Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 25.


__ADS_3

Andini mulai merendam tubuhnya di dalam bathub. Aroma dari mawar dan minyak essensial dalam air hangat itu, tak mampu membuatnya merasa relax. Hatinya masih gusar dan gugup. Apa yang harus dia lakukan saat keluar dari kamar mandi ?


"Ahhhhh, ini jauh lebih menegangkan dibanding nonton film horror." Menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menggelengkan kepala.


Tok tok ! pintu diketuk. Yusuf berdiri di luar sana. "Andini, cepat ! makanan sudah datang. Kamu pasti lapar, bukan ?!" Suara itu makin membuat Andini gemetaran. Dia bahkan tak mampu menjawab.


Tok-tok lagi ! pintu diketuk lebih cepat. "Andini, kau tidak tidur di dalam sana, kan ?!" suara yang terdengar agak cemas itu membuat Andini terpaksa berbicara meski dengan terbata. "A...aku.. baik-baik saja."


"Cepatlah, kita harus makan yang banyak. Pengantin baru itu harus punya tenaga yang besar. Jika tubuh kita fit, maka semalaman ini kita bisa bermain. Jadi cepatlah, sayang !" Yusuf mesem sendiri, sengaja menggoda Andini.


Tidak ada suara dari dalam kamar mandi. Yusuf pergi dengan wajah masih tersenyum geli, "Mungkin saat ini dia sedang menutupi wajahnya sendiri karena malu. Pasti imut dan menggemaskan." Duduk di atas sofa sambil mengorek ponselnya.


Dan benar saja, Andini di dalam sana sedang menutup wajahnya rapat-rapat, seolah ada yang mengintai. Malu sendiri sebenarnya saat mendengar ocehan fulgar dari mulut suaminya.


Perlahan dia turun dari bathub, mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil membersihkan badannya. Sepuluh menit kemudian dia baru keluar dari kamar mandi.


Kepalanya yang diselimuti handuk, menyembul dari balik pintu. Celingak-celinguk mencari sosok pria yang selalu membuatnya jantungan. Yakin Yusuf tak ada di sana, dia pun keluar. Berjalan mengendap-endap takut derap langkahnya didengar telinga suaminya.


Andini bergerak hendak ganti baju. Jeng jeng !!! pria itu ternyata ada di sana. Andini memegang dadanya yang hampir berhenti berdenyut. "Yusuf ! sedang apa di sini ? keluar, aku mau ganti baju !" nyerocos kesal dan juga malu.


Yusuf tergelak, melangkah mendekati istrinya. "Kenapa ? aku adalah suamimu. Jadi tidak masalah jika aku melihat semuanya." Menyeringai sambil memindai tubuh Andini dari atas hingga bawah.


Andini menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan. "Tapi tidak bisa begitu. Aku belum terbiasa, ayolah keluar dulu." Suara rengekannya membuat Yusuf semakin gemas. Pria itu semakin mendekat, melingkarkan tangan di pinggang Andini. Menempelkan tubuh mereka hingga detak jantung keduanya dapat terasa oleh masing-masing, meski terhalang kedua tangan Andini.


Yusuf tersenyum dan matanya tak berkedip. "Hai istriku ! gadis kucel yang galak. Kamu sekarang adalah is-tri-ku. Paham ?!"


Andini mengerucutkan bibirnya, "Hey pria gila yang mesum, kenapa kau menyukai gadis yang kucel sepertiku ?"


"Tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah, saat bersama dirimu, hatiku merasa tenang. Tapi anehnya, otakku yang malah tidak waras. Kau sudah membuat pikiranku gila, sayang !" Yusuf menyeringai.


"Ya, aku memang punya suami yang mesum."


Cup ! kening Andini dikecup lembut oleh suaminya, membuat matanya terbelalak. Yusuf tersenyum dan berbisik di telinganya, "Cepat ganti baju, bukankah kita harus makan ?!" usai bicara buru-buru pergi meninggalkan istrinya yang cemberut. "Cepat ganti baju ! bukankah dia sendiri yang mengganggu ?"


***


Andini perlahan berjalan menghampiri Yusuf. Rasa gugupnya berkali lipat saat suaminya itu tersenyum. "Kenapa berdiri saja ? sini duduk !"


Hanya disuruh duduk, tapi kenapa aku gemetaran begini ?


Andini membeku di tempatnya. Yusuf tersenyum dan menarik tubuh istrinya agar duduk di pangkuannya. Dini terkesiap, matanya membulat sempurna. Kacau ! jantungnya semakin uring-uringan. Tatapan mata memabukkan itu seolah menelanjanginya. Dia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malu, sekaligus menghindari agar dirinya tidak terhipnotis.


Yusuf mengecup pipi kanan Andini agak lama. Perempuan itu semakin dibuat merinding. Dia tak berani menatap pria yang sedang memeluknya erat. Ahhhhh ! kau membuat ku gila, Yusuf ! Dini menjerit dalam hati. Pria ini benar-benar pandai membuat jantungnya meledak.


Sebelah tangan Yusuf membelai area wajah merah merona milik Andini. Mengelus kedua pipinya, hidung, bahkan matanya pun tak luput dari sentuhan. Dini terpejam saat tangan itu beralih membelai bibirnya. Kacau, kacau ! lagi-lagi jantungnya amuk-amukkan. Dadanya naik turun menahan sentuhan menggelitik itu.


Ahhhhh ! aku tertular gila !!!


Andini menjerit lagi dalam hatinya. Tubuhnya menegang tatkala bi**rnya disentuh oleh bib*r Yusuf. Sedikit kecupan di sana tapi memberi sengatan yang tinggi pada sekujur tubuhnya.


Yusuf tertawa kecil, "Sudah, buka matamu ! kita makan dulu. Aku sudah lapar. Istriku ini tidak sabaran sekali ! sengaja ingin menggodaku, ya ?!"


Andini membuka matanya. Dia mendelik kesal, bibirnya monyong. "Jangan memutar balikkan fakta ! kau yang tidak sabaran dan mau menggodaku !" antara kesal dan malu.


Pria itu masih tergelak. Dia memang hanya ingin iseng saja agar istrinya itu kesal. "Jangan berdebat lagi, kita harus makan !"


Andini berniat melepaskan diri tapi suaminya itu tidak memberi celah sedikitpun. "Tetap di sini, mau kemana ?"

__ADS_1


"Tidak kemana-mana, aku mau pindah tempat duduk. Masa makan dengan posisi seperti ini ?"


"Tidak masalah, ini menyenangkan. Ambil makanannya dan suapi aku !"


"Baru beberapa jam jadi suami, sudah manja begini !"


"Andini, istri itu harus menuruti perintah suaminya !" nyengir kuda.


"Baiklah, tuan Yusuf !" tersenyum tapi matanya melotot.


Pria itu tersenyum geli melihat keimutan istrinya. Manis dan menggemaskan !


Dini bergerak-gerak mengambil makanan di atas meja. Sungguh tidak nyaman melakukannya saat tubuhnya tak lepas dari pelukan Yusuf. Apalagi tatapan itu terus mengintimidasinya.


Dengan tangan gemetaran, dia mulai menyuapkan makanan ke mulut Yusuf. Suaminya itu merebut garpu dari tangan Andini, lalu menyuapinya. Dan akhirnya yang terjadi adalah saling suap-suapan.


Saat ini adalah momen paling anggun Andini saat makan. Mungkin karena terus diserang tatapan suaminya, dia jadi grogi. Yusuf terhipnotis melihat gerakan mengunyah Andini. Begitu sexy dan menggoda di matanya. Mendadak dia kesusahan menelan makanan ke kerongkongannya.


"Aku sudah kenyang. Aku ingin minum yang banyak, rasanya panas sekali." Yusuf berbicara dengan ekspresi seperti orang yang sedang shock.


Andini secepat mungkin mengambil air dan membantunya minum. Sudah dua gelas habis ditenggak, tapi rasa haus itu belum sirna. Dini agak takut saat suaminya itu menatapnya dengan berbeda. Seperti seekor singa yang bersiap menerkam mangsanya. Dia kenapa ?


Yusuf tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "An, sudah belum makannya ?"


"Su..sudah. Sudah kenyang." Padahal bukan kenyang, dia memang saat ini tidak terlalu berselera makan. Pikiran dan hatinya sedang tidak normal, membuatnya kehilangan nafsu makan.


Dini segera minum banyak air agar tidak terlalu gugup. Tapi dia salah besar ! Tetap saja rasa itu tak jua sirna, malah makin menjadi. Itu karena saat ini suaminya tengah meraup wajahnya. Andini masih menunduk, tapi dia tahu persis jika Yusuf masih menatapnya lapar.


"An, kamu siap ?" suara lembut itu membuat bulu kuduknya berdiri.


Aahhh, siap apa ? Yusuf, kau benar-benar membuat aku ingin pingsan !


Tanpa sadar, Andini mengalungkan tangannya di leher Yusuf. Dia sudah terhanyut dan pasrah akan diperlakukan apapun oleh suaminya.


***


Pagi buta, Andini terbangun dari tidurnya. Melihat ke sekeliling, dia berada di tempat berbeda. Ahhh, dia lupa jika saat ini bukan di kamarnya, melainkan di suite room hotel tempatnya menikah kemarin. Yusuf ? Andini menoleh, pria itu masih terlelap sambil memeluk pinggangnya.


Hampir lupa juga jika Yusuf adalah suaminya. Tidak masalah jika mereka tidur bersama seperti ini. Tapi tetap saja belum terbiasa, dia sangat malu apalagi saat ini mereka berdua tidak berpakaian sama sekali.


Andini menutupi wajahnya dengan selimut. Dia mesem-mesem sendiri mengingat malam pertamanya bersama pria tampan yang kini jadi suaminya itu.


Saat itu, dirinya benar-benar terlarut dalam kenikmatan sentuhan b**ir Yusuf. Tak hanya pada area wajahnya, tapi juga ke bagian leher dan bagian bawah lainnya. Andini bergerak-gerak kegirangan di bawah selimut. Berteriak-teriak dalam hatinya. Kejadian manis itu sangat nyata, seperti ada di hadapannya.


Dia benar-benar terhipnotis oleh perlakuan lembut dan romantis dari Yusuf. Dia bahkan tidak sadar saat dirinya berpindah dari sofa itu ke atas kasur.


Mungkin Andini sudah tertular kegilaan suaminya. Tapi ini sungguh menyenangkan, tidak masalah bukan ?!


Dini membuka selimut yang menutupi wajahnya. Dia berbaring miring menghadap ke arah Yusuf. Tersipu malu menatap wajah tenang milik suaminya. Tangan Dini merayap ke bibir Yusuf, mengelusnya lembut. Ini yang membuat aku jadi gila ! heyyy Yusuf yang sangat tampan, kau membuat istrimu ikut mesum !


Perlahan mata yang terpejam itu terbuka. Andini terkesiap lalu menghempaskan tangan nakalnya dari bibir Yusuf. Pria itu tersenyum, "Kenapa sayang, kamu menginginkannya lagi ?"


"Ti....tidak ! aku mau ke kamar mandi." Andini bangkit lalu duduk. Mengambil pakaiannya yang tergeletak di bawah kakinya, lalu segera memakainya.


"Mau ku antar ?"


"Jangan ! aku bisa sendiri." Menurunkan kakinya ke atas lantai.

__ADS_1


Ketika melangkah, Andini meringis kesakitan sambil memegang area inti tubuhnya. Yusuf langsung bangun dan berpakaian. Segera menghampiri istrinya.


"Kenapa ?" merangkul bahu Andini.


"Sakit dan terasa perih." Tangannya tak lagi memegang area inti karena malu.


"Apanya yang sakit dan perih ?" semakin panik.


Aduh, bagaimana menjelaskannya ? aku malu !


Andini nyengir, "Mungkin karena ini pertama kalinya, pu....punyaku...jadi sakit !" suaranya sangat rendah, tapi masih bisa didengar. Usai bicara, langsung menundukkan kepalanya karena malu.


Yusuf paham. Dia jadi merasa bersalah pada istrinya itu. "Maaf, aku sudah membuat mu kesakitan seperti ini. Besok kita ke dokter."


Andini mendongak lalu geleng-geleng kepala. "Tidak usah ! bukankah ini hal yang wajar ?!" nada bicaranya meninggi hampir berteriak. Memalukan sekali jika harus ke dokter gara-gara beginian !


Yusuf memang pernah mendengar jika seorang gadis yang pertama kali disentuh, akan merasakan kesakitan di daerah kewanitaannya. Itu sudah biasa tapi tetap saja dia merasa bersalah.


Yusuf membopong tubuh Andini dengan kedua tangan. Istrinya itu berteriak kaget, "Heyyy, lepaskan ! aku mau ke kamar mandi." Memukul pelan bahu suaminya.


"Aku tahu, aku akan membantumu." Melangkah ke arah kamar mandi. Setelah di depan pintu, Andini diturunkan secara perlahan.


"Yusuf, jangan ikut masuk ke dalam ! aku masih kuat berjalan."


"Yakin ? aku khawatir !"


"He-em. Jangan cemas !" tersenyum cerah.


Yusuf mengangguk, "Hati-hati, jika butuh sesuatu panggil saja aku !"


Andini manggut lalu segera masuk. Saat melangkah, rasa perih itu masih berdenyut di sana. Ternyata begini rasanya saat keperawanan kita sudah tidak ada. Tapi dirinya senang dan bangga karena yang mengambil mahkota berharganya itu adalah suaminya yang sah.


***


Yusuf menunggu dengan gusar di depan kamar mandi. Dia takut istrinya itu kenapa-kenapa. Tak lama berselang, Andini muncul dari balik pintu. Dengan sigap dan hati-hati, dia mengangkat tubuh istrinya, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. "Sekarang kamu istirahat." Menyelimuti tubuh Andini hingga ke leher.


Dia ikut berbaring sambil memeluk erat tubuh istrinya. Membenamkan wajah Andini ke dalam dadanya. "Maaf, aku sudah membuatmu kesakitan. Lain kali aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati."


"Bisa tidak, jangan membahas itu ? aku malu !" semakin menelusup ke dalam dada bidang milik suaminya.


"Andini, aku sangat mencintaimu. Terima kasih banyak karena sudah mau menjadi istriku." Membelai lembut rambut Andini.


"Aku juga sangat mencintaimu. Terima kasih karena sudah mau menjadikan gadis kucel ini sebagai istrimu." Tersenyum bahagia.


Perlahan mata Andini tertutup. Belaian lembut dari Yusuf membuatnya mengantuk.


Yusuf mengecup kepala Andini. Melepaskan tangannya dari tubuh istrinya. Wajahnya disejajarkan dengan wajah Dini. Menatap lekat setiap inchi dari guratan indah wajah itu. Benar-benar indah ! Semua yang ada pada perempuan itu sungguh membuatnya takjub !


Tangannya bergerilya ke daerah pipi dan bibir manis penuh madu itu. Cup ! sekali kecup saja tidak masalah, bukan ?! memang bukan masalah, hanya saja dirinya menjadi semakin ketagihan ingin merasainya lagi.


Bolehlah jika hanya mencium saja, toh yang sakit adalah area bawahnya Andini, bukan bibirnya. Perlahan bibir itu mendarat lagi di area bawah hidung Andini. Mengecup perlahan, menyesap dan memagutnya. Tanpa terduga istrinya itu merespon. Serasa mendapat ijin, dia lebih mengeksplor lagi bagian termanis itu.


Lagi-lagi sentuhan lembut dan pelan berubah jadi gerakan cepat dan menuntut. Otaknya kembali miring. Dengan nafas tidak beraturan, dia menatap wajah merah merona milik Andini. "Jika kita melakukannya lagi, apa kamu keberatan ?"


Andini menatapnya lekat, dia menggeleng pelan. Meski masih ada sedikit nyeri di bagian itu, tapi dia pun menginginkannya kembali.


Yusuf berbisik di telinganya, "Aku akan melakukannya dengan hati-hati." Andini mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya Yusuf dan Andini mengulang kembali adegan paling erotis dalam hidup mereka. Keduanya benar-benar terhanyut dalam keromantisan. Seakan berada di dunia yang hanya dihuni oleh mereka berdua.


Yusuf dan Andini saling menyentuh dan memberi keindahan. Mengatakan kepada dunia, bahwa mereka kini saling memiliki. Kebahagiaan membuncah dalam benak keduanya. Ternyata menikah itu sangatlah indah, kawan !


__ADS_2