Seperti Sampah

Seperti Sampah
Flashback part 2.


__ADS_3

Suci dibawa ke sebuah ruangan dimana sudah ada seorang pria bertubuh kekar sedang duduk menantinya.


"Halo mas, kenalin ini Enci. Dia yang akan menemani mas malam ini." Santi memperkenalkan Suci pada pria itu.


Suci duduk di sebelah mas-mas itu atas perintah Santi.


"Halo Enci namamu bagus sama seperti orangnya." Memegang tangan Suci dan menciumnya.


Suci segera melepaskan tangannya dari pria itu.


"Tidak apa-apa, dia hanya menunjukkan bahwa gadis secantikmu memang pantas diperlakukan istimewa." Santi berbisik.


"Enci, namamu terdengar indah di telingaku." Rayu pria itu.


Tentu saja nama itu lebih indah dibanding dia harus dipanggil dengan nama Suci, tidak cocok dengan tempat hina ini. Senyum seringai menghiasi bibir merah milik Santi.


"Kamu cantik sekali, temani aku malam ini ya." Mengenggam kedua tangan Suci.


Gadis itu hanya terdiam meski hatinya gelisah tak nyaman.


"Mbak pergi sekarang ya, ini tamu pertamamu jadi layani dia dengan sebaik mungkin. Temani saja dia minum. Ini minuman khusus untukmu, mbak tahu kamu gak akan mungkin mau minuman beralkohol." Santi menyodorkan segelas jus yang sedari tadi sudah ada di meja.


"Makasih mbak." Suci segera meminumnya setelah gelas itu ada di tangannya.


"Temani dia sampai dia mabuk dan tak sadarkan diri, nanti kamu bisa meninggalkannya." Tapi mungkin malah kamu Suci yang tak akan sadarkan diri.


"Biar kamu relax sekarang minum dulu !" bisik Santi lagi.


Suci menenggak habis minuman itu. Senyum licik kembali muncul pada bibir Santi.

__ADS_1


Bagus...dia minum sampai habis. Malam ini Suci pasti akan bersenang-senang. Dia sama sekali tidak curiga kalau aku sudah mencampur sesuatu pada jusnya. Haha jus spesial untukmu !


Santi segera meninggalkan mereka berdua. Tanpa malu laki-laki itu membelai rambut Suci, beralih ke wajah dan lehernya. Suci meremas tangannya sendiri, menahan untuk tidak mengeluarkan penolakan yang akan membuat tamunya marah dan membuatnya dipecat.


Tatapan haus tak berhenti mengintai Suci meski dia sedang menenggak minumannya.


Namun saat pria itu memeluk dan mencium pipinya, gadis itu mendorongnya. Namun si pria tak bergeming dan melanjutkan aksinya meski Suci berusaha menepis serangannya.


"Jangan pura-pura...aku tahu bagaimana sebenarnya gadis sepertimu. Tidak ada perempuan baik-baik yang ada di tempat ini. Ayo sayang...aku ingin melihat bagaimana caramu menghiburku malam ini." Menyisir leher Suci dengan bibirnya.


Pria ini sudah kurang ajar, aku tidak mungkin membiarkannya. Aku tidak peduli dengan gaji besar, aku tidak mau melayani pria sepertinya. Aku harus kabur.


Suci mendorong tubuh pria itu dengan lebih keras. Si pria ambruk karena tak punya persiapan, tak menduga gadis itu akan berani lagi menolak.


Suci segera berlari keluar dari ruangan itu meski kepalanya mulai merasakan pusing. Namun tangannya berhasil diraih oleh pria yang hendak memangsanya. Meski memohon namun pria itu tak mau melepaskan bahkan sebuah tamparan pun diarahkan ke wajah gadis polos itu.


Saat itulah Riki datang menghampiri dan berhasil menyelamatkan Suci dari pria itu meski harus adu jotos terlebih dulu.


Kepala Suci semakin pusing dan pandangannya kabur, bumi seolah bergoyang-goyang. Akhirnya ambruk tak dapat menahan lagi.


Suci dibawa ke hotel tempat Riki menginap dan kejadian tak direncanakan itu pun berlangsung. Riki yang awalnya ingin menolong pun akhirnya tak kuasa menahan hasratnya.


Saat Riki menyentuhnya, gadis itu berada dalam keadaan tidak sadar namun alam bawah sadarnya menyuruh untuk melakukan perlawanan meski tubuhnya tak mampu. Hanya lewat kata-kata saja dia menolak.


Paginya barulah Suci benar-benar sadar sepenuhnya. Ia tak menyangka pahlawannya itulah yang malah menghancurkan hidupnya. Secara garis besar memori itu sudah kembali pada ingatannya. Hanya wajah Riki saja yang tak ada di kepalanya. Selain memang belum menatapnya langsung, Suci juga tak mau melihat wajah pria yang sudah membuatnya masuk ke dalam jurang kenistaan.


Aku harus segera pergi dari sini sebelum pria itu kembali dari kamar mandi.


Suci sengaja bersembunyi dari Riki dan dari dunia gelap ini. Dia memutuskan untuk pulang ke tempat asalnya.

__ADS_1


Besoknya Sinta sudah ada di rumah Suci. Berusaha membujuknya untuk kembali ke Jakarta.


"Memang ada apa ?" Sinta pura-pura tak tahu hanya ingin basa-basi.


Entah kenapa Suci mudah percaya pada wanita ular ini. Suci mengajaknya ke kamar agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Semuanya diceritakan pada Sinta tanpa terlewat.


"Maafin mbak, seandainya mbak tahu akan seperti itu maka mbak gak akan ninggalin kamu. Mbak lebih baik dipecat bos daripada melihatmu menderita. Semua ini salah mbak." Menangis dibuat-buat.


"Pria itu menolongku hanya untuk melecehkanku mbak. Aku benci dia !" Suci bertambah banjir air mata.


"Jahat sekali pria itu." Memeluk Suci dan membelai punggungnya.


Aku tidak peduli apa yang terjadi padamu. Yang penting aku sudah dapat bonus dari si bos. Misiku kemari hanya untuk membawamu kembali ke duniaku yang gelap. Dengan begitu posisiku akan naik derajat menjadi asisten bos. Kau masih menjadi incaran para pelanggan. Apalagi setelah pertengkaran dua pria bodoh yang memperebutkanmu, nilaimu bertambah naik.


Tersenyum penuh kelicikan.


"Sekarang semuanya sudah terlanjur, lebih baik kau teruskan saja pekerjaanmu di Jakarta. Tidak ada gunanya lari dari kenyataan."


Suci terdiam mendengar nasehat Sinta yang malah ingin membuatnya semakin terperosok. Sama sekali tak dapat berpikir.


"Bukankah kamu ingin menghasilkan uang untuk melunasi hutang ayahmu ? dengan waktu singkat kau akan mendapatkannya jika kembali bekerja denganku. Anggap saja ini adalah pengorbanan untuk keluarga yang sangat kau sayangi. Bagaimana ?"


Suci masih bungkam.


"Aku akan selalu mendukungmu. Aku punya cara agar kau nanti bisa lebih mudah melakukan pekerjaanmu. Dan kau tidak perlu memikirkan yang lain, fokuslah bekerja agar cepat dapat uang." Sinta terus membujuk.


"Baik mbak aku akan kembali ikut bersamamu. Mbak benar, semua sudah terlanjur. Tidak ada gunanya aku lari. Tetap saja harta paling berhargaku tidak akan pernah kembali. Makasih mbak sudah mendukungku." Kembali memeluk Sinta.


Lihat betapa bodohnya Suci. Dia bahkan tidak marah apalagi menyalahkan ku atas apa yang menimpanya.

__ADS_1


Kata-kata manis penuh berbisa membuat Suci semakin masuk lebih dalam ke dunia hitam. Sinta memang wanita yang sangat licik. Dialah sebenarnya yang bertanggung jawab atas kehancuran hidup gadis polos ini.


__ADS_2