Seperti Sampah

Seperti Sampah
Semua berjalan sesuai takdir (tamat).


__ADS_3

Malam ini sepasang suami istri tengah duduk berhadapan di sebuah restoran. Suci anteng menyantap makanannya. Sedangkan Riki juga fokus dengan terus menatap wanita yang kecantikannya bertambah setiap harinya.


Riki menggertakkan giginya ketika melihat bibir istrinya melahap dan mengunyah makanan. Ia merasa kehausan meski di sebelahnya ada minuman. Bukan air yang menjadi pelepas dahaganya, wanita di depannya lah yang mampu menghilangkan semua itu.


Kenapa kamu semakin menggemaskan saat sedang hamil ?


Jika saja mereka sedang berada di dalam kamar, sudah pasti Suci akan langsung diterkamnya. Apalagi saat ini usia kandungannya sudah masuk 20 minggu, jadi aman jika ingin melakukan hubungan badan.


Namun, kenapa di saat situasi seperti ini yang ada dalam otak Riki adalah hal begituan ? ya ampun, tidak bisakah dia hanya fokus menyantap makanan di depannya ?


Entah karena wajah wanita hamil itu memang terlihat lebih bersinar, atau karena Riki saja yang kelewat bucin pada istrinya ?


Suci yang baru menyadari suaminya terus menatapnya lapar, wajahnya berubah menjadi merona. Meski itu tidak aneh baginya tapi, selalu saja merasa grogi jika dipandang seperti itu.


"Kenapa mas ? apa ada yang aneh dari penampilanku ?" meraba-raba bagian pipi sembari nyengir.


"Kamu semakin cantik dan menggemaskan !" sorot mata yang lekat itu membuat yang dipandang semakin salah tingkah.


"Mas....aku mau ke toilet sebentar." Suci beranjak dari duduknya.


"Aku antar ya ?" Riki sudah berdiri.


"Tidak perlu mas, hehe. Aku bisa sendiri ! lagipula mas tidak mau kan digebugi oleh para wanita yang ada di sana ?"


Ayolah, aku mau ke toilet ! kenapa masih saja mau ikut juga ?


"Aku tunggu di luar saja." Masih saja memaksa.


"Tidak mas, aku tidak mau..." Suci sejenak terdiam untuk mencari alasan.


"Sebenarnya aku tidak mau nanti wanita lain memandangi ketampanan suamiku !" Suci nyengir.


"Baiklah. Hati-hati !"


Akhirnya Riki duduk kembali dengan bangganya. Bukan karena wanita lain yang akan terkesima dengan pesonanya, tapi perkataan Suci yang terkesan dibumbui rasa cemburu yang membuatnya jadi cengengesan. Setidaknya itulah yang dipikirkan Riki.


Mas Riki ini kadang-kadang konyol !


Suci melangkah ke tempat tujuan sembari mesem.


Saat di dalam toilet.


Setelah selesai membuang sedikit cairan dari dalam tubuhnya, Suci keluar dari salah satu kamar mandi.


Bukankah itu Alice ?


Suci melihat wanita menor itu sedang menghadap cermin sembari merapikan riasannya. Beberapa detik kemudian, Alice pun menyadari keberadaan Suci yang ada di belakangnya.


Suci ? apa benar istri gila Riki ada di sini ? tapi selama ini aku selalu berhalusinasi melihatnya ada dimana-mana. Sekarang juga pasti sama, ini bukan nyata !


Alice mengacuhkan sosok yang muncul di belakangnya. Namun, mulutnya menganga saat tangan Suci menyentuh pelan bahunya.


"Mbak Alice apa kabar ? sepertinya anda sehat-sehat saja karena terlihat semakin montok." Suci bicara datar dengan senyum smirk.


Pantulan wajah dan ekspresi Suci yang terlihat dari cermin, membuat tubuh Alice gemetaran. Jantungnya berdegup kencang. Raut wajah yang seperti itulah yang tidak ingin dilihat Alice. Jujur, pertemuan terakhir mereka masih menyisakan trauma bagi wanita itu.


Apa dia masih penasaran ingin mencabik-cabik tubuhku ? kenapa aku harus bertemu lagi dengannya ? mungkinkah selama ini dia memang sudah mengikutiku ? dan setelah waktunya tepat, dia akan kembali menyerangku ? jangan-jangan dia juga membawa pisau di dalam tasnya !


Pikiran Alice semakin kacau. Dia harus bisa selamat dari wanita yang sedang mengincarnya.


"Dengar Suci ! aku masih ada urusan lain, aku harus pergi sekarang juga." Alice berbicara gugup tanpa berani menatap langsung meski kini sudah berhadapan dengan lawan bicaranya.


"Kenapa buru-buru ? santai saja !" Suci tersenyum sambil memegang erat tangan Alice yang masih bergetar.


Ya Tuhan, tolong aku !


Keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuh Alice. Apalagi saat Suci terlihat merogoh tasnya, ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


Apa dia akan mengeluarkan pisau itu ? aku harus kabur ! sial ! kenapa tidak ada orang di sini ? jangan-jangan ini semua sudah diatur oleh Suci !


Pikiran Alice semakin berseliweran kemana-mana. Otaknya dipengaruhi rasa takut berlebihan pada Suci. Sekuat tenaga dia melepaskan tangannya dari pegangan. Namun, Suci berhasil mencengkram lebih erat. Sebelah tangannya masih mengubrak-abrik isi kantong.


"Aduh, mana ya barang berharga yang kucari ? jelas-jelas tadi sudah ku simpan rapi di dalam tas. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan saat bertemu dengan mbak Alice." Lagi-lagi senyum aneh muncul di sudut bibir Suci.


"Tolong lepaskan aku !" Alice memohon dan merengek.


"Nah, sepertinya sudah ketemu !" Suci tidak mengindahkan perkataan Alice. Tangannya masih berada di dalam tas.


Lihat ! wanita itu semakin ketakutan ! haha !


Suci sengaja melonggarkan cengkraman tangannya agar Alice bisa melepaskan diri.


Kabur !


Alice berlari keluar dari sana meninggalkan Suci yang kini tengah terpingkal-pingkal. Wanita itu benar-benar dibuat tidak waras oleh kejahilan Suci.


Aku harus pindah ke luar kota ! tidak ! aku harus ke luar negri agar lebih aman ! wanita itu pasti masih penasaran padaku ! dan Riki, sudah pasti akan mendukungnya ! aku tidak boleh lagi bertemu mereka untuk selamanya !


Alice berlari mencari taksi, dia bahkan melupakan teman kencannya.


Sementara itu, Suci kembali ke mejanya. Sepanjang berjalan, dia tak henti tertawa hingga semua orang yang berpapasan dengannya terheran-heran.


Saat sudah duduk di tempat semula, wanita hamil itu masih saja terbahak-bahak. Membuatnya jadi pusat perhatian.


"Sayang apa kamu baik-baik saja ? jangan membuatku takut ! kenapa tiba-tiba tertawa seperti itu ? memang apa yang sudah terjadi ?" Riki memberondongi banyak pertanyaan.


Suci belum bisa menjawab karena masih enak tertawa. Setiap mereka ulang adegan tadi di pikirannya, otomatis tawanya akan bertambah pecah.


"Heyyy, ada apa sebenarnya ? lihatlah, semua orang memperhatikan sikap anehmu !" Riki bicara pelan.


Akhirnya Suci menceritakan semuanya dari awal saat ia menjahili Alice. Meski kadang penjelasannya dibumbui dengan tawa, tapi Riki dapat menyimaknya.


Riki pun ikut terbahak-bahak. Semua orang semakin keheranan pada pasangan itu. Namun keduanya merasa tidak terganggu dengan tatapan aneh orang-orang. Setelah lama asik tertawa bersama, mereka melanjutkan mengobrol sambil menghabiskan minuman yang masih tersisa.


"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kamu lebih jahil daripada aku."


"Habisnya aku sangat sebal padanya !"


"Tapi kenapa kamu tidak pakai cara yang sama pada Teni ? mungkin cara itu juga bisa ampuh untuk memberi wanita itu pelajaran."

__ADS_1


"Tidak mas, situasinya sangat berbeda. Teni dulu memang didukung penuh oleh mas Doni. Sementara saat ini, aku tahu bahwa suamiku tidak akan terpengaruh oleh perempuan lain. Aku tahu bahwa kamu akan selalu melindungi dan mempertahankan pernikahan kita. Mungkin itulah alasan kenapa aku seberani ini." Suci tersenyum penuh keyakinan dan rasa bangga terlihat jelas dari sorot matanya.


Riki hanya mengangguk bahagia. Dia tak pernah menyangka bahwa pada akhirnya dia akan memenangkan hati wanita yang sangat ia cintai.


Dulu saat mencoba mendapatkan Suci, wanita itu malah menghindar. Dan ketika merelakan kebahagiaan Suci dengan Doni, tanpa terduga wanita itu kembali hadir. Mereka bisa semakin dekat dan akhirnya menikah meski dengan cara yang tidak menyenangkan. Kini keduanya merasakan kebahagiaan yang utuh dalam hubungan mereka, apalagi sang calon buah hati sudah bersiap lahir ke dunia.


***


Empat bulan kemudian di suatu malam.


Seluruh keluarga Suci sedang berkumpul di ruang keluarga bersama Tuan dan nyonya Hans juga Raisya. Namun, Syarif saat itu sedang berada di ruang kerja Riki. Kedua pria itu sedang berbincang, duduk bersebelahan di sebuah sofa.


"Syarif, mbakmu pernah bilang bahwa kamu ingin kuliah. Benar ? sudah ada rencana mau ke universitas mana ?" Riki menyeruput kopinya setelah bicara.


"Mungkin belum sekarang. Saya masih harus mengumpulkan uang dulu."


"Katakan saja kamu mau kuliah dimana ? biar mas yang urus semuanya. Kamu hanya perlu belajar dengan benar saja."


"Tidak mas, aku tidak mau merepotkan." Syarif tertunduk malu.


Kenapa mbak Suci menceritakan semua pada mas Riki ?


Padahal waktu itu kakaknya hanya ingin berbincang saja dengan suaminya. Membahas segala hal termasuk tentang cita-cita Syarif yang tertunda sekian lama. Suci tidak bermaksud mengiba dan memohon agar Riki membantu adiknya. Ini memang inisiatif dari Riki sendiri. Dia memang sudah menganggap Syarif seperti adik kandungnya.


"Dengar, mas sangat menyayangimu. Ingin melihatmu menjadi pria sukses. Jika mas bisa membantu, kenapa tidak ?! tolong jangan menolak !" Riki memegang bahu adik iparnya.


"Tapi mas, aku merasa tidak enak hati."


"Jika kamu menganggap mas juga sebagai kakakmu sendiri, maka kamu tidak akan pernah menolak tawaran dari mas."


Senyum ketulusan dari Riki membuat Syarif menerima bantuannya.


"Baik mas, terima kasih banyak."


Keduanya bersitatap sambil melempar senyuman. Syarif merasa benar-benar beruntung memiliki ipar sebaik Riki. Sebelum inipun dia dan keluarganya selalu dibantu oleh suami dari Suci itu. Entah harus dengan apa membalas semua kemurahan hati dari kakak ipar.


Semoga kehidupan mas Riki selalu dipenuhi kebahagian dan kebaikan.


Setidaknya saat ini hanya doa tulus yang mampu ia berikan untuk Riki.


***


Jam sepuluh malam.


Saat di dalam kamar mandi, Suci berteriak hingga membuat Riki meloncat dari tempat tidur.


Riki menggedor pintu dengan keras.


"Sayang, ada apa ?"


Suci muncul dari balik pintu, "Mas, ada darah !" nampak panik saat berbicara.


Riki ikut cemas dan segera memeriksa setiap inci dari tubuh istrinya. Dia memegang kedua bahu Suci.


"Tidak ada yang terluka. Darah mana, tidak ada darah ?" malah semakin panik.


"Ada sebercak darah di celana dalamku." Suci berkata pelan karena merasa malu.


Suci menyentuh dadanya.


Astaga ! aku sampai kaget begini !


Lebih kaget lagi saat tubuhnya diangkat sekuat tenaga oleh Riki.


"Mas, aku masih kuat berjalan." Merasa kasihan pada suaminya karena harus membawa dua nyawa sekaligus.


"Tidak masalah. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa." Riki bicara agak ngos-ngosan.


Saat sampai di depan tangga menuju lantai bawah, Suci diturunkan dari pangkuannya.


"Maaf sayang. Aku istirahat dulu sebentar." Dadanya naik turun karena kelelahan.


Suci mengelap keringat dari pelipis suaminya.


"Mas, aku tidak apa-apa. Masih bisa jalan kok."


Riki geleng-geleng kepala, "Tidak tidak ! aku akan melindungi kalian !"


Dia mengambil nafasnya panjang sebelum kembali memangku tubuh Suci. Istrinya itu hanya menatapnya kasihan. Setelah berhasil menuruni anak tangga, Riki kembali menurunkan tubuh Suci.


"Sayang, maaf ! aku sungguh ingin membawamu ke mobil tapi, sudah tidak kuat lagi." Riki berkacak pinggang namun sebelah tangannya memegang dadanya yang naik turun. Nafasnya masih tersengal-sengal.


"Riki, ada apa ini ? kenapa kalian belum pergi tidur ?" pak Hans turun dari lantai atas dan menghampiri anak menantunya.


"Aku mau membawa Suci ke Rumah Sakit. Dia berda..." perkataan Riki disela oleh istrinya.


"Mau....cek ke dokter kandungan pa !" Suci menjawab agak gugup.


Pak Hans mengernyit, "Masa malam-malam begini ?"


"Ahhh ya pa....kami pergi sekarang !" Suci garuk-garuk sebelah alisnya.


"Kenapa kalian harus pergi ? suruh saja dokter datang ke rumah kita !" Pak Hans memberi pendapatnya.


"Ahhhh ya, papa benar ! kenapa aku tidak kepikiran ?" Riki menepuk jidatnya sendiri.


Suci hanya nyengir.


Aku juga sama konyolnya dengan mas Riki. Tidak ingat untuk memanggil dokter saja ke sini. Jika begitu kan suamiku tidak usah kerepotan mengangkat tubuhku dan si bayi.


Papa Hans hanya mesem sambil geleng-geleng kepala. Ia lantas segera menghubungi dokter keluarganya.


"Pa, jangan panggil dokter laki-laki ! aku ingin istriku diperiksa dokter perempuan." Riki menyela pembicaraan ayahnya yang baru sebatas berkata halo.


Papa Hans pun menuruti keinginan anaknya meski dengan tatapan lelah.


Sebentar, ohhh ya ! aku bisa meminta bantuan dari dokter Lia, sahabat istriku.


***

__ADS_1


Suci sudah selesai diperiksa oleh dokter Lia. Ia sedang terbaring di tempat tidur. Riki berdiri di sampingnya dengan panik. Sementara Bu Merly dan Bu Ayu berada di samping Suci di sebelah lain.


"Kamu harus bersiap untuk persalinan malam ini juga."


Perkataan dokter Lia membuat semua orang yang ada di dalam menjadi tegang. Riki segera duduk tepat di sebelah kepala Suci. Dia mengelus-elus rambut yang masih dikucir itu.


"Kenapa dok ? apa ada masalah pada Suci atau bayi kami ? kenapa harus melahirkan malam ini juga ?" Riki tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya.


Dokter Lia hanya tersenyum, "Karena memang sudah waktunya. Sudah pembukaan lima."


Suci memang pernah mendengar istilah itu tapi belum paham benar apa maksudnya. Sedangkan Riki, dia hanya teringat pada Pembukaan UUD saat upacara.


Riki mengernyit. Apa hubungannya pembukaan itu dengan Suci yang harus melahirkan malam ini juga ? Aku memang cukup tahu sebagian masalah perempuan, tapi untuk hal begini sama sekali tidak mengerti.


"Jadi begini, pembukaan yang saya maksud adalah sebuah proses jalan keluarnya bayi melalui mulut rahim. Dan saat ini Suci baru pembukaan lima, artinya baru terbuka selebar 5 sentimeter. Kita tunggu sampai pembukaan sepuluh, barulah saat itu bayi akan segera keluar."


Bu Ayu dan Bu Merly semakin deg-degan meski ada kebahagiaan di benak mereka. Keduanya sama-sama mengusap tubuh Suci dengan lembut, mengalirkan energi positif.


"Tapi saya sama sekali tidak merasakan mulas." Suci terlihat masih bingung dan belum percaya.


"Memang sebagian dari wanita yang akan melahirkan, tidak merasakan mulas atau sakit perut. Saya pun saat pertama punya anak, seperti kamu Suci. Tidak mulas atau apapun."


Suci merasa senang sekaligus dag dig dug tak karuan. Ini pengalaman pertamanya untuk melahirkan. Berbagai macam perasaan menyelimutinya.


Bagaimana rasanya saat melahirkan ? apa akan sakit ? Tapi tenang saja, berdoa saja semoga semua lancar dan baik-baik saja !


Riki pun tak kalah khawatir, jantungnya seolah mengamuk.


Ya Tuhan, lindungi istri dan calon anakku !


Dia terus memegang tangan Suci dengan erat. Sesekali menciuminya.


"Tenang saja boy, tidak usah cemas ! semua wanita pernah mengalami ini. Berdoa saja !" Dokter Lia menepuk pundak Riki.


"Baik Tante !" Riki menjawab agak kesal, dia merasa seperti bocah saat dokter Lia memanggilnya boy. Itu memang panggilan Riki dari sahabat mamanya itu saat masih kecil.


Dokter Lia hanya terkekeh dengan sikap Riki.


"Mer, aku percaya bahwa kamu bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Semoga cucu pertamamu lahir dengan selamat dan sehat." Dokter Lia tersenyum pada Bu Merly.


Beberapa jam kemudian.


Suci sudah dibawa ke Rumah Sakit dan saat ini tengah berada di ruang persalinan. Ketegangan di dalam sana dapat menembus hingga ke luar ruangan, dimana semua keluarga sedang menunggu kehadiran calon anggota baru mereka. Semua hadir kecuali Indah yang harus menjaga anaknya.


Riki terlihat begitu gusar. Kerjanya hanya mondar-mandir kesana-kemari. Kadang berkacak pinggang, kadang menyugar rambutnya kasar. Jantung Riki sudah tidak terkendali debarannya.


Semua orang pun merasakan hal yang sama dengan pria yang sebentar lagi menjadi ayah itu. Hanya saja mereka bisa duduk meski dengan perasaan tidak menentu. Bisa dibayangkan jika semua orang yang menunggu berlaga seperti Riki, maka akan sangat memusingkan.


Setelah lama menunggu, dokter Lia keluar dari ruang persalinan dan menghampiri mereka. Matanya tertuju pada Riki.


"Selamat, anakmu laki-laki yang sangat tampan dan juga sehat."


Seketika itu pun air mata keharuan tumpah dari mata Riki. Yang lain ikut terhanyut. Bahkan dokter Lia juga menangis haru.


Riki beserta Bu Ayu dan Bu Merly langsung masuk menemui Suci setelah mendapat ijin dari dokter. Sementara yang lain masih menunggu di luar, untuk masuk bergantian.


"Terima kasih banyak sayang. I love you so much !" Riki mengecup kepala Suci lalu mengambil bayi yang ada di pangkuan istrinya.


Bu Merly dan Bu Ayu memeluk tubuh Suci. Mereka berada di sisi kanan dan kiri.


Setelah Riki selesai membacakan adzan dan Iqamah di telinga bayi mungil itu, dia menyerahkan anaknya kepada mama Merly. Sang bayi pun bergantian digendong oleh neneknya yang satu lagi.


"Persis seperti Riki saat bayi." Bu Merly tersenyum bahagia dan haru memperhatikan cucunya.


"Harus dong ma...jika mirip pria lain maka aku tidak akan rela !" Riki sengaja menggoda istrinya.


Dia lalu meringis kesakitan karena mendapat jeweran di telinganya dari Suci.


"Maaf, bercanda sayang !" Riki memeluk erat dan memberikan bertubi ciuman pada semua area wajah Suci.


***


Seminggu kemudian diadakan acara akikahan untuk baby Yusuf Hadi Wijaya, anak dari Riki dan Suci. Acara itu diselenggarakan di kediaman keluarga pak Hans. Tamu yang hadir hanya seluruh anggota keluarga, sahabat dan tetangga terdekat. Doni pun ikut hadir di sana.


Semua orang bersorak saat Riki turun dari tangga sambil memangku tubuh istrinya. Dia merasa tidak terganggu dengan suara-suara mereka. Sementara Suci, sudah tak terkira lagi malunya seperti apa. Jika bisa, dia ingin kembali saja ke kamar untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah.


Mas Riki, ini adalah acara untuk anak kita. Bukan acara pengantin baru ! suamiku ini memang aneh !


Suci membenamkan wajahnya di dada Riki. Malu jika harus menatap ke arah para tamu (penonton). Namun hal itu malah menambah ramai suara-suara orang.


Sedangkan baby Yusuf sedang tertidur di pangkuan kakeknya yang berjalan di belakang Suci dan Riki. Saat sudah melewati tangga, Suci diturunkan perlahan dari pangkuannya. Setelah itu Riki memeluk dan mengecup kening istrinya cukup lama.


Apa-apaan suamiku ini ? dia pintar sekali membuatku malu !


Suci sudah kehilangan muka karena ulah Riki. Apalagi saat ini semua orang sudah pada cekikikan.


Pak Hans mendekat dan berdehem. Kakek dari baby Yusuf itu berbisik di telinga anaknya, " Sudah dulu mesumnya, ini bukan acara wedding !"


Riki hanya mesem menatap ayahnya. Bayi mungil itu pun berpindah ke pangkuan ayahnya. Ia mendapat ciuman kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Riki dan Suci. Pernikahan mereka sudah sempurna dengan kehadiran sang buah hati. Semua orang pun ikut merasa senang, tak terkecuali mantan suami Suci.


Doni saat ini ikut tersenyum bahagia meski ada sudut hatinya yang terluka. Lagi dan lagi penyesalannya semakin bertumpuk.


Jika saja aku tidak egois maka sekarang adegan bahagia ini aku yang akan memainkannya. Ternyata Riki memang jauh lebih mampu memberi kebahagiaan bagi Suci.


Semua orang berada di takdir mereka masing-masing. Meski mungkin kita sudah berdoa dan berusaha sekuat tenaga, tapi tetap saja keputusan ada di tangan Sang Maha Kuasa. Tugas kita selanjutnya adalah mensyukuri dan menjaga apa yang sudah ditakdirkan menjadi milik kita.


Dari Suci kita bisa belajar bahwa seberat apapun ujian hidup, kita harus bisa melewatinya dengan baik. Karena hidup tak melulu tentang kesedihan dan air mata, ada juga tawa bahagia yang akan menanti di depan.


Dari Riki kita bisa mengambil pelajaran bahwa jika kita ingin hidup bersama orang yang kita cinta, berarti kita juga harus mampu menerima segala kekurangannya. Itu salah satu kunci agar hubungan pernikahan bisa harmonis.


***


Sejatinya manusia yang baik bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa. Manusia yang bijak adalah yang mampu bangkit dan memperbaiki kesalahannya. Dan yang tak kalah penting adalah kita seharusnya tidak menghakimi orang lain hanya karena masa lalunya yang kelam. Kamu bisa saja mengetahui kesalahan dari seseorang, tapi kamu belum tentu tahu bagaimana orang tersebut menyesali perbuatannya.


Mohon maaf sekali karena saya telat update nya. Terima kasih banyak sudah mampir dan menyimak cerita ini sampai akhir. Terima kasih juga sudah support author. Inshaa Allah akan ada extra part nya.


Bila berkenan mampir di karyaku yang lain. Sampai jumpa di novel berikutnya berjudul "Suamiku Gay"

__ADS_1



I love you so much 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2