
Mangkok kedua Andini sudah lebih dulu habis. Sementara punya Yusuf masih tersisa setengahnya. Cara makan gadis itu benar-benar menarik perhatian Yusuf. Pria tampan itu geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan keahlian terpendam si gadis kucel yang imut.
Andini mengelus perutnya yang terasa engap. Mungkin dia kekenyangan karena menghabiskan dua mangkok bubur ayam plus sate telur dan ati. Ditambah segelas air teh hangat, rasanya saat ini Dini susah bergerak.
"An, mau tambah lagi ?" Yusuf sebenarnya tahu jika gadis itu sudah tak mampu lagi menampung makanan. Dia hanya ingin menggoda saja.
"Tidak, sudah sangat kenyang." Andini menggeleng pelan.
"Baiklah, karena kau sudah kenyang, mari kita pergi sekarang !" Yusuf berdiri menghampiri penjual bubur lalu memberi tiga lembar uang berwarna merah.
Si bapak penjual sontak kaget hingga tak berani mengambil uang pemberian Yusuf. Itu terlalu banyak, bahkan selembarnya saja harus diberi kembalian yang banyak. "Maaf tuan, semuanya jadi empat puluh lima ribu. Satu porsinya cuma lima belas ribu. Ini terlalu banyak."
"Benarkah ? murah sekali ! tapi tidak apa, ambil saja selebihnya untuk bapak." Yusuf tersenyum sambil menyodorkan uang.
"Terima kasih banyak, tuan ! anda baik sekali. Semoga rezeki dan jodoh anda dimudahkan." Dengan senang hati, bapak itu menerima uang dari si pembeli kaya.
Yusuf hanya tersenyum dan segera menghampiri Andini. Dalam hatinya dia mengamini doa si bapak pedagang bubur. Semoga saja dia bisa mendapatkan jodoh terbaik dan juga imut seperti......lhooooo, kenapa otaknya teringat pada gadis di depannya ? gila, hanya memikirkannya saja jantungnya bisa memompa lebih cepat. Ada apa dengannya ?
Yusuf menahan senyumnya, namun pancaran kebahagiaan jelas terlihat dari wajahnya. Andini tak memperhatikan pria itu, dia sibuk mengelus perutnya yang sakit karena terlalu kencang terisi makanan.
"Andini, ayo !" suara itu terdengar begitu indah di telinga gadis itu. Membuatnya dag-dig-dug tak karuan. Setiap detik pesona pria tampan ini semakin bertambah. Jika berada di dekatnya terus, mungkin Dini akan sering terkena serangan jantung.
Andini mendongak dan tersenyum. Dia beranjak dari duduknya dan melangkah lebih dulu. Yusuf yang ada di belakangnya dibuat terpaku setelah melihat senyuman Dini yang ternyata sangat manis. Ini untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum ramah dengan tulus.
Yusuf mensejajarkan diri berjalan bersama Dini. Dia tersenyum melihat cara berjalan gadis itu yang terlalu pelan, seperti wanita yang tengah hamil besar. Hanya saja, perut Dini tidak sebesar itu tentunya.
Andini berhenti melangkah, dahinya mengerut. Dia mendelik ke arah pria yang ada di sebelahnya. "Heyyy, kenapa tertawa ? apa ada yang aneh ? atau.....ahhh, jangan menghina ! aku tahu aku ini kucel !"
"Bukan, jalanmu sangat lambat. Mau ku bantu ?" tangan Yusuf bersiap memegang tangan Andini.
Andini menempelkan tangan di dadanya agar si pria baik hati tak dapat memegangnya. "Tidak perlu, aku masih bisa berjalan." Gadis itu nyengir kuda menutupi rasa malunya.
Keduanya berjalan ke parkiran lalu masuk ke dalam mobil. Yusuf berbicara sambil memakai sabuk pengamannya. "Sekarang kita mau kemana ?"
"Tidak tahu, aku tidak punya tempat tinggal selain rumah itu. Tapi sekarang aku sudah tidak lagi bekerja di sana. Aku bingung harus kemana ? maka dari itu aku meminta bantuanmu." Dini menundukkan wajahnya. Sebenarnya dia malu karena selalu merepotkan Yusuf, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang akan peduli padanya selain pria itu ?!
Yusuf menghadap ke arah gadis itu. "Kita ke hotel saja ? bagaimana ?"
Andini mendelik kesal, "Kau ? aku bukan perempuan murahan yang mau diajak ke tempat seperti itu !"
__ADS_1
Yusuf terbahak, "Heyyy, pintar ! memang apa yang kau pikirkan ? hotel itu tempat menginap !"
"Aku tahu, tapi bukankah tempat itu sering dipakai berbuat yang tidak pantas ?!" memalingkan wajahnya ke depan.
Yusuf makin terbahak-bahak, "Memang apa yang akan kita lakukan ? kau pikir kita akan bermalam bersama dan menghabiskan waktu berdua saja ? wahhh, wahhhh, aku tidak menyangka ternyata otakmu semesum itu !"
Andini membisu. Dia kehilangan kata-kata.
"Aku akan menyewa kamar hotel agar kau tinggal di sana sementara waktu, sebelum aku mendapatkan tempat yang layak untukmu."
"Tidak usah, itu terlalu berlebihan. Aku tahu biaya hotel itu sangat mahal." Andini masih menunduk.
"Kalau di apartemen ? jika mau, aku akan membiarkanmu tinggal di apartemen milikku. Aku memang belum sempat menempati. Mungkin suatu saat nanti ketika aku sudah berkeluarga. Dan sebelum itu, kau bisa tinggal di sana tanpa harus membayar sewa."
"Aku akan tinggal di sana dengan siapa ?" Dini menoleh.
"Sendiri. Itu jika kau mau. Atau aku akan memberimu satu orang pelayan agar tidak kesepian ?"
"Tidak usah." Andini makin tidak enak hati diperlakukan dengan baik oleh pria itu.
"Kenapa ? kau ingin aku yang menemani ? kau ingin tinggal berdua denganku ?" Yusuf mendongakkan kepala Dini agar melihat ke arahnya.
Andini menggeleng cepat. Bukan itu maksud arah pembicaraannya. Dia ingin mencari tempat yang kecil saja untuk dirinya sendiri. Di kontrakan sempit pun tak masalah. Itu akan sangat membantu.
Yusuf sejenak berpikir. "Kau punya dua pilihan, tinggal di rumah bersama keluarga besarku, atau di apartemen ?"
"Apa keluargamu baik, tidak galak ?" Dini menatap lekat ke arah Yusuf. Dia ingin segera diberi penjelasan. Takut jika harus tinggal dengan orang-orang seperti Pak Daniel beserta istri dan anaknya.
Yusuf tersenyum, sangat mengerti alasan gadis itu bertanya demikian. Dia memang belum pernah melihat langsung bagaimana majikan Dini berbuat jahat, tapi dari gelagat yang ditunjukkan ketiga penguasa rumah tempat Dini bekerja, sepertinya mereka memang bukan orang yang berhati lembut. Wajar jika saat ini Andini merasa cemas.
"Tenang saja, mereka orang normal yang punya pikiran sehat. Tidak akan mungkin berbuat kasar padamu." Yusuf semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dini.
Gadis yang gemetaran itu memundurkan tubuhnya hingga membentur pintu mobil. Matanya refleks menutup saat jarak bibir mereka semakin dekat. Debaran jantungnya sangat kacau. Suara lembut dari pria di depannya semakin membuatnya lemas. "An......!" terdengar memabukkan di telinga Andini. Tubuhnya menegang seiring dadanya yang naik turun.
Yusuf hampir gila karena berlama-lama menatap bibir pink Andini. Apalagi saat melihat matanya tertutup, Dini terlihat sangat sexy. Mendadak nafasnya tak beraturan. Sekuat tenaga dia mencengkram erat tangannya sendiri, bertahan dari hasratnya ingin melahap bibir itu. Akhir-akhir ini pikirannya konslet. Selalu berpikir kotor jika berdekatan dengan Andini.
Yusuf menggeleng cepat, mengusir otak ngeresnya. Kendalikan dirimu ! ingat kata mama, no mesum !
Ya, petuah dari kedua orangtuanya, terutama dari mama Suci, agar Yusuf tidak pacaran dan melakukan kontak fisik dengan lawan jenis, kini terngiang lagi di telinganya. Itulah salah satu yang menyebabkan pria itu tak pernah dekat dengan wanita manapun. Selain itu, Yusuf memang tidak tertarik untuk dekat dengan perempuan, dia lebih suka mengurus perusahaan daripada harus berurusan dengan hal yang menurutnya tidak penting.
__ADS_1
Tapi apa yang kini sedang dia lakukan ? dia merasa sudah merusak kepercayaan dari mama papanya. Ada rasa sedikit bersalah dalam benaknya, tapi dia juga tak dapat menolak daya magnet gadis yang masih terpejam itu.
Andini makin tegang saat tangan Yusuf terasa menyentuh pinggangnya. Pria itu sedikit menggeser tubuh Andini agar duduk normal. Kesadaran gadis itu mendadak hilang. Dia pasrah saja dibegini-begitu oleh si pria tampan. Andini benar-benar dibuat tidak waras saat ini.
"Sudah, ayo kita pergi !" suara Yusuf membuatnya mengerjap. Mata Andini menoleh ke arah pria yang tengah menghidupkan mesin mobilnya.
"Kenapa ? apa yang ada di otakmu ? aku hanya membantumu memakai seatbelt." Mobil melaju, pandangan Yusuf fokus ke arah depan.
Andini mengernyit, "A...apa ? tadi kau memakaikan apa ?" Bahkan aku tidak dapat mengulang satu kata yang asing itu. Aku memang bodoh ! aku yakin itu adalah bahasa Inggris atau Amerika !
"Seatbelt, sabuk pengaman." Yusuf sama sekali tidak terganggu dengan ketidak pintaran gadis itu.
Andini berohhhhh ria dalam hatinya. Berarti maksudnya adalah, pria itu sudah membantunya memakai sabuk pengaman. Astaga, Andini sudah salah faham dan kepedean, dia pikir Yusuf tadi ingin mengecup bibirnya. Sungguh mesum otak Andini saat ini.
Bodoh ! bertobatlah Andini ! memalukan ! apa yang pria itu pikirkan saat ini ? mungkin di matanya, kau adalah gadis yang mesum ! dasar tidak waras kau, Andini ! bangun, pria tampan sepertinya tidak mungkin berniat mencium gadis dekil dan kucel dan jelek sepertimu !
Andini menundukkan wajahnya yang sudah matang. Dia benar-benar malu ! tak hentinya dia mengutuki kekonyolannya. Sementara Yusuf pura-pura tak melihat ekspresi Andini. Padahal hanya dengan sekilas menoleh, dia sudah bisa menebak jika gadis itu sekarang sedang menahan rasa malunya.
***
Andini berada di ruang tamu rumah Yusuf. Gadis itu duduk dengan tidak tenang. Menunggu sang nyonya rumah menemuinya. Berbagai pikiran memenuhi kepalanya. Bagaimana jika nyonya rumah ini tidak mau menampung atau mempekerjakannya ?
Gadis itu sontak berdiri ketika seorang perempuan tua berjalan ke arahnya, diikuti Yusuf.
"Oma, ini Andini. Teman yang aku ceritakan barusan."
Andini terpaku saat dia dikenalkan sebagai teman. Padahal dia pikir, laki-laki itu akan menyebutnya gadis asing yang sedang mencari pekerjaan.
Andini mengangguk hormat sambil tersenyum. Oma Merly semakin mendekat dan mengulurkan tangannya. Dia tersenyum, "Halo nak, saya neneknya Yusuf. Panggil saja oma !" terlihat sangat ramah dan juga tulus.
Ragu-ragu Andini menjabat tangan yang keriput itu. Tangannya yang kotor tidak boleh mencemari tangan pemilik rumah. Tapi jika dia menolak, itu bisa saja menyakiti perasaan si nyonya. Akhirnya sebelum berjabat tangan, Dini mengelap tangannya ke baju yang dia kenakan. "Saya Andini, nyonya !"
"Panggil saja oma, jangan panggil nyonya ! kamu itu kan temannya Yusuf. Mari duduk !" Oma Merly merangkul pundak gadis itu. Andini mengangguk dan duduk di tempat semula berdampingan dengan Bu Merly.
Yusuf duduk di hadapan gadis itu. Dia terus menatap Andini yang masih terlihat gusar. Gadis itu menggigit bibir bawahnya karena gugup. Terlihat sangat menggoda di mata Yusuf. Gila, semakin lama apa yang dilakukan Andini terlihat menggemaskan !
"Oma, aku mau ke atas." Yusuf ingin mengalihkan pikiran kotornya dengan pergi dari sana. Jika terus menatap gadis itu, mungkin dia akan semakin hilang akal.
"Ya, pergilah mandi dan siap-siap ke kantor. Bukankah kau sudah terlambat ?"
__ADS_1
"Ya." Yusuf beranjak dan melangkah.
Andini merasa bersalah. Yusuf harus terlambat karena menolongnya. Bagaimana jika laki-laki itu dipecat karena datang terlambat ? Andini sama sekali tidak tahu bahwa Yusuf adalah sang bos.