Seperti Sampah

Seperti Sampah
Saling menerima.


__ADS_3

Esoknya Riki bangun lebih pagi dari biasanya. Dia turun ke dapur berniat membuatkan sarapan untuk Suci.


"Mas Riki bangun lebih awal ya, terus mau apa ke dapur ? mau masak ?" Raisya bertanya dengan nada menggoda.


"Mas...cari kamu ternyata ada di sini. Kamu juga tumben masuk dapur." Riki menggaruk belakang kepalanya sambil nyengir.


Aku harus bangun lebih awal lagi biar tidak keduluan Suci.


"Aku mau bantuin mbak Suci bikin sarapan sekalian belajar." Raisya mencuci buah.


Suci hanya fokus dengan pekerjaannya meski sebenarnya telinganya bisa mendengar jelas percakapan adik kakak itu.


"Maaf tuan, nona Raisya dan nona Suci memaksa untuk memasak." Seorang pembantu yang khusus bertugas di dapur menghampiri.


"Tidak apa-apa yang penting kedua wanita ini happy." Riki tersenyum.


Riki, Suci dan Raisya kini sudah kembali duduk bersama untuk sarapan.


Mas Riki dari tadi terus menatap mbak Suci. Tapi mbak Suci nya malah menunduk saja. Mungkin dia malu hehe. Syarif juga gitu kalau aku sedang menatapnya. Ahhh aku jadi ingin cepat-cepat ke butik.


Raisya mempercepat makannya dan segera pamit. Setiap hari dia memang datang ke butik apalagi akhir pekan selalu ramai pembeli.


"Mas, aku sudah selesai. Aku...mau ke belakang dulu. Permisi." Suci beranjak dari duduknya dan berlalu.


Dia memanggilku mas ya tadi ? tidak salah dengar kan ?! sekarang panggilan itu terdengar romantis di telingaku. Padahal sebelum bekerja padaku dia memang memanggilku begitu.


Riki menyusul Suci ke belakang.


"Sedang apa ? biarkan pembantu yang melakukan pekerjaan rumah. Kamu ikut aku saja. Ada pekerjaan lain untukmu." Riki memegang tangan Suci sebentar kemudian melepasnya saat Suci menatapnya.


Suci mengekor Riki menuju kamarnya.


Mau apa dia membawaku ke kamarnya ?

__ADS_1


Suci sudah deg-degan tak karuan. Riki berbaring di tempat tidurnya.


"Mas, pekerjaan apa yang harus aku lakukan ?" bertanya dengan terbata.


"Tutup dulu pintunya ! jangan sampai ada yang melihat." Senyum menyeringai.


Suci menelan keras salivanya. Tapi dia menurut saja.


"Kemari ! duduk di sebelahku !" Riki duduk sembari menepuk-nepuk kasur.


Jangan bilang kalau kau mau....


Suci berjalan pelan namun pasti. Dia kini sudah duduk di sebelah Riki.


"Meski pernikahan kita tidak direncanakan tapi kita ini sudah sah secara agama sebagai suami istri. Jadi aku tidak salah kan jika ingin kamu melayaniku sekarang ?!" Riki mendekatkan wajahnya ke wajah Suci.


Jantung mereka semakin memompa kencang.


"Tapi mas...aku belum bisa melaksanakan kewajibanku sekarang karena aku...sedang datang bulan." Bicara pelan karena malu.


"Memijat ? baikkk." Suci tersenyum menutupi rasa malunya.


"Kamu itu lucu juga. Ayo pijat kepalaku sekarang." Riki sudah berbaring di atas pangkuan Suci.


Meski ragu Suci menurut juga. Sangat hati-hati dia menyentuh dan memijat kepala suaminya. Jantungnya belum memompa normal, masih berdegup kencang.


"Suci, maafkan aku karena sudah menyetujui permintaan mereka untuk menikahimu. Aku hanya ingin melindungimu."


"Aku yang harusnya minta maaf. Seharusnya mas tidak perlu berbaik hati padaku. Aku merasa tidak pantas menerimanya." Masih memijit.


"Aku ikhlas menikahimu. Aku bersedia menerima kamu sepenuhnya menjadi pendamping hidup ku."


Suci menghentikan gerakan tangannya. Riki kembali duduk.

__ADS_1


"Dengar, sebenarnya sudah sejak dari dulu aku ingin menikahimu. Jauh sebelum kamu bertemu Doni. Kamu pasti masih ingat peristiwa bejad yang pernah aku lakukan padamu di masa lalu saat kita pertama berjumpa. Sejak saat itu aku tidak berhenti memikirkan kamu. Aku mencoba mencarimu tapi tidak berhasil. Seandainya dulu kita bertemu lagi mungkin kita sudah jadi keluarga bahagia." Riki menggenggam erat tangan Suci dan menatapnya dalam.


"Sejak saat itu, aku memang sengaja menghindari pertemuan denganmu lagi. Mas pasti bisa menebak jika saat itu aku merasa kacau dan sangat membencimu. Aku merasa rendah. Tidak pernah mau melihat wajahmu." Suci tidak berani membalas tatapan itu.


"Aku tahu. Aku minta maaf. Tapi apa yang ku lakukan padamu selama ini bukan karena ingin menebus kesalahan. Tapi karena aku memang tulus mencintaimu. Hanya kamu wanita satu-satunya yang mampu membuatku terpikat."


"Dengar aku baik-baik. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk masuk lebih dalam ke dunia hitam tempat dimana kita bertemu dulu. Tapi aku punya alasan kenapa aku bisa melakukan dosa besar itu." Suci menjelaskan secara detail tanpa terlewat sedikitpun.


Riki mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Suci.


"Maafkan aku. Semua karena salahku." Riki memeluk erat tubuh Suci.


Suci tersentak dengan reaksi yang ditunjukan Riki. Padahal dia kira mungkin saja pria itu akan mundur dan meninggalkannya.


"Ini sebenarnya salahku sendiri mas. Aku harusnya tahu mana yang benar dan yang salah."


"Aku tidak peduli kamu itu seperti apa di masa lalu. Aku hanya tahu bahwa kamu sekarang adalah wanita yang baik. Setiap manusia punya kesalahan. Dan yang paling baik adalah orang yang bisa sadar juga memperbaiki diri. Aku bersedia menjadi teman hidupmu selamanya. Maukah kamu menerima ku ?" Riki kembali menggenggam tangan Suci.


Mata mereka bertemu.


"Jika mas benar-benar mau menerimaku maka aku juga akan menerima mas sebagai imamku."


"Aku mencintaimu Suci. Aku tahu bahwa kamu belum punya perasaan yang sama. Aku akan menunggu sampai kamu sepenuhnya bisa memberikan hatimu untukku." Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Suci.


Suci hanya terpaku oleh perlakuan suaminya. Bertambah kaget saat bibir yang mengecup itu pindah ke bibirnya. Mampir sebentar namun memberi kesan mendalam. Membuat jantungnya mengamuk.


"Terima kasih sudah mau menerimaku. Aku sangat bahagia. Sekarang kita tidur bareng." Riki membaringkan tubuhnya dan tubuh Suci bersamaan.


"Mas...aku kan sedang datang bulan."


"Heyyy kamu ini kenapa sih ? aku kan sudah tahu karena tadi kamu sudah mengatakannya. Aku hanya ingin ditemani tidur. Sudah diam, pejamkan matamu !" Riki membenamkan wajah Suci di dadanya yang bidang. Mengelus lembut kepalanya.


Mas Riki, apa kamu memang jodohku ?

__ADS_1


Aku bahagia bisa berada di sampingmu seperti ini Suci. Tetaplah bersamaku apapun yang terjadi.


Akhirnya keduanya pun terlelap.


__ADS_2