Seperti Sampah

Seperti Sampah
Hubungan pernikahan Doni dan Teni.


__ADS_3

Setelah mencicipi hidangan, Suci dan Riki segera meninggalkan gedung tempat pernikahan Doni. Saat hendak masuk mobil, tiga orang pria menghampiri mereka.


"Halo bro, lama tidak bertemu !"


"Hai Rik, apa kabar ?"


"Wahhh si jomblo abadi rupanya sekarang sudah punya pasangan juga hehe."


Mereka satu persatu berjabatan tangan dengan Riki dan menepuk pundak juga punggungnya.


Ternyata dia benar-benar punya julukan Jomblo abadi.


"Sudah punya pacar tapi tidak dikenalin ke kita."


"Bukan pacar, tapi teman." Jelas Riki.


"Jangan pura-pura begitu. Kita ikut senang kamu sudah menemukan pasangan."


"Semoga kamu bisa segera menyusul Doni naik pelaminan."


Aamiin. Riki.


Mereka salah paham. Tidak ada hubungan spesial diantara kami. Suci.


"Siapa namamu ?" Fandi, salah satu dari teman Riki mengulurkan tangannya.


"Eitsss jangan pegang-pegang !" Riki menepisnya.


"Wahhh wahhh wahhh, kamu rupanya sangat mencintai dia ya. Baiklah aku tidak mau membuatmu marah. Tapi kenalkan pada kami dong." Yang lain menimpali.


"Saya Suci." Tersenyum mengangguk sambil menangkupkan kedua tangannya.


Ketiga teman Riki ikut menempelkan kedua telapak tangan mereka dan memperkenalkan diri satu persatu.


"Fandi." Selain cantik dia juga sopan.


"Rio." Benar-benar manis.


"Wahyu." Cantik dan meneduhkan hati.


Ketiganya menatap Suci hingga tak berkedip.


"Heyyy kalian berhenti menatapnya seperti itu ! tidak ingat yang di rumah apa ?!" Riki setengah berteriak hingga menyadarkan mereka dari hipnotis.


"Aahhh maaf hehe." Fandi menggaruk belakang kepalanya.

__ADS_1


"Di rumah kami memang seorang suami, tapi jika di luar kami masih lajang hahaha." Rio berceletuk seenaknya.


"Kalian jangan seperti itu, nanti kalau istri kalian diambil pria lain baru tahu rasa !" Riki berceramah.


Ketiganya malah cengengesan.


"Aku duluan ya !" Riki memasuki mobilnya disusul oleh Suci.


Riki terlihat sangat mencintai Suci. Semoga kalian berjodoh !


Itulah yang ketiga teman Riki pikirkan saat itu.


***


Malam pengantin tak seperti yang Teni bayangkan. Doni malah tidak mempedulikannya. Kini mereka sudah berbaring di tempat tidur.


"Mas...kenapa kamu jadi cuek begini sih ? apa karena wanita itu ?" Teni mengguncang tubuh Doni yang membelakanginya.


"Aku cape mau segera tidur. Jangan menggangguku !" menjawab ketus.


Aku mulai bosan pada Teni.


"Mas...ini kan malam spesial kita. Masa kamu mau melewatkannya hanya dengan tidur saja ?!" memeluk erat dan berbisik di telinga Doni.


"Malam spesial apa ? sama saja seperti malam biasanya. Kita kan memang sering melakukannya. Aku mau tidur. Jika masih mengganggu maka aku akan pindah ke kamar lain." Bicara meski matanya sudah tertutup.


Paginya saat Doni sudah siap berangkat kerja, Teni masih belum beranjak dari tempat tidur.


Jam segini masih belum bangun.


"Teni, aku mau berangkat bekerja." Doni menggoyangkan tubuh istrinya.


"Hemmm masih ngantuk, kalau mau kerja ya sudah tinggal berangkat saja. Jangan membangunkan aku." Suaranya masih lemah.


Ketika Doni pulang kerja, dia juga tak mendapat sambutan hangat dari istrinya. Malah Teni tak menampakkan batang hidungnya sekalipun.


"Kemana wanita itu sebenarnya ? suami baru pulang, dia malah masih asik keluyuran." Doni berkacak pinggang.


Selama Doni bekerja, Teni memang lebih memilih nongkrong dengan teman-temannya. Dan dia sudah tidak lagi mengurus bisnisnya. Teni menyerah setelah beberapa kali gagal mengajukan kerja sama pada tiga perusahaan. Dia memang gampang menyerah untuk urusan bisnis yang sebenarnya bukan passion nya.


Malam itu.


"Darimana saja kamu baru pulang malam begini ? bukannya menyambutku malah keluyuran tidak jelas, tidak pamit lagi." Doni menghampiri Teni yang sedang rebahan di sofa.


"Aku habis jalan sama teman-teman. Aku bosan jika harus menunggumu di rumah." Berbicara sambil main ponsel.

__ADS_1


"Setidaknya kamu harus ada di rumah lagi sebelum aku pulang. Masakin aku sesuatu atau kerjakan pekerjaan apapun untuk menyambutku."


"Kan sudah ada pembantu jadi aku tidak usah repot-repot lagi, percuma dong dibayar kalau aku masih harus turun tangan." Masih fokus ke layar ponsel.


"Tapi kan sebagai suami aku juga ingin mencicipi masakanmu. Belajarlah jadi istri yang baik. Aku ingin setiap aku berangkat kerja kamu mengantarku ke depan. Dan saat aku pulang, kamu sudah berdiri menungguku dengan senyuman. Itu akan sangat menyenangkan." Doni duduk di sebelah istrinya.


"Mas kenapa sih ? aku tidak mau seperti itu, apaan ? lagipula kamu juga belum bisa jadi suami yang baik. Di malam pengantin kita kamu malah cuek padaku." Teni merubah posisinya menjadi duduk.


"Baiklah, kita lakukan sekarang juga."


Mendengar itu wajah Teni berubah jadi cerah. Mereka akhirnya bergelut di sofa.


Tiga bulan pernikahan sikap Teni masih seperti semula. Selalu keluyuran dan tiba di rumah setelah hari gelap. Membuat Doni semakin muak.


"Mulai besok aku mau kamu tinggal di rumah saja. Jangan lagi pergi keluar. Aku tidak suka !" Doni menceramahi Teni yang baru saja masuk kamar.


"Aku baru datang mas sudah marah-marah seperti itu. Aku hanya nongkrong dengan teman wanitaku, aku tidak selingkuh. Masih untung juga aku pulang ke rumah."


"Apa kau bilang ? berani sekali berkata begitu ! kenapa kau tidak mau menungguku di rumah ? kenapa kau lebih suka nongkrong daripada bersiap menyambut suamimu ?" Doni berkacak pinggang.


"Sudah ku bilang aku bosan kalau di rumah terus. Mau pulang sore, tidak enak sama teman-temanku. Mereka ingin aku ikut clubbing." Teni menyilangkan tangan di dadanya.


"Jadi kau lebih memilih mereka daripada suamimu sendiri ?" matanya sudah melotot seolah mau keluar.


"Ya aku lebih senang menghabiskan waktu dengan mereka karena sekarang sikapmu berubah. Mas jadi sering tidak mempedulikanku. Apa mas sudah bosan padaku ?" berteriak-teriak.


"Jika kau mau berubah jadi istri penurut maka aku akan kembali bersikap manis."


Teni tidak menjawab namun besoknya dia mencoba menuruti perintah suaminya. Dia tidak pergi keluar dan hanya berdiam diri di rumah. Namun itu hanya berlangsung selama tiga hari. Setelahnya dia kembali keluyuran meski pulangnya lebih awal.


Teni duduk bersama suaminya di atas kasur.


"Teni tolong pijit kakiku, pegal !" Doni menjulurkan kakinya di hadapan Teni.


"Aku tidak mau ! aku ini istrimu bukan pembantu !"


"Aku tidak menganggapmu begitu, aku hanya ingin dipijit oleh istriku sendiri. Apa salahnya ?"


"Aku memang istrimu tapi jangan juga seenaknya memerintah dan mengaturku. Aku tidak suka !" Teni memalingkan wajahnya.


"Kau sungguh berbeda dengan Suci. Dia itu penurut dan selalu bersikap lembut, menghargai aku. Sedangkan kamu itu selalu membangkang dan tidak menghargai ku sebagai suami. Entah kenapa aku malah meninggalkan wanita baik seperti Suci dan lebih memilih wanita pembangkang sepertimu ?!"


"Jadi mas menyesal sudah kembali padaku ?" Teni beranjak dari duduknya.


"Yaa sekarang aku yakin bahwa keputusanku meninggalkan Suci itu ternyata salah besar." Doni berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Teni.

__ADS_1


"Aarghhhh !!! kenapa wanita itu masih saja mengganggu hubunganku dengan mas Doni ?" wajah frustasi Teni muncul.


Aku harus melakukan sesuatu agar mas Doni tidak bisa kembali lagi pada Suci.


__ADS_2