
Tak peduli sekelam apapun masa lalu, bukankah seharusnya kita tetap menjalani hari ini dengan lebih baik untuk menata masa depan yang baik pula. Sangat wajar jika sesekali kita mengingat atau bahkan meratapinya, namun jangan sampai membuat langkah kita tersendat. Menengoklah ke belakang hanya untuk berkaca. Fokus utama adalah tetap melangkah pasti ke depan. Itulah yang coba dilakukan Suci meski kini memorinya kembali mundur ke masa-masa suram kehidupannya.
Aku belum tahu ke depannya akan seperti apa, namun aku tidak boleh memikirkannya lagi. Itu hanyalah masa lalu. Sekarang yang terpenting aku harus berusaha menjadi istri yang baik untuk mas Doni.
Suci mencoba mengusir semua kepingan-kepingan memori yang berseliweran di pikirannya. Dia kembali berbaring di sebelah suaminya dan segera mengistirahatkan tubuhnya.
Sebelum memejamkan mata, dia menatap lekat dan mengelus lembut wajah Doni.
Aku bersyukur punya suami baik seperti mas Doni. Aku harap aku bisa membuatnya selalu bahagia.
"Aku mencintaimu mas." Berbicara pelan dan tersenyum.
Akhirnya dia pun terlelap.
Sekitar jam 5 shubuh Suci sudah selesai mandi dan beribadah. Dihampirinya Doni yang masih berada di alam mimpi.
"Mas...bangun." Dengan pelan menggoyangkan tubuh suaminya.
Sebenarnya aku gak tega banguninnya. Tapi kan mas Doni harus mandi dan sholat juga.
"Mas..."
"Hemmm" Doni menggeliat.
"Bangun mas, udah subuh."
"Ehhh ya sebentar." Mengucek mata.
"Mas masih ngantuk ya ? maaf ya aku ganggu tidur mas."
"Gak perlu minta maaf, suami istri kan harus saling mengingatkan pada kebaikan." Sudah duduk dan menatap istrinya dengan senyuman manis.
Mmuahh mmuahh mmuahh kecupan di semua area wajah Suci sebelum masuk kamar mandi. Membuat merah padam wajah yang disentuh bibir itu.
"Mas Doni..." berbisik pelan menatap punggung suaminya. Merasakan kehangatan di pagi buta membuat hati berbunga.
Drett...drett..ponselnya bergetar. Suci segera mengambil ponsel itu dan menjawab sebuah panggilan masuk dari nomor Syarif.
(Assalamualaikum mbak ini Indah)
(Waalaikumussalam....mbak kira Syarif. Ada apa ndah)
(Mbak...kemarin Rani istrinya Syarif meninggal saat setelah melahirkan. Bayinya juga tidak bisa diselamatkan)
__ADS_1
(Inalillahiwainailaihirojiun...kenapa baru kasih tahu sekarang ? Syarif gimana keadaannya)
(Maaf mbak, kami semua di sini terlalu syok jadi baru bisa hubungi mbak sekarang. Syarif pasti sekarang sangat terpukul karena kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupnya. Dia sangat rapuh meski di luar terlihat tegar)
(Mbak bicara dulu sama mas Doni. Secepatnya mbak dan ibu akan ke sana. Tolong jaga Syarif)
(Ya mbak assalamualaikum)
(Waalaikumussalam)
Suci menuju kamar ibunya dan memberitahukan kabar duka tersebut.
"Inalillahiwainailaihirojiun. Rani adalah menantu dan istri yang baik, ibu menyayanginya sama seperti kepada anak kandung sendiri." Bu Ayu (ibunya Suci) sudah berlinang air mata.
Tubuhnya terasa lemas seolah tak bertulang.
"Suci mau membicarakan ini dengan mas Doni sekalian minta ijin supaya kita bisa ke sana. Ibu jangan terlalu khawatir, Syarif pasti bisa melewati semuanya dengan tabah."
Suci kembali ke kamarnya. Doni sedang melaksanakan shalat. Setelah suaminya selesai barulah Suci menghampiri dan membicarakan hal tadi.
"Kalau begitu mas minta ijin dulu ke perusahaan biar bisa ikut kalian ke sana." Doni mencoba menghubungi pihak tempatnya bekerja melalui sambungan telepon.
"Sekarang siap-siap kita akan segera menemui Syarif. Mas udah dikasih ijin untuk tidak kerja hari ini."
"Ya mas."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Semua orang yang ada di rumah mertua Syarif menjawab salam dari Suci.
Ada keluarga besar dan sanak saudara almarhumah yang ada di sana. Indah dan Toso juga hadir. Mereka menganggukkan kepala dan tersenyum pada tamu yang baru datang itu. Meski ada beberapa tatapan sinis yang ditujukan pada Suci.
Jadi wanita murahan itu sudah menikah dengan pria tampan ini ?
Mudah sekali baginya untuk mendapatkan laki-laki yang dia incar. Aku yakin segala cara pasti dia lakukan agar dinikahi pria itu.
Beruntung sekali ada pria kharismatik yang mau menikahi sampah sepertinya.
Beberapa prasangka buruk memenuhi isi kepala sebagian orang yang ada di sana. Suci sebenarnya bisa merasakan atmosfer kebencian mereka melalui sorot matanya. Namun dia tidak mau ambil pusing dengan hal tidak penting itu. Tujuannya ke sana adalah untuk ikut berbela sungkawa dan memastikan Syarif baik-baik saja.
Setelah bersalaman dengan mereka, Suci dan Bu Ayu dipersilahkan menemui Syarif di kamarnya. Sementara Doni ikut berbaur dengan mertua Syarif.
Di dalam kamar Syarif terlihat termenung dengan tatapan kosong. Tak ada air mata yang tumpah di wajahnya. Namun hatinya jelas berdarah menerima guratan takdir yang harus dia jalani.
__ADS_1
Namun saat menyadari kedatangan kakak dan ibunya, entah kenapa bulir bening itu pun mengalir tak terkendali. Suci dan ibunya memeluk Syarif.
"Kamu harus ikhlas melepas istri dan anakmu. Ini sudah takdir." Ibu menasehati.
"Kamu harus yakin bahwa semua ini kehendak Allah yang terbaik untukmu. Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Berikan doa untuk mereka....itu yang paling penting." Suci mengusap punggung adiknya.
"Ya...aku tahu. Aku ikhlas meski berat untuk menjalaninya. Apalagi rumah ini, kamar ini adalah saksi bisu perjalanan cinta kami. Semua kenangan indahku dengan Rani ada di sini. Setiap sudutnya mengingatkanku padanya. Dan bayi mungil yang kami nantikan pun ikut meninggalkanku padahal aku baru menggendongnya sebentar." Suci dan ibu ikut larut dalam kesedihan Syarif.
Di ruangan lain Doni masih berbincang dengan mertua Syarif. Mereka cukup akrab dan Doni terlihat tidak canggung karena sikap ramah mereka.
"Jadi mas suaminya mbak Suci ya ?" tiba-tiba Toso ikut bergabung.
"Saya adik ipar mbak Suci.Saya Toso." Menjabat tangan Doni.
"Saya Doni." Tersenyum seraya menyambut tangan Toso.
Kedua mertua Syarif pergi meninggalkan mereka berdua.
"Maaf mas waktu kalian menikah saya dan istri saya tidak bisa hadir karena kami punya urusan yang tidak bisa ditinggal. Tapi saya tetap mendoakan kebahagiaan kalian."
Padahal emang males aja. Aku benci dengan kakak iparku yang so suci itu.
"Gak masalah. Makasih doanya." Doni masih memasang senyum.
"Beruntung sekali ya mbak Suci mendapatkan laki-laki baik seperti mas."
"Saya yang beruntung karena mempunyai istri Sholehah seperti Suci."
"Sepertinya mas sangat mencintai kakak ipar. Tapi saya cuma mau kasih saran aja ke mas. Saya gak mau mas nanti kecewa. Jangan terlalu percaya dengan wajah polos mbak Suci. Dia itu sebenarnya tidak sebaik yang mas pikirkan."
"Apa maksudmu sebenarnya ?" mengernyitkan dahi.
"Mas sebenarnya mbak Suci itu pernah jadi wanita penghibur. Dia memang terlihat sudah berubah tapi percayalah bahwa itu hanya topengnya saja. Wanita seperti itu tidak akan pernah bisa berubah mas. Percaya sama saya." Berbisik di telinga Doni.
"Apa maksud perkataanmu ? aku yakin kamu pasti berbohong." Mulai naik pitam karena tak suka ada orang yang menjelek-jelekkan istrinya.
"Buat apa saya bohong ?" Toso masih berbisik sambil celingukan takut kepergok.
"Dulu bahkan mbak Suci pernah menggoda saya, tapi saya tentu saja menolak karena saya kan suami adiknya. Lagipula saya tidak pernah mau punya hubungan dengan wanita tidak berharga seperti itu." Semakin mengompori.
"Diam atau ku tampar kau karena sudah membicarakan kejelekan istriku !!!" dengan nada pelan namun penuh ancaman.
"Ya mas maaf. Tapi saya cuma kasih tahu aja biar mas nanti gak tertipu."
__ADS_1
Aku yakin meskipun Doni marah padaku tapi sebenarnya perkataanku sudah meracuninya. Suci mulai sekarang kamu harus siap-siap membayar hutangmu padaku. Kamu tidak mungkin lupa karena sudah membuat harga diriku jatuh. Sekarang giliranku membuat harga dirimu jatuh bahkan habis tak bersisa di hadapan suamimu.
Toso tersenyum licik apalagi saat melihat kegusaran Doni. Langkah pertama rencananya berhasil.