Seperti Sampah

Seperti Sampah
Butik Raisya.


__ADS_3

Pagi hari di Raisya Boutique.


"Ini kenapa butik ku gini-gini aja ya ? belum ada peningkatan lagi meski aku sudah promo di medsos, kasih diskon juga. Sebentar...." Raisya terus memutar otak hingga akhirnya menemukan sebuah ide.


"Jika mau menarik pelanggan lebih banyak maka semua karyawan harus ku sulap sekeren mungkin. Tapi semuanya sudah keren, kecuali....si bocah itu. Ya...karena dia pegawai laki-laki satu-satunya maka aku harus lebih membuatnya terlihat menarik. Kebanyakan pelanggan yang datang kan perempuan."


Raisya memanggil pegawai yang dimaksud tadi.


"Syarif, buka bajumu !"


"Apa maksud mbak ? saya tidak mau !"


"Nona, bukan mbak ! buka sekarang bajumu, cepat !"


"Apa anda sudah tidak waras nona ? menyuruh pria bukan muhrim untuk membuka baju di hadapan anda."


"Heyyy kenapa sekarang kamu jadi banyak bicara ? biasanya manut aja. Buka bajumu di kamar mandi dan ganti pake baju ini ! memang apa yang kamu pikirkan ?"


"Maaf nona, baiklah saya akan ganti baju sekarang."


Dasar bocah !


Selang beberapa menit Syarif sudah kembali dengan memakai pakaian dari Raisya.


Apa ini tidak terlalu berlebihan ? masa aku harus memakai baju seperti ini, aku kan bukan pengusaha. Nona Raisya aneh !


"Nona, saya sudah selesai." Syarif berdiri di depan Raisya yang saat itu tengah menatap layar laptop.


"Hemmm." Saat Raisya mengalihkan pandangannya pada Syarif....


Sumpah ! nih bocah keren abis ! dia sudah seperti CEO saja.


Syarif berdehem karena atasannya itu belum juga mengedipkan mata.


"Ya ! kamu terlihat sangat tampan !"


Syarif hanya diam tak merespon.


"Maksudku kamu berubah jadi keren begini karena memakai baju yang ku pilih." Agak gelagapan bicara.


"Tapi kenapa saya harus memakainya ?"


"Agar terlihat keren, jadi nanti para pelanggan akan tertarik untuk datang ke Butik ini."


"Apa tidak terlalu berlebihan ?"


"Tentu saja tidak. Setiap hari kamu harus berpakaian seperti ini. Aku yang akan menyiapkan untukmu. Hebat, aku memang atasan yang baik." Raisya tersenyum membanggakan diri sendiri.


Ternyata ada wanita seperti itu.


"Saya permisi nona."


Syarif kembali ke tempatnya. Di sana semua teman kerja tak henti menatapnya. Berpakaian lusuh saja dia sudah terlihat tampan apalagi saat ini, Syarif semakin membuat mata yang melihat tak dapat berkedip lagi.


"Syarif, aku kira tadi siapa ? kamu semakin tampan."

__ADS_1


"Mau pakai apapun pria tampan ya tetap tampan."


"Pulang kerja kita jalan yuk Rif !"


Para wanita mengelilingi Syarif, sudah seperti para fans yang ingin berfoto dengan idola. Namun mereka tidak ada yang berani menyentuh kulit bersih milik Syarif karena mereka tahu bahwa Syarif tidak suka.


"Ada apa ini ?" Raisya menghampiri.


Semuanya kembali ke posisi masing-masing. Hanya Syarif yang masih mematung.


"Ikut aku !" Raisya berjalan diikuti Syarif.


"Sekarang aku mau live di sosial media untuk mempromosikan baju-baju yang ada di sini. Kamu tolong bantu aku ngomong. Menjelaskan bagaimana bahannya, kualitasnya supaya banyak yang berminat."


Syarif menurut saja. Setelah hampir satu jam barulah mereka selesai.


"Responnya sangat bagus. Aku yakin ini akan membuat Butik ku rame." Bicara sambil mengutak-atik ponsel.


Sebenarnya dari yang komen tadi kebanyakan malah menanyakan tentang Syarif. Mereka salah fokus. Tapi gak masalah, itu pun akan membantu.


Tak lama kemudian segerombolan wanita menyerbu Butik milik Raisya. Mereka langsung menghampiri Syarif. Meminta dipilihkan baju yang cocok. Meski ada pegawai yang lain namun mereka hanya mau dilayani oleh Syarif.


"Mas baju yang ini cocok tidak buat saya ?"


"Mas ganteng, tolong ambilkan saya baju yang itu dong, saya mau lihat-lihat !"


"Mas kalau yang ini ada diskonnya tidak ? kalau gak ada boleh diganti sama nomer kamu aja."


Wahhh strategi ku berhasil juga. Tapi kasihan tuh bocah kewalahan melayani para cewek-cewek ganjen. Astaga...ada yang colek-colek lagi.


"Tapi saya maunya dilayani sama mas ganteng."


"Saya juga."


"Saya saja."


"Saya juga mau."


Dasar cewek-cewek rempong, bikin pusing saja. Kalau bukan untuk kemajuan Butik ku maka aku tidak mau melakukan nya.


Syarif hanya diam saja tak berkutik. Kepalanya tak bisa berpikir. Semua wanita itu terlalu agresif.


"Tenang ! bagaimana jika saya ijinkan kalian berfoto selfie dengan pegawai saya tapi dengan syarat hanya satu kali jepret dan tanpa kontak fisik. Tapi itu dilakukan setelah kalian belanja dulu di sini. Dan hanya dua orang saja yang akan dilayani Syarif. Ok!"


Mereka berbisik-bisik berunding.


"Ya sudah deh boleh kami setuju." Salah seorang dari mereka bicara.


Setelah waktu yang cukup lama berlalu, akhirnya segerombolan wanita itu pergi. Dan datanglah rombongan emak-emak.


Ya ampunn sepertinya aku harus menambah pegawai laki-laki lagi !


Raisya menepuk jidatnya sendiri.


"Dengarkan saya baik-baik, jangan ada yang berani menyentuh pegawai saya karena dia terlalu berharga. Jika anda bersikap sopan dan tertib maka saya akan kasih diskon Ok ?!" Raisya menceramahi para pelanggan yang baru datang sebelum mereka menyerbu Syarif.

__ADS_1


Dan dia berhasil mengatasi mereka.


Apa harus cari strategi lain ? atau memang harus tambah karyawan laki-laki lagi ? capeee juga, malah aku yang pusing.


"Ambilkan jus jeruk !" Raisya duduk di kursi ruang kerjanya.


"Baik nona." Seorang pegawai wanita mengangguk dan segera melaksanakan perintah.


Tak butuh waktu lama kini di atas meja sudah ada segelas jus jeruk. Raisya langsung meminumnya.


"Ya masuk !" Raisya menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu.


"Maaf nona. Apa sebaiknya saya ganti baju lagi seperti biasa saja ?"


Kenapa bocah ini semakin terlihat tampan saja setiap detiknya ? tidak heran semua wanita ingin dilayani oleh Syarif.


"Nona !"


"Ahhh ya. Terus saja ke strategi semula, nanti biar ku cari orang untuk membantu kamu."


Terus berpenampilan begitu, aku suka melihatnya !


"Baik. Saya permisi."


"Tunggu dulu ! mbak Suci apa kabarnya ?"


"Alhamdulillah baik."


"Titip salam ku untuknya. Kamu boleh pergi sekarang."


Syarif mengangguk dan segera pergi.


Syarif memang berbeda dari kebanyakan pria yang ku kenal. Ehhh sejak kapan aku tertarik dengan brondong ?


***


Saat di rumah Syarif menceritakan semuanya pada Suci tentang kejadian di Butik.


"Masa ? Raisya itu kadang aneh seperti kakaknya. Tapi mereka sama-sama baik." Suci tertawa kecil.


"Ya sihhh mbak. Tapi aku tidak nyaman karena banyak wanita yang menyerangku."


"Maksudmu kamu tidak betah ?"


"Bukan begitu, hanya tidak mau dikerubungi para perempuan saja."


Cari kerja itu susah, jika bukan karena nona Raisya mengenal mbak Suci mungkin aku belum mendapatkan pekerjaan sampai saat ini. Jadi aku harus bertahan dan bekerja dengan baik.


"Tapi mbak yakin Raisya tidak akan membiarkanmu kerepotan. Kamu kan juga bilang kalau dia mau menambah karyawan laki-laki untuk membantu. Jadi yang semangat ya kerjanya !"


"Ya mbak."


Note.


Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah bersedia mampir dan menyimak ceritaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, kasih komentar juga boleh. Ingat, ambil positifnya dan jangan tiru yang negatifnya !!!

__ADS_1


Nanti bab selanjutnya kita akan lanjut ke cerita pemeran utama. Semoga kalian suka 🤗🤗🤗


__ADS_2