
Gadis itu menoleh, "Kau, kenapa kembali lagi kemari ?"
"Jangan banyak tanya, ambil payungnya dan segera pulang ! bahaya jika seorang gadis sendirian di tempat sepi seperti ini."
"Tapi, kau bagaimana ?" matanya memperhatikan pria asing itu yang sudah agak menggigil.
"Mungkin aku akan demam jika terus memayungimu sedangkan aku basah kuyup begini. Jadi cepatlah, aku bukan bodyguard atau kakakmu. Aku juga harus pulang !" Yusuf berkata agak jutek dan tak mau menatap gadis itu. Dia memang agak kesal juga karena harus hujan-hujanan seperti itu. Ingin cepat pulang, ganti baju dan minum air rebusan jahe plus kayu manis. Pasti badannya akan hangat.
Ini karena kesalahanku, kenapa harus membuang waktu dengannya ? tapi gadis gila ini.....mau tidak mau aku harus membantunya sekali lagi.
"Heyyy kau, judes sekali ! aku tidak menyuruhmu untuk berbuat baik padaku. Kau sendiri yang datang so jadi pahlawan !" berdiri dan berkacak pinggang, nyerocos dan melotot pada Yusuf.
"Pakai saja payung itu untukmu sendiri, aku tidak mau menerima bantuan dari orang yang tidak ikhlas !" melangkah buru-buru meninggalkan si pria asing sendiri.
"Heyyy gadis galak ! tunggu !" Yusuf menyusul dan kembali memayunginya setelah berjalan sejajar.
Gadis itu mencebik kesal dan mengerucutkan bibirnya. Pria menyebalkan ! kenapa dia mengikuti terus ? lama-lama aku jadi kepedean dan menganggap dia menyukaiku !
Meski sama-sama tidak nyaman, tapi akhirnya mereka berjalan dan berpayung bersama. Melangkah menuju mobil Yusuf.
"Ayo naik ! biar ku antar kau pulang." Yusuf berbicara sambil menutup payungnya.
"Tidak usah, jangan !" mengibaskan kedua tangan dan geleng-geleng kepala. Ekspresinya terkesan berlebihan. Seperti sedang shock.
Yusuf mengernyit, "Aku hanya ingin menolong, jangan berpikiran aneh ! jika tidak mau aku tidak akan memaksa." Dia melangkah setengah putaran membuka pintu mobil lalu masuk.
Gadis itu terlihat berpikir, dia merogoh tasnya. Mengecek uang yang masih ada di sana. Hanya ada uang receh seribuan sebanyak tiga koin. Itu tidak akan cukup bahkan untuk naik angkot sekalipun. Jarak rumahnya masih jauh. Terpaksa dia menerima bantuan si pria asing.
Perlahan dia berjalan mendekati mobil dan membuka pintu dengan ragu. Apakah keputusanku ini tepat ? dia tidak akan berbuat mesum padaku bukan ? tapi dia tidak akan melakukan itu karena sepertinya aku bukan tipenya. Bahkan dia bilang aku ini kucel. Menyebalkan !
Ditttt Ditttt ! suara klakson membubarkan semua pikiran si gadis. Buru-buru dia masuk ke dalam mobil, duduk di depan berdampingan dengan Yusuf.
"Maaf, kau tidak akan membawaku ke tempat aneh kan ?!" mendelik kepada pria di sebelahnya.
Yusuf tidak menggubris. Dia memainkan tangannya menghidupkan mesin mobil. Malas jika harus meladeni pertanyaan bodoh. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Jawab pertanyaanku ! kau tidak akan macam-macam kan ?! bagaimanapun juga meski aku ini kucel dan tidak menarik, aku tetap saja seorang perempuan. Kau tahu tidak ? bahkan ada banyak kasus perempuan tidak waras yang dilecehkan ! begitulah jika nafsu pria sudah tak terkendali. Wajar kan jika aku merasa takut dan curiga padamu ?"
Yusuf memijit pelipisnya. Gadis itu selain merepotkan dan aneh, dia juga ternyata sangat menyebalkan dan....bodoh !
"Dimana alamat rumahmu ?"
Ahhhh aku seharusnya bertanya dari tadi. Aku jadi lupa gara-gara kesal padanya. Ingin cepat menyelesaikan urusan dengan gadis konyol ini.
"Di jalan bla...bla...bla..."
"Baiklah, itu lumayan jauh dari sini." Yusuf menaikkan kecepatan mobilnya agar cepat sampai di tempat tujuan. Dengan begitu, dia akan segera berpisah dengan si gadis dan tidak perlu lagi berurusan dengannya.
__ADS_1
"Andini !" gadis itu bicara tanpa menoleh.
Yusuf mengernyit, "Siapa Andini ?" tatapannya masih fokus ke depan.
"Namaku Andini, panggil saja Dini."
"Ohhhh kau ingin berkenalan denganku ?"
Andini mendelik pada pria yang masih cuek itu. Menyebalkan !
"Dengar ya, aku tidak mau kau memanggilku gadis bodoh atau gadis galak dan semacamnya. Jadi aku memberi tahu siapa namaku."
"Ok."
Hanya itu yang dia katakan ? aku panjang lebar bicara tapi dia hanya menjawab ok saja. Aku merasa tidak dianggap sama sekali !
"Kau pria asing, siapa namamu ? aku sudah beritahu namaku, sekarang giliranmu."
"Apakah penting ? mungkin saja kita tidak akan pernah lagi bertemu. Jadi sebaiknya kau tidak usah tahu namaku."
"Dengar ya....! itu memang tidak penting, tapi apa kau mau ku panggil pria asing terus selama kita mengobrol ?" suaranya sangat melengking, membuat telinga yang mendengar jadi rusak.
"Kalau begitu diam saja dan tidak usah mengobrol denganku. Beres kan ?! lagipula suaramu itu membuatku pusing."
"Kau !" Andini ingin sekali memberi bogem mentah pada pria menyebalkan itu.
Andini diam-diam memperhatikan setiap lekuk tubuh dari pria yang sedang fokus mengemudi itu. Rambutnya yang hitam masih basah begitu serasi dengan wajahnya yang putih bersih. Membuat seolah ada banyak cahaya berkilauan di sekitar wajahnya.
Alis tebalnya begitu rapi melekat di sana. Matanya yang sipit, hidung mancungnya dan bibirnya yang sexy. Wangi tubuhnya yang memabukkan. Mungkin akan butuh waktu seharian penuh untuk membicarakan semua keindahan pria tampan itu.
Andini mendadak kena serangan jantung saat otaknya terus liar mengagumi makhluk indah itu. Tubuhnya gemetaran gugup. Bahkan dia kesusahan menelan salivanya sendiri. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya menjadi tidak beres. Pesona pria itu sungguh luar biasa.
Yusuf berdehem keras. Dia tahu bahwa sedang diperhatikan oleh Andini.
"Panggil saja aku Yusuf !" dia berharap dengan berkata begitu maka otak Andini akan kembali sadar.
Gadis itu segera mengalihkan pandangannya ke depan. Dengan agak terbata dia berucap, "Ba...baiklah. Yusuf !"
Selebihnya suasana menjadi hening sampai mereka tiba di depan sebuah rumah yang sangat besar.
Dari awal mengetahui alamat rumah Andini, sebenarnya Yusuf tidak yakin jika gadis itu tinggal di sebuah perumahan elite. Penampilan kucel Andini sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia berasal dari kalangan berada. Apakah gadis itu hanya pura-pura tinggal di sana ? atau dia hanya seorang pekerja di rumah mewah itu ? terserahlah Yusuf tidak ingin memikirkannya. Sudah cukup hari ini dia direpotkan oleh Andini, tidak usah mengurusi hal lain dari gadis itu.
"Benar kau tinggal di sini ?"
"Ya, memang kenapa ? aku hanyalah pembantu di rumah ini." Hati Andini mencelos mendengar kata-katanya sendiri. Tapi itu memang faktanya, dia adalah pembantu di rumah mewah itu. Tidak lebih !
Yusuf terdiam, tidak mau berdebat dan mendengar lagi cerocosan dari suara gadis itu. Andini membuka pintu, "Terima kasih Yusuf, kau sudah banyak menolongku hari ini." Dia pun turun dari mobil dan segera berlari ke depan gerbang.
__ADS_1
Yusuf masih memonitor pergerakan Andini. Dia ingin tahu apakah gadis itu benar-benar akan masuk ke sana atau tidak ? ternyata Andini memang masuk ke rumah besar itu.
Yusuf menghidupkan kembali mesin mobilnya dan meluncur menuju jalan pulang.
***
Andini menggigil karena berlama-lama bertahan dengan baju basahnya. Perlahan dia membuka pintu utama rumah.
"Dari mana saja kau Dini ? mau belajar keluyuran ya ? lupa dengan tugas-tugasmu di rumah ini ?" nyonya rumah itu berkacak pinggang. Matanya merah menyala tertuju pada gadis yang baru saja muncul itu.
Andini menunduk, "Maaf Bu, saya tadi berziarah ke makam ibu saya."
"Stop ! jangan pernah menyebut ibumu itu ! nanti rumah ini kena sial."
Deg ! perkataan itu menghujam tepat di ulu hati Andini. Tidak apa jika dia dihina, tapi tolong jangan bawa-bawa ibunya yang sudah tidak ada. Namun dia tidak berani mengatakan itu pada nyonya besar.
Andini mengigit bawah bibirnya untuk menahan sakit di dadanya yang mungkin saja akan berujung banjir air mata. Jika bukan untuk menghormati sosok ayahnya, maka dia tidak akan sudi tinggal bersama nenek lampir dan menjadi pembantu di rumah itu.
"Kenapa masih berdiri saja ? cepat selesaikan pekerjaanmu ! jangan lupa ganti baju, kau terlihat seperti tikus got !" si nyonya besar pun berlalu.
Andini tersenyum kecut. Dia sudah biasa mendengar hinaan dari nenek lampir. Itu bukan masalah yang penting wanita galak itu tidak menghina ibunya seperti tadi.
Andini masuk ke kamar sempitnya. Ruangan itulah tempatnya menenangkan diri. Dia segera mengambil baju dari lemarinya yang sudah reot. Baju serba panjang yang sudah lusuh dan tak kalah kumel dari baju basah itu. Dia tak mau mengeluh karena tak punya baju yang layak untuk dipakai. Satu-satunya hal yang dia impikan adalah pengakuan dari ayahnya. Semoga saja suatu saat nanti, ayahnya bisa memeluk dan mencium keningnya. Mengatakan bangga dan bahagia karena telah memiliki anak sepertinya. Akankah impian indah itu akan terwujud ?
Andini membuang nafasnya kasar. Masih berdiri di samping lemari butut, pakaian basah tergantung di lengannya. Jika dipikir-pikir hal itu tidaklah mungkin terjadi. Jangankan untuk memeluk dan menciumnya, sekedar menatapnya saja tidak pernah dilakukan oleh ayah kandungnya. Dia merasa lebih menjijikan daripada sampah yang berserakan.
Ahhh bodoh ! aku seharusnya segera beres-beres, jika tidak.....maka si nenek lampir yang stress itu akan mengamuk !
Andini meletakkan baju basah ke keranjang cucian. Dia segera keluar dari kamarnya dan memulai tugasnya sebagai pembantu setia di rumah itu.
***
Yusuf tak berhenti bersin-bersin meski sudah meminum air hangat yang banyak. Badannya menggigil. Masih kedinginan meski sudah memakai selimut tebal yang bertumpuk. Dalam hatinya dia mengutuki kebodohannya sendiri. Jika tidak repot dengan gadis bernama Andini, maka dia tidak akan kehujanan dan juga demam. Semua pekerjaannya di perusahaan diambil alih oleh asistennya.
Oma Merly datang menemui. Ia duduk di tepi ranjang di sisi cucu pertamanya. Tatapan matanya lekat penuh kecemasan. Diusapnya pelan rambut Yusuf yang menyembul dari balik selimut.
"Kita ke Rumah Sakit saja ya ? oma sangat khawatir."
Yusuf menggeleng pelan. Setelah itu terdengar suaranya yang agak gemetar. "Tadi kan sudah diperiksa dokter Anjas. Dia bilang aku hanya demam biasa. Hanya perlu istirahat saja. Oma jangan cemas, sebentar lagi juga sembuh !"
"Tapi tetap saja oma takut."
"Oma, jangan beritahu mama dan papa jika aku sakit !"
"Ya, oma mengerti."
Tak lama berselang, Yusuf sudah tak lagi bersuara. Matanya tertutup rapat. Mungkin obat yang tadi dia minum sudah bereaksi. Oma Merly mengecup kening anak itu sebentar. Dia sangat menyayangi cucunya lebih dari kepada anaknya sendiri. Mungkin karena Yusuf adalah cucu pertama dan juga yang paling dekat dengannya. Perasaannya jauh lebih kuat pada anak itu.
__ADS_1