
Beberapa hari berlalu.
"Kamu pasti sudah salah paham Indah. Suci tidak akan mungkin menggoda suami adiknya sendiri. Ibu sangat yakin." Perdebatan terjadi setelah Bu Ayu mengetahui kejadian antara Suci dan Toso.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Bu. Kenapa ibu tidak percaya ? ibu selalu membelanya. Apa ibu mau bilang bahwa mas Toso yang berbohong ?"
"Perasaan ibu mengatakan bahwa mbak mu memang tidak melakukan hal seperti itu."
"Ibu benar. Aku juga setuju bahwa mbak Suci tidak bersalah dalam hal ini dia pasti difitnah." Syarif menimpali.
"Apa maksud ibu dan Syarif adalah aku yang sengaja menjebak dan memfitnah mbak Suci ? untuk apa ? aku berani bersumpah bahwa mbak Suci lah yang selama ini selalu berusaha menggodaku. Kenapa kalian tidak percaya padaku ?" tiba-tiba Toso muncul.
Syarif dan Bu Ayu diam saja. Mereka malas menjawab dan mendengar penjelasan penuh dusta dari mulut Toso.
"Mas...mereka hanya salah paham padamu. Tapi aku tetap percaya dan akan selalu mendukungmu." Indah menghampiri dan menggenggam tangan Toso.
"Mas...sebaiknya aku dan ibu tidak tinggal di sini lagi. Kami akan menyusul mbak Suci dan ingin memastikan keadaannya. Sekalian kami akan pindah ke sana biar mbak Indah dan mas Toso tidak lagi terbebani." Syarif mengatakan rencananya.
"Berarti kamu memang menganggap suami mbak yang salah." Indah tersinggung.
"Tidak apa-apa Indah....yang penting kamu selalu percaya padaku. Mungkin mereka lebih memilih mbak Suci dan ingin tinggal bersamanya." Mimik muka Toso dibuat sesedih mungkin untuk menarik empati istrinya.
"Maafkan ibu dan Syarif ya mas." Indah mengelus pelan punggung Toso.
"Sekarang juga kami akan siap-siap berangkat. Terima kasih karena selama ini mbak dan mas sudah berbaik hati menampung ibu dan aku."
"Baiklah jika itu keputusan kalian. Mas tidak akan memaksa lagi. Mas tahu bahwa kalian tidak mau tinggal bersama orang sejahat mas." Masih berpura-pura sedih.
Malah bagus kalau kalian pergi dari rumahku. Jadi uangku tidak akan terkuras untuk keperluan kalian yang tidak penting. Lagipula aku mengijinkan kalian tinggal di sini karena ingin mendapat simpati saja dari Indah dan para tetangga agar mereka ada di pihakku.
Toso selama ini memang selalu mengumbar fitnah pada Suci ke semua tetangga dekatnya. Akhirnya seluruh kampung pun mengetahui kabar dusta itu dan semakin membenci Suci yang sebenarnya tidak bersalah.
__ADS_1
***
Sore hari Syarif dan Bu Ayu sudah sampai di rumah Doni.Kini mereka duduk di ruang tamu.
"Apa kabar mas ? mbak Suci mana ?" Syarif bertanya pada kakak iparnya yang baru saja pulang kerja.
"Maaf....kami tiba-tiba datang dan mengganggu istirahat nak Doni." Bu Ayu angkat bicara karena tak enak hati melihat raut wajah menantunya yang kusut.
"Suci sudah pergi dari rumah ini." Menjawab dengan tatapan jengah.
"Maksud mas ?"
"Saya dan Suci sudah tidak bisa bersama lagi. Rumah tangga kami sudah berakhir."
"Apa ? mas tidak bercanda kan ?!"
"Untuk apa aku bercanda untuk hal seserius ini ?"
"Saya sangat bahagia jika berpisah dengannya."
"Mas saya hanya ingin memberi tahu bahwa mbak Suci itu difitnah. Toso sebenarnya yang sudah menjebak mbak Suci."
"Bukan masalah itu ! kalian tidak akan mengerti apa yang saya rasakan. Yang jelas hubungan kami sudah berakhir."
"Mas siapa mereka ?" Teni muncul membuat kebingungan Syarif dan Bu Ayu bertambah.
"Teni perkenalkan mereka adalah adik dan ibu dari mantan istriku."
"Hai saya Teni calon istri mas Doni." Melambaikan tangan sembari duduk di sebelah Doni.
Syarif mengepalkan kedua tangannya kesal. Ingin sekali melayangkannya di wajah Doni namun Bu Ayu mencegahnya lewat tatapan mata. Dan mengisyaratkan untuk segera pergi dari sana.
__ADS_1
"Kami sangat mengerti kenapa anda ingin berpisah dari mbak Suci. Semoga anda tidak akan pernah menyesali keputusan ini."
Doni tak menggubris perkataan Syarif. Teni memutar bola matanya malas mendengar omongan yang terasa mengusik harga dirinya.
Syarif dan Bu Ayu meninggalkan rumah itu dengan penuh kekecewaan. Mereka bergerak menuju rumah kecil yang pasti sekarang ditempati Suci. Kemana lagi jika bukan ke sana.
***
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam. Syarif ? ibu ? kalian di sini ?" Suci memeluk keduanya.
Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di atas tikar.
"Mbak tadi kami ke rumah mas Doni dan di sana ada pacarnya. Sejak kapan suami mbak berselingkuh ? apa dari awal hubungan kalian seperti ini ? kenapa mbak tidak pernah bercerita padaku ?"
"Bukan seperti itu. Mas Doni sebenarnya suami yang baik. Ibu juga melihat sendiri kan bagaimana sikapnya padaku ?" melihat Bu Ayu.
"Tapi ibu tidak melihat Doni yang seperti itu tadi. Dia sudah terlihat sangat berbeda." Bu Ayu berkaca-kaca.
"Ini semua juga salahku." Akhirnya membeberkan semua alasan perpisahannya dengan Doni. Tapi tetap merahasiakan tentang kemesraan suaminya dengan Teni.
"Maafkan aku karena tidak bisa menemani apalagi membantu mbak dalam situasi seperti ini."
"Jangan berkata begitu. Mbak juga minta maaf karena mbak tidak bisa membantu selama kamu berduka karena kehilangan istri dan anakmu. Tadinya mbak mau mengajakmu tinggal di rumah mas Doni jika hubungan kami tidak seperti ini."
"Tidak apa-apa mbak. Lagipula aku tidak mau menyusahkan mbak meski hubungan mbak dan mas Doni baik-baik saja. Aku cuma mau numpang tinggal di rumah ini. Aku ingin mencari pekerjaan di sini. Boleh kan mbak ?"
"Tentu saja boleh. Mbak juga mulai besok mau melamar pekerjaan. Kita sama-sama memulai kehidupan baru di sini."
"Ibu doakan kalian segera mendapat pekerjaan yang baik yang halal. Semoga kita bisa hidup lebih tenang dan bahagia setelah ini." Bu Ayu tersenyum haru melihat kedua anaknya saling menguatkan.
__ADS_1
Memang sudah seharusnya kita saling mendukung pada saudara dan keluarga kita. Namun kita pun harus memastikan bahwa kita mendukung pihak yang benar.