
Hari ini mama Merly dan Raisya sudah kembali ke rumah. Mereka membawa banyak sekali oleh-oleh untuk Suci. Makanan sudah pasti, yang paling menyita perhatian adalah perlengkapan bayi yang mereka beli untuk calon anak Suci dan Riki.
Raisya sudah ribut saat bertemu kakak ipar, bahkan Bu Merly yang biasa kalem pun ikutan heboh. Keduanya duduk di sisi kiri kanan Suci, di ruang keluarga.
"Mbak, lihat ini warnanya lucu sekali !" Raisya menyodorkan satu stel baju bayi panjang dengan warna pink bergambar kartun.
"Ini pilihan mama lebih lucu, warnanya biru gambar super car." Ibu mertua tak mau kalah.
"Sepatu, aku juga pilihkan sepatu mungil nan imut. Lihat mbak, warnanya juga pink. Ada juga yang warna merah." Raisya memberikan seabrek sepatu bayi.
"Mama bahkan sudah belikan juga mainan untuk calon cucu mama." Bu Merly menunjukkan beberapa kotak mainan anak.
Raisya dan ibunya tak henti beradu argumen. Masing-masing berpikir bahwa pilihan mereka yang paling bagus.
Suci hanya nyengir, dia memegang pelipisnya. Terlalu banyak barang yang ada di pangkuannya. Terlalu banyak suara yang berbunyi di sisi kiri kanannya, membuat kepala Suci pusing.
Ibu dan anak ini sama-sama tidak mau kalah, mereka membuatku sakit kepala.
"Raisya, mama ! terima kasih banyak sudah sangat memperhatikan aku dan bayiku. Semuanya sangat bagus, aku suka. Tapi sepertinya saat ini tiba-tiba kepalaku pusing. Aku permisi mau ke kamar." Suci beranjak dan menyimpan semua barang-barang tadi di bekas duduknya.
"Aku antar ya mbak." Raisya berdiri memegang lengan Suci.
"Biar mama yang pijitin kamu." Bu Merly ikut berdiri.
"Tidak usah, terima kasih. Aku hanya perlu tiduran sebentar. Permisi !" Suci segera pergi.
"Ya sudah, mama mau mandi dulu. Biar bi Fatma yang membereskan semua barang ini."
"Aku juga. Badanku sudah lengket."
Bu Merly dan Raisya sama-sama sangat antusias dengan adanya calon anggota baru di keluarga mereka.
***
Tengah malam.
Riki lagi-lagi gelisah belum bisa tidur. Guling ke sana guling ke sini. Dia mencoba duduk.
Teganya Suci menyiksaku. Dia tidur dengan sangat tenang seperti itu, tapi aku kepanasan. Ohh ayolah, kenapa otakku selalu mesum jika berdekatan dengannya ?
Riki mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya dengan stress. Saat menatap wajah Suci, rasanya dia seperti melihat sebotol air es ketika kehausan di padang pasir. Air liurnya seolah menetes.
Menggemaskan sekali !
Riki menelan salivanya kasar. Dia mengusap lembut pipi istrinya. Mengecup setiap area wajah yang masih terlelap itu.
Astaga, aku tidak tahan ingin melahapnya ! kenapa aku semesum ini ? baru beberapa hari tapi rasanya tersiksa begini. Apalagi jika benar-benar harus sebulan sekali !
Akhirnya dia berbaring lagi menghadap Suci. Bimbang melanda.
Lakukan atau jangan ? minta tidak ya ? apa Suci tidak akan marah ?
Riki tersenyum setelah mendapatkan ide untuk memuluskan aksinya. Dia mendekap erat tubuh Suci dan melahap bagian paling manis dari wajahnya. Sengaja menggigitnya keras agar Suci terbangun.
"Awwww sakit ! apa yang sedang kamu lakukan mas ? mengganggu saja." Suci teriak sambil memegang bibirnya.
"Maaf sayang." Riki cuma nyengir.
"Mas keterlaluan." Suci memukul bahu suaminya dengan keras.
Riki tidak melawan. Dia masih nyengir.
"Apa mas membenciku ? kenapa tega mengigit bibirku ? aku sedang enak tidur, mas malah sengaja mengganggu." Kemarahan Suci berganti jadi tangisan.
"Maaf...aku cuma mau kamu mengabulkan permintaanku malam ini. Aku juga sedang ngidam sesuatu." Riki menyeka air mata Suci dengan ibu jarinya.
Suci mengernyit.
"Memang sejak kapan kamu ikutan ngidam ?"
"Sebenarnya dari kemarin-kemarin, tapi aku kasihan pada bayi kita. Itu...aku mau...anu.." Riki agak grogi mengatakannya.
Sebelah alis Suci terangkat, menyelidik ekspresi suaminya.
"Aku ingin kita, olahraga malam ini."
"Malam-malam begini kamu mau olahraga ? tidak cape ? aku pikir apa. Kalau mau olahraga kenapa membangunkan aku ? mas saja sendiri, aku mau tidur lagi." Suci membelakangi suaminya.
"Bukan olahraga itu, maksudku aku ingin menjenguk calon anak kita, mungkin dia merindukan ayahnya." Riki berbisik di telinga Suci.
Ya ampun, maksudnya dia ingin mencumbuku ? baru libur sebentar tapi dia sudah tidak tahan.
Suci menghadap kembali pada Riki.
"Kemarin-kemarin kan aku sudah mengabulkan keinginanmu. Saat ngidam makan nasi goreng kambing, aku belikan. Kamu mau es krim menara aku juga kasih. Terakhir kamu ingin jalan-jalan di tengah sawah, aku kabulkan. Dan sekarang giliranku." Riki nyengir lagi.
__ADS_1
Suci ikut tersenyum ramah, "Jadi mas ingin kita lembur malam ini ?"
Riki mengangguk. Suci kembali memberondongi suaminya dengan pukulan.
"Mana ada ngidam seperti itu ? mas hanya modus saja ! selama aku belum hamil pun itu sudah jadi kegiatan favoritmu ! maaf mas, aku sedang tidak mood. Silahkan tidur di sofa, anggap itu hukuman karena mas sudah mengganggu tidurku !" Suci berteriak lalu kembali tidur membelakangi suaminya.
"Sayang...semenjak hamil kamu jadi galak padaku. Memang tidak kasihan ya pada suamimu ini ? setidaknya aku ingin diberi kiss dulu sebelum tidur." Riki menggoyangkan bahu Suci.
Tidak ada suara dari mulut istrinya. Akhirnya dia mengalah dan tidur di sofa sendirian. Rasanya ini seperti buah simalakama. Jika Riki tidur berdekatan dengan Suci, maka dia harus tersiksa menahan hasrat. Tapi jika tidur terpisah, dia pun tetap akan tersiksa.
Tak ku sangka nasibku akan begini !
Tapi ada perasaan lain yang dia rasakan. Selain bahagia akan segera menjadi seorang ayah, meski harus melakukan pengorbanan. Dia juga senang dengan sikap Suci yang menjadi galak dan sensitif. Ada senyum merekah di bibir pria itu.
Suci tetap manis dan menggemaskan saat marah. Aaarghhh otakku jadi mengarah lagi ke situ !
Riki menggelengkan kepalanya cepat, berharap otak ngeresnya berjatuhan. Dan malam ini dia kembali susah tidur.
***
Suci sudah berada di sebuah kebun milik warga kampung, tempat tinggalnya sebelum menikah. Riki uring-uringan karena sedari awal kedatangannya, dia sudah disambut hangat oleh nyamuk-nyamuk nakal. Seluruh wajahnya dan bagian lengannya yang terbuka, sudah penuh dengan bentol merah.
Sambil garuk-garuk, Riki terus saja nyerocos.
"Sayang, cari tempat itu harus yang romantis. Kenapa malah mengajakku ke kebun ? aku jadi digigit nyamuk. Apa kamu ingin menyiksaku ?"
"Nih pakai !" Suci menyodorkan satu sachet lotion anti nyamuk, dan Riki langsung menyambarnya.
Lotion itu dibeli Suci saat mampir di warung pemilik kebun untuk meminta ijin memetik mangga.
"Kenapa tidak dari tadi ?" Riki mengoles lotion itu ke seluruh tangannya.
"Jangan pakai di wajah mas !"
"Yaaa aku tahu !" ketus Riki.
"Jangan marah, nanti jelek !"
"Orang ganteng mau marah, mau apapun ya tetap saja ganteng." Riki menyimpan bungkus lotion itu ke dalam saku celana jeans miliknya. Tidak mau buang sampah sembarangan.
"Narsis sekali ! tapi memang benar sihhh mas memang tampan." Suci mengecup sebentar bibir suaminya.
"Walahhhh ! selain menjadi galak dan sensitif, sekarang kamu juga jadi agresif begini." Riki segera memeluk erat tubuh Suci dan gantian menyapluk bibir pink itu.
Setelah cukup lama, Riki melepaskan pelukannya dengan terpaksa. Dia meringis kesakitan memegangi bibirnya.
"Sekarang tahu kan, bagaimana rasanya digigit seperti itu ?!" Suci berkacak pinggang.
Dia melangkah terlebih dahulu, suaminya mengekor di belakang. Setelah sampai di sebuah pohon mangga, mereka berhenti.
"Nah, itu mas ! petik satu yang itu !" Suci menunjuk pada sebuah mangga yang tidak terlalu matang, yang berada pada dahan paling bawah.
"Sayang, kenapa kamu mau mangga di kebun ini ? kita kan tinggal beli saja, gampang. Mau sebanyak apapun, dari berbagai jenis pun, kamu tinggal bilang saja." Riki berkacak pinggang.
"Mas, aku mau yang itu. Dan sekalian ingin melihat langsung saat dipetiknya, sepertinya mangga itu akan jadi lebih menyegarkan." Mata Suci berbinar masih menatap buah itu bergelantungan.
Riki memijit pelipisnya. Suci menatap kesal karena ekspresi suaminya.
"Baiklah, aku saja yang naik. Percuma aku mengajak mas ke sini."
"Ahhh jangan ! sabar sayang, aku sedang mengumpulkan tenaga." Riki nyengir lalu mengambil nafas panjang.
Dia melepaskan sepatunya dan segera naik pohon dengan hati-hati.
"Awas jatuh mas, yang fokus !" Suci berteriak-teriak.
Untung aku sangat mencintaimu, jika tidak, maka aku tidak akan sudi melakukan semua ini. Bukan karena tidak bisa naik pohon, tapi aku memang tidak suka memanjat. Kecuali memanjatmu haha ! astaga, otak mesumku kenapa selalu hadir sih ?
Riki geleng-geleng kepala menghempaskan pikiran kotornya. Dia melanjutkan misinya.
"Nah benar mas yang itu, petik pelan-pelan sekali dan rasakan sensasinya !" Suci kembali teriak.
Sensasi apa ? wanita ngidam itu kadang suka aneh !
Riki mengeluh dalam hati namun dia menuruti perintah sang istri. Suci menyaksikan dengan cermat gerakan tangan Riki saat memetik buah mangga yang dia incar. Matanya berbinar takjub, seolah buah itu berkilauan. Melihat sendiri mangga saat dipetik, membuat buah itu terlihat lebih segar. Itulah yang dipikir dan dirasakan calon ibu ini.
"Ini sayang !" Riki memberikan mangga hasil petikannya setelah turun dari pohon.
"Terima kasih banyak mas !" Suci mengambilnya dengan riang gembira, seperti bocah saat diberi mainan.
Bahkan dia memperhatikan dan memeluk buah itu sepanjang perjalanan pulang. Riki menjadi terabaikan.
Ya ampun, apa aku tidak lebih berharga daripada sebuah mangga ?
Sembari menyetir, Riki mendelik sinis pada buah yang masih dipeluk istrinya. Ayolah, jangan bilang kau juga merasa cemburu pada buah !
__ADS_1
Aku bukan cemburu, tapi aku ingin sekali menginjak-injaknya !
Nah itu poinnya, Riki cemburu !
"Sayang, apa ada hal aneh lagi yang diinginkan oleh calon anak kita ? mungkin ayahnya harus memanjat pohon kelapa ?" Riki sedikit menyindir.
Suci terbahak, "Ide yang bagus."
Riki mendelik kaget.
"Ayolah mas, anak kita sangat mencintai ayahnya. Dia tidak mau merepotkan mu. Tapi saat ini dia ingin bertemu dengan mas Doni."
Cittt ! mobil mendadak berhenti. Riki menatap lekat istrinya.
"Sayang, jangan membuatku kesal !" Riki mengeluarkan jari telunjuknya.
"Dengar mas, aku rasanya ingin.....sekali, bertemu dan mencium mas Doni. Dia sangat tampan, jika aku melakukannya mungkin saja anak kita akan tampan juga." Suci menghadap ke depan dan seolah tengah membayangkan apa yang dia katakan.
"Lihat sayang, aku ini jauh lebih tampan dari si Doni, dan jika pun aku jelek, aku kan tetap ayah kandung anak ini. Kamu bisa sepuasnya menciumiku." Riki menangkup wajah Suci agar menghadapnya.
Suci terdiam, menahan geli.
"Aku tidak rela jika kamu menciumnya, aku juga tidak mau anak kita jadi jelek seperti Doni. Kalau kamu bersikeras ingin melakukannya, maka aku akan membuat wajah Doni menjadi lebih jelek lagi." Riki nyerocos kesal.
"Yang aku maksud adalah Doni si aktor terkenal itu. Bukan mantanku !" Suci berbicara santai.
Riki melepaskan tangannya dari wajah Suci. Pandangannya beralih ke depan.
"Dia memang tampan sih, tapi aku akan menculik dan mengoperasi wajahnya agar menjadi jelek. Dan kamu tidak akan lagi mau menciumnya."
Riki menoleh pada Suci ketika istrinya tertawa terbahak-bahak.
"Aku hanya menggodamu saja mas. Aku tidak berniat mencium pria manapun selain kamu. Kamu gampang sekali terpancing."
Riki kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dia saat ini sedang malu dan juga kesal dengan kejahilan istrinya.
"Mas, jalankan mobilnya lebih cepat. Dari tadi aku merasa seperti menaiki siput." Suci merengek.
"Tidak, aku ingin menjamin keselamatan calon anak kita." Riki fokus ke depan.
Ya....tentu saja. Mas Riki pasti melakukan ini. Saat ku bohongi hamil oleh mas Doni pun, dia bersikap seperti ini untuk menjaga bayiku. Apalagi sekarang saat aku memang mengandung darah dagingnya.
Sampai di rumah, Suci langsung melahap buah mangga bahkan menggerogoti hingga ke bijinya. Itu belum seberapa dibandingkan waktu itu, dia pernah mengemil pare mentah dengan nikmatnya, seolah sedang memakan pisang. Entah apalagi nanti yang diinginkan wanita yang sedang hamil muda ini.
Malam hari.
"Mas, terima kasih banyak sudah mau menuruti semua keinginanku." Suci memeluk duluan tubuh suaminya. Riki pun membalas.
"Apapun aku akan berusaha mengabulkan, kecuali jika kamu ingin mencium pria lain." Riki melotot.
Suci hanya tersenyum, "Tidak mas, aku hanya bercanda. Lagipula meski benar begitu, aku tidak akan pernah meminta apalagi melakukannya. Dosa !"
"Baguslah." Riki nyengir.
Suci mengecup semua area wajah suaminya. Tentu saja Riki dengan senang hati menyambut dan membalas. Namun setelah beberapa lama, pria itu menghentikan kegiatan mereka.
"Sudah sayang, jangan menggodaku lagi. Aku nanti bisa hilang kendali. Masih lama kan, aku harus menahan diri demi calon anak kita."
Suci tertawa kecil, "Kamu suami yang sangat baik. Aku harus memberimu bonus."
"Bonus ? benarkah ?" Riki sumringah dan langsung melanjutkan aksinya.
Beruntung sekali Riki, ternyata kerja kerasnya menyenangkan hati Suci dapat membuahkan hasil. Dan malam ini usai bertempur dengan pelan, Riki pun langsung terlelap.
Saat lewat tengah malam Riki terbangun saat mendengar suara isakan tangis Suci. Istrinya itu tengah duduk di sofa. Dia pun menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya.
"Kenapa tidak tidur sayang, dan kenapa kamu menangis ? apa kamu menyesal sudah memberikanku bonus malam ini ?" Riki mengusap air mata istrinya.
Suci menggeleng. Tangisnya semakin pecah.
"Itu, lihatlah ! adegannya sangat menyayat hati." Suci menunjuk ke arah TV yang sedang menyala di hadapan mereka.
Menyayat hati bagaimana ? itu kan hanya film animasi kucing dan tikus yang suka kejar-kejaran. Ada-ada saja !
Riki menggaruk kepalanya dan nyengir. Suci bersandar di bahu suaminya. Tangisnya belum berhenti.
"Mas, kucing itu jahat. Selalu ingin melahap si tikus. Pokonya aku tidak mau memelihara seekor kucing."
"Ahhh ya...jadi apa kamu mau memelihara tikus saja ?" Riki mesem menahan tawanya.
"Tidak juga. Kenapa mereka tidak berdamai saja ?" Suci terus membahas film kartun itu sampai akhirnya dia kembali tertidur di pangkuan Riki.
Riki hanya tersenyum menatap wajah istrinya. Banyak hal aneh saat Suci ngidam. Kadang membuatnya kesal, kadang juga menggelikan. Tapi semua itu mereka nikmati sebagai proses sebelum menjadi orangtua.
Note:
__ADS_1
Sekedar curhat nih para pembaca sekalian yang kece-kece. Sebenarnya cerita ngidam Suci pengen makan buah mangga, terus pengen lihat langsung saat metiknya, itu adalah pengalaman author waktu ngidam anak kedua. Jangan dibully yaðŸ¤
Makasih udah selalu support 🤗