Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 42.


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan Meta, Yusuf memeluk istrinya dengan berlinang air mata. Segala macam rasa bertumpuk di benaknya. Ia sangat lega karena ternyata istrinya tidak tercemar pria lain. Di sisi lain juga ia merasa malu dan menyesal karena sudah sempat meragukan anak yang dikandung Andini.


"Sayang, maafkan aku. Aku harusnya mengetahui hal ini. Maaf karena sudah membuatmu susah. Nak, maafkan papa !" mengecup bagian tubuh yang di dalamnya bersemayam sebuah nyawa.


Andini pun merasakan hal yang sama. Dia benar-benar menyesal karena sempat membenci janin yang dikandungnya. Kini tangannya tak henti mengelus perut yang masih rata itu. Maafkan mama, nak !


Meta ikut terharu. Wajahnya pun sembab setelah dibanjiri kristal bening.


"Meta, terima kasih banyak. Entah apa yang harus kami ucapkan lagi. Semua kebaikanmu ini tidak dapat dibalas meskipun seluruh dunia kami berikan padamu." Ucap Yusuf.


"Jangan berkata begitu, tuan. Kebenaran memang harus diungkapkan. Saya ikhlas melakukannya." Ucap Meta.


Hari itu banyak sekali anugrah yang didapat oleh mereka. Selain kesembuhan Meta, munculnya fakta itu juga telah menghapus kesalahpahaman dan masalah antara Yusuf dan Andini untuk selamanya.


***


Malam ini rumah Pak Daniel dihias begitu cantik. Meski tidak terlalu mewah tapi dekorasinya terlihat elegan. Banyak bunga segar yang disimpan di sudut ruangan. Meja makanan dibalut oleh kain berwarna merah muda dengan sedikit renda dan pita di sisi-sisinya. Untuk makanan, pemilik rumah menyediakan berbagai macam seafood, aneka cake dan lainnya.


Ini pertama kalinya, Andini diijinkan untuk menghadiri acara ulang tahun Bu Rahma. Bahkan wanita licik itu sengaja mengundang dirinya dan Yusuf secara pribadi. Jika bukan demi menghargai dan menjaga perasaan ayahnya, maka Dini enggan untuk menghadiri acara itu. Yusuf apalagi, dia malas melihat jurus menjilat nyonya Daniel.


Yang paling menjijikan adalah saat Bu Rahma memotong kue dan memberikannya pada Andini. Terlihat jelas jika ada maksud tertentu dibalik sikap baik perempuan itu. Dan Andini, bukannya tidak tahu. Dia hanya ingin bersikap baik agar tidak membuat ayahnya malu.


"Mas, kenapa tidak makan ?" tanya Andini yang saat itu tengah duduk menghadap meja yang terisi berbagai makanan. Dengan antusias dirinya mencicipi satu persatu.


"Aku tidak berselera. Sayang, setelah kamu selesai makan, sebaiknya kita segera pulang. Aku semakin malas berada di tempat ini."


"Ya, aku paham." Bicara sambil mengunyah.


Yusuf beranjak dari duduknya. "Sayang, Willy menelpon. Aku harus pergi ke tempat yang lebih sunyi agar bisa mendengar suara Willy dengan lebih jelas."


Andini mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jangan pergi kemana-mana, aku tidak akan lama !"


"Ya, mas. Jangan takut !"


Yusuf berlalu. Baru beberapa saat setelahnya, Andini merasa ingin ke kamar kecil. "Bagaimana ini, dia menyuruhku untuk tetap di sini ? Tapi, aku sudah tidak tahan lagi. Aku akan p*p*s di celana jika menunggunya kembali." Meringis menahan cairan agar jangan dulu keluar di sembarang tempat.


Tidak tahan lagi, aku mau ke kamar kecil sekarang juga ! Lagipula mas sayang tidak akan marah jika aku hanya pergi ke sana.


Andini bergegas melangkah menuju ruangan di pojok. Membuka pintunya lalu menyelesaikan hajatnya di sana. "Sekarang kan sudah lega. Coba kalau aku menunggu mas suami, pasti aku masih tersiksa saat ini."


Dia melangkah hendak membuka pintu. Tapi kenapa tidak bisa dibuka ? Apa ada yang iseng menguncinya di sana ?


Tok tok tok ! Andini menggedor pintu berkali-kali sambil berteriak. "Tolong, siapapun di luar sana. Tolong ! aku terkunci di sini." Namun suara ketukan dan teriakan itu kalah oleh alunan musik pop lawas yang kencang.


Andini mulai panik. Bagaimana mungkin pintu itu mendadak terkunci dari luar ? Jika benar ada yang menjahilinya, maka siapa orang iseng itu ?


Andini merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel. Gawat, dia lupa jika benda itu tadi disimpan di atas meja makan ! Bagaimana jika suaminya mencari keberadaannya ?


Gelap, ruangan itu tiba-tiba bagaikan di dalam gua. Siapa lagi yang iseng melakukannya ? Andini makin ketakutan dan berteriak histeris. "Tolong ! Mas, aku takut !" berjongkok memeluk lututnya sendiri. Air mata lolos dari matanya.


Trauma masa lalu yang menyebabkan Andini phobia pada tempat tak bercahaya, masih saja belum hilang. Selalu saja histeris ketakutan saat dirinya ada di ruangan gelap. Kecuali waktu itu di bioskop. Karena tempatnya tidak seratus persen gelap, Andini bersikap biasa saja. Apalagi saat itu memang ada sosok Yusuf bersamanya. Tapi kini, kamar ini begitu gelap dan tak ada tangan untuk Andini berpegangan. Dia benar-benar takut dan terus menangis.


***


Yusuf kembali ke tempatnya duduk setelah selesai menelpon. Tapi saat sampai di sana, istrinya tidak ada. "Kemana Andini ? Sudah ku bilang jangan pergi kemana-mana. Apa aku telpon saja ?" otak-atik ponsel dan pada saat bersamaan, benda di atas meja bergetar.


Yusuf mengambilnya, "Ponselnya di sini. Apa Andini ke kamar kecil ? Sebaiknya aku cari sekarang !"


Dia celingukan mencari sosok istrinya. Bu Rahma saat itu menghampiri. "Ada apa tuan, apa yang bisa ibu bantu ?"


Yusuf menatapnya malas. Dia enggan menjawab pertanyaan basa-basi itu.


Bu Rahma tersenyum, "Pasti kamu mencari Andini. Tadi sih ibu lihat dia lewat ke sini dengan terburu-buru. Tapi karena ibu sedang asik berbincang dengan teman, ibu tidak sempat memperhatikan kemana dia pergi."


Yusuf melenggang pergi tak mempedulikan wanita itu. "Sombong sekali, padahal aku mau memberi tahu jika mungkin saja istri tercintanya sedang ada di kamar kecil. Terserah !" Bergumam sendiri lalu kembali menemui tamunya.


***


Tubuh Andini semakin gemetaran dan bercucuran keringat dingin. Suaranya terus melemah. Tapi dia tak henti berteriak sekuat tenaga meski tak mungkin ada yang mendengar.

__ADS_1


"Tolong.....!"


"Andini, apa kamu di dalam ?" suara teriakan itu bersamaan dengan gedoran pintu yang cukup keras.


"Tolong ! aku di sini !" masih berusaha teriak meski suaranya malah melempem.


"Andini, ini aku !" meski belum terdengar suara dari dalam, dia terus berusaha menggedor dan bahkan membuka pintu secara paksa.


Firasatnya mengatakan jika dia harus mendobrak pintu itu. Setelah beberapa kali mencoba, tetap tak bisa terbuka.


Akhirnya Yusuf memutuskan untuk bicara pada Pak Daniel. Mertuanya itu segera pergi mengambil kunci. Dalam beberapa menit, kamar itu berhasil dibuka.


Suasana gelap, Pak Daniel menekan tombol lampu di tembok luar sebelah atas dan ruangan itu pun kembali bercahaya. Yusuf menghambur ke dalam kamar itu diikuti Pak Daniel.


"Andini, bangun !" Yusuf menepuk pipi istrinya yang tengah terbaring lemas di atas lantai.


Saking ketakutan, Andini sampai pingsan. Dan yang paling membuat shock adalah aliran darah mengalir di kakinya yang sedikit tersingkap.


"Nak, kita bawa Andini ke Rumah Sakit secepatnya !" seru Pak Daniel khawatir.


Yusuf mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke luar kamar. Pak Daniel mengekor di belakang.


Semua orang yang menikmati pesta pun menjadi panik melihatnya. Bu Rahma dengan terpaksa membubarkan acara, lalu menyusul suaminya. Dari luar terlihat gusar dan panik, tapi di dalam beda lagi. Bu Rahma tertawa dalam hati. Senang melihat anak haram itu menderita.


***


Yusuf tersedu sambil menggenggam erat tangan lemah milik Andini. Wanita yang baru tersadar itu pun memaksakan diri untuk berbicara.


"Mas, kenapa menangis ?"


Yusuf makin terisak-isak sambil mengecup kedua tangan istrinya. "Sayang, anak....." tak sanggup melanjutkan perkataannya. Tidak tega memberi tahu tentang kepahitan ini. Tapi, Andini berhak tahu apa yang sudah terjadi. Hal sesensitif itu tidak boleh disembunyikan.


Yusuf menenangkan dirinya terlebih dahulu. "Anak kita sudah tidak ada."


Andini membelalak dengan bercucuran air mata. "Jangan bercanda, mas ! Apa maksudmu ?"


"Sayang, kamu keguguran. Anak kita sudah tidak ada lagi di sana." Menempelkan tangan di perut Andini.


Yusuf memeluknya erat, "Sayang, kita harus sabar ! Allah lebih menyayanginya."


Andini berontak, "Tidak ! Lepaskan aku ! Ini semua gara-gara kamu. Jika saja kemarin-kemarin kamu bersikap baik, mungkin anakku masih hidup. Dia pasti tersinggung karena ayahnya membencinya." Dia benar-benar lepas kendali. Terlalu frustasi hingga tak dapat berpikir jernih. Masalah yang sudah lewat pun diungkit kembali.


Yusuf mengecup puncak kepala istrinya, "Maafkan aku."


Andini memukul-mukul dada suaminya, "Ini semua karena kesalahanmu."


Yusuf tak melepaskan pelukannya. Dia mengerti jika saat ini istrinya sangat terpukul. Kehilangan seorang janin yang masih ada di dalam kandungan, bukanlah suatu hal yang mudah.


Pak Daniel berdiri di sebelah putrinya, sambil menepuk-nepuk bahu Andini. "Nak, ini adalah ujian. Kalian harus tabah !"


Bu Rahma menimpali, "Ayahmu benar. Mungkin ini adalah yang terbaik bagi kita semua." Kejutan yang indah di hari ulang tahunku. Aku tadi hanya ingin menjahilinya saja, tapi tidak disangka akan sefatal ini jadinya ! Syukurlah, anak haram ini akan tahu bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak ! Dia dan Yusuf pantas menderita setelah berani menjebloskan anakku ke dalam penjara !


***


Pak Daniel marah-marah pada istrinya semenjak pulang dari Rumah Sakit. Dia yakin jika anaknya terkunci dalam ruangan gelap di kamar itu karena kesalahan Bu Rahma.


"Aku tahu jika Andini terkunci di sana, itu semua gara-gara kamu." Berteriak-teriak.


"Kenapa menuduh ku ? Aku sama sekali tidak tahu kalau anakmu ada di sana." Mengedarkan pandangannya ke arah lain.


Pak Daniel mencengkram erat dagunya. "Jangan pura-pura ! Aku sangat yakin bahwa kamu yang melakukannya. Kenapa kamu masih saja berbuat jahat pada Andini ?"


Mengetahui suaminya begitu membela anak yang dibencinya, Bu Rahma pun balas menatap tajam Pak Daniel. "Kenapa masih tanya ? Kamu tahu sendiri jika aku sangat membenci anak harammu itu. Dia sudah merebut semua yang harusnya menjadi milik Yasmin."


"Tapi kamu sudah keterlaluan ! Andini jadi kehilangan anaknya, cucuku ! Kamu yang sudah membunuhnya, Rahma !"


"Diam, mas ! Aku sudah muak melihatmu membelanya."


"Kamu harus tanggung jawab, Rahma !" mencengkram tangannya dan menyeretnya kasar. "Aku akan menyerahkanmu ke kantor polisi."


Bu Rahma berontak, "Lepaskan, apa kamu sudah tidak waras ? Mana mungkin seorang suami tega menjebloskan istrinya ke balik jeruji besi !"

__ADS_1


"Kau yang sudah tega berbuat jahat pada putriku !"


Sebelah tangan Bu Rahma mengambil sebuah gelas lalu memukulkannya pada belakang kepala Pak Daniel. Pria itu pun menghentikan langkahnya lalu berbalik. Tangannya memegang bagian kepalanya yang sakit dan mengeluarkan sedikit cairan kental merah pekat.


"Rahma, kau ingin melenyapkan aku ?" menatap tajam.


"Tidak, mas. Aku hanya ingin kamu melepaskan aku. Jangan bawa aku ke kantor polisi !" memelas.


Pak Daniel terlihat makin geram. "Aku akan tetap melakukannya. Kau harus bertanggung jawab atas keguguran yang dialami Andini !"


"Tidak, mas ! Lepaskan aku !" berontak lagi karena tangannya kembali dicengkram.


Tidak, aku tidak mau dipenjara !


Bu Rahma menggigit tangan Pak Daniel.


"Awww, kau !" suaminya itu menggeram kesakitan sambil melepas cengkraman tangannya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu membawaku ke sana, mas !" mendorong kuat tubuh suaminya lalu berlari ke lantai atas.


Tubuh Pak Daniel membentur tembok dengan keras. Belakang kepalanya yang tadi dipukul gelas, kini lebih banyak mengeluarkan darah akibat menghantam tembok. Seketika itu juga tubuhnya ambruk ke lantai.


Bu Rahma berhenti berlari dan segera melihat situasi di bawah, karena suaminya itu tak mengejarnya. "Mas !" berteriak histeris sambil turun lagi ke bawah, menghampiri Pak Daniel.


"Mas, bangun ! Aku tidak bermaksud mencelakai mu." Menggoyangkan tubuh pria itu.


"Gawat, dia tidak berreaksi. Jangan-jangan...." mengecek denyut nadi dan nafas suaminya.


Bu Rahma terduduk lesu. Ternyata nyawa suaminya sudah tidak ada. Dia sudah melenyapkan pria itu tanpa sengaja. Tubuhnya gemetaran.


"Apa yang harus aku lakukan ? Jangan sampai ada yang melihat semua ini. Aku harus segera pergi dari sini !" bergumam frustasi.


Bu Rahma beranjak lekas pergi. Untung saja saat itu semua pembantunya sedang ada di gudang belakang. Tidak ada yang melihat kejadian itu.


Selang setengah jam seorang pembantu berteriak histeris karena melihat majikannya tergelatak di atas lantai dengan bersimbah darah. "Tolong....!"


Satpam dan pembantu yang lain berhamburan ke arah suara. Mereka segera mengangkat tubuh majikan itu dan membawanya ke Rumah Sakit.


***


Yusuf mengusap kepala istrinya yang berbaring di ranjang Rumah Sakit. Andini baru bisa tenang saat ini.


"Mas, maafkan aku. Tadi aku sudah marah-marah dan menyalahkanmu atas kejadian ini." Lirih Andini.


"Aku mengerti, sayang. Jangan dipikirkan ! Sekarang kamu istirahat !" mengecup kening istrinya.


Beberapa menit kemudian, Andini benar-benar tertidur. Itu karena efek obat yang diberikan Dokter.


Saat itu ponsel Yusuf bergetar. Dia segera mengambilnya dari dalam saku jas. Sebuah panggilan masuk dari sang asisten segera dia jawab.


"Tuan, maaf mengganggu. Saya baru dapat kabar jika Pak Daniel baru saja dilarikan ke Rumah Sakit yang sama dengan nona."


"Jangan bercanda, Will ! Ayah tadi memang bersama kami dan sudah pulang ke rumahnya."


"Saya tahu, tuan. Tapi menurut informasi, Pak Daniel barusan ini dibawa ke Rumah Sakit karena ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di rumahnya."


"Lalu bagaimana keadaannya ?" makin panik.


"Pak Daniel tidak dapat tertolong. Beliau sudah meninggal, tuan."


"Apa ? Kamu yakin ?"


"Benar, tuan. Pak Daniel sudah tidak ada lagi di dunia ini."


Kabar ini benar-benar membuat Yusuf shock. Bagaimana dia akan menyampaikan berita duka ini pada istrinya ? Baru saja Andini kehilangan anak, sekarang ayah kandungnya pun pergi. Apakah Andini akan sanggup jika mengetahuinya ?


Note:


Sedikit pengumuman buat kalian yang juga suka mampir di novel My husband is a Gay. Maaf sekali saya tidak bisa melanjutkan cerita tersebut, dikarenakan novel saya yang itu ada yang laporin. Mau tidak mau cerita Adrian dan Nayna terhempas dari Noveltoon. Padahal saya udah capek-capek nulis, karyanya juga udah dapet level dan masuk peringkat karya baru. Tadinya mau ajuin kontrak, tapi keburu ada masalah ini, jadi saya harus merelakan. Biarlah ini jadi pelajaran agar saya lebih hati-hati dalam menuangkan cerita. Meski masih ada sedikit uneg-uneg, kenapa novel lain yang bercerita tentang 9*y juga, masih aja anteng bertengger di NT.


Tapi ya sudahlah, harus rela. Terima kasih banyak atas support kalian !

__ADS_1


__ADS_2