Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 32.


__ADS_3

Malam itu Yusuf terlihat muram. Dia masih kepikiran mengenai perjalanannya ke luar kota. Meski hanya untuk dua hari saja, terasa begitu berat jika harus berjauhan dari Andini.


Di ruang kerjanya, pria itu hanya melamun sambil bersandar di kursi kebesarannya. Mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya. Pikirannya masih melayang, mencari cara agar dirinya bisa membawa istrinya ke luar kota nanti.


Yusuf mengubungi Willy lewat sambungan telepon.


"Bisakah jika jadwal ke luar kota, diundur atau dimajukan beberapa hari ? pokoknya aku ingin weekend ini, aku ada di rumah." Pinta Yusuf.


"Maaf, tuan. Jadwal tidak dapat dirubah. Saya harap anda dapat fokus dan bersikap profesional. Ini menyangkut Perusahaan."


Yusuf mencebik, lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah !" menutup pembicaraan tanpa menunggu jawaban dari asistennya.


Tok tok tok ! pintu diketuk dari luar. "Sayang, boleh aku masuk ?" suara familiar dan membuat yang mendengarnya menjadi sumringah.


"Masuk saja, sayang !"


Andini muncul dari balik pintu. Perlahan berjalan menghampiri pria yang tersenyum padanya. Dia berdiri di samping Yusuf. Suaminya itu memutar kursinya agar menghadap pada Dini.


"Ada apa ?" tanya Yusuf.


"Sayang, aku mau mencari buku tentang Ekonomi. Apa di perpustakaanmu ini, ada buku semacam itu ?"


"Cari saja, ada di ruangan sebelah !"


Andini tersenyum, "Baiklah, aku akan mencarinya !" Bergerak ke ruang perpustakaan kecil yang masih ada di ruang kerja itu, hanya terhalang satu pintu saja.


Yusuf segera mengikuti istrinya itu. Ikut mencari buku tersebut.


"Ini sayang !" menyodorkan benda yang dicari Andini.


Andini tersenyum dan hendak mengambilnya. Namun, pria itu tak segera memberikannya. Sengaja menjahili perempuan itu.


"Sayang, jangan bercanda !" Andini merengek-rengek.


"Kiss dulu !" menunjuk bibir dengan jemarinya.


Andini mendengus kesal, "Kamu selalu saja begitu !"


Yusuf dengan cepat memeluk erat tubuh Andini. Bahkan buku yang dipegangnya sampai terjatuh ke lantai. Andini bergerak-gerak, "Itu, aku harus mengambil buku itu !"


"Nanti saja !" Yusuf menyerobot bibir pink menggoda milik istrinya. Andini tidak siap dengan serangan mendadak itu. Dia tak mampu menghindar. Otaknya ingin menolak, tapi tubuhnya berkhianat, menerima semua sentuhan hangat dari Yusuf dengan pasrah.


Dan akhirnya, setelah membuat kiss mark yang bertebaran dimana-mana, Yusuf membaringkan tubuh Andini di atas sofa. Dengan nakal namun penuh kelembutan, dia mencumbui istrinya itu di sana. Maksud hati ingin mencari buku, malah membuat Andini harus ditiduri dulu oleh sang suami.


***


Andini memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Segera memakainya kembali. Yusuf yang terlebih dulu berpakaian, kini tengah duduk tersenyum. Menatap wanita yang membelakangi nya.


Andini benar-benar risih menjadi pusat perhatian suaminya. Meski sudah terbiasa memperlihatkan lekuk tubuhnya, tetap saja dirinya malu.


Yusuf menjentikkan jarinya, menyuruh Andini mendekat. Dia tersenyum saat istrinya itu menurut, tapi mengerucutkan bibir. Apalagi sih ? apa belum puas yang barusan ?!


Andini terkesiap saat tubuhnya didudukkan di atas pangkuan Yusuf. Memang bukan pertama kalinya, tapi tetap saja dia gugup. Apalagi saat ini, tangan suaminya kembali merayap mengelus pipinya. Membelai rambutnya yang panjang tergerai dan acak-acakan.


Yusuf tersenyum, "Terima kasih, sayang. Kamu memang istri yang hebat."


Dada Andini berdebaran mendengar perkataan yang agak vulgar baginya. "Ja...jangan berkata begitu, a..aku..malu !" menyembunyikan wajahnya di dada Yusuf.


"Sikapmu yang menggemaskan dan imut inilah yang akan membuat ku merindukanmu nanti."


Andini mendongak, "Memangnya kamu mau kemana ?"


"Akhir pekan ini aku harus ke luar kota. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Jika saja kamu tidak ada jadwal sekolah, aku pasti akan membawamu juga. Sayang, aku tidak mau jauh darimu." Membelai kepala istrinya dengan lembut.


Andini menatapnya dalam-dalam, wajahnya berubah sendu. "Sayang, itu adalah hal yang penting, kamu harus fokus dan jangan mencemaskan aku !" Sebenarnya dia juga berat untuk berpisah dengan suaminya, meski hanya beberapa hari. Tapi dia tidak boleh manja dan harus mendukung pekerjaan Yusuf.


"Apa kamu akan merindukan aku ?" tanya Yusuf.


Andini mengangguk pelan, "Tentu aku akan sangat merindukan kamu, sayang."


Keduanya pun saling berpelukan, begitu erat seperti tak mau lagi lepas. Andini bahkan meneteskan air matanya, ini pertama kalinya dia akan ditinggal jauh oleh Yusuf.


***


Hari terus berlalu. Kini tiba waktunya perpisahan itu. Mobil yang dibawa Willy telah sampai di depan gerbang sekolah Andini. Kedua orang yang duduk di belakang, masih saling menatap dan berpegangan tangan. Sepertinya begitu berat untuk saling melepaskan.


"Sayang, jaga diri baik-baik ! belajar yang fokus !" Yusuf mengusap kepala Andini.


Perempuan itu mengangguk. "Kamu hati-hati di jalan ! nanti kabari aku jika sudah sampai di sana !"

__ADS_1


"Ya." Yusuf mengecup kening dan pipi Andini. Dia bahkan lepas kendali, tanpa malu melahap bibir istrinya juga.


Mereka saling berpelukan dan berci**an, tak sadar jika saat ini orang yang berada di balik kemudi, tengah kesusahan bernafas. Willy menundukkan kepalanya setelah sekilas tadi melihat kemesraan di belakangnya, dari kaca spion depan. Sial sekali, pagi-pagi begini aku sudah disuguhi pemandangan yang panas ! membuat ku gerah !


Beberapa saat kemudian, Andini tersadar dimana mereka saat ini. Dia mencubit keras pinggang Yusuf.


"Awww, sayang. Kenapa kasar begitu ?" protes Yusuf.


Sudut mata Andini bergerak ke arah sang asisten. Mulutnya komat-kamit, "Itu, Willy ! dia pasti mengetahui apa yang barusan kita lakukan." Ekspresi gugup dan malu yang tak terkira, muncul pada wajahnya.


Sial, Yusuf baru menyadari hal itu. Dia berdehem keras untuk menenangkan kegugupannya. "Will, tunggu sebentar ! aku akan mengantar istriku turun dari mobil."


"Ba, baik tuan !" Willy bahkan jadi gelagapan, dadanya masih berdebar tak karu-karuan.


Asisten itu turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk tuannya. Yusuf dan Andini pun keluar dari kendaraan itu. Berjalan bergandengan sampai mentok di gerbang.


Yusuf sekali lagi mengecup kening Andini, tak peduli ada beberapa orang yang lewat dan memperhatikan. Dibelai lembut kepala istrinya, "Sayang, aku berangkat. Ahhh, apa aku batalkan saja perjalanan ini ? rasanya menyiksa sekali jika harus berpisah denganmu."


"Sayang, kan cuma dua hari. Kamu harus sabar dan fokus dengan kerjaan. Jangan terlalu merindukan atau mencemaskan aku. Aku sudah dewasa, dan bisa menjaga diri." Perkataan Andini sebenarnya juga ditujukan pada dirinya sendiri. Dia hanya ingin terlihat tegar agar suaminya bisa tenang.


Yusuf mengangguk perlahan, mencium kedua tangan milik istrinya. "Aku akan sangat merindukanmu, sayang." Memeluk erat tubuh Andini, lagi-lagi tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang.


"Aku juga akan sangat merindukanmu, sayang." Lirih Andini.


Dengan berat hati, Yusuf melepas pelukannya. Menatap lebih lekat lagi sosok yang ada di hadapannya. "Ich liebe dich, und du libst mich ! "


Andini mengernyitkan dahi, "Sayang, apa yang kamu katakan ? kenapa kamu bicara dengan bahasa alien ?"


Yusuf tergelak, "Hari ini kamu ada pelajaran bahasa Jerman, bukan ?! coba cari tahu artinya !"


"Ohhh, itu bahasa Jerman. Tapi aku lupa, kata-katanya. Tolong ucapkan lagi, biar aku catat dan tanyakan pada guruku nanti." Mengambil buku dan pulpen dari dalam tasnya.


Yusuf mengeja kata-katanya dan ditulis oleh Andini sesuai apa yang dia dengar. "Baiklah, ih-libe-dih-un-du-libs-mih. Itu artinya bukan yang jorok-jorok kan ?!" menyimpan kembali alat tulis ke tas.


Yusuf tersenyum, "Bukan ! sayang, kamu saja duluan yang masuk ke sana. Aku ingin menatapmu, hingga punggungmu sudah tak lagi terlihat."


Andini tersenyum, "Sayang, aku mencintaimu !" Perlahan membalikkan badannya dan melangkah. Sengaja diperlambat karena tak mau cepat-cepat berpisah. Sesekali dia menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan. Yusuf dari kejauhan terlihat tersenyum sambil melambai.


Sekuat apapun menghindari perpisahan, mereka tetap harus saling melepaskan. Pasangan pengantin baru itu, hanya akan berjauhan selama dua hari saja, tapi lebaynya seperti akan berpisah selama beberapa tahun.


Yusuf membalikkan badannya, dan tak sengaja berpapasan dengan Alvin. Pria itu tak membawa motor bebeknya. Dia berjalan pelan sambil menunduk saat melewati Yusuf.


"Heyyy, kau !" Suara itu membuat Alvin menghentikan langkahnya. Perlahan dia menoleh. "Ya, tuan." Tubuhnya gemetaran. Perlakuan Yusuf padanya waktu itu, membuat nyalinya ciut.


"Ba...baik..tu..tuan !" gelagapan bicara. Pria itu buru-buru berbalik lagi dan berjalan menunduk.


Jedakkkk ! Kening Alvin bertabrakan dengan pintu gerbang dengan keras. Pria itu segera mengelus dahinya. Sial, sakit sekali ! Tapi sepertinya dia tak mempedulikan rasa sakit itu, karena terlalu takut dengan tatapan mengintai dari Yusuf. Alvin secepat kilat berjalan agar sosoknya tak lagi terjangkau mata elang Yusuf.


Sedangkan pria bermata sipit itu tersenyum puas melihat Alvin kesakitan. Bahkan sampai di dalam mobil pun, Yusuf masih tertawa-tawa mengingat kebodohan pria itu. Baru segitu saja sudah ketakutan !


Willy tak mempertanyakan apa yang sedang terjadi pada tuannya. Dia hanya fokus untuk menyetir mobil.


***


Jam terakhir adalah pelajaran bahasa Jerman. Seorang laki-laki berusia tiga puluhan, adalah gurunya. Pak Nino, begitu dia dipanggil. Dia adalah guru yang ramah dan juga tampan. Banyak para gadis teman sekelas Andini, yang mengaguminya.


Bell tanda pulang berbunyi.


"Baik, pertemuan kali ini telah berakhir. Sampai jumpa Minggu depan !" ucapnya sambil tersenyum.


Andini yang duduk tepat di depan Pak Nino, mengacungkan telunjuknya. "Pak, maaf. Saya mau bertanya." Ragu-ragu.


"Ya, silahkan ! siapa namamu ?" balik bertanya.


Sementara yang lain sudah pada berhamburan keluar dari kelas, kecuali Meta.


"Saya Andini, pak. Saya mau menanyakan arti dari...sebentar Pak, saya lupa." Mencari tulisan tangannya yang berisi perkataan Yusuf.


Pak Nino duduk menunggu sambil membereskan barang-barangnya ke dalam tas.


"Pak, artinya apa ya ?" mendekat dan menyodorkan buku berisi tulisan itu.


Pak Nino mengernyit, "Kamu salah menulisnya. Tapi artinya adalah aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Seperti itu," tersenyum.


Andini nyengir, malu juga. Tahu begitu, dia tidak akan bertanya. "Begitu, ya. Terima kasih banyak pak." Kembali duduk di kursinya.


"Sama-sama. Saya duluan." Berlalu pergi.


Andini membereskan alat tulisnya lalu beranjak dari duduknya, melangkah diiringi oleh Meta.

__ADS_1


"Apa yang kamu tanyakan tadi ?" tanya Meta penasaran.


"Ohhh, itu. Aku juga lupa kata-katanya. Aku hanya ingin tahu artinya saja. Sebenarnya tidak terlalu penting juga." Nyengir kuda.


"Emmm, begitu ? Andini, aku kebetulan bawa mobil. Biar aku yang mengantar kamu pulang. Suamimu sedang ada di luar kota, kan ?!"


Andini menghentikan langkahnya, menoleh pada temannya itu. "Darimana kamu tahu, jika suamiku ada di luar kota ?" menyelidik.


"Aahhh, benar ya ? padahal aku hanya asal bicara saja." Nyengir sambil garuk-garuk kepala.


"Kamu pandai main tebak-tebakan rupanya."


"Bagaimana, aku antar kamu pulang, ya ?!"


"Tidak usah, pasti ada sopir yang akan menjemput."


"Ya sudah, jika kamu butuh bantuan, hubungi saja nomorku. Kamu sudah menyimpannya, kan ?!"


Andini mengangguk ramah.


"Dah, sampai jumpa besok !" Meta menghampiri mobilnya, sedangkan Andini berjalan ke depan gerbang. Tak lama menunggu, mobil yang menjemputnya pun tiba.


***


Malam ini adalah malam terberat bagi Andini. Biasanya selalu ada sosok yang selalu menemaninya tidur. Bukan merindukan hal begituan, tapi dia merasa hampa dan kesepian. Yusuf benar-benar sudah merasuk dalam hati dan jiwanya. Sebelum menikah dengan pria itu, dia tidak merasa terusik dengan kesendiriannya karena sudah terbiasa. Tapi kini sentuhan dan kehangatan suaminya, adalah bagian dari kesehariannya. Andini merindukan semua itu, dan juga merindukan senyum Yusuf.


"Kenapa belum memberi kabar ? ini sudah malam, tidak mungkin dia belum sampai ke sana." Andini duduk bersandar di ranjang sambil memegang ponsel.


Tak lama berselang, benda yang dipegangnya berbunyi. Sebuah panggilan video masuk dari nomor Yusuf.


Pembicaraan terhubung.


"Kenapa baru menghubungi ? aku sangat cemas, jahat sekali !" Andini nyerocos kesal.


"Maaf, sayang. Aku baru sempat menghubungi mu sekarang. Aku sangat sibuk."


"Aku cemas, aku khawatir. Takut terjadi sesuatu padamu." Masih ngambek.


"Maaf, aku salah. Sayang, aku merindukan mu."


"Aku juga merindukan mu." Hatinya luluh setelah mendengar perkataan Yusuf.


"Bagaimana hari ini ? pria gila itu tidak mengganggu mu lagi, kan ?!"


"Tidak ! Sayang, aku sudah tahu arti dari perkataan anehmu tadi pagi." Sangat antusias.


"Benarkah ? apa artinya ?"


"Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Guruku bilang seperti itu."


"Ya benar. Coba ucapkan dalam bahasa Jerman !"


"Ah-li-be-dah, apa ya ? aku lupa !"


Yusuf terkekeh, "Bukan ahli bedah, ich liebe dich. Ih-li-be-dih !"


"Ahhh, pusing. Nanti aku belajar lagi pada Pak Nino."


"Pak Nino, apa gurumu itu laki-laki ?" mulai terusik.


"Ya, memang kenapa ?" Sama sekali tidak mengerti jika suaminya sedang kesal.


"Tidak boleh, jika ada jadwal guru laki-laki yang mengajar, kamu harus bolos !" makin murka.


"Kenapa begitu ? bagaimana kalau semua guruku adalah laki-laki ? apa aku harus keluar dari sekolah itu sekalian ?" ikut kesal.


"Ya, tentu saja. Aku akan cari sekolah khusus perempuan !" masih saja keras kepala.


"Kamu sangat menyebalkan ! Tadinya aku ingin kangen-kangenan, tapi kamu malah seperti ini. Tidak masuk akal, berlebihan." Andini memutus pembicaraan mereka.


Dia terus menggerutu sendiri. Suaminya itu benar-benar keterlaluan. Cemburu ? kenapa harus berlebihan begitu ?


Yusuf mencoba lagi menelponnya. Beberapa kali dia acuhkan. Suaminya itu belum menyerah, terus mencoba lagi menelpon. Akhirnya kali ini, Andini bersedia menerima.


"Maafkan aku, sayang. Aku tidak suka jika mengetahui kamu dekat dengan pria lain."


Andini masih membisu, masih kesal pada suaminya.


"Sayang, maaf. Kamu tidak perlu bolos sekolah, saat ada guru laki-laki yang mengajar. Tapi aku minta, jaga jarak dengan pria manapun. Entah itu guru, teman apalagi orang asing. Aku tidak suka !"

__ADS_1


Andini menarik nafasnya panjang. "Aku maafkan. Jangan cemburu terlalu berlebihan, percayalah bahwa aku tidak akan tergoda oleh pria manapun. Meskipun andai ada laki-laki yang lebih baik, lebih tampan dan lebih kaya, aku tidak akan terpengaruh. Aku hanya mencintai kamu."


Yusuf tersenyum lega. Dia dapat merasakan jika Andini memang tulus. Tapi, tetap saja dia selalu cemburu saat ada pria lain yang berinteraksi dengan istrinya itu. Namun demi kenyamanan dan ketenangan Andini, dia harus belajar mengontrol diri.


__ADS_2