
Bu Merly menatap gadis yang duduk di sebelahnya dengan lekat. Dia heran kenapa cucunya bisa mengenal dan berteman dengan Andini, yang penampilannya menunjukkan bahwa gadis itu bukan dari kalangan mereka.
Bukan apa-apa, dia hanya ingin tahu bagaimana cara mereka bertemu ? selebihnya Bu Merly sangat percaya jika Yusuf tidak mungkin bergaul dengan orang sembarangan. Apalagi Andini adalah satu-satunya perempuan yang dikenalkan padanya. Dan setahu Bu Merly, Yusuf selama ini memang tidak punya seorang pun teman dekat perempuan. Itu artinya, gadis berpenampilan kucel itu sangat berbeda dan punya daya tarik tersendiri bagi cucunya.
"Andini, Yusuf bilang kamu sedang ada masalah. Sedang terkena musibah dan membutuhkan tempat tinggal. Jika mau, tinggal saja di rumah ini. Masih ada kamar yang kosong di atas. Kamu pasti betah karena di rumah ini ada dua cucu oma yang lain, adiknya Yusuf. Bahkan juga kadang ada sepupu-sepupunya yang menginap. Rumah jadi rame." Bu Merly bercerita dengan mata berbinar. Orang tua itu terlihat bahagia. "Tapi saat ini semua cucu oma sedang liburan. Mungkin besok baru pulang."
Andini tersenyum sambil manggut-manggut. Berkat sikap ramah neneknya Yusuf, dia sudah tidak tegang lagi.
"Apalagi jika orang tuanya Yusuf pulang ke Indonesia, suasana jadi lebih rame lagi !" rasa bahagia dan rindu bersarang di hati Bu Merly.
"Memangnya mereka sekarang ada dimana ?"
"Di Jepang, meneruskan bisnis mendiang opanya Yusuf. Jadi, apa kamu mau tinggal bersama kami ?"
"Jika oma tidak keberatan, saya ijin menumpang di rumah ini. Soalnya saya bingung harus kemana ? Saya bersedia bantu beres-beres atau masak. Saya juga bisa mengerjakan tugas yang lain."
"No, no ! kamu teman Yusuf, bukan pelayan di rumah ini ! jika mau tinggal, ya tinggal saja. Tidak usah mengerjakan apa-apa. Banyak pembantu kok di sini."
"Tapi, saya tidak enak hati jika hanya menumpang saja." Andini menunduk.
"Begini saja, tugasmu adalah menemani oma. Kadang oma kesepian jika adik-adik Yusuf sedang ada di luar. Oma anggap itu adalah cara kamu membayar sewa rumah ini, bagaimana ?" Bu Merly tertawa kecil.
Andini mengerti jika ini adalah kebaikan dari orang tua itu. Mana mungkin tinggal di rumah semewah ini, bayar sewanya hanya dengan menemani ngobrol ?! Sebenarnya dia tak enak hati, tapi jika menolak takut melukai perasaan oma. Lagipula dia mau tinggal dimana, jika tidak menerima bantuan dari Yusuf dan neneknya ?
"Baik, Oma. Terima kasih banyak." Andini mencium tangan Bu Merly. Di sudut matanya, tergenang sedikit bulir bening yang akan segera jatuh jika dia tak menahan rasa harunya. Mungkin seperti inilah rasanya jika mempunyai seorang nenek yang menyayanginya.
Andini memang mempunyai nenek dari pihak ayahnya, tapi jangankan memberi kasih sayang padanya, mengetahui jika Dini adalah cucunya saja, tidak ! sedangkan nenek dan kakek dari pihak ibunya, sudah tidak ada lagi di dunia ini. Jika pun masih hidup, kemungkinan besar mereka tidak akan peduli pada anak haram sepertinya. Kenapa nasibnya semalang ini ?
Andini mengusap air mata yang baru jatuh ke pipinya. Kenapa masih saja menetes, padahal sudah sekuat tenaga dia menahan kesedihannya ? Bu Merly menatapnya lekat sambil mengusap lembut rambut semrawut gadis itu. "Jangan menangis, sekarang ikut oma ke kamar atas !"
Andini mengangguk. Keduanya melangkah menuju tangga, Dini berjalan di belakang oma Merly. Sampai di depan sebuah kamar, "Tunggu di sini, Oma lupa belum bawa kuncinya !" Bu Merly melangkah pergi ke kamarnya.
Andini mengangguk hormat. Saat itu muncul Willy. Pria itu menatap gadis yang sedang celingukan. Dia heran kenapa pembantu Pak Daniel bisa ada di rumah tuannya ?
Ehhhh, itu kan asisten Yusuf ! aku harus bicara padanya !
Dini menghampiri Willy yang sudah berjalan dua langkah dari tempatnya berdiri. "Tunggu asisten, aku mau bicara ! penting, ini mengenai Yusuf."
Willy menghentikan langkahnya karena mendengar gadis itu menyebut nama atasannya. Dia menoleh, "Apa yang ingin anda bicarakan ?"
"Begini, aku ingin meminta bantuan. Kau dan Yusuf..." Dini menjeda kalimatnya karena melihat pria itu mendelik tak suka.
__ADS_1
"Maksudku, tuan Yusuf pasti sekarang akan terlambat datang ke kantor. Itu semua gara-gara dia membantuku tadi. Aku takut dia akan dipecat. Kau juga pasti sama-sama akan dipecat juga oleh bos kalian. Agar aku tidak merasa bersalah lagi, aku ingin minta bantuan agar kau bicara dengan bos kalian, carilah alasan yang kuat agar bos besar itu bisa memaafkan dan tidak memecat tuan Yusuf dan kau, tentunya !"
Willy geleng-geleng kepala dan memutar bola matanya malas. Gadis ini sudah panjang lebar nyerocos, tapi semua perkataannya tidak ada yang benar. Baru kali ini aku menemukan gadis yang bodoh sepertinya !
"Dengar nona, sudah jelas jika saya adalah asisten tuan Yusuf. Yang anda harus tahu adalah, tuan Yusuf tidak punya atasan. Beliaulah bos besar itu, tidak akan ada yang bisa memecatnya ! permisi !" Willy melenggang pergi ke kamar yang terhalang dua kamar dari kamar yang akan Andini tempati.
Gadis itu melongo kaget. Dia menepuk-nepuk jidatnya sendiri. Bodoh ! bodoh !
Bu Merly berjalan menghampiri Dini dan segera membuka kunci pintu kamar itu. Dia masuk ke dalam diikuti Andini. Gadis itu kembali dibuat terpukau dengan kamar yang akan dia tempati. Begitu mewah dan lebih besar daripada kamar Yasmin.
Sebuah ranjang king size yang sangat empuk menari-nari di pelupuk matanya. Jika gadis itu tidak tahu malu, maka saat ini dia sedang rebahan atau bahkan lompat-lompat di atasnya. Sangat jauh......berbeda dengan kasur sempit dan reot yang biasa dia tiduri saat di rumah ayahnya.
Ada sofa di dalam kamar itu. TV berukuran besar menempel di depan atasnya. Ruang ganti yang berkali lipat lebih luas daripada kamarnya ketika tinggal di rumah Pak Daniel. Bu Merly menunjukkan kamar mandi yang tak kalah luas dan membuat Andini tercengang. Bukan karena baru pertama kali melihat shower ataupun bathub, tapi ukurannya yang sangat luas, lagi-lagi melebihi punya Yasmin.
Bu Merly hanya tersenyum melihat ekspresi wajah gadis itu. "Kamu suka dengan kamar ini ?"
Andini mengangguk-anggukan kepalanya. Matanya masih menyisir ke penjuru ruangan.
"Baiklah, oma pergi dulu. Sekarang kamu istirahat saja. Atau terserah kamu mau mandi, atau apapun."
Bu Merly tidak menyuruh asisten rumah tangga untuk membereskan barang-barang Andini, karena gadis itu hanya membawa tas ransel. Sepertinya masih bisa diatasi sendiri.
"Sama-sama." Bu Merly menepuk pelan bahu Andini sambil tersenyum. Kemudian berlalu pergi.
Andini melangkah ke ruang ganti. Dia masih takjub melihat lemari pakaian 6 pintu sliding ukuran jumbo dan juga mewah. Lemari berwarna cream dengan panjang 240 cm, lebar 55 cm dan tinggi 200 cm. Pintu kanan dan kirinya sliding, sementara pintu tengah bukaan biasa.
Dia merasa kecil dan tidak pantas memakai lemari itu. Baju bututnya akan merusak kemewahan design benda itu.
"Ah, sudah saja biarkan di dalam tas. Lagipula bajuku tidak sampai sepuluh stel." Akhirnya dia menyimpan ransel miliknya di dalam keranjang cucian.
***
"Maaf tuan, saya terlambat menjemput anda. Tadi ada sedikit masalah dengan mobil yang saya bawa." Willy menunduk seperti biasa di hadapan Yusuf. Pria itu berdiri agak jauh, di dekat pintu kamar.
"Tidak masalah, lagipula aku juga baru pulang. Ada beberapa hal penting yang harus ku urus." Yusuf bicara sambil memasukkan jas ke tubuhnya.
Apa yang dimaksud urusan penting oleh tuan Yusuf adalah mengenai gadis itu ? sebenarnya apa yang sudah terjadi ? apa ada hubungannya dengan keberadaan gadis itu di rumah ini ?
Willy tak berani bertanya dengan kebingungannya. Dia tidak mau lancang. Lagipula tuannya nanti juga pasti akan memberi tahu sendiri.
"Oh ya, Will. Apa kau sudah dapatkan informasi mengenai Andini ?"
__ADS_1
"Belum, tuan. Orang suruhan saya masih menyelidiki. Dia sekarang ada di sebuah desa yang diperkirakan merupakan tempat asal gadis itu. Jika sudah beres, dia akan langsung melapor."
"Bilang padanya agar bertindak cepat ! dan satu lagi, segera lengkapi bukti-bukti kecurangan Daniel ! pria itu harus segera didepak dari Perusahaan !" Yusuf melangkah pergi.
"Baik, tuan !" Willy mengangguk hormat dan segera mengikuti bosnya.
Mata Yusuf berkeliaran ke segala arah saat dia berjalan meninggalkan rumah. Sosok gadis itu tidak nampak. Mungkin Andini sudah menempati sebuah kamar, sedang rebahan atau....mandi ?
Stop ! kenapa aku membayangkan yang aneh-aneh tentang Andini ?
Yusuf memijit pangkal hidungnya. Hari masih terhitung pagi, tapi otaknya sudah sekotor itu. Mungkin saat keramas, Yusuf belum benar mencuci kepalanya.
"Apa anda sedang tidak enak badan, tuan ?" Willy cemas melihat tuannya mendadak diam sambil memijit pangkal hidung, seperti orang yang sedang sakit kepala.
"Tidak !" Yusuf kembali melangkah tentu saja diikuti asistennya.
Sebenarnya apa yang sedang tuan Yusuf pikirkan ? apa ada masalah lain yang mengganggunya ?
Willy yakin jika atasannya itu sedang gusar atau bingung. Dia hanya belum tahu apa penyebabnya.
***
Andini telah selesai mandi dan ganti baju saat oma Merly menemuinya di kamar. Gadis itu buru-buru menghampiri dan sungkem pada neneknya Yusuf. Orang tua itu memindai seluruh tubuh Andini dari atas sampai bawah. Gadis manis dan masih muda seperti Andini, mau-maunya memakai rok panjang model payung yang sudah jadul, dan atasan baju panjang polos yang sudah lusuh, bahkan bagian lengannya sudah agak robek.
"Dini, maaf. Apa kamu punya baju yang lebih layak dari ini ?"
Andini menundukkan kepalanya lalu menggeleng pelan. Dia sebenarnya malu, tapi mau bagaimana lagi ? hanya baju seperti itu yang dia punya. Bu Merly merasa sedih melihat penampilan tidak layak gadis itu. Dalam pikirannya bertanya, sesusah apakah gadis muda ini hingga tak punya pakaian yang layak ?
Bu Merly masuk ke ruang ganti, mengecek lemari yang ternyata masih kosong. "Mana baju-bajumu ?"
"Saya tidak menyimpannya di sini. Baju saya sedikit, jadi tidak masalah jika dibiarkan di dalam tas." Andini nyengir.
"Mana tasmu ?"
Andini menunjuk ke keranjang cucian sambil menunduk. Bu Merly terlihat marah. Andini pikir itu karena dirinya tidak menyimpan baju di lemari. Padahal itu sebenarnya adalah ekspresi ketidaksabaran, ingin melihat seperti apa pakaian Andini.
Bu Merly secepat kilat mengambil ransel Andini dan mengeluarkan isinya. Astaga, semua bajunya sangat lusuh. Tidak ada satupun yang layak pakai. Gadis ini benar-benar menyedihkan. Bahkan pakaian pembantuku saja lebih bagus !
"Andini, buang saja semua pakaianmu beserta ranselnya ! ikut oma, kita ke Butik sekarang juga. Tapi sebelum itu, kamu harus ganti baju dulu. Oma akan ambilkan baju punya adiknya Yusuf, sepertinya akan muat." Bu Merly melempar ransel butut Andini ke keranjang cucian.
Andini tersentak kaget dengan apa yang dia dengar. Oma akan membawanya ke Butik ? pakaian di sana pasti sangat mahal, bagaimana dia akan menggantinya ?
__ADS_1