
"Bisa tolong isi gelas punya saya ?" suara Yusuf membuat jantung Andini ingin meledak. Apalagi senyum aneh di bibir sexy pria itu semakin membuat tubuhnya membeku.
Yaaa dia memang tampan ! sangat ! ehhhh otakku saja sudah langsung terpesona padanya !
"Halo ! tolong !" Yusuf menggoyang-goyangkan gelas setengah isi itu di depan muka bengong Dini.
"Ba..baik !" tangannya gemetaran saat mengisi air ke gelas. Tatapan pria itu masih menerornya.
Sementara tatapan-tatapan heran terpancar pada wajah semua orang yang memperhatikan mereka. Willy menangkap sesuatu yang berbeda dari sorot mata tuannya. Bukan perasaan marah atau cinta, mungkin menunjukkan bahwa Yusuf tengah iseng. Benarkah ? sejak kapan tuannya itu suka menjahili orang ? sama sekali tidak penting.
Pak Daniel beserta istri dan anaknya sama-sama tidak suka melihat tuan Yusuf sepertinya cukup nyaman dengan Andini. Yasmin bahkan sudah menggertakkan giginya menahan amarah. Bagaimana bisa tuan tampan menatap si kucel dengan intens ? sedangkan saat berkenalan dengannya, pria itu sama sekali tak meliriknya sedikit pun. Dilihat dari segi manapun, jelas Yasminlah yang lebih unggul.
"Sudah penuh tuan !" Andini bercicit, suaranya agak tertahan. Entah kenapa nyalinya saat ini ciut menghadapi pria di sampingnya. Padahal saat pertama bertemu, dia berani ngomel-ngomel pada Yusuf. Mungkin karena kali ini dia sedang ditatap oleh para majikannya.
"Terima kasih." Yusuf segera menenggak air hingga habis.
Andini mengangguk hormat. Baru saja selangkah ke depan, tamu tak terduga itu kembali memanggilnya. "Sudah habis. Tolong isi lagi !"
"Baik !" dan gadis itu mengulang adegan mengisi air ke gelas Yusuf. Langsung ditenggak kembali hingga habis. Dan lagi-lagi minta kembali diisi. Ekspresi sebagai pembantu penurut Andini berubah menjadi masam. Sekali dua kali tidak masalah, selebihnya itu disebut penjajahan. Mentang-mentang dia hanya seorang pelayan di rumah ini, siapa saja bisa mempermainkannya. Itu sungguh jahat !
Pria gila ! apa dia tidak takut perutnya bocor gara-gara minum terus ? niat sekali membuatku menderita !
Entah kenapa Yusuf sangat senang melihat raut wajah gadis itu yang sedang kesal atau pun gugup. Terlihat sangat lucu ! Heyyy apa Yusuf sudah gila ?
Trio majikan jahat menatap kesal pada Andini. Menurut mereka gadis itu ingin mengakrabkan diri dengan tamu spesial. Sementara Willy tetap tenang meski di kepalanya banyak pertanyaan yang berputar-putar.
"Mungkin masih ada lagi yang tuan ingin saya lakukan ?" Dini tersenyum smirk, menatap tidak suka pada Yusuf. "Mungkin saya harus mengambil air segalon besar sekalian untuk anda, tuan ?!"
Gadis konyol itu sangat imut saat sedang memaksakan tersenyum padahal hatinya kesal. Yusuf mengulum senyumnya.
"Dini, jaga bicaramu ! yang sopan pada tamu saya !" Pak Daniel angkat bicara. Dia menatap tajam pada gadis itu.
Andini langsung menunduk takut. "Maaf tuan Yusuf ! jika anda tidak membutuhkan apapun lagi, saya permisi !"
"Hemmm."
Andini mengernyit. Hemmm itu maksudnya apa ? apa karena aku kurang gaul, sehingga tidak mengetahui arti dari perkataan anehnya ?
"Saya tidak menginginkan apapun lagi. Jika ingin pergi, silahkan !" Yusuf menyapu bibirnya dengan tisu.
__ADS_1
Bisa bilang dari tadi, tidak tuan ? heehhh menyebalkan !
Andini membungkuk hormat kemudian berlalu ke belakang. Sepanjang berjalan ke dapur, dia terus menggerutu dalam hati. Kenapa harus bertemu kembali dengan si pria menyebalkan dan....tampan itu ? jika saja sikap pria itu manis, maka Andini sudah pasti akan jatuh cinta.
Makan malam yang sama sekali tidak menyenangkan itu pun berakhir. Semua usaha pak Daniel untuk menggaet Yusuf melalui putrinya itu belum membuahkan hasil. Dia harus merelakan kepergian pria penting bagi karirnya itu, dengan tangan kosong.
Yasmin dan Bu Rahma menemui Andini di kamarnya. Membuka pintunya dengan keras. Gadis yang baru akan ganti baju itu pun tersentak kaget dengan kehadiran para majikan gilanya.
Yasmin menarik kasar rambut tergerai milik Andini hingga gadis itu meringis kesakitan. "Awww, sakit !"
"Ini adalah hukuman atas kesalahanmu." Nyonya Rahma mencengkram dagu Andini.
"Kesalahan apa ?"
"Masih nanya ? kau sudah lancang berusaha menarik perhatian tuan Yusuf tadi. Apa kau pikir kau itu cantik ?" Yasmin menarik lagi rambut yang masih dicengkramnya.
Dini memegang rambutnya sembari meringis, "Maaf ! tolong lepaskan dulu ! saya mohon nona yang cantik !" akhirnya Yasmin melepaskan tangannya, gadis itu jika dipuji sedikit saja maka hatinya akan melemah.
Sementara tangan Bu Rahma masih betah mencengkram dagu Andini.
"Saya tidak bermaksud mencari perhatian dari tuan Yusuf. Saya sadar sekali jika saya hanyalah gadis yang jelek, kumel dan kucel. Jangankan pria tampan seperti tuan Yusuf, sopir di rumah ini saja tidak sudi untuk melirik saya. Mungkin yang lebih pantas dengan pria sepertinya adalah nona Yasmin."
Bu Rahma akhirnya melepas tangannya karena mood Yasmin sudah membaik. Tapi tatapan tajam pada gadis yang sangat ia benci belum beralih. "Ingat, jika kau berani macam-macam lagi, maka aku tidak akan segan mengurung dan menyiksamu di gudang !"
"Saya mengerti !" Andini mengangguk-anggukan kepalanya. Tubuhnya menggigil jika mengingat tempat itu. Gudang adalah tempat paling angker baginya. Dulu sewaktu kecil, seseorang pernah mengurungnya di sana selama tiga hari. Tanpa diberi makan dan minum. Tak ada cahaya yang menyentuh ruangan gelap itu. Kadang terdengar suara-suara aneh di sana.
"Ayo kita pergi mom !" Yasmin melangkah dari kamar sempit Andini, diikuti ibunya.
Tubuh Andini serasa lemas karena mengingat masa kecilnya. Dia terduduk lesu bersandar pada ranjang. Tak terasa air kepedihan keluar dari sudut matanya yang bening. Kenapa semenjak kecil dia selalu hidup menderita ? sejak ibunya pergi meninggalkan dunia ini, kemalangan selalu menimpanya.
***
Willy semakin heran dengan sikap tuannya. Dia memperhatikan Yusuf sedang mesem. Menahan senyumnya tapi jelas terlihat bahwa saat ini bosnya itu sedang merasa senang. Semenjak makan malam dan bertemu dengan sang pelayan rumah pak Daniel, wajah Yusuf berbinar.
Awalnya Yusuf berharap tak bertemu lagi dengan Andini. Namun, saat melihat wajah gadis itu tadi, entah kenapa ada yang menggelitik di hatinya ? Berlebihan jika disebut bahagia. Mungkin bisa dibilang wajah shock dan polos milik Andini sudah membuatnya senang.
Ternyata gadis itu imut dan menggemaskan meskipun kucel.
Yusuf melempar senyumnya pada kaca mobil di sampingnya. Bagaimanapun juga pertemuan pertama dengan Andini yang tidak biasa, sudah membekas di ingatannya. Apalagi gadis itu unik. Di balik tampilannya yang kucel, tersembunyi wajah yang cantik alami meski tanpa polesan. Dan sikapnya yang kadang konyol namun juga galak terkesan lucu bagi Yusuf.
__ADS_1
Willy berdehem keras membuyarkan pikiran Yusuf tentang Andini. Saat itulah dia baru menyadari bahwa sudah bertindak bodoh. Untuk apa memikirkan hal tidak penting mengenai gadis aneh itu ?
"Maaf tuan. Saya lihat dari tadi anda senyum sendiri ?" asisten setia itu bicara sambil menyetir.
"Benarkah ? mungkin itu hanya perasaanmu saja." Yusuf mencoba mengelak meski hati kecilnya mengakui.
Willy hanya diam tidak protes meski dalam hatinya sedikit menggerutu. Tuan, jelas-jelas anda barusan mesem sendiri. Tapi selama anda senang, saya pun akan ikut senang.
"Will, gadis bernama Andini itu, sebenarnya cantik jika penampilannya terurus. Tapi meskipun kucel dia tetap manis juga." Perkataan konyol yang baru pertama kali terucap dari tuannya itu membuat Willy tercengang.
"Saya tidak memperhatikan itu tuan. Apa yang anda maksud adalah pembantu di rumah pak Daniel ? saya tidak memperhatikan karena tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting seperti itu." Itu memang benar-benar pemikiran dan perasaan Willy, tapi malah terdengar seperti sindiran di telinga Yusuf.
"Apa kau bilang Willy ? maksudmu aku sudah melakukan hal yang bodoh dan tidak penting ?" menendang keras bagian belakang kursi yang diduduki asistennya.
"Maaf tuan ! saya tidak bermaksud begitu." Pria itu tetap fokus mengemudi. Dia sama sekali tidak keberatan diperlakukan begitu.
"Will, kau harus mencegahku jangan sampai melakukan hal konyol lagi ! Jangan biarkan aku mengurus hal yang tidak penting !"
"Baik tuan !" entah kenapa perintah itu terasa berat bagi Willy.
Mulai saat ini jangan lagi memikirkan tentang Andini. Sejak kapan aku mengurusi hal tidak penting, apalagi mengenai perempuan ?
Berbagai pikiran bergelut dalam otak Yusuf. Dia ingin mengusir Andini dari sana. Namun, dia tak dapat memungkiri jika ada magnet dalam diri gadis itu yang menyeretnya ke dalam dunia kekonyolan.
Note:
Author mau kasih visual untuk beberapa tokoh.
Karena Yusuf adalah kopian dari papa Riki, jadi visualnya masih memakai model yang sama (Jhi Chang Wook).
Visual di atas adalah gambaran dari sosok Andini. Sebenarnya dia adalah gadis yang manis dan cantik. Hanya saja penampilannya selalu kucel dan tidak terurus. Tapi sudah pasti sosoknya akan menjadi primadona jika sudah dirombak.
Nah, yang dibawah ini adalah penampakan dari Willy.
__ADS_1
Maaf jika visual kurang sesuai menurut selera kalian. Terima kasih sudah selalu menunggu novel ini update. Jangan lupa tinggalkan jejak. See you 🤗