuk ke arah ruangan yang dipakai bergulat oleh mereka kemarin.
Ahhh tidak ! bukannya istirahat, nanti malah aku diganggu lagi. Bagiku itu adalah ruangan terima kasih. Saat aku mengucapkan terima kasih kemarin, aku harus membayarnya dengan masuk ke sana.
Suci bergidik dan geleng-geleng kepala.
"Apa yang kamu pikirkan ? aku tidak mau kamu sakit, jadi tidur saja sekarang di kamar itu."
"Tidak ! nanti orang-orang di bawah mencariku." Nyengir kuda.
__ADS_1
Riki mengusap lembut kepala Suci dan mengecup keningnya.
"Saya permisi pak, masih banyak pekerjaan." Suci mengecup kedua pipi Riki dan langsung kabur secepat kilat.
Kenapa istriku itu ? dia manis sekali !
Suci mengusap dadanya.
Untung saja bisa selamat kali ini. Jika tidak, maka aku bisa saja masuk lagi ke ruangan terima kasih.
"Kenapa kamu ? seperti orang yang sudah terbebas dari hukuman saja ?" Lena menghampiri Suci yang masih berdiri di depan pintu.
Suci tidak menjawab.
"Pak Riki membebaskan mu ya ? beruntung juga kau !"
"Ya....permisi." Suci tersenyum dan segera berlalu.
***
Saat makan siang. Riki kembali menghabiskan waktu bersama rekan bisnisnya. Dan Suci sudah berkumpul di kantin. Semuanya hadir kecuali Arif, dia tidak masuk kerja karena sakit.
"Boleh saya bergabung ? semua kursi sudah penuh." Nizar muncul.
"Boleh mas, silahkan." Barbi bersemangat menjawab.
Nizar duduk di sebelah Barbi.
"Apa kabar Suci ?"
"Baik."
"Apa kabar suamimu ?" pertanyaan yang membuat Suci tersedak di suapan pertamanya. Segera ditenggaknya minuman yang ada di hadapannya.
Barbi dan Irfan ikut melongo.
Kenapa mereka terlihat syok begitu ? apa aku salah bicara ?
"Kapan mbak Suci menikah ?" tanya Irfan.
"Mbak Suci memang punya suami ? kenapa tidak bilang-bilang ? siapa memang suami mbak ?" Barbi bertanya tanpa jeda.
"Mas Nizar hanya bercanda saja. Ya kan mas ?!' Suci nyengir menutupi kepanikan.
"Ya...hanya bercanda tadi hehe." Nizar seolah mengerti bahwa dia harus berakting.
Untung saja mas Nizar bisa mengerti. Maafkan aku karena sudah banyak berbohong pada kalian semua. Tapi aku benar-benar belum bisa mempublikasikan hubunganku dengan mas Riki saat ini.
Suci mengakhiri makannya meski masih tersisa banyak. Sudah tidak berselera.
"Aku duluan ya." Suci beranjak dari sana.
Baru beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba tumbang begitu saja tergeletak di lantai. Suasana kantin seketika itu menjadi riuh. Orang-orang berkerumun. Nizar secepat mungkin mengangkat tubuh Suci dan membawanya ke ruang kesehatan.
Aduh gawat, mas Nizar siap-siap saja menghadapi kemarahan Bos.
Itulah yang terbersit dalam pikiran Barbi dan Irfan.
Di ruang kesehatan, tempat khusus karyawan yang mendadak sakit dan mendapat pengobatan.
Suci sudah sadar. Dia duduk di atas ranjang. Barbi, Irfan dan Nizar berdiri mengelilinginya.
"Mbak kenapa memang ? Dokter bilang mbak harus banyak istirahat karena kecapean." Barbi khawatir.
"Suci ?" Riki muncul dan menghampiri.
Aku tidak enak hati ! apa mas Riki akan marah ya ?
Suci sudah diberi tahu bahwa yang membawanya ke ruang kesehatan adalah Nizar. Dia berharap kabar itu tidak sampai di telinga suaminya.
"Keluar kalian !" Riki mengusir ketiga orang yang sedari tadi menemani istrinya.
Tuh kan bos marah ! Barbi.
Pak Riki mulai lagi, sebenarnya ada apa ini ? Irfan.
Kenapa sikapnya berlebihan begitu ? dia menyuruhku menjauhi Suci karena sudah punya suami, tapi malah dia sendiri yang bersikap seolah-olah dia suami Suci. Jangan-jangan Pak Riki menyukai Suci ? kalau aku tahu siapa suaminya, maka pasti akan ku adukan kelakuan Pak Riki yang licik. Nizar.
Ketiganya berlalu dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Kamu kenapa tidak istirahat saja ?"
Suci hanya diam.
"Aku sangat khawatir. Tahu begini aku tidak akan mengijinkanmu bekerja lagi."
"Maaf mas. Jangan marah." Suci menunduk.
"Aku tidak marah, hanya takut terjadi sesuatu padamu. Dan ternyata benar, kamu pingsan di saat aku tidak ada. Aku merasa tidak berguna karena tidak bisa menjagamu." Riki mengusap lembut kepala Suci.
"Maaf mas. Ini semua bukan salahmu." Suci menatap lekat.
"Jangan minta maaf. Lain kali jangan terlalu memaksakan diri. Ayo kita ke Rumah Sakit !"
"Tidak usah mas barusan aku sudah diperiksa Dokter di sini."
"Aku tahu. Aku juga sudah bicara padanya. Tapi aku belum puas sebelum memastikan lagi."
Akhirnya Suci menurut untuk dibawa ke Rumah Sakit. Mereka pergi diam-diam, menghindari pandangan pegawai lain.
"Aku tidak mau lagi merahasiakan pernikahan kita. Aku ingin semua orang tahu bahwa kamu itu istriku." Riki bicara sambil mengemudi.
"Aku juga mas. Tapi sebelum itu, aku ingin mendapat dulu restu dan pengakuan dari orangtuamu. Jika orang lain lebih dulu mengetahui nya, maka pasti akan ada diantara mereka yang memberi tahu mama papamu. Kedua orangtua mu pasti akan sangat kecewa jika mengetahuinya dari orang lain."
"Kamu benar juga. Semoga saja kedua orang tua ku bisa cepat menemuimu. Aku mau segera meresmikan pernikahan kita."
***
"Bagaimana keadaan istri saya Dok ?" Riki sudah duduk berdampingan dengan Suci, menghadap Dokter Lisa.
"Istri anda harus banyak istirahat dan jangan terlalu kecapean. Tekanan darahnya sangat rendah. Apa akhir-akhir ini anda susah tidur atau sering begadang nyonya ?"
"Ya Dok, saya memang kurang tidur beberapa hari ini."
Dokter Lisa memperhatikan sepasang suami istri itu bergantian.
"Apa kalian pengantin baru ? seberapa sering kalian berhubungan intim ?"
Kenapa bertanya begitu Dokter ? aku sangat malu.
Suci menunduk.
"Kami memang baru menikah seminggu lebih. Tapi jangan menanyakan seberapa sering kami melakukannya, itu rahasia rumah tangga." Riki agak kesal menjawab.
Dokter Lisa tersenyum.
Pantas saja !
"Saya tidak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tapi saya sarankan agar kalian mengatur waktu untuk berhubungan intim, jangan sampai menyebabkan salah satu pihak menjadi tumbang. Karena saat melakukan hal tersebut tenaga kita akan terkuras. Jadi bersikap bijaklah !" Dokter bicara agak mesem.
Kenapa Dokter ini bisa menebak apa yang sudah terjadi padaku ? ahhh aku sangat malu !!!
Suci sudah sangat merah wajahnya.
Aku berarti sudah terlalu berlebihan. Mulai saat ini aku harus bisa mengontrol diri agar Suci tidak sakit lagi.
Riki jadi merasa semakin bersalah karena sudah menyerang Suci habis-habisan.
"Terima kasih banyak Dokter, kami permisi." Riki pamit.
Suci hanya menganggukkan kepalanya. Mereka pun meninggalkan Dokter Lisa yang masih mesem-mesem.
Aku sangat mengerti apa yang anda rasakan saat ini nyonya. Aku dulu juga pernah mengalaminya. Persis seperti anda.
Dokter Lisa memegang kedua pipinya yang merah merona.
***
Dalam perjalanan.
"Kita pulang sekarang."
"Memang mas tidak akan kembali ke kantor ?"
"Aku akan menjagamu di rumah. Kamu jauh lebih penting dari apapun." Menyetir sambil sebelah tangannya memegang tangan Suci. Sesekali menciuminya.
"Terima kasih, mas sudah sangat perhatian padaku."
"Karena aku sangat mencintaimu. Maaf ya, gara-gara aku tidak bisa mengontrol diri, kamu jadi sakit begini. Aku akan berusaha untuk mengaturnya agar kamu tidak tersiksa." Riki mencium tangan Suci.
__ADS_1
"Ya mas. Kamu tidak perlu merasa bersalah begitu." Suci gelagapan bicara karena malu.
"Aku sangat mencintaimu." Riki mengecup lagi tangan yang masih digenggamnya.